
Hutan tempat mereka berburu akhirnya terlihat. Mereka memasuki hutan tersebut dan mencari tempat di mana ada sungai mengalir. Setelah menemukannya, mereka membuat tenda. Beberapa tenda besar untuk kaum bangsawan didirikan lebih dulu sebelum kemudian para prajurit membangun tenda mereka sendiri.
Leia dan rombongannya membangun sebuah tenda yang cukup untuk mereka semua yang hanya berjumlah sedikit. Terlihat jelas perbedaan tendanya dengan tenda para bangsawan yang begitu mewah. Dia sempat melihat beberapa bangsawan memandang mereka dengan tatapan rendah. Tidak ada yang tahu bahwa dia dan Mikail adalah raja dan ratu Wilayah Terlarang, selain Lucius dan Irina. Mungkin itu juga sebabnya para bangsawan mencoba menyuruh-nyuruh mereka karena mengira dia dan Mikail adalah bangsawan golongan rendah.
"Ibu, boleh kami bermain di hutan?" tanya Jean setelah mereka selesai mendirikan tenda.
"Bila ayah kalian mengizinkan, maka aku juga mengizinkan." Jawab Leia.
Jean beralih pada Mikail yang sedang mengatur barang-barang mereka di tenda, "Ayah, boleh kami bermain di hutan?"
Mikail menaruh beberapa kantong tidur yang dia bawa dan menatap Jean dan Joanne yang berdiri di belakang saudari kembarnya, "Apa yang ingin kalian cari di hutan?"
"Tidak tahu," jawab Joanne, "Tapi kami ingin menjelajah. Siapa tahu kami mendapat sesuatu."
Mikail dan Leia saling berpandangan. Mereka tidak khawatir kedua anak kembar itu akan menghilang, tetapi mereka lebih khawatir jika Joanne dan Jean menggunakan kekuatan mereka tanpa sengaja dan membuat keributan yang tidak perlu. Joanne dan Jean memiliki kekuatan sihir yang sangat besar, nyaris sama seperti Leia, tetapi karena keduanya masih kecil, kekuatan tersebut menjadi tidak stabil dan sering lepas kendali jika mereka tidak berada dekat dengan Leia.
"Aku akan menemani mereka, "kata Leia, "Kau di sini saja, Mikail."
"Kau yakin?"
Leia mengangguk, "Hanya menemani mereka. Lagipula aku tahu seluk beluk hutan ini lebih baik dari orang lain karena dulu ini tempatku bermain."
Mikail menatap Leia lekat-lekat, kemudian mengangguk, "Jika kau terluka, kau tahu aku akan selalu mengetahuinya."
Leia tersenyum. Dia lalu menggandeng Joanne dan Jean sebelum berpamitan pada Nanny yang tengah memasak makan malam untuk mereka.
"Kami akan kembali sebelum makan malam," ujar Leia melihat raut khawatir wanita itu, "Tidak akan lama."
"Baiklah, berhati-hatilah, Tuan Putri."
"Tentu."
Mereka bertiga masuk ke dalam hutan. Hal itu dilihat oleh para penghuni tenda lain. Mereka memperhatikan mereka seolah melihat seorang dewi bersama dua anak rupawan yang turun dari surga. Lucius juga melihat mereka bersama Irina, tetapi dia tidak menggumamkan kata-kata penuh pujian terhadap Leia dan kedua anak kembarnya.
Lucius malah memiirkan rencana yang disusun oleh ibunya, Ratu Iris, sebelum pergi ke sini.
"Ketika dia sendirian, perintahkan beberapa pengawal yang kuberi tanda untuk menangkap Lacia. Kita harus mendapatkannya sebelum semuanya terlambat!"
"Kau sedang memikirkan apa, Lucius?"
Suara Irina membuat Lucius menoleh kearah tunangannya itu, "Tidak ada. Cuacanya cukup cerah untuk menikmati hawa sejuk di hutan."
Irina bergumam sambil menyembunyikan senyum di balik kipas bulu di tangannya, "Bukan karena rencana yang disusun oleh Ratu Iris untuk menangkap gadis itu, 'kan?"
Lucius melirik sekilas pada Irina yang kini tertawa anggun.
"Jangan khawatir, Pangeran Lucius. Aku mengetahui segala rencana yang dilakukan oleh calon mertuaku. Beliau sungguh hebat bisa membuat rencana sedemikian rupa."
"Kau memang wanita licik yang menginginkan kekuasaan dengan segala cara, persis seperti Ibunda."
