
Ketika prajurit keamanan mengatakan rombongan dari kerajaan-kerajaan yang diundang untuk menghadiri pesta ulang tahun Kerajana Silvista sudah datang, termasuk perwakilan Wilayah Terlarang telah tiba di depan istana, Lucius segera meninggalkan pekerjaannya dan berjalan ke pintu istana. Di sana, ibunya sudah menunggu dengan beberapa pejabat tinggi lainnya, begitu pun Irina, yang tengah menatap kereta rombongan para tamu undangan pesta, termasuk rombongan dari Wilayah Terlarang dengan sinar yang tak ingin Lucius artikan.
Lucius melihat kereta-kereta yang ditarik dua kuda berbaris berjejer di pintu utama istana. Mata Lucius melihat Mikail keluar dari salah satu kereta dan mengulurkan tangannya pada seseorang yang masih berada di dalam. Tangan putih kecil menerima uluran tangan Mikail dan Lucius sudah bisa menebak kalau itu adalah Lacia, atau Leia.
Namun, Lucius tak pernah mengira Leia akan berpenampilan layaknya peri salju. Tubuh gadis itu dibalut dengan mantel putih dan juga gaun berwarna sama yang ada di baliknya. Rambut coklatnya dibiarkan tergerai mencapai pinggang. Bola matanya yang berwarna biru menatap ke depan dengan sorot tenang dan terkendali.
Ibunya kemudian maju ke depan setelah menyambut para tamu lain, menyambut Mikail dan Leia, "Selamat datang, perwakilan Wilayah Terlarang. Saya adalah ratu kerajaan ini, Iris la Midford. Senang sekali kalian mau menerima undangan untuk menghadiri pesta ulang tahun kerajaan kami."
"Suatu kehormatan bagi kami menerima undangan dari Anda," Mikail membalas sambutan Ratu Iris, "Kami cukup terkesan karena Anda bersedia mengundang kami ke pesta Anda."
"Tak perlu sungkan. Kalau saya tak salah menebak, Anda adalah ...."
"Mikail Jester. Raja dari Wilayah Terlarang, dan yang berdiri di sisi saya adalah ratu Wilayah Terlarang, Leia Vertensia serta anak-anak kami, Joanne dan Jean." kata Mikail lagi.
Mendengarnya Lucius mengerutkan kening. Mikail tampaknya tidak menutup-nutupi statusnya bersama Leia. Orang-orang yang mendengar ucapan pemuda itu tampak terkejut. Tidak menyangka bahwa pemimpin dari Wilayah Terlarang yang terkenal tidak pernah bersosialisasi dengan dunia luar dan selalu terlibat pekerjaan gelap masih sangat muda dan tampan. Belum lagi sepasang anak kembar yang mengapit gadis yang berdiri di samping sang pemuda.
Tetapi Lucius belum sempat memikirkan hal lain ketika ibunya, Ratu Iris, kembali berbicara, "Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia Mikail. Terima kasih telah datang memenuhi undangan kami. Para pelayan akan mengantarkan kalian ke kamar yang teah disediakan. Tentu kalian lelah setelah perjalanan panjang menuju kemari."
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu." Kata Mikail tersenyum sopan.
Ratu Iris tersenyum. Matanya melirik kearah Leia yang berdiri di belakang Mikail. Dalam sekali lihat, ia tahu bahwa gadis berambut coklat itu adalah Lacia. Tapi ia tak menduga gadis itu akan mengubah warna rambutnya dan sinar mata itu ....
Mata Ratu Iris agak menyipit, sinar mata Lacia alias Leia bukan lagi sinar mata gadis kecil yang selalu menangis dan pasrah dengan setiap perlakuan kasar dan buruk yang diberikan padanya. Sinar mata Leia menunjukkan bahwa ia bukan lagi gadis lemah seperti dulu. Sinar matanya sama seperti seekor macan betina yang siap menerkam siapa saja yang berani menginjak-injak dirinya. Ratu tahu bahwa ia takkan mudah membuat Leia kembali terikat dengan kerajaan ini, tapi hanya inilah satu-satunya kesempatannya.
