Poison Princess

Poison Princess
Chapter 16


__ADS_3

Keheningan melanda ketika Mikail masuk ke ruang singgasana bersama Leia. Dua orang nomor satu di Wilayah Terlarang itu berjalan dengan langkah terkendali dan duduk di kursi singgasana mereka. Di sisi kanan dan kiri terdapat orang-orang kepercayaan serta jenderal perang Wilayah Terlarng. Kana dan Tron juga ada di sana. Raja dan ratu masing-masing bangsa yang menghuni Wilayah Terlarang pun hadir di ruangan tersebut.



Dua orang prajurit membawa seorang lelaki dengan rantai yang melilit kedua tangan dan kakinya. Wajah pria itu menunduk dan terlindungi oleh rambutnya yang panjang dan berantakan.



Mikail menatap sosok yang dipaksa berlutut oleh kedua prajuritnya, "Kau adalah mata-mata Kerajaan Silvista, kau sadar apa kesalahanmu sehingga kau berada di sini?"



Sosok itu tidak menjawab, namun kepalanya mendongak dan menatap Mikail dengan sorot mata datar. Leia memiringkan kepala melihat wajah sosok tersebut, rasanya dia pernah melihat orang itu sebelumnya.



"Kau tidak ingin menjawabnya? Baiklah," Mikail memberi isyarat pada dua orang prajurit yang bersiaga di dekat sosok tersebut, "Itu artinya kau meminta hukumanmu dipercepat."



Kedua prajurit itu memegangi masing-masing lengan orang itu dan hendak menyeretnya pergi ketika Leia menahan mereka.



"Tahan!"



Semua orang mengalihkan pandangan mereka pada sang ratu. Leia berdiri dari singgasananya dan berjalan mendekati mata-mata yang hendak diseret pergi tersebut.



"Yang Mulia Ratu, sebaiknya Anda tidak—"



"Tidak apa," kata Leia, "Aku hanya ingin melihat wajah mata-mata ini lebih dekat."



Prajurit yang hendak mencegahnya kemudian menunduk, memberikan jalan bagi Leia untuk mendekat.



"Kau ... teman Pangeran Lucius," kata Leia menatap wajah pria yang tak asing baginya itu, "Kau yang pernah mengejek sosok Lacia la Midford ketika dia masih berada di istana."



Seulas senyum manis tersungging di bibir Leia melihat keterkejutan di wajah pria itu, "Rupanya benar. Kau belum melupakannya."



"Kau ... Lacia?"



"Bukan," Leia menggeleng, "Lacia la Midford sudah mati."



Pria itu menatap wajah Leia, namun kepalanya ditundukkan paksa oleh prajurit yang menahannya.



"Berani sekali kau menatap ratu kami!"



Pria itu mendecih. Sosok yang mereka sebut ratu ini adalah Lacia, adik Lucius yang dikabarkan tewas terbunuh beberapa tahun lalu. Mengapa gadis itu ada di sini? Mengapa Ratu Iris tidak pernah mengatakan bahwa sosok ratu di Wilayah Terlarang adalah gadis ini?



"Sepertinya kau menerima perintah langsung dari Ratu Iris," kata Leia, mengejutkan semua orang yang ada di sana kecuali Mikail, "Dari raut wajahnya aku tahu, Ratu Iris yang memberikan perintah. Dia bekerja sama dengan Gardos untuk mencelakaiku."



Leia kemudian berbalik, menatap Mikail yang duduk di singgasananya, "Menurutmu, hukuman apa yang pantas untuknya, Rajaku?"



"Hukuman mati." Cetus Mikail.



Leia tersenyum, kemudian menatap kedua prajurit yang menahan sang mata-mata, "Kalian mendengarnya. Laksanakan tugas kalian dan kirimkan kepala orang ini ke Kerajaan Silvista."



Kedua prajurit itu mengangguk dan segera menyeret pria itu pergi dari ruang singgasana untuk melaksanakan hukuman.



Leia kembali duduk di singgasananya di samping Mikail dan menghembuskan napas. Mikail mengelus punggung tangan Leia dan kemudian menatap para jenderal dan orang-orang kepercayaannya, "Satu masalah sudah usai. Sekarang kita akan membahas masalah lain."



"Kemungkinan bahwa Kerajaan Silvista menyerang tanah kita tercinta."



***



Leia menatap pemandangan di depannya dengan tatapan setengah kosong. Gadis itu tampak sekali melamun, entah apa yang dilamunkannya. Leia bahkan tidak menyadari kedatangan Kana ke gazebo tempatnya bersantai.

__ADS_1



Kana melihat tatapan melamun Leia dan tersenyum tipis. Dia menepuk pelan bahu Leia, mengalihkan perhatian gadis itu.



"Kana," Leia tersenyum dan menyilakan wanita perak itu duduk di sampingnya.



"Kau sedang melamunkan apa?" tanya Kana, "Apa mengenai pertemuan di ruang singgasana tadi?"



"Tentang kemungkinan Kerajaan Silvista menyerang Wilayah Terlarang? Salah satunya," Leia mengangguk, "Mereka masih belum menyerah mendapatkanku untuk dijadikan tumbal."



Leia masih ingat bagaimana seriusnya para jenderal menyiapkan opsi bila Kerajaan Silvista menyerang. Dengan jumlah pasukan lebih dari seratus ribu orang, terdiri dari berbagai ras yang ada di Wilayah Terlarang, tidaklah sulit memukul mundur pasukan Kerajaan Silvista bila kerajaan tersebut berniat menyerang mereka.



Tetapi Leia sangat paham selicik apa Ratu Iris, dan Mikail pun berpikiran sama. Karena itu mereka menyarankan beberapa pilihan lain dan semuanya sudah disepakati sebagai strategi cadangan.



Kana tersenyum muram. Dia mengelus pipi Leia dengan sayang, "Bahkan bila mereka berusaha mengambilmu, seluruh rakyat tanah ini akan berjuang mempertahankanmu."



"Aku tahu," Leia mengangguk, "Tetapi ... aku tidak tahu mengapa mereka semua begitu gigih ingin mendapatkanku. Apa hanya karena racun di dalam tubuhku? Ah, ngomong-ngomong soal racun, aku penasaran tentang sesuatu."



"Tentang apa?" tanya Kana.



"Ketika aku diculik oleh Gardos, aku berusaha mengeluarkan racunku, tetapi tidak ada yang terjadi. Pria itu bilang kalau racunku tidak berguna ketika berada di sini karena aku lahir di Wilayah Terlarang."



Leia melihat raut wajah Kana sedikit berubah. Wanita berambut perak itu mendadak terlihat gugup.



"Kana, apa kau tahu sesuatu?" tanya Leia, "Aku sudah bertanya pada Mikail, tetapi dia tidak mau menjawab."



"Kau sudah bertanya pada Mikail?"



Leia mengangguk mengiyakan, "Kana, kau tahu sesuatu, 'kan?"




"Dia bilang aku tidak perlu memikirkannya karena Gardos mengatakan omong kosong." Jawab Leia.



"Gardos memang mengatakan omong kosong," Kana mengangguk setuju, "Pria iblis itu terlalu licik, bahkan lebih licik dari bangsa iblis lainnya."



"Mengapa kau seyakin itu?" tanya Leia, "Mikail juga iblis."



"Tetapi dia iblis yang takkan pernah mengingkari seorang yang dicintainya," Kana meringis, "Iblis mencintai dengan mengorbankan nyawanya. Ketika seorang iblis jatuh cinta, ia akan mengerahkan apapun yang dia punya untuk bisa mempertahankan apa yang dicintainya itu, sama seperti manusia."



Leia manggut-manggut mengerti. Kana menggenggam sebelah tangannya dengan lembut, "Kau tidak perlu memikirkan apapun. Yang harus kau pikirkan adalah melahirkan seorang anak, entah itu putra mahkota ataupun putri mahkota."



"Kenapa kau berbicara persis seperti Mikail akhir-akhir ini?" gerutu Leia sambil memutar bola matanya, "Dia juga menginginkan anak, padahal belum tentu aku bisa hamil dalam waktu dekat."



Kana terkekeh melihat raut wajah Leia yang merajuk layaknya anak kecil, "Mau bagaimana lagi? Keluarga kalian akan lengkap dengan kehadiran seorang anak."



Leia melenguh dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia mengerjapkan matanya melihat sesuatu di langit yang berwarna biru cerah.



"Ada apa, Leia?"



"Ada ... ada yang datang," Leia menunjuk ke arah langit, "Para Pegasus kelihatan marah."



Kana mengikuti arah yang ditunjuk Leia. Memang benar, ada beberapa Pegasus yang terbang mengikuti sebuah pola yang mirip seperti ...



"Ada yang terjadi di wilayah timur," kata Kana, "Aku akan memeriksanya. Kau tetap di sini bersama para pelayan."

__ADS_1



"Kana, aku ingin ikut."



"Tidak bisa," Kana menggeleng, "Kau adalah ratu, jika seorang ratu sampai ikut melihat kekacauan yang terjadi itu sama saja menyerahkan sebuah kerajaan pada musuh."



Leia terdiam. Kana menepuk tangannya pelan, "Tidak apa-apa. Aku akan pergi mencari Mikail. Aku juga akan memberitahumu bila ada sesuatu yang terjadi."



Leia akhirnya membiarkan Kana pergi. Dia menatap kepergian wanita berambut perak itu dan kembali memandangi langit, ke arah para Pegasus yang masih terbang beraturan di atas sana.



"... perasaanku tidak enak," gumam Leia, "Kuharap tidak ada apa pun yang terjadi."



***



Kana memasuki ruang singgasana. Di sana ada Mikail dan juga Tron. Wajah Mikail tampak menggelap dan suram, entah karena apa. Ia mendekati mereka berdua dan bersiap mengatakan apa yang baru saja dia lihat di langit.



"Mikail, di luar sana—"



"Aku tahu," sela Mikail, "Tron sudah memberitahuku tadi. Para Pegasus tidak akan terbang dengan pola seperti itu jika tidak ada bahaya yang berarti."



Kana mengangguk setuju, "Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dan sebenarnya apa bahaya yang mendekati Wilayah Terlarang?"



"Gardos berulah," ujar Mikail, "Iblis itu memanggil pasukan Kerajaan Silvista untuk menangkap Leia."



"Lagi? Apa mereka tidak pernah mengenal kata menyerah?"



Mikail hanya diam, tetapi kemudian menyadari bahwa Leia tidak bersama Kana, "Di mana Leia?"



"Aku menyuruhnya untuk tetap tinggal. Bila dia ikut melihat kekacauan yang terjadi, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan bila dia terlibat dalam peperangan yang sedang terjadi nantinya."



Mikail mengangguk setuju. Dia lalu menoleh pada Tron, "Kerahkan pasukan di sisi Timur dan halau mereka yang mencoba masuk ke Wilayah Terlarang."



"Yes, My Lord."



Kana melihat Mikail berdiri. Kedua bola matanya berubah warna menjadi merah dan membuatnya tertegun.



"Mikail ...,"



"Aku akan berada di sisi Leia," kata Mikail, "Jika mereka menginginkan Leia karena racun yang ada di dalam tubuhnya, kurasa itu bukanlah alasan sesungguhnya."



Kana terdiam mendengarnya.



Mikail tersenyum tipis. Dia menepuk pundak Kana, "Kau tenang saja. Ada hal yang harus kubicarakan pada Leia untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi."



Kana menatap Mikail, "Kau tidak berniat memberitahu hal itu, 'kan?"



"Jika itu membuat Leia paham akan posisi dan bagaimana dia menyikapi kekuatan terpendamnya, maka tidak masalah," balas Mikail, "Kekuatan Leia sebagai ratu di kerajaan ini adalah anugerah bagi mereka yang tahu siapa sebenarnya Leia."



Kana hendak mengatakan sesuatu, tetapi kedua bibirnya kembali terkatup rapat. Pandangannya menunduk.



"Tetapi, bila Leia tahu ...," Kana kembali menatap Mikail, "Dia akan terluka."



Mikail kali ini yang terdiam. Dia menatap Kana lekat-lekat sebelum mengalihkan pandangannya ke depan, "Aku yang akan memeluknya. Aku juga yang akan menghilangkan rasa sakitnya."


__ADS_1



__ADS_2