Irina tersenyum dengan sebelah bibir ketika mendengarnya, "Kau pikir semua orang yang terlahir ke dunia akan selamanya putih bersih? Kau terlalu picik, Pangeran."
"Terserahlah," Lucius beranjak pergi, "Jangan mengikutiku."
Lucius pergi ke dalam hutan. Dia tidak bermaksud mengikuti Leia, tetapi dia sendiri juga sering pergi ke hutan ini untuk berburu bersama teman-temannya dulu sehingga dia tahu seluk beluk hutan tersebut.
***
__ADS_1
Leia mengajak Joanne dan Jean menuju sungai. Dulu dia sering menghabiskan waktunay di sana untuk menghitung jumlah ikan yang lewat atau sekedar bersantai sambil membaca buku yang dia bawa dari perpustakaan istana. Karena sejak kecil dia tidak memiliki teman, Nanny mengajarkannya cara-cara unik untuk lebih dekat pada alam. Beberapa kali wanita itu membawanya ke hutan ini dan setelah Leia mencapai usia sepuluh tahun, Leia lebih sering pergi ke tempat ini sendiri setelah sebelumnya memberitahu Nanny. Di hutan ini, Leia cukup banyak bertemu hewan-hewan buas, tapi ketika hewan-hewan itu mengendus aura sihir miliknya, mereka menjadi jinak dan seakan tunduk dan patuh padanya.
Termasuk dua ekor harimau putih yang kini mengekorinya.
Joanne dan Jean menaap dua ekor harimau yang mengikuti mereka dengan penuh minat, walau Leia tetap menggandeng mereka dan terus berjalan, tetapi kepala mereka sedari tadi menoleh ke belakang.
"Kalian ingin berkenalan dengan kedua harimau itu?" tanya Leia.
"Bolehkah?" tanya Joanne.
"Tentu saja boleh,"
Mereka berhenti dan berbalik ke belakang, menghadap kedua ekor harimau putih yang menatap mereka penasaran. Leia melihat sekeliling, "Di mana ibu mereka?"
"Mereka anak-anak harimau?" tanya Jean.
"Ibu mereka dulu memiliki tinggi sepertimu, Jean. Tapi, dari tadi aku tidak melihatnya muncul," kata Leia lagi, lalu menatap kedua harimau di depannya, "Apakah ibu kalian sudah tiada?"
Kedua harimau itu menggeram pelan, mendekati Leia dan mengendus-endus gaun katunnya.
"Ibu mereka sudah mati, dibunuh oleh pemburu tidak bertanggung jawab," kata Leia kemudian berjongkok dan mengelus salah satu dari kedua harimau tersebut, "Kalian pasti berusaha dengan keras untuk bisa bertahan hidup."
Joanne dan Jean juga ikut mengelus harimau putih tersebut. Mereka terkagum karena kehalusan bulu kedua hewan itu dan tertawa ketika salah satu dari kedua harimau itu menjilat tangan mereka satu-persatu.
"Para harimau biasanya ganas terhadap orang asing. Mereka akan menerkam dan memakan energy sihir mereka agar dapat bertahan hidup," kata Leia, "Tetapi kedua harimau ini ... karena sudah lama ditinggalkan oleh ibu mereka, tidak tahu caranya menyerap energy sihir dan mencari makanan secara manual."
"Kalian mau mengajari mereka, Joanne, Jean?"
"Kami boleh membawanya pulang?" tanya Jean.
Joanne dan Jean saling pandang sebelum menganggukkan kepala penuh semangat. Leia tersenyum dan mengelus-elus kepala kedua harimau yang kini menatap mereka, "Kalian memiliki pemilik baru, apa kalian bersedia menerima kedua putriku yang manis ini sebagai tuan kalian?"
Kedua harimau itu mengendus tangan Leia sebelum menjilatnya, tanda mereka setuju.
"Kalau begitu, kalian boleh ikut kami setelah mereka memberi kalian nama," kata Leia lagi.
Joanne mengeluarkan sebuah pita berwarna merah dari kantong gaunnya dan mengikatkannya ke leher satu harimau, "Kau akan kuberi nama Ridia, karena kau memiliki aura yang lebih kuat dibandingkan saudaramu."
Jean mengeluarkan sebuah pita juga, bedanya pita yang dia bawa berwarna hijau tua. Dia mengikatkannya pada leher harimau yang satu lagi dan tersenyum lebar, "Namamu Greine, karena aura yang kau keluarkan begitu lembut dan menenangkan."