Dan mengingat gadis itu telah menikah dengan raja dari Wilayah Terlarang ..., Ratu Iris tidak bisa tidak cemas mengingat rencana-rencana yang dia susun akan berantakan. Ia pikir untuk menjebak Leia akan sangat mudah, tetapi dengan adanya Mikail Jester, dia tidak bisa melakukan rencananya dengan leluasa. Kepalanya memikirkan beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi bila dia berani mencelakai Leia dengan tangannya sendiri, bahkan ketika tamu terakhir datang, Ratu Iris masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Rombongan tamu kemudian diantar oleh para pelayan ke kamar mereka masing-masing. Ada pun Mikail dan Leia, bersama dua anak kembar dengan sepasang bola mata berbeda kini bersantai di ruang tamu istana, mengobrol bersama Lucius dan Lady Irina yang menjadi perwakilan Ratu Iris karena sesaat setelah menyambut tamu yang datang, ia harus menghadiri rapat bersama para jenderal.
Leia duduk di samping Mikail sementara Joanne dan Jean duduk di sisi keduanya. Sekilas jika diibaratkan, mereka berempat layaknya lukisan keluarga bahagia. Mikail mengelus rambut Leia dengan sayang, menyebabkan Lucius sedikit cemberut.
Lady Irina melihat raut cemberut di wajah Lucius dan berinisiatif membuka pembicaraan lebih dulu, "Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu dengan kalian, Tuan Mikail, dan Nona ...."
"Namaku Leia Vertensia. Senang bertemu dengan Anda, Lady Irina De'Hanselli." Jawab Leia sambil tersenyum manis.
"Oh, rupanya Anda sudah mengenalku." Lady Irina tertawa kecil dengan gerakan anggun.
Leia hanya tersenyum. Bagaimana ia lupa satu sosok yang juga sering menghina dan mengejeknya di istana selain Lucius dan anak-anak lain sebayanya? Lady Irina adalah yang paling diingatnya karena gadis itu sering membuatnya terluka karena candaannya yang menurutnya 'wajar'.
Tapi, Leia tidak mau langsung membalas gadis itu. Dia tidak mau membuang-buang tenaga hanya untuk meladeni Irina yang menurutnya sombong dan terlalu mengagungkan statusnya sebagai tunangan pangeran, Lucius.
"Anda sangat menawan, Lady Leia. Katakan, perawatan seperti apa yang Anda lakukan untuk menghasilkan kilau yang gemerlap di rambut mahoni Anda?" kata Lady Irina.
"Saya tidak melakukan apapun, rambut saya sudah seperti ini dari saya lahir." Jawab Leia.
"Anda terlalu merendah. Rambut Anda begitu halus dan cantik, berkilau ketika terkena sinar matahari. Saya yakin, setiap wanita yang bertemu dengan Anda tentu akan menanyakan hal yang sama seperti saya." Ujar Lady Irina.
Leia mengeluarkan tawa malu-malu. Ia berakting terlalu baik sampai-sampai Mikail tidak bisa menahan senyuman di wajahnya.
Lady Irina melihat senyuman di wajah Mikail dan hatinya sedikit tergerak. Pemuda berambut hitam itu tak kalah tampan dari Lucius. Malahan ia merasa Mikail jauh lebih tampan dengan auranya yang misterius. Ia tidak bisa membayangkan utusan dari Wilayah Terlarang ternyata seorang pemuda tampan. Lady Irina yakin usia Mikail tak jauh berbeda dengan Lucius.
"Bagaimana menurut Anda kerajaan ini, Tuan Mikail?" Tanya Lady Irina, "Begitu asri dan teduh, bukan?"
Mikail yang sedang mengelus rambut Leia mendongak menatap sang lady. Ia mengerutkan keningnya samar namun senyum sopan tetap tersungging di wajahnya.
Namun belum sempat Mikail menjawab, Joanne tiba-tiba sudah berbicara lebih dulu, "Kerajaan ini sangat indah. Ada taman bunga dan juga pasar yang ramai. Bu, kapan-kapan bisakah kita pergi ke pasar bersama-sama?"
Sejenak baik Lady Irina dan Lucius tertegun. Joanne menyebut Leia dengan sebutan 'Ibu'? Begitu dekatnya kah hubungan kedua anak kembar aneh itu dengan Leia?
Ah, tunggu. Bukankah Mikail bilang kalau keuda anak kembar itu adalah putri-putri mereka?
Leia tersenyum tipis mendengarnya, "Kita akan pergi ke sana jika ada waktu luang. Tanyakan pada ayahmu apakah dia mau menemani kita."
Awalnya Lady Irina tidak tahu siapa yang disebut 'ayah' oleh Leia, tapi ketika mata kedua anak kembar itu tertuju pada Mikail, mulutnya sedikit terbuka. Apa ... apa Mikail adalah ayah mereka? Bukankah ia tadi mendengar, Leia menjadi istri dari raja Wilayah Terlarang?
"Aku akan menemani kalian. Tidak mungkin aku tidak menemani ibu kalian pergi ke tempat asing. Apalagi dia begitu cantik dan mengundang mata untuk melihat setiap ia melangkah." Kata Mikail.
Lucius mendengus mendengar ucapan Mikail sementara mulut Lady Irina terbuka lebih lebar.
Mikail Jester adalah ... Raja Wilayah Terlarang. Bagaimana dia bisa lupa?
Tetapi Lady Irina segera menguasai diri. Ia berdeham, menarik perhatian kedua pasangan itu kembali padanya.
"Bagaimana kalau saya juga ikut menemani Anda berjalan-jalan, Lady Leia. Saya tahu seluk-beluk pasar dan mungkin kita bisa berbelanja bersama seharian?" kata Lady Irina.
"Itu ide yang bagus," Leia tersenyum manis, "Bagaimana menurut kalian, Joanne, Jean?"
"Tidak buruk," jawab Jean, "Menurutmu juga begitu, 'kan, Joanne?"
Saudara kembarnya mengangguk. Dan kemudian mereka berdua kembali mengoceh, tak memperhatikan Lady Irina dan Lucius yang menatap mereka tanpa kata sementara Leia dan Mikail, mereka hanya menikmati ocehan kedua anak asuh mereka itu sambil tersenyum dalam diam.
***
Ketika sudah waktunya bagi Leia dan Mikail untuk beristirahat sebentar, mereka berdua dicegat oleh Lucius yang sejak tadi mengikuti mereka.
__ADS_1
"Tunggu!"
Keduanya menoleh dan melihat Lucius berjalan mendekati mereka.
"Apa yang Anda inginkan, Pangeran Lucius?" Tanya Mikail.
"Aku perlu berbicara dengan Lacia," balas Lucius acuh, kemudian menatap gadis di samping Mikail, "Ikut aku, Lacia. Aku ingin berbicara denganmu."
"Mengapa tidak di sini saja, di hadapan suamiku?" kata Leia, "Apa dia tidak berhak mendengarkan pembicaraan yang ingin kau bicarakan?"
Lucius menatap Mikail yang balas menatapnya dengan dingin. Tentu saja. Mikail pasti sudah menikahi Leia dank arena itulah gadis itu menyebut pemuda yang berdiri di sebelahnya sebagai suami.
"Pembicaraan ini tidak bisa didengar oleh orang luar, hanya anggota kerajaan ini yang boleh membicarakannya." Kata Lucius, "Dan sebagai anggota kerajaan ini tentu kau harus ikut aku."
Leia mengerutkan kening. Mengapa Lucius begitu gigih memaksanya?
Tapi, mungkin tak ada salahnya mengikuti Lucius sekarang. Setidaknya dia akan tahu apa rencana yang ingin dilakukan oleh Ratu Iris dari pemuda itu bila ia menginginkannya.
"Hanya berbicara, benar, 'kan?" kata Leia.
"Ya. Hanya berbicara." Lucius mengangguk.
Gadis itu kemudian menatap Mikail, "Aku akan ikut dengannya. Jangan khawatir. Aku tahu apa yang kulakukan dan ketika kondisinya tak memungkinkan, kau tahu aku akan mencarimu." Ujarnya.
Mikail mengerutkan kening dalam diam. Walau hatinya tak setuju, tapi ia mengangguk. Ini keputusan istrinya. Dia tidak perlu khawatir ada yang terjadi pada Leia karena darah beracun, tubuh, dan jiwa gadis itu sudah menjadi miliknya sepenuhnya. Sentuhan dan rasa sakit seukuran titik jarum pun bisa ia rasakan walau Leia tidak ada di dekatnya.
"Aku akan menunggumu di kamar, membacakan buku dongeng untuk Joanne dan Jean," kata Mikail.
Leia mengangguk dengan senyum manis. Ia kemudian beralih pada Lucius dan raut wajahnya kembali berubah datar, "Ayo, Pangeran Lucius."
Lucius menuntun Leia menuju sebuah ruangan. Leia melihat bagian dalam ruangan itu cukup luas, dengan kursi-kursi berbantalan bulu-bulu angsa, meja dari kayu yang terbaik di atas karpet bulu merah yang menghiasi, sebuah perapian, dan lemari di mana terdapat banyak tea set dan juga kerajinan yang memanjakan mata.
Namun, ada yang aneh dengan ruangan ini. Entah kenapa Leia merasakan seperti itu. Lucius berdiri di tengah ruangan, sementara Leia menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh pemuda itu.
Pemuda berambut pirang itu berbalik dan menghadap Leia, ketika dia hendak mengatakan sesuatu, dia melihat tubuh gadis itu sedikit limbung.
"Lacia, kau kenapa?"
"Eh?" Leia mengerjapkan matanya, tetapi yang ia dapatkan adalah sakit kepala yang tak tertahankan. Dia bahkan merasa kedua matanya terlalu berat untuk dibuka.
Sial. Jangan-jangan ini ....
"Pangeran Lucius, apa kau sedang berusaha membuatku tertidur?" Tanya gadis itu dengan nada dingin.
"Ruangan ini berbau obat tidur yang disemprotkan," kata Leia mencoba tetap berdiri walaupun kepalanya terasa sakit, "Kau mencoba membuatku tertidur dengan obat ini, lalu apa? Apa kau akan membawaku ke suatu tempat dan mengambil jantungku?"
Lucius terdiam. Dia hanya ingin berbicara tentang tradisi yang ada di kerajaan ini secara pribadi, tetapi dia tidak berniat membuat Leia tertidur sesuai tuduhan gadis itu. Dia sendiri tadi masuk ke ruangan ini sebelumnya dan tidak merasakan apa pun.
Leia menggeleng. Sakit di kepalanya semakin terasa kuat dan dia nyaris jatuh ke lantai kalau saja Lucius tidak buru-buru menangkap tubuhnya.
"Kau ..., aku tidak akan menyerahkan diriku pada kerajaan ini! Aku tidak akan ...." Kata-kata Leia tidak selesai karena kesadaran gadis itu sudah sepenuhnya ditelan kegelapan.
"Lacia, kau kenapa? Bangun, Lacia!"
Lucius menepuk pipi Leia tetapi tidak ada reaksi. Ia lalu menggendong tubuh Leia dan merebahkannya di sofa panjang yang ada di sana. Lucius mencari-cari sumber yang membuat Leia pingsan seperti ini dan menemukan sebuah vas bunga yang sebelumnya tidak ia lihat berada di atas meja. Melangkah mendekati meja ia mengambil vas tersebut dan mencium aroma air yang ada di dalamnya.
"Wangi air bunga ini ..., tidak salah lagi. Ini yang membuat Lacia pingsan." Gumamnya, "Tapi kenapa air wewangian ini ada di sini?"
Pertanyaan Lucius segera terjawab ketika dia melihat dua orang prajurit berseragam putih biru masuk lewat pintu rahasia dan menghampirinya.
"Lapor, Pangeran, kami siap menjalankan perintah Anda." Ujar mereka.
"Perintah apa?"
"Ratu Iris memerintahkan kami untuk menemui Anda dan membawa nona ini ke sebuah ruangan yang terletak di Sayap Kiri istana."
"Apa?"
Kali ini Lucius benar-benar tidak mengerti, dan juga tidak menyangka bahwa ibunya akan menyuruhnya membawa Leia ke Sayap Kiri istana. Semua orang tahu ada satu tempat yang terletak di istana ini tak boleh dimasuki oleh siapapun, dan itu adalah wilayah sayap kiri istana kerajaan. Tapi kenapa ibunya ingin dia membawa Leia ke sana?
Apa jangan-jangan tradisi itu ....
"Mohon maaf, Pangeran, kami harus segera membawa gadis ini ke sana." Kata salah satu prajurit dan menghampiri sofa di mana Leia tergeletak pingsan.
Lucius hendak mencegah tindakan mereka ketika dia melihat dua sosok peri muncul di dekat Leia dan mengeluarkan sihir yang membuat kedua prajurit itu melangkah mundur.
"A-apa itu?" kedua prajurit itu terkejut melihat kemunculan peri-peri kecil tersebut.
"Berani kau menyentuh ratu kami, maka kau tidak akan lagi bisa melihat hari esok," kata peri dengan kulit berwarna kehijauan dan memiliki mahkota bunga kecil di kepalanya.
"Bila kalian masih ingin hidup, jangan coba-coba memancing kemarahan kami." Ujar peri yang lain.
Lucius menatap kedua peri itu dengan takjub. Dia tidak pernah melihat peri sebelumnya dan melihat betapa kecilnya wujud peri itu membuat Lucius sempat terpana. Dia kemudian beralih pada prajurit yang masih menatap kedua peri kecil itu dengan tatapan takut, "Tidak perlu membawa Leia ke sana. Panggil Nanny kemari. Kalian pergi dari sini dan sampaikan pada Ibunda tentang hal ini. Pastikan tidak ada seorang pun yang melihat kalian kemari. Cepat!"
__ADS_1
"Dimengerti,"
Kedua prajurit itu segera kembali masuk ke balik pintu rahasia dan Lucius sudah tahu kalau mereka akan berjaga di depan pintu.
Ia kemudian duduk di sofa di samping sofa panjang yang menjadi tempat Leia tertidur. Pikirannya memikirkan apa yang sebenarnya direncanakan ibunya. Tentu dia tahu kalau ibunya lah yang menaruh air wewangian di vas itu. Air wewangian itu memiliki efek seperti obat penenang, dalam dosis besar bisa menjadi obat tidur yang mampu menumbangkan seekor kuda liar sekalipun. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mencium aromanya tanpa jatuh tertidur seperti Lucius karena dia mengenakan air wewangian itu di malam hari agar dia bisa tidur tenang sehingga dia terbiasa.
Tapi yang menjadi pertanyaannya, mengapa ibunya tampak begitu gegabah ingin Leia kembali masuk ke lingkungan istana Kerajaan Silvista? Belum lagi ruangan di Sayap Kiri Istana itu ...
"Apa Anda juga ingin menyakiti ratu kami, Yang Mulia Pangeran?"
Lucius mendongak dan melihat kedua peri tadi masih ada di tempatnya, melayang-layang dengan bola air kecil dan sebuah tongkat di tangan.
"Aku tidak akan menyakitinya, kalian tidak perlu waspada." Kata Lucius.
"Kau alasan ratu kami bersedih," ujar si peri hijau, "Kau alasan ratu kami sering bermimpi buruk!"
Lucius tertegun mendengar ucapan kedua peri itu. Dia menatap wajah Leia yang pingsan di sofa dengan perasaan bersalah. Jika benar apa yang dikatakan kedua peri itu, maka ...
Pintu ruangan diketuk dari luar. Kedua peri itu menghilang bertepatan dengan Lucius mendongak dan melihat Nanny yang dulu merawat Leia masuk ke dalam setelah sebemunya memberi hormat. Ketika wanita tua mengangkat kepalanya, ia tertegun melihat gadis berambut coklat yang terbaring di sofa panjang. Rasa hangat membuncah dalam dadanya ketika mengetahui bahwa gadis itu adalah putri yang dulu pernah ia rawat ketika masih di istana ini.
"Yang Mulia Pangeran, dia ... gadis itu ...."
Lucius tahu apa yang ingin dikatakan Nanny dan segera mengangkat tangannya, "Tidak perlu memberitahuku. Rawat dia, dan ketika ia sudah sadar, bawa dia ke ruang makan. Jangan sampai dia terluka sedikitpun."
Nanny mengangguk kuat-kuat, kemudian memperhatikan Lucius keluar dari ruangan. Setelah pemuda itu pergi, wanita itu berjalan mendekati sofa panjang dan mengelus pipi Leia dengan sayang.
"Tuan Putri, Anda benar-benar kembali." Bisiknya dengan nada haru. "Anda benar-benar menepati janji Anda, persis seperti yang Anda katakan dalam surat itu."
***
Mikail menatap pintu di depannya dengan ekspresi datar. Sudah cukup lama Leia belum kembali juga. Joanne dan Jean ketiduran di tempat tidrunya karena lelah menunggu Leia. Mikail tidak tahu apa yang terjadi pada istri tercintanya itu, tetapi dia tidak bisa bertindak terlalu gegabah di sini. Kerajaan ini adalah kerajaan yang membuang Leia di masa lalu dan sudah pasti ada banyak jebakan atau mungkin sekelompok gadis-gadis cerewet tak tahu malu yang mungkin akan menyusahkannya nanti. Dia tidak suka ada perempuan lain yang menempel padanya selain Leia, anak-anak asuhnya, dan juga orang-orang dari Wilayah Terlarang.
Tapi, seperti yang disebutkan sebelumnya, Leia sudah terlalu lama pergi bersama Lucius dan belum juga kembali. Tentu saja ini membuat Mikail sedikit cemas.
Apa aku perlu mencarinya?
Mikail bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu ketika dia melihat sebentuk gelembung air terbentuk di depan wajahnya dan memperlihatkan sosok peri air kecil.
"Hamba memberi hormat pada Yang Mulia Raja," ujar peri dengan kulit berwarna biru itu, "Saya kemari untuk melaporkan sesuatu berkaitan dengan Yang Mulia Ratu."
"Apa yang terjadi pada Leia?" Tanya Mikail.
Peri itu menceritakan apa yang terjadi pada Leia dan Mikail menanggapinya dengan ekspresi dingin.
"Sekarang di mana Leia?"
"Masih berada di ruangan yang sama, Yang Mulia. Seorang wanita tua yang dipanggil Nanny menjaga Yang Mulia Ratu." Ujar peri itu.
Ekspresi di wajah Mikail sedikit mengendur mendengar nama wanita tua itu disebut. Mikail ingat ada seorang wanita yang merawatnya di istana dan dipanggil dengan nama Nanny. Dan sepanjang yang ia tahu dan selidiki dari istana ini sebelumnya, hanya satu orang yang dipanggil dengan sebutan itu di sini. Karena itu ekspresi wajah Mikail sedikit lebih tenang dibanding tadi,
"Kau boleh pergi. Terima kasih atas laporanmu," ujar pemuda itu.
Peri itu membungkukkan badan dan kembali menghilang dalam gelembung air yang menguap sesudahnya. Mikail lupa menanyakan peri itu kenapa ia bisa berada di sini dan bukan berada di Wilayah Terlarang. Tetapi dia bisa menanyakannya nanti. Saat ini dia ingin pergi ke ruangan tempat Leia berada dan membawa gadis itu ke kamarnya.
Jika Leia terluka seujung jari saja, dia bisa meratakan kerajaan ini hanya dalam sekejap mata. Dan semua itu akan dia lakukan demi Leia.
***
Leia membuka matanya yang terasa berat. Pandangannya agak kabur selama beberapa saat, tetapi begitu ia bisa membiasakan diri, pandangannya menjadi lebih focus dan dia mengangkat tubuhnya untuk duduk.
"Tuan Putri, Anda sudah sadar?"
Suara itu membuat tubuh Leia menegang. Dia menoleh dan melihat seraut wajah wanita yang dulu sering dilihatnya ketika kecil.
Nanny membawa nampan berisi semangkuk sup dan segelas air putih. Begitu melihat Leia sadar, ia segera meletakkan nampan itu di atas meja dan berlutut di depan gadis itu sambil memeriksa tubuhnya, "Anda tidak apa-apa, 'kan? Tidak ada yang sakit, 'kan?"
Mata Leia mengawasi wanita tua itu. Bibirnya bergetar. Dia sangat merindukan wanita tua ini, wanita yang selalu menjaga, merawat, bahkan membelanya ketika dia ditindas di istana dulu. Saat dia terjun ke tebing waktu itu, orang pertama dan terakhir yang diingatnya adalah wanita tua yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandungnya sendiri ini.
"Nanny," kata Leia agak bergetar, "Aku ... aku pulang, hanya untuk Nanny."
Wanita tua itu mendongak dan tersenyum haru. Ia mengelus pipi Leia dan mengusap sebutir airmata yang mengaliri pipinya, "Anda sudah besar, Tuan Putri. Saya sampai pangling melihat Anda tumbuh begitu cantik dan menawan."
Leia tersenyum. Dia menarik wanita tua itu ke dalam pelukannya dan menangis dalam diam. Nanny membalas pelukan gadis itu sama eratnya dan melepaskan kerinduan dan kecemasan yang selalu menghantuinya selama ini sejak sang putri dinyatakan terjun ke tebing dan tak pernah terlihat lagi.
Lama kedua peremupuan itu berpelukan dan Leia melepaskannya lebih dulu. Wajahnya yang cantik dihiasi jejak airmata, tetapi gadis itu tampak tak memperdulikannya.
"Nanny, aku ingin meminta sesuatu padamu," kata gadis itu, "Ikutlah denganku ke Wilayah Terlarang. Aku ingin kau terus di dekatku sebagai pengasuhku, Nanny."
Awalnya wajah Nanny tampak senang, tapi kemudian sedikit berubah ketika mendengar Wilayah Terlarang tersebut, "Wilayah Terlarang?" Tanya wanita itu memastikan.
"Ya. Kau tahu tentang tempat itu, 'kan?"
"Tentu saya tahu," Nanny mengangguk, "Karena sebenarnya saya berasal dari sana."
__ADS_1