Poison Princess

Poison Princess
Chapter 24


__ADS_3

Tron mencoba menyerang Mikail, namun usahanya gagal ketika pemuda itu menangkis serangannya. Sebagai gantinya, Mikail merobek satu sayap hitam milik Tron hingga membuat pria itu terluka. Dari lukanya mengalir darah berwarna kehitaman yang mampu melepuhkan lantai kayu yang ada di bawah kakinya.



"Kemampuanmu berkembang pesat, Mikail." Kata Tron.



"Karena aku adalah seorang raja," balas Mikail, "Sekarang, bisakah kau mati dengan tenang?"



"Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak mau melewatkan mangsaku begitu saja."



"Dia putrimu sendiri!" ujar Mikail marah.



"Lantas apa peduliku? Bukankah kau tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh iblis yang mencinta?"



Benturan serangan mereka berdua mengakibatkan getaran yang cukup membuat siapapun yang merasakan akan gemetar ketakutan. Mikail mundur beberapa langkah. Dia menatap darah di tangannya. Darah kehitaman itu adalah milik Tron, yang kini kehilangan satu lengannya.



"Aku tahu apa yang dilakukan oleh iblis yang mencinta," kata Mikail, "Tetapi aku tidak serendah dirimu yang tidak bisa mempertahankan cintamu pada satu orang saja."



"Kau pikir kau lebih suci dari malaikat?" desis Tron, "Kau bahkan lebih dari diriku. Kau lebih kotor dibandingkan iblis mana pun!"



"Aku tidak mengatakan demikian. Setidaknya aku masih punya akal sehat. Tidak sepertimu," balas Mikail, "Kau memanfaatkan Kana untuk mendapatkan keturunan yang memiliki darah beracun, bukan? Setelah dia melahirkan seorang anak, kau akan memakan jiwa anak itu dan membuat kekuatanmu lebih kuat dibanding sebelumnya lalu berniat menggulingkanku dari posisiku saat ini."



Tron terkekeh mendengar penjelasan Mikail, "Kau sudah tahu rupanya."



"Tidak sulit untuk menebak jalan pikiran iblis sepertimu."



"Kau!"



Keduanya bertarung tanpa henti, tidak memerdulikan sekitar. Mikail kembali melayangkan serangan. Kali ini serangannya berhasil mengenai Tron hingga saudaranya itu mundur beberapa langkah.



"Sepertinya aku terlalu meremehkanmu," kata Tron, "Tetapi apa kau yakin akan terus menyembunyikan kenyataan yang seharusnya diketahui Leia sejak lama."



"Itu urusanku dengannya," balas Mikail, "Kau, sebagai ayah, adalah yang terburuk."



"Dan sekarang kau berbicara tentang keluarga," Tron tertawa, "Sudah berapa lama kita tidak membicarakannya? Haruskah aku mengatakan pada Leia saat dia sadar bahwa kau sudah membunuh kedua orangtua kita?"



"Diam." Desis Mikail.



"Kau takut, Mikail. Kau takut melakukan hal yang sama untuk ke sekian kali," ujar Tron, "Kau takut ..."



"Kubilang diam!"



Satu serangan mengenai Tron, kali ini tepat di dada hingga wujud iblis pemuda itu memudar secara perlahan. Tron mendesis. Adiknya ini benar-benar tidak menahan diri untuk menyerangnya. Walau memiliki kemampuan regenerasi yang cukup cepat, tetapi dia tidak mungkin bisa pulih secepat biasanya karena serangan Mikail terlalu kuat ia terima.



Mikail mengubah kembali wujudnya menjadi manusia dan menatap Tron dengan tatapan dingin, "Sekali lagi kau mengungkitnya, aku akan membuat kematianmu lebih mengerikan daripada iblis-iblis yang pernah kubunuh."



Bukannya takut, Tron malah tertawa. Pemuda itu tidak memerdulikan lukanya yang cukup serius untuk ukuran seorang iblis yang mampu beregenerasi secepat kedipan mata.



"Seharusnya kau menjelaskan pada Leia, bahwa kau takut membunuhnya," kata Tron, "Ah ..., ekspresimu lucu sekali, Adikku. Seandainya Leia melihat ekspresimu saat ini."



"Kau ...," Mikail mengertakkan gigi, "Apa benar-benar sudah siap untuk mati?"



Mikail mengangkat tangannya yang memegang pedang hitam. Aura pemuda itu benar-benar menakutkan andai ada manusia biasa di dekatnya.



"Ada kata terakhir?" tanya Mikail.



"Semoga Leia membencimu dan kabur darimu, Mikail."



Kesabaran Mikail sudah habis. Dia mengayunkan pedangnya tepat ketika Kana menerobos masuk ke dalam dan menghentikan apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu.



"Mikail, hentikan!"



Kedua pemuda itu menoleh dan menatap Kana. Wanita berambut perak itu menurunkan tangan Mikail yang memegang pedang dan menatap Tron, "Pedang ini tidak boleh dikotori oleh darah keluarga kerajaan lagi."



Mikail terdiam. Dia menuruti perintah Kana dan menyarungkan kembali pedangnya, "Lalu, kau yang akan menanganinya?"



Mata wanita itu masih menatap Tron, "Dia lebih pantas dimusnahkan untuk selamanya."


__ADS_1


Mikail tetap diam, dalam hati pun dia setuju dengan ucapan Kana. Tron harus dilenyapkan. Hukuman untuk tinggal di neraka terdalam pun tidak cukup karena dia mengusik ratunya. Calon ratu iblis yang sesungguhnya.



Kana kembali menatap Mikail, "Kau bawa Leia pergi dari sini. Aku memiliki urusan sendiri dengan saudaramu."



"Baiklah. Terserah kau. Aku sudah cukup puas dengan memukulnya hingga terluka seperti itu," kata Mikail sambil menggendong tubuh Leia yang masih pingsan, "Jangan sampai kebablasan, Kana."



"Tentu tidak," Kana tersenyum hampa, "Sampaikan salam terakhirku untuk Leia."



Mikail diam. Dia kemudian pergi dari tempat itu dan meninggalkan Kana dan Tron sendirian.



"Jadi," Tron menatap Kana, "Kau yang akan melenyapkanku?"



"Aku sudah melenyapkan Iris. Melenyapkanmu justru adalah hal yang paling mudah," balas Kana, "Karena aku tidak lagi mencintaimu seperti dulu."



Tron tertawa. Dia melemparkan sebuah bola api pada Kana yang dihindari oleh wanita itu.



"Aku tahu kau berbohong, Kana. Kau terlalu mencintaiku hingga tidak sadar bahwa aku sudah memperalatmu."



"Aku tahu ...," Kana berjongkok di depan Tron, "Karena itulah, mari kita mati bersama."



***



Mikail keluar dari pondok itu dan melihat orang-orang yang tampak kelelahan. Dia sadar bahwa menggunakan wujud aslinya tadi bisa mempengaruhi kemampuan sihir orang-orang di dekatnya. Terbukti dari mereka yang ada di hadapannya kini, semuanya terlihat lelah.



"Yang Mulia," Jenderal Saldera menghampiri Mikail, "Pasukan Silvista yang masih bertahan akan diapakan?"



Mikail memandang tak berminat pada para pasukan Kerajaan Silvista yang tersisa. Ia menaksir ada sekitar tujuh ratus orang yang masih bertahan termasuk sang pangeran, Lucius.



"Kurung mereka di penjara bawah tanah. Untuk sang pangeran, berikan dia pelayanan yang lebih mewah dibanding yang lain," kata Mikail, "Aku ingin bernegosiasi dengannya."



"Baik, Yang Mulia!"



Pemuda itu menatap Jenderal Saldera yang memerintahkan pasukannya untuk meringkus pasukan Silvista, lalu menatap Leia dalam pelukannya.



"Sebentar lagi ..., hanya sebentar lagi."




Mikail duduk di kursi di samping tempat tidur Leia. Sambil membaca sebuah arsip, sesekali matanya melirik istrinya yang tertidur. Tidak ada tanda-tanda bahwa Leia akan terbangun membuat pemuda itu menghela napas. Jemarinya menyentuh pipi Leia, mengelusnya selembut kupu-kupu.



"Sadarlah," gumam Mikail, "Kau tahu aku sedang membutuhkanmu saat ini."



Seperti mendengar permintaan Mikail, jemari Leia bergerak pelan. Mikail menatap wajah Leia dan meliaht kelopak mata gadis itu juga bergetar, membuka perlahan. Mata Leia langsung menatapnya disusul seulas senyum di bibir gadis itu.



"Kau ... menungguku?"



"Aku minta maaf karena membuatmu pingsan selama berhari-hari," Mikail tersenyum, "Tetapi kau benar-benar membuatku khawatir, Leia. Kupikir kau akan tertidur selamanya."



Leia meringis mendengar ucapan Mikail. Pemuda itu kemudian membantunya duduk dan bersandar pada bantal-bantal yang sudah disusun di belakang punggungnya, "Aku baru terbangun dan kau membuatku merasa tidak berguna, Mikail."



"Mengapa?"



"Aku tidak membantumu saat itu. Apa kau menganggapku beban?" tanya gadis itu.



"Tentu saja tidak, bodoh," pemuda itu duduk di samping Leia dan merengkuh gadis itu, "Kau terlalu berharga untuk mengotori tanganmu sendiri dengan hal-hal seperti itu."



"Mengapa? Karena Tron adalah ayahku?" tanya Leia, "Ah ..., kalau dipikir-pikir kalau Tron adalah ayahku, berarti kau adalah pamanku. Dan aku menikahi pamanku sendiri."



Mikail tertawa kecil dan mencium kening Leia, "Bagiku tidak masalah. Apa kau keberatan?"



"Tidak," jawab Leia cepat, "Aku senang menikahimu."



"Kalau begitu, tidak ada yang perlu dipermasalahkan."



Mereka berdua lalu diam. Mikail terus mengelusi surai Leia sementara gadis itu bersandar di bahu Mikail. Keduanya tidak memerlukan banyak kata untuk saling berkomunikasi. Dengan melakukan hal ini saja mereka sudah saling mengerti.



"Mikail, aku haus."

__ADS_1



Mikail mengangguk. Dia mengambil segelas air untuk Leia dan membantu gadis itu meminumnya.



"Di mana para pelayan?" tanya Leia.



"Aku meliburkan mereka untuk beberapa hari ini."



"Untuk apa?"



"Mereka perlu istirahat sebelum menghadapi para pasukan Silvista yang tersisa," kata Mikail, "Dan juga, Pangeran Lucius ada di istana ini."



Kening Leia berkerut mendengarnya. Mengapa Lucius berada di sini?



"Aku ingin bernegosiasi dengannya," Mikail seolah menyadari pertanyaan yang ingin diucapkan Leia, "Sebagai putra dari bibimu, seharusnya dia sadar, kekuatannya di sini tidaklah berarti."



"... bibi? Apa maksudmu?"



"Iris memang bukanlah ibu kandungmu, tetapi ia adalah bibimu." Kata Mikail lagi.



Ini sebuah informasi baru. Leia tentu saja terkejut mendengarnya, "Bisa kau jelaskan padaku, Mikail?"



Mikail menjelaskan apa maksud ucapannya. Dan setelah mendengarnya, Leia menghela napas, "Ternyata begitu. Lalu, sekarang di mana dia? Kana juga, ibuku itu ada di mana?"



"Mereka tidak ada lagi di sini, tidak di manapun," kata Mikail, "Mereka sudah menemui akhir mereka sendiri."



"Maksudmu ..."



"Meninggal. Iris dibunuh oleh Kana, dan Kana serta Tron memutuskan untuk bunuh diri bersama."



Tubuh Leia langsung menegang. Dia tidak peduli pada Iris maupun Tron, dia terkejut mendengar bahwa Kana sudah meninggal, tidak ada lagi di sisinya.



"Berarti ... kau sudah memakan jiwanya?" tanya Leia menatap Mikail, "Apa kau juga akan memakan jiwaku?"



"Untuk apa aku memakan jiwamu? Jiwa Kana sudah cukup untuk saat ini," jawab Mikail, "Aku tidak bisa memakan jiwa orang yang kucintai, Leia. Peraturan itu dibuat oleh ayahku dulu, dan sampai sekarang masih berlaku."



"Aku tidak pernah tahu soal itu."



"Memang, karena aku masih membebaskanmu dari tugas seorang ratu," Mikail tertawa lembut dan menyandarkan dagunya di kepala Leia, "Tetapi sekalipun aku memakan jiwa Kana, dia tidak pernah merasa menyesal, karena yang paling penting baginya adalah kau. Dia sangat menyayangimu sampai-sampai pernah menjadi boneka hidup hanya karena dipisahkan darimu."



Leia mengingat kenangan yang diperlihatkan Mikail dulu dan mengangguk dalam diam. Dia sangat tahu betapa besar cinta Kana untuknya, untuk mereka berdua. Bagi wanita perak itu, menyayangi Mikail dan Leia sama besarnya adalah tujuan hidupnya. Leia juga sangat mengetahui sejak dia menginjakkan kaki di Wilayah Terlarang, wanita itu selalu di sisinya, memperlakukannya dengan lembut dan tidak pernah membiarkannya kekurangan suatu apapun.



Kana sudah menjadi ibu yang baik baginya bahkan walaupun dia menghabiskan masa kecilnya di Kerajaan Silvista.



Mikail menyentuh dagu Leia dan mendongakkan wajah gadis itu, "Apa kau membenciku karena memakan jiwa Kana?"



"Mengapa aku harus membencimu?" tanya Leia balik.



"Kau dari tadi diam ..., aku tidak tahu apakah itu reaksi karena kau membenciku atau tidak," ujar Mikail, "Aku pernah merasakannya dan aku takut melakukan hal yang sama untuk kedua kali."



Leia kini menatap wajah Mikail, yang tampak lebih suram dibanding sebelumnya, "Apa ... kau punya rahasia yang tidak pernah kau beritahukan padaku, Mikail?"



Mikail tersenyum lagi, "Ya. Tetapi aku tidak tahu apakah kau mau mendengarnya atau tidak."



"Aku akan mendengarkan," Leia tersenyum, "Seburuk apapun masa lalumu, aku tidak akan pernah berpaling darimu, Mikail. Kau tahu sendiri soal itu."



"Ya, tentu saja. Karena kau ratuku, dan aku tidak menginginkan ratu lain selain dirimu."









Ada season 2? Ada, dong. Mohon bersabar dulu ya. Season 2 juga akan diposting di work ini setelah ending dan extra part di update di sini.



Sekian dan sampai jumpa lagi. Terima kasih sudah membaca cerita Poison Princess ini dan bersedia menunggu begitu lama serta sangat bersabar menghadapi Putri yang moody-an. :")

__ADS_1




__ADS_2