Cara untuk mengikat kontrak dengan hewan sihir pun tergolong mudah namun juga membutuhkan energy sihir yang banyak. Joanne dan Jean misalnya, mereka mengikat kontrak dengan memberikan benda yang mereka punya untuk dipasangkan ke tubuh hewan tersebut dan memberinya nama. Nama adalah bentuk dari kepercayaan penuh majikan mereka. Nama juga adalah berkah bagi hewan-hewan sihir karena mendapatkan energy sihir karena setelah terikat kontrak.
Kedua harimau itu menggeram dan mengelilingi Joanne dan Jena tiga kali sebelum duduk dengan kedua kaki mereka. Bagi hewan-hewan yang memiliki aura sihir di sekitar mereka, mengikat kontrak dan mendapatkan tuan adalah suatu hal yang sakral, termasuk untuk kedua harimau putih tersebut. Sejak awal bertemu dengan ibu kedua harimau itu ketika masih kecil, Leia tahu hewan itu adalah hewan sihir, sama seperti elang sebelumnya.
"Nah, ayo kita pergi ke sungai." Kata Leia, kembali menggandeng tangan kedua putrinya.
***
Sungai yang dituju Leia ternyata tidak berubah banyak. Yang berubah mungkin hanya lumut yang berkembang menjadi tanaman-tanaman paku yang begitu indah. Joanne dan Jean menghampiri pinggir sungai dan melihat betapa airnya begitu jernih. Beberapa ikan bahkan terlihat berenang melewati mereka.
"Air di sini sangat jernih," kata Joanne, "Udara di sini juga lebih sejuk."
"Tempat ini menjadi favoritku ketika menemukannya pertama kali, "Leia duduk di salah satu batu besar di pinggir sungai, "Air di sini sangat jernih, bahkan kita bisa meminumnya tanpa khawatir karena limbah beracun."
Joanne mencelupkan tangannya ke dalam air, "Airnya dingin sekali. Bu, boleh kami bermain-main di sini?"
"Saat makan malam, kita harus kembali ke tenda," kata Leia.
__ADS_1
"Baik," Joanne mengangguk, "Ayo, Jean, kita pergi ke sana. Ridia dan Greine juga!"
Kedua anak perempuan dan harimau putih itu berlari menuju sisi lain sungai dan berlari-lari. Leia mengawasi mereka sambil tersenyum kecil. Kedua anak itu begitu aktif dan lincah, dibarengi dengan teman hewan sihir mereka, kelincahan mereka makin terlihat. Apalagi Ridia dan Greine ternyata juga suka dengan permainan yang dimainkan oleh kedua anak kembar itu.
Leia melepas sepatunya dan mencelupkan kakinya ke dalam air. Rasanya dingin dan sejuk. Dia menengadah menatap langit dan melihat elang tadi terbang berputar di atas kepalanya sebelum menukik turun dan mendarat dengan mulus di sampingnya.
"Kau datang lagi," Leia tersenyum, "Apa kau ingin mencari ikan?"
Elang itu menatapnya, kemudian kembali terbang dan memperlihatkan keahliannya menangkap ikan. Hasil tangkapannya elang itu lempar ke sisi Leia.
"Kau ternyata masih suka pamer," Leia tertawa, "Tapi kau tumbuh dengan kuat, itu bagus."
Elang tersebut memekik sebelum kembali melemparkan ikan hasil tangkapannya. Total dari ikan yang ditangkap oleh elang itu cukup banyak, ada lebih dari sepuluh ekor dan semuanya gemuk dan besar. Leia berdiri dari duduknya dan memetik beberapa daun yang cukup besar dari sebuah pohon untuk dibuat menjadi ember. Dia juga mengambil ranting-ranting kecil untuk memperkuat ember buatannya. Kemudian dia menaruh ikan-ikan hasil tangkapan elang itu ke dalam ember dan memberikan setengahnya pada si elang yang menerimanya dengan senang hati.
Waktu sudah berlalu cukup lama, Jean dan Joanne masih terus bermain. Leia menggunakan sihir yang dia pelajari di Wilayah Terlarang untuk menteleportasikan ikan hasil tangkapan si elang pada Nanny. Saat makan malam nanti, mereka bisa makan ikan bakar yang lezat.
Leia nyaris tertidur ketika bersantai sambil menunggui kedua putrinya bermain saat seseorang menutup mulutnya dari belakang. Ia mulai panik ketika dia berusaha menyerang orang yang menyergapnya dengan sihir, tetapi tidak mempan. Tubuhnya berhasil diseret paksa ke dalam hutan cukup jauh dari sungai tadi. Beberapa orang lagi muncul menghampiri dan mulai mengikat tubuhnya.
Racunku!
Leia kembali menggunakan sihirnya, kali ini disertai dengan racun yang menguar bagai asap dari tubuhnya. Orang-orang yang menyergapnya mundur sambil terbatuk-batuk, bahkan ada yang langsung meregang nyawa. Ia kemudian berlari keluar dari hutan dan merasakan pergerakan lain di sekitarnya. Leia bersembunyi di salah satu pohon yang cukup besar untuk menyembunyikan tubuhnya dan memperhatikan sekitar.
"Kau lihat di mana gadis itu?" Leia mendengar suara berat seorang pria di dekatnya.
"Dia berlari ke arah sini. Aku yakin dia tidak jauh," suara yang lain menyahut.
"Kita harus mendapatkan gadis itu untuk Ratu Iris. Jika tidak, kepala kitalah yang akan menjadi penggantinya."
"Kau benar. Sampai saat ini aku masih tidak mengira bahwa gadis yang berasal dari Wilayah Terlarang itu adalah Tuan Putri Lacia. Bukankah seharusnya putri buangan itu sudah tewas?"
"Entahlah. Tapi aku jamin, jika kita tidak menemukannya sesegera mungkin, Ratu Iris akan lebih murka."
Suara-suara itu bersahutan dan kemudian bersamaan dengan langkah kaki yang menjauh, suara-suara itupun menghilang. Leia keluar dari persembunyiannya saat merasa situasi sudah aman. Dia mengatur detak jantungnya yang berdebar keras karena berlari dan berusaha mencerna ucapan orang-orang tadi.
Rupanya Ratu Iris tidak pernah menyerah untuk berusaha membunuhnya. Bahkan dengan tidak adanya mereka di istana saat ini, keselamatan Leia sangat terancam. Leia yakin, masih ada rencana lain yang disiapkan oleh sang ratu untuk membawanya dan kemudian menumbalkannya untuk dijadikan persembahan bagi Lucius.
Terkadang dia tidak mengerti, kenapa dia yang harus dikorbankan.
Leia hendak berbalik ketika kakinya tergelincir oleh lumut yang basah dan membuatnya terjatuh. Bibirnya mengeluarkan ringisan pelan saat merasakan kaki kirinya terkilir.
"Dan kini aku tidak tahu bagaimana aku bisa kembali ke tenda," keluh Leia, "Joanne dan Jean pasti sedang mencariku."
Leia berusaha berdiri, namun rasa sakit di kaki kirinya membuat dia tidak bisa berdiri lama-lama. Ia kemudian bersandar pada batang pohon tempatnya bersembunyi dan melihat keadaan kakinya. Ada memar biru yang menandakan kalau racun di dalam tubuhnya bekerja tanpa ia sadari untuk menyembuhkan luka-lukanya. Leia tahu racun di tubuhnya kadang bisa begitu 'baik hati' untuk menyembuhkan luka-lukanya baik luka dalam maupun luka luar. Dari pelajarannya bersama Kana, racun di dalam tubuhnya tidak diketahui jenisnya dan bisa menjadi pedang bermata dua bagi orang lain dan juga dirinya sendiri.
Karena itu, sejak menginjakkan kaki di Wilayah Terlarang, Leia berusaha keras untuk menekan racunnya yang seolah memiliki jiwa sendiri. Racun yang menyebar di seluruh organ dalamnya itu tidak pernah bisa dihilangkan bahkan walau ia sudah menjalani berbagai macam perawatan. Mereka yang pernah mencoba menangani racunnya pun mengangkat tangan tanda menyerah.
"Mikail pasti mencariku," Leia bergumam, "Dia pasti akan mencariku."
Srek ...
Leia menoleh kearah semak-semak di dekatnya. Dia tadi mendengar suara dari sana. Tetapi dia tidak yakin kalau sesuatu yang bersembunyi di balik semak-semak itu adalah manusia. Leia mengangkat tangan kanannya dan menciptakan sebuah bola api biru, kalau-kalau apapun yang berada di balik semak-semak itu menyerangnya, dia bisa menyerang balik.
Suara berisik dari semak-semak itu semakin mendekat dan Leia sudah bersiap untuk menyerang ketika semak tersebut tersibak dan memperlihatkan sesuatu yang bersembunyi di baliknya.
"Kau ..."
__ADS_1