Poison Princess

Poison Princess
Chapter 06


__ADS_3

Surat undangan dari Kerajaan Silvista sempat membuat geger Istana Utama di Wilayah Terlarang. Beberapa orang berspekulasi mengapa kerajaan dari luar wilayah mengundang raja dan ratu mereka untuk menghadiri sebuah pesta. Hanya sedikit yang tahu alasan sebenarnya dari undangan tersebut, termasuk Kana. Wanita berambut perak itu sangat mengetahui masa lalu Leia dan berniat mencegah mereka pergi, tetapi kemudian ia memikirkan lagi soal dendam Leia pada kerajaan tersebut. Hal ini membuat Kana kembali berpikir.



Siang ini, wanita itu memasuki istana utama dan disambut oleh beberapa pelayan yang ditugaskan menunggunya.



"Di mana Leia?" Tanya wanita itu tanpa basa-basi.



"Yang Mulia Ratu berada di taman belakang, merawat bunga seperti biasanya." Jawab salah seorang pelayan.



Kana tersenyum kecil. Kebiasaan Leia yang satu ini tidak pernah berubah. Dengan langkah yang anggun dia berjalan menuju taman belakang istana, di mana setiap spesies tanaman langka di seluruh Wilayah Terlarang terkumpul. Mata Kana melihat gadis yang ia cari sedang memetik beberapa kuntum bunga bersama Joanne dan Jean. Mereka bertiga tampak seperti ibu dan anak karena kedua anak kembar itu selalu mengikuti Leia kemana pun ia pergi.



"Leia,"



Panggilan itu membuat Leia menoleh.nya merekah melihat Kana datang menghampirinya.



"Bibi Kana!"



Joanne dan Jean sudah lebih dulu meluncur menyambut Kana dan memeluk wanita itu. Membuat Kana tertawa senang, "Hai Joanne, Jean. Kalian rupanya kabur kemari. Adik-adik kalian di kastil sering ribut karena kalian tidak bisa ditemukan di mana pun."



"Kami sudah meminta izin pada pengurus kami di kastil dan beliau juga mengizinikan," balas Joanne, "Kami rindu dengan Ibu, karena itu kami sering kemari."



Kana tersenyum lagi mendengar jawaban mereka. Anak-anak polos dan ceria seperti mereka berdua adalah harta berharga bagi Wilayah Terlarang.



"Kana, ada apa kau kemari?" Tanya Leia setelah sampai di hadapan wanita itu.



"Ah, tidak. Aku hanya rindu padamu dan ingin menanyakan sesuatu, soal surat undangan dari Kerajaan Silvista." Kata Kana. "Apa kau akan pergi ke sana bersama Mikail?"



"Jika menolak, mereka akan mengira kita adalah orang yang tak mau bersosialisasi." Jawab Leia, "Jadi satu-satunya jalan adalah menerima. Jangan khawatir, Kana. Kami tidak akan mudah diprovokasi oleh mereka. Lagipula aku juga merindukan seseorang di sana, Nanny-ku."



Kana mengangguk paham. Nanny yang disebut oleh Leia adalah wanita yang ditugaskan untuk mengurus gadis itu ketika masih di Kerajaan Silvista. Saat Leia datang ke Wilayah Terlarang, sering kali gadis itu mengaku merindukan Nanny dan berharap suatu hari akan membawa wanita tua itu ke Wilayah Terlarang dan tinggal bersama.



"Bila kau bertemu dengannya, sampaikan salamku. Dan bila perlu, bawalah dia kemari. Dia pasti akan senang mengetahui kau baik-baik saja." Ujar Kana.



"Tentu," Leia tersenyum, "Aku ingin Nanny berada di sini dan melihat anak-anak asuh yang kurawat bersama Mikail. Ia senang anak-anak, dia pasti akan senang tinggal di sini."



"Sudah pasti. Kapan kalian berangkat?"



"Lima hari dari sekarang. Apa kau mau ikut, Kana?" Tanya Leia.



"Tidak. Aku akan menunggu saja di sini. Baru seminggu kita kembali dari luar wilayah, aku masih ingin menikmati suasana tenang di sini." Wanita itu tertawa kecil, "Tidak apa-apa. Karena kau sudah menjadi istri Mikail, aku cukup tenang meninggalkanmu dan dia untuk bepergian sendiri."



Kali ini pipi Leia terasa panas. Ia hanya menunduk malu sementara Kana tertawa melihat sikapnya.



"Ibu, Ibu, apa kau juga akan mengajak kami?" Tanya Jean, "Kami juga ingin melihat dunia luar."



"Benar, Bu. Kami juga ingin ikut. Boleh, ya?" sambung Joanne.



Leia menatap kedua anak kembar itu sambil tersenyum. Ia berjongkok hingga kini matanya sejajar dengan mereka berdua. "Aku akan membawa kalian berdua. Kalian tidak perlu khawatir. Mikail juga pasti juga mengizinkan."



"Benarkah?" Joanne dan Jean bertanya bersamaan, "Ayah akan mengizinkan kami ikut?"



"Asal kalian bersikap baik dan tidak berlaku nakal, tentu dia akan mengizinkan." Leia tersenyum lagi.



Joanne dan Jean saling pandang dan tersenyum. Mereka memeluk Leia erat-erat, "Terima kasih, Ibu!"



"Sama-sama, Joanne, Jean," Leia tertawa, "Sekarang, pergilah ke dalam. Aku yakin Clarice sudah menyiapkan cemilan untuk kalian."



Kedua anak kembar itu mengangguk dan berpamitan pada Leia dan Kana. Setelah kedua anak itu tak terlihat lagi, barulah raut wajah Leia sedikit berubah dan Kana mengetahuinya.



"Kau punya beban yang ingin dibagi?" Tanya wanita berambut perak itu.



"Surat undangan itu hanya pengalihan," kata Leia, "Tujuan yang sebenarnya mungkin lebih dari sekedar pesta. Seingatku ulang tahun Kerajaan Silvista dirayakan setiap akhir musim dingin, bukan di awal musim dingin."



"Hooo ..., sepertinya kerajaan itu ingin bermain-main denganmu?"



"Kurang lebih. Aku yakin ini ada hubungannya dengan keinginan Lucius yang ingin menikahiku." Ujar Leia, "Aku masih tidak paham apa yang dipikirkannya. Padahal kami adalah saudara kandung, dan mengingat aku tidak mengakui dia sebagai kakakku lagi, aku tidak mau mencemari mataku dengan terus melihatnya."



Kana terkekeh mendengar ucapan gadis itu. Mulut pedas gadis itu masih tetap menusuk dan menyakitkan bagi telinga yang tidak biasa mendengarkan.



"Tapi sekarang kau punya Mikail di sisimu. Kau tidak perlu takut lagi bila mereka mengejekmu atau memperlakukanmu dengan kasar." Ujar Kana, "Mikail akan selalu di sisimu dan melindungimu."



"Aku tahu," Leia tersenyum manis, "Aku juga tidak akan membiarkan mereka memperlakukanku seperti dulu. Aku bukanlah Lacia la Midford yang bisa mereka tindas, aku adalah Leia Jester, istri dari Mikail dan juga ratu di Wilayah Terlarang."



"Kepercayaan diri yang bagus," Kana tersenyum, "Aku bangga punya adik sepertimu. Kau harus terus bahagia dan jangan biarkan siapa pun merenggutnya darimu."



"Kata-katamu selalu kuingat, Kana. Aku tidak akan melupakannya semudah itu." Leia mengangguk, "Kana, kau mau menemaniku memilih bunga-bunga yang sudah mekar? Aku mau mengeringkannya dengan angin musim gugur sebelum menaruhnya di kastil pribadiku."



"Tentu saja. Bunga-bunga yang kau miliki di sini pasti bisa membuat bunga-bunga lain di taman kastilmu senang karena memiliki teman baru." Ujar Kana sambil tersenyum.



***



Sementara itu di istana utama Kerajaan Silvista, Ratu Iris sedang memeriksa laporan yang harus ia baca hari ini ketika Lucius masuk dan langsung menghampirinya.



"Ada apa, Lucius?" Tanya sang ratu tanpa mengangkat wajahnya dari laporan yang ia baca.



"Ibunda, kau mengundang orang-oarng dari Wilayah Terlarang?" Tanya Lucius balik, "Kau mengundang raja dan ratu Wilayah Terlarang kemari untuk apa?"



"Bukankah ulang tahun kerajaan kita akan dilaksanakan di akhir musim dingin? Kenapa Ibunda malah mengundang mereka satu musim lebih cepat?"



"Apa itu yang membuatmu keberatan? Seharusnya kau senang, Lucius. Aku mengundang mereka untuk mengumumkan bahwa Lacia ada di antara mereka dan harus dikembalikan pada kerajaan ini."



"Apa?" Lucius menatap ibunya, "Apa yang Ibunda katakan?"



Ratu Iris menutup laporan yang dibacanya dan berdiri, "Kau tidak perlu khawatir, Lucius. Lacia akan kembali ke sini dan tidak akan bisa kabur, ia akan menjadi pengantinmu. Aku akan melakukan segala cara untuk membuatnya menjadi istrimu."



"Tapi, Ibunda, kami saudara kandung." Kata Lucius lagi, "Kenapa kau terus mengatakan kalau kami harus menikah?"



"Karena kau akan mendapatkan tahtamu di kerajaan ini setelah menikahinya." Jawab sang ratu dengan suara tenang.



"Tetapi ... mengapa?"

__ADS_1



"Kau akan mengerti, Lucius. Yang jelas, yang harus kau lakukan adalah jangan membiarkan Lacia lepas dari tanganmu. Kau tidak boleh membiarkannya lolos dari genggamanmu!"



Lucius terdiam. Sampai detik ini dia masih juga tidak mengerti kenapa ibunya ingin dia menikah dengan adik kandungnya sendiri. Sampai saat ini juga dia tidak mengerti kenapa beliau selalu mengatakan Lacia-lah kunci agar dia mendapatkan tahta kerajaan. Ada yang tidak beres, Lucius tahu itu. Tetapi dia tidak tahu harus menyelidiki dari mana. Dia takut jika dia menyelidiki maksud sang ratu akan berakibat fatal pada dirinya. Karena itu Lucius hanya bisa terdiam dan sekali lagi menerima dengan patuh perintah ibundanya.



Ratu Iris tersenyum puas. Dia menepuk lengan putranya, "Kau tidak perlu khawatir. Sekali kupu-kupu terjerat dalam sarang laba-laba, ia tidak akan lepas sampai laba-laba itu memakannya hingga tak bersisa. Lakukanlah seperti yang dilakukan oleh laba-laba, buat Lacia terjerat padamu dan tak bisa lepas!"



Lucius menatap mata ibundanya yang percaya diri kemudian mengangguk, "Aku akan mengingatnya."



"Bagus. Sekarang pergilah. Kau ada rapat dengan para jenderal dan menteri, 'kan?" ujar Ratu Iris.



Lucius mengangguk. Dia keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Ia harus melakukannya agar Ratu Iris tidak melihat kalau ia cukup tertekan dengan setiap desakan yang beliau berikan.



Sementara itu, sang ratu mendengus. Putranya benar-benar bertindak sebagai pion, padahal ia menempatkan posisi 'Raja' untuk Lucius selama ini. Semua ini demi kebahagiaan satu-satunya putra yang ia miliki. Lacia tidak ia hitung sebagai anak, mengingat anak perempuan itu adalah tumbal yang tepat untuk membuat Lucius menjadi raja di kerajaan ini.



Dan kemudian satu rencana kecilnya akan berjalan sempurna!



Ratu Iris menyunggingkan senyum licik yang dingin. Ya. Dengan segala rencana yang terbentuk di otaknya, semuanya akan berjalan sesuai dengan yang dia inginkan, dan pada saatnya dia akan memetik hasilnya!



***



Lucius bertemu Irina ketika dalam perjalanan menuju ruang rapat. Gadis sepantaran adik kandungnya itu tampak memesona dengan rambut pirang yang diikat tinggi dan gaunnya yang berwarna emas, mempertegas warna rambutnya yang secerah matahari.



"Lucius," Irina membugkuk sebelum kembali menatap pemuda itu, "Kau ingin ke mana?"



"Ke ruang rapat." Jawab Lucius acuh, "Kalau begitu, permisi."



"Kau tak ingin menemaniku? Biar begini, aku adalah tunanganmu." Kata Irina.



Lucius mengembuskan nafas kasar dan menatap Irina yang tersenyum manis. "Apa maumu, Irina? Apa tak cukup kau memiliki status sebagai tunanganku dan memiliki akses penuh di istana ini?"



"Oh, Lucius," Irina tertawa kecil sambil menyembunyikan sebagain wajahnya dengan kipas bulu di tangan, "Kau terlalu polos, bagaimana kalau kita pergi berjalan-jalan? Lupakan soal rapat yang membosankan itu, temani aku pergi ke kota untuk berbelanja, bagaimana?"



"Kau tahu sendiri kalau aku punya rapat yang harus kuhadiri," Lucius menggeram, "Kau ingin aku dicap sebagai pangeran yang selalu bermalasan? Setiap kau datang dan bertemu denganku, kau selalu memintaku menemanimu."



"Karena itu adalah tugasmu." Balas gadis itu dengan senyum sinis, "Kau itu tunanganku, Lucius. Bersikap baiklah padaku dan aku akan membuat segalanya mudah untukmu."



Apa itu juga termasuk kepercayaan ibunya yang tampak gila kekuasaan? Tanya Lucius dalam hati.



"Aku hanya ingin ditemani jalan-jalan. Cuaca pagi ini sangat cerah, sayang dilewatkan hanya dengan menghadiri rapat tak penting itu," Irina kembali berbicara, "Ayo, Lucius, jangan menolakku."



Lucius hendak mengumpat dan protes, tapi kemudian menarik nafas sekali lagi sebelum menghembuskannya. Gadis ini dan juga ibunya, entah apa yang dipikirkan oleh kedua wanita ini. Tetapi Lucius sadar diri ia hanya sekedar ... pion. Ya, pion penting untuk mendapatkan tahta Kerajaan Silvista yang entah kenapa sulit didapatkan.



Lucius pernah mendengar kalau untuk mendapatkan tahta kerajaan seorang kandidat pemimpin harus memiliki kualifikasi khusus untuk mendapatkannya. Seperti apa kualifikasi yang dimaksud, tidak ada yang tahu. Hanya ibunya selaku ratu kerajaan ini yang mengetahui sejak ayahnya meninggal lima tahun lalu.



"Lucius," panggilan Irina membuat pemuda itu menatap gadis pirang itu, "Temani aku."



"Baiklah, aku akan mengikutimu." Kata Lucius geram, "Hanya karena kau memaksaku, suatu hari aku akan membuatmu menyesal, Irina."



"Aku tak sabar menantikannya." Irina tersenyum dengan sebelah bibir, "Aku yakin, itu tidak akan terjadi selama aku memiliki nafasku."



***




"Mikail," Leia tersenyum lebar melihat kedatangan Mikail. Gadis itu merentangkan kedua tangannya dan masuk dalam pelukan pemuda itu.



"Kau menjadi lebih manja," Mikail tertawa kecil, "Di mana Joanne dan Jean?"



"Mereka kembali ke kastilku. Sudah waktunya mereka tidur siang." Jawab Leia, "Apa pekerjaanmu sudah selesai?"



"Hanya tinggal menanda-tangani beberapa dokumen dan memeriksa buku keuangan. Setelahnya, selesai." Kata pemuda itu, "Kenapa? Apa kau mengantuk?"



"Tidak. Aku ingin berduaan denganmu." Gadis itu tersenyum manis dan langsung dihadiahi ciuman di dahinya, "Aww ..., kau nakal."



"Aku hanya menciummu. Kenapa kau menyebutku nakal?" Mikail mengerutkan kening, "Oh, kau bermaksud menggodaku."



"Ketahuan, ya?"



"Sangat, Sayang." Kata Mikail, kemudian tertawa bersama Leia.



"Mikail."



"Ya, Sayang?"



"Aku ingin pergi ke daerah pixie, boleh?" Tanya gadis itu, "Aku ingin melihat daerah itu. Queen pernah menceriakan tentang daerah tersebut padaku dan aku ingin melihatnya."



"Daerah pixie adalah daerah yang kecil. Dekat dengan daerah yang dipimpin oleh Elf." Kata Mikail, "Mereka lebih sering mengurus tanah dan ladang, terkadang ikut memantau keadaan cuaca."



"Karena itulah, aku ingin melihat ke sana. Boleh, ya?" pinta Leia.



"Setelah pekerjaanku selesai, kita akan pergi ke sana." Mikail meluluskan permintaan wanitanya, "Kita akan pergi hanya dengan King dan Queen. Tidak perlu membawa prajurit atau jenderal. Aku sendiri sudah cukup untuk melindungimu bila ada sesuatu yang berbahaya."



"Aku sendiri juga cukup untuk melindungimu, Mikail. Kita bisa saling menjaga." Leia tersenyum dan mencium bibir pemuda itu, "Kau yang terbaik. Aku mencintaimu, Mikail."



"Aku pun begitu."



Mikail memeluk tubuh Leia lebih erat dan menikmati suasana tenang yang tercipta. Leia bahkan nyaris tertidur kalau saja Mikail tidak mencium keningnya, "Sebaiknya kau beristirahat. Beberapa hari lagi kita sudah harus bersiap ke Kerajaan Silvista. Aku tidak mau kau sampai jatuh sakit saat di perjalanan. Menjelang malam kita akan pergi ke daerah Pixie karena waktu itu adalah yang paling bagus untuk melihat tempat itu dikelilingi cahaya yang cantik." Ujar pemuda itu.



"Temani aku tidur," kata Leia manja, "Aku juga ingin dipeluk olehmu."



"Setelah pekerjaanku selesai, Leia. Sekarang kau kembali dulu ke kamarmu." Balas Mikail.



"Kau janji?"



"Aku janji. Pergilah, biar aku yang meminta pelayan membawa vas bunga dan keranjang di sini ke kamarmu."



"Baiklah," Leia mengangguk dan mencium pipi Mikail, "Aku akan menunggumu di kamar."



Mikail tersenyum tipis. Ia memperhatikan Leia berjalan kembali menuju istana dan dia segera memanggil pelayan untuk membawakan vas bunga dan keranjang bunga gadis itu ke kamarnya.

__ADS_1



Saat para pelayan mengerjakan tugasnya, Mikail melihat salah satu pelayan pribadi Leia, Althea, muncul. Berbeda dengan pelayan lain yang memakai seragam hitam dan putih yang sama, Althea mengenakan seragam berwarna biru tua dan mirip seperti pakaian pencuri karena membungkus tubuhnya dengan ketat, yang membedakannya juga berasal dari pedang yang tersampir di punggungnya dan juga sebuah rompi yang ujungnya memanjang mencapai lututnya hingga terkesan ia mengenakan rok di luar celana panjang yang ia kenakan.



"Yang Mulia Raja," hormat pelayan wanita itu, "Saya membawakan kabar dari Kerajaan Silvista dari beberapa orang yang mengirimkan merpati pada saya."



"Oh? Kau sudah menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Mikail.



"Sudah, Yang Mulia. Tepat seperti perkiraan Anda dan Yang Mulia Ratu. Ada sesuatu yang akan dilakukan di sana, mengenai detilnya, saya tidak tahu, tapi masih ada hubungannya dengan Yang Mulia Ratu Leia."



"Hmmm ...."



"Apakah saya perlu kembali mengirimkan merpati untuk mengetahui apa yang terjadi?" Tanya Althea.



"Tidak perlu, kurasa cukup biarkan menjadi rahasia saja." Ujar Mikail, "Permainan yang sudah kita ketahui akhirnya tidak akan seru. Aku yakin Leia juga sependapat denganku."



"Persiapkan saja kebutuhan istriku untuk pergi ke sana, dan tunjuk beberapa orang pelayan dan prajurit pribadi paling andal untuk menyertai kami. Aku serahkan semuanya padamu, Althea."



"Baik, Yang Mulia."



Mikail mengangguk dan kemudian beranjak dari tempat itu. Ia harus kembali ke ruang kerjanya untuk mengerjakan pekerjaan yang tersisa dan kemudian menemani Leia tidur siang. Gadisnya itu tidak akan senang jika dia terlalu lama menghabiskan waktu untuk sekedar mengurus urusan kerajaan.



Mengerjakan pekerjaannya juga tidak sulit. Dua jam berlalu setelah Mikail masuk kembali ke ruang kerjanya dan menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Ia kemudian menuju kamar Leia yang terletak di lantai tiga dan berada di ujung koridor, di balik sebuah pintu ganda besar dengan ukiran bunga-bunga mawar dan lili serta kupu-kupu yang beterbangan. Pemuda itu membuka pintu besar itu dan menemukan Leia sedang duduk di sisi tempat tidur sambil menyisiri rambutnya. Gadis itu memandang ke luar, dan ketika Mikail masuk, pandangan gadis itu langsung tertuju padanya.



"Apa aku membuatmu menunggu?" Tanya Mikail menghampiri gadis itu.



"Tidak, aku malah berpikir ingin tidur lebih dulu kalau kau tidak juga datang." Leia tertawa.



Mikail tersenyum mendengar tawa Leia. Ia duduk di samping gadis itu dan menghela kepalanya ke bantal di belakang mereka. Leia langsung bergelung dalam pelukan Mikail dan membiarkan nafas pemuda itu berhembus di puncak kepalanya.



"Kau selalu memiliki wangi mawar hutan," bisik Mikail, "Apa kau menyuling sari bunga mawar hutan di taman istana?"



"Tentu saja tidak, aku memakai bunga mawar dari hutan di dekat perbatasan Elf dan Undine. Di antara dua daerah itu ada daerah Salamander yang mengembangkan varietas mawar hutan yang memiliki aroma memikat. Apa kau suka wewangian ini?"



"Uhm, sangat. Cocok dengan kulit lembutmu." Balas pemuda itu, membuat Leia tertawa malu.



"Kalau begitu aku akan memakainya setiap hari." Kata Leia, "Sekarang, apa aku harus menggodamu atau kau yang akan menggodamu?"



"Kemarin aku sudah menggodamu, Sayang. Sekarang giliranmu," Mikail tersenyum lebar, "Kali ini aku yang akan bermanja padamu."



"Baiklah," Leia mengangguk, "Kau ingin apa?"



"Nyanyikan sebuah lagu."



"Bernyanyi?"



"Iya. Nyanyikan lagu agar aku bisa tidur siang dengan nyenyak." Kata Mikail, "Aku ingin mendengar suaