Poison Princess

Poison Princess
Chapter 11


__ADS_3

Wajah Leia menampakkan kecemasan ketika melihat sekelompok pria dengan masing-masing senjata di tangan mereka. Leia yakin mereka bukanlah prajurit Kerajaan Silvista ataupun dari kerajaan tamu lainnya. Mereka terlihat seperti bandit. Dan bandit yang bersenjata adalah salah satu jenis yang cukup berbahaya jika kau tidak memiliki senjata di tangan.



"Sepertinya kita mendapatkan apa yang kita cari," salah seorang pria yang tampaknya adalah pemimpin kelompok bandit tersebut tersenyum lebar, "Ternyata sangat mudah untuk menjebak sang putri."



Leia seketika itu waspada. Sepertinya mereka memang menargetkan dirinya. Itu artinya, ada seseorang yang menyewa mereka untuk menangkapnya.



"Kuperintahkan kalian untuk mundur," kata Leia, "Atau aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian."



"Memangnya kau bisa apa, Yang Mulia?" ejek yang lain, "Kau hanya sendirian, sementara kami? Kau kalah jumlah dengan kami."



Mata Leia menatap mereka satu-persatu. Ia baru sadar, para bandit itu tidak hanya membawa senjata, namun sesuatu menutupi sebagian wajah mereka. Tubuh mereka pun dibalut pakaian yang sangat tertutup mulai dari leher hingga ujung kaki. Melihat penampilan mereka membuat Leia mulai takut. Sepertinya kelompok bandit ini tahu bahwa di tubuhnya ada racun yang mematikan.



"Tangkap dia, dan ingat, jangan sampai menyentuhnya secara langsung atau menghirup apapun yang keluar dari tubuhnya!"



Mereka bergerak menghampiri Leia yang mencoba menghindar. Dia berusaha berdiri sambil melemparkan bola-bola api biru yang tercipta di tangannya kearah mereka. Tetapi kakinya yang terkilir membuat hal itu nyaris mustahil. Salah seorang diantara mereka menarik rambut gadis itu hingga terjatuh ke belakang. Dua orang mengunci kedua lengannya dan seorang lagi berusaha mengikatnya.



"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"



"Terus saja kau berteriak, Yang Mulia. Tempat kita sekarang berada cukup jauh dari perkemahan rombongan kerajaan di dekat sungai. Tidak ada yang bisa mendengar teriakanmu."



Leia mulai panik. Racun di tubuhnya menguar keluar dalam kepulan asap putih, tetapi para bandit itu tidak terpengaruh sama sekali karena baju dan penutup di sebagian wajah mereka. Usaha Leia dengan memberontak semakin sia-sia saat seorang bandit melukai kakinya yang terkilir. Ia memekik tertahan merasakan rasa sakit dari kakinya.



Kedua tangan dan kakinya kini terikat. Salah seorang dari mereka bahkan menamparnya dengan keras sehingga pandangan gadis itu berkunang-kunang dan nyaris pingsan.



Salah seorang dari mereka menggendongnya seperti karung beras dan tersenyum lebar, "Tenang saja, Yang Mulia. Sebelum kau kami serahkan pada orang yang membayar kami, tubuhmu itu akan kami nikmati terlebih dulu."



Leia merinding mendengar ucapan tersebut dan kembali memberontak. Kelompok bandit itu hendak membawa Leia pergi saat tiba-tiba api sudah mengepung mereka dan membuat jalan keluar hilang dalam sekejap mata.



***



Mikail merasakan perasaannya tidak enak. Perasaan itu terbukti benar ketika dia melihat Joanne dan Jean kembali dengan dua ekor harimau putih tetapi tidak dengan Leia bersama mereka.



"Ayah! Ayah!"



Kedua gadis kembar itu segera menghampiri Mikail yang bersandar pada sebuah pohon. Joanne dan Jean memeluk Mikail dan berbicara bersahut-sahutan hingga membuat pemuda itu binugng.



"Satu-persatu, Joanne, Jean," kata Mikail, "Katakan, apa terjadi sesuatu? Di mana ibu kalian?"



"Ibu menghilang!" kata Jean, "Saat kami bermain di seberang sungai, Ibu tiba-tiba menghilang. Kami tidak bisa menemukannya, Ayah!"



Raut wajah Mikail mengeras. Dia menatap orang-orang yang sibuk dengan kegiatan mereka, berpura-pura untuk tidak mendengar atau berusaha tidak berurusan dengan Mikail.



"Ayah, cepat temukan Ibu!" pinta Joanne, "Kami takut Ibu terluka."



Mikail menatap Joanne dan Jean, menepuk kepala mereka pelan dan berjalan kearah Ratu Iris yang sedang ditemani Lucius dan Lady Irina. Kedatangan Mikail membuat ketiga orang itu menoleh.



"Perintahkan prajuritmu untuk menyisir hutan," kata Mikail langsung, "Aku tidak akan tinggal diam bila terjadi sesuatu pada Leia."



"Apa ada masalah yang terjadi, Yang Mulia Mikail?" tanya Ratu Iris.



"Istriku menghilang, dan apa kau masih berniat untuk menyembunyikan sesuatu atas hal ini, Ratu Iris?"



Ratu Iris meneguk ludah. Aura yang dikeluarkan Mikail membuatnya sedikit terintimidasi. Dia memaki dalam hati kenapa untuk membuat Leia terpisah jauh dari Mikail sesulit ini.



"Tuan Mikail, saya yakin Nona Leia terlalu asyik menikmati udara hutan," kata Lady Irina, "Hutan ini sangat indah, menjadi habitat alami bagi tumbuhan-tumbuhan yang eksotis. Tentu Nona Leia tidak—"



"Leia menghilang bukan karena menikmati suasana hutan," desis Mikail, "Jika Anda tidak mengetahui apapun, sebaiknya Anda diam, Lady."



Irina terdiam ketakutan. Dia mundur selangkah dan menabrak dada Lucius yang berdiri di belakangnya.



"Saya yakin apa yang dikatakan Lady Irina benar," kata Ratu Iris, "Hutan ini sangat indah, memiliki banyak tanaman eksotis yang jarang dilihat kerajaan lain."



Mikail menatap sang ratu dengan tatapan dingin, "Maksud Anda, Anda tidak ingin memerintahkan prajurit Anda untuk mencari satu tamu yang hilang dari rombongan ini?"



"Bukan itu maksud ibunda saya, Yang Mulia Mikail," kata Lucius, "Kita tidak boleh gegabah. Banyak tamu yang tidak tahu apa yang terjadi saat ini, dan bila para prajurit diperintahkan untuk menyisiri hutan, saya yakin mereka akan berpikiran kalau ada hewan buas yang mendekat karena di hutan ini pun terdapat hewan-hewan liar yang memiliki aura sihir sangat kuat."



Mikail menatap Lucius dengan tatapan tidak suka secara terang-terangan. Dia kemudian berbalik dan meninggalkan mereka bertiga.



Lucius berpikir Mikail akan mencari Leia sendiri, tetapi kemudian dia membelalakkan matanya melihat Mikail membuat sebuah barrier besar di sekeliling perkemahan dan api mulai keluar dari telapak tangan pemuda bersurai hitam tersebut.



"Fiere Magima!"



Api besar di tangan Mikail menjalar dengan cepat menuju hutan. Semua orang yang sedang beraktivitas terkejut dengan barrier yang tercipta dan api besar Mikail. Lucius menghampiri pemuda bersurai hitam itu dengan ekspresi marah.



"Apa yang kau lakukan!?" bentak Lucius melihat api yang menjalar begitu cepat ke seluruh hutan.



"Lebih mudah mencarinya jika hutan ini punah, bukan begitu, Pangeran?" kata Lucius menyeringai.



Lucius tidak bisa berkata apa-apa. Dalam sekejap, pandangan semua orang tertuju pada api yang melahap sekeliling mereka. Barrier yang diciptakan Mikail mampu menahan api dan tidak memberikan rasa terbakar di sekeliling mereka. Namun besarnya api yang melahap hutan membuat mereka ketakutan bila mereka tidak sengaja keluar dari batas barrier.



Hampir lima belas menit api melahap hutan, Mikail memerintahkan Nanny menggunakan sihir airnya untuk memadamkan api. Nanny menyanggupi dan membuat air sungai meluap keluar dengan satu jarinya. Semua orang hanya bisa melihat ketika sekeliling mereka berubah menjadi warna hitam arang yang mengenaskan. Barrier yang Mikail ciptakan menghilang ketika pemuda itu menjentikkan jarinya.



Mikail menoleh kearah Lucius, "Aku benar, bukan?"



Lucius diam, tetapi matanya menatap tajam Mikail.

__ADS_1



"Ratu Iris," panggil Mikail, "Saya sudah meringankan pekerjaan untuk prajurit. Bisakah mereka menyisiri hutan ini untuk menemukan Leia?"



Ratu Iris tidak bisa berkata apa-apa dan memerintahkan para prajurit yang ia bawa untuk menyisiri hutan. Beberapa tamu juga mengerahkan prajurit yang mereka bawa untuk membantu. Semakin cepat sang ratu Wilayah Terlarang ditemukan, semakin cepat mereka terbebas dari himpitan aura dingin yang dikeluarkan oleh Mikail.



Joanne dan Jean juga ikut mencari. Kedua peliharaan baru merek mengendus-endus udara yang masih berbau seperti arang. Greine menggeram dan berlari ke satu arah ketika merasa ia mengendus sesuatu yang familiar.



"Greine!"



Joanne dan Jean mengikuti arah berlarinya Greine. Mikail juga melihatnya dan mengikuti kedua gadis kembar itu. Matanya melihat seseorang duduk dengan kepala tertunduk. Sosok itu mendongak ketika merasa ada yang mendekatinya dan kini Mikail bisa melihatnya dengan jelas bahwa sosok itu adalah Leia.



Leia melihat kedua gadis kembarnya dan juga Mikail menghampirinya. Saat tadi api menyebar dengan sangat cepat, Leia memaksakan diri untuk mengeluarkan aura sihir yang ia selimuti dengan racunnya agar dia terhindar dari api yang menjalar. Para bandit yang mencoba membawanya tidak selamat, begitu pula bandit yang menggendongnya dengan kasar. Kini, di bawah kakinya hanya ada abu dari mayat para bandit yang mati terbakar dan Leia tidak merasa kasihan karenanya. Bersyukur tali yang mengikat kedua kaki dan tangannya menghilang karena asap dari racunnya membuat tali tersebut berubah menjadi seperti pasir.



Mikail sampai di hadapan Leia dan langsung memeluk gadis itu. Leia menatap Mikail dan menghembuskan nafas merasakan kalau tubuh pemuda itu gemetar karena takut.



"Aku tidak apa-apa," kata Leia menenangkan, "Kau tidak menggunakan kekuatanmu dengan berlebihan karena aku, 'kan?"



Mikail diam. Dia tetap memeluk tubuh Leia bahkan ketika gadis itu berdiri. Pandangan Leia teralihkan pada orang-orang yang kini menghampiri mereka. Ratu Iris, Pangeran Lucius dan tunangannya juga ada di antara mereka, dan melihat orang yang menjadi dalang dari penyerangannya kali ini di hutan, Leia tidak bisa tidak menyembunyikan racunnya yang kini mengumpul di tangan kanannya.



"Minggir, Mikail," kata Leia datar.



Gadis itu berjalan dengan agak tertatih karena kakinya yang terkilir belum sepenuhnya sembuh. Dia langsung menghampiri seseorang diantara mereka yang tengah menghampirinya dan mencengkeram lengan orang itu hingga menjerit kesakitan.



Lady Irina menjerit ketika Leia mencengkeram tangannya dan detik kedua tangan mereka bersentuhan, jari-jari sang lady berubah menjadi hitam dan membuat tunangan Pangeran Lucius itu panik.



"Lacia, hentikan!"



Lucius mendorong Leia hingga mundur beberapa langkah dan melihat tangan Irina mulai menghitam secara perlahan. Para pelayan Irina mencoba menenangkan lady mereka yang menangis meraung-raung sementara Leia memandanginya dengan tatapan dingin.



Leia menoleh kearah Mikail, yang sedang menatap tangan kiri Irina yang menghitam secara perlahan. Pemuda itu kemudian menjentikkan jarinya dan hal selanjutnya membuat semua orang yang melihat hanya bisa menahan nafas.



Sekali lagi Mikail memperlihatkan kekejamannya dengan memotong tangan Irina yang sudah menghitam dan membuat gadis berambut pirang itu kembali menjerit kesakitan.



"Aaaarrgghh!!"



"Irina!"



Lucius melihat darah yang keluar dari luka Irina yang terus keluar. Tanpa pikir panjang, dia menghentikan pendarahan Irina dengan saputangan yang dibawanya dan menatap Mikail dengan raut marah, "Mengapa kau memotong tangannya?!"



"Racun itu bisa membunuhnya, lagipula kenapa kau menyerangnya, Ratuku?" jawab Mikail santai.



Leia tidak menjawab. Dia justru mendekatkan dirinya pada Mikail dan dibalas pemuda itu dengan pelukan erat.



"Racunnya bisa hilang jika Leia menariknya kembali!" kata Lucius kesal.




"Bukankah kau sudah tahu?" jawab Leia sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Mikail.



"Ah, aku lupa ... jadi lupakan saja," Mikail tertawa kecil.



Lucius menatap Mikail dengan penuh kemarahan, namun di sisi lain, Irina memerlukan pertolongan secepatnya. Dia memerintahkan beberapa pelayan untuk membawa Irina ke tenda untuk dirawat. Semua orang menatap apa yang terjadi pada Irina dengan sorot ngeri, terutama melihat potongan tangan yang menghitam dan kini seolah berubah menjadi abu.



Leia menatap mereka dengan tatapan tak berminat dan kembali membenamkan wajahnya di dada Mikail, "Aku takut,"



"Kau tidak perlu takut," kata Mikail, "Mereka tidak akan bisa mengganggumu lagi."



Gadis itu mengangguk dan kemudian mendongakkan kepalanya, "Kau membunuh mereka dengan apimu, 'kan?"



Mikail tertawa kecil mendengar ucapan Leia. Disentilnya kening gadis itu dan membuatnya mengaduh.



"Apa pun yang terjadi padamu, tentu saja aku mengetahuinya." Jawab Mikail.



Leia mengusap keningnya yang disentil Mikail dan memukul lengan pemuda itu, "Kau nakal,"



Mikail kembali terkekeh ketika Leia melepaskan diri darinya dan langsung memeluk Joanne dan Jean. Gadis itu mengajak kedua putri kembar itu ke perkemahan. Setidaknya kehebohan tadi tidak membuat rombongan dari Wilayah Terlarang terganggu karena hal itu sudah biasa bagi mereka.



***



"Mengapa kau bertindak sendirian tanpa perintahku, Lady Irina!?"



Ratu Iris menatap Lady Irina yang baru diobati. Wajah sang lady sangat pucat, syok karena harus kehilangan satu tangannya dan menjadi seorang yang cacat. Para pelayan dan juga Lucius sudah keluar dari tenda Irina, dan kini hanya ada mereka berdua.



Ratu Iris mengerang frustasi. Rencananya sekali lagi gagal karena tunangan putranya. Satu kesalahan seperti ini bisa saja membuat Leia dan Mikail pergi dan Lucius tidak akan mendapatkan tahta Kerajaan Silvista secara sah. Padahal dia sudah menyusun sebuah rencana besar yang bisa membuat Leia terperangkap dan tidak akan bisa kabur lagi.



Dan satu rantai dari rencananya hancur karena Irina!



"Aku sudah mengatakan padamu bila kau ingin bertindak, seharusnya kau memberitahuku!" kata sang ratu, "Jika sudah seperti ini, kepercayaan Lacia dan suaminya akan semakin menipis dan tidak ada kesempatan bagimu untuk menggantikanku menjadi ratu bersama Lucius sebagai sang raja!"



"Aku hanya ingin memuluskan rencanamu, Ratu" kata Irina tak terima karena dibentak, "Kau bilang aku harus menyiapkan rencana sendiri jika aku melihat kesempatan, dan tadi adalah kesempatan yang cukup besar dengan taruhan yang besar pula."



"Tapi, nyatanya tidak berhasil, bukan?" balas Ratu Iris, "Kau kehilangan orang-orangmu dan tangan kirimu. Kau ingin membela dengan pernyataan apa?"



Irina terdiam. Dia menggigit bibir bawahnya dan menatap tangan kirinya yang kini cacat.



Ratu Iris mengembuskan nafas keras dan berbalik meninggalkan tenda Irina. Dia tidak pernah berpikir kalau Irina akan bertindak seceroboh ini. Walau dia hanya melihat Irina sebagai pion agar Lucius menjadi raja, namun dia dan Irina selalu sepemikiran dalam beberapa hal.

__ADS_1



Ia memperhatikan suasana perkemahan yang mulai kembali seperti sebelumnya. Hanya yang berbeda adalah hutan yang separuhnya sudah lenyap karena dibakar oleh Mikail. Matanya melirik Leia yang duduk bersama Mikail di sudut perkemahan. Nanny melayani mereka dengan menyediakan berbagai macam makanan. Sekarang memang sudah waktunya makan malam, tetapi tidak ada yang ingin menikmati makan malam kecuali rombongan dari Wilayah Terlarang.



Mata sang ratu kemudian beralih ke tenda para tamu lain, dan kemudian berhenti pada tenda Lucius, di mana putanya itu tengah menatap ke satu titik sambil melipat kedua tangan di depan dada. Sang pangeran tengah menatap sesuatu dan tidak disadari oleh siapa pun, namun ratu tahu persis apa atau siapa yang ditatap oleh Lucius.



Leia.



"Apa dia sudah mulai menyayangi Lacia?" tanya Ratu Iris pada dirinya sendiri.



Ia kemudian menatap Leia, kemudian Lucius lagi bergantian. Seulas senyum licik terukir di bibirnya, "Mungkin rencanaku kali ini bisa kugunakan."



***



Malam datang dengan cepat. Leia duduk di salah satu batang pohon yang tumbang dan ditumbuhi lumut. Gadis itu mengelus rambut Mikail yang berbaring di pangkuannya. Joanne dan Jean sedang bersama Nanny, mengikuti wanita itu membuat beberapa ramuan herbal dan juga mengasah pisau untuk berburu besok.



"Kau tidak mengantuk?" tanya Mikail sambil menatap wajah Leia di atasnya.



"Tidak. Aku memikirkan banyak hal," jawab Leia.



"Hal-hal seperti apa?"



"Banyak ..., aku tidak tahu apa saja yang kupikirkan saking banyaknya." Leia tertawa kecil.



"Bagaimana dengan pikiran mempunyai bayi?" tanya Mikail lagi.



Pipi Leia memerah mendengarnya, beruntung sekarang sudah malam dan penerangan hanya berasal dari api unggun besar di tengah perkemahan. Dia tidak menduga Mikail akan menanyakan pertanyaan itu. Leia berharap Mikail tidak melihat wajahnya yang memerah.



Mikail terkekeh, dia menyentuh pipi Leia dengan gerakan lembut, "Aku sangat ingin punya bayi darimu."



"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu, 'kan?" balas Leia.



"Memang. Aku hanya mengutarakan apa yang ada di pikiranku." Mikail mencubit pipi istrinya itu, "Aku ingin anak laki-laki."



"Kau kira mempunyai anak bisa ditentukan?" Leia kini tertawa.



"Siapa tahu? Kau ingin anak perempuan atau laki-laki?" kata Mikail.



"Harusnya aku yang menanyakan hal itu." Leia menggeleng-gelengkan kepala geli mendengar pertanyaan Mikail.



Mikail tersenyum tipis dan bangun dari tidurnya. Dia duduk di samping Leia, "Bagaimana kalau kita jalan-jalan?"



"Sekarang?" Leia menatap langit yang gelap tanpa bintang dan juga kondisi hutan yang hangus karena terbakar. Ia merasa takut ketika harus pergi ke hutan yang gelap saat ini.



"Tidak perlu takut," kata Mikail, "Yang harus kau takutkan adalah aku yang mungkin saja menerkammu tanpa sengaja, Sayang."



Leia menoleh menatap Mikail dengan mata disipitkan sementara pemuda itu tertawa.



"Ayolah," ujar Mikail lagi, "Aku ingin melihat sungai di malam hari."



Mikail berdiri dan mengulurkan tangannya. Leia menyambut uluran tangan suaminya dan berjalan meninggalkan perkemahan. Dia sempat melihat Nanny menatap mereka dan memberi isyarat bahwa mereka akan pergi ke hutan.



Leia mengikuti Mikail berjalan memasuki hutan. Seperti yang dia perkirakan. Hutan sangat gelap di malam hari. Tidak ada kunang-kunang seperti yang biasa ia lihat di hutan-hutan di Wilayah Terlarang dan itu membuat Leia takut. Dia berjalan di samping Mikail dan menggenggam lengan pemuda itu erat-erat.



"Di sini sangat gelap," kata Leia.



"Aku yang akan menjadi penerangmu," balas Mikail sambil membalas genggaman tangan Leia, "Kita hanya akan pergi ke sungai. Dan di sana kita bisa berbicara dengan santai seperti biasanya."



Leia mengangguk mendengarnya.



Mereka berjalan hingga sampai di pinggir sungai tempat Leia mengajak Joanne dan Jean tadi siang. Di sini sedikit lebih terang karena Mikail membuat beberapa bola api yang melayang di pinggir sungai. Mata Leia menatap batu tempatnya tadi duduk dan mengajak pemuda itu untuk pergi ke sana.



"Sungai di sini sangat jernih," kata Mikail mengamati dasar sungai, "Apa orang-orang jarang pergi ke sungai ini sebelumnya?"



"Tidak pernah ada yang berani memasuki hutan ini selain keluarga kerajaan," jawab Leia, "Seingatku, hutan ini tidak pernah bisa dimasuki sembarangan karena hewan-hewan di sini buas dan beberapa adalah hewan sihir yang tidak mau ditemukan oleh manusia."



Mikail manggut-manggut. Punggungnya bersandar pada batu di belakang tubuhnya. Leia sendiri langsung memosisikan tubuhnya di samping Mikail dan menggunakan dada pemuda itu sebagai sandaran.



"Mikail," kata Leia, "Aku ... aku takut. Aku takut bila tadi kau tidak menggunakan apimu, mungkin aku sudah ..."



Tubuh Leia gemetaran. Mengingat ucapan bandit yang menggendongnya dan bagaimana mereka menatapnya dengan tatapan tidak senonoh membuatnya ketakutan. Leia memang kebal dengan ejekan atau hinaan, tetapi menghadapi orang-orang yang menatapnya dengan tatapan seperti para bandit tadi adalah hal yang berbeda.



Leia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Mikail dan membiarkan tangan pemuda itu memeluknya.



"Aku tahu kau ketakutan, tetapi mereka sudah menjadi abu." Ujar Mikail, "Siapapun yang berani menyentuhmu akan menemui dewa kematian."



Leia mengangguk pelan. Ia membiarkan Mikail mengelus kepalanya dan membuatnya mulai mengantuk. Dia mendekatkan tubuhnya lagi dan memejamkan mata. Aroma tubuh Mikail selalu membuatnya tenang dan bisa tidur nyenyak. Hanya dalam waktu beberapa menit, Leia sudah tertidur pulas.



Mikail melihat istrinya tertidur dengan cepat hanya bisa terkekeh. Leia sudah mengalami hari yang melelahkan. Dia membetulkan posisi tubuhnya sendiri yang sedang menyandar dan kemudian Leia ia posisikan tepat di pangkuannya. Gadis itu tidak terbangun dan makin mendekatkan diri pada Mikail. Hidung Leia bersentuhan dengan ceruk leher Mikail dan membuat pemuda itu meneguk ludah.



Dari posisinya saat ini, Mikail bisa melihat bagaimana bahu Leia yang putih terlihat jelas. Syal tebal berwarna biru muda yang menutupi sebagian bahu gadis itu tidak bisa menyembunyikan betapa halus dan putihnya kulit tubuh Leia.



"Mungkin inilah yang dinamakan siksaan batin," Mikail terkekeh lirih sambil menatap wajah Leia yang tertidur.



"Lain kali aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian," kata pemuda itu, "Selamat tidur, Ratuku. Semoga kau bermimpi indah."


__ADS_1



__ADS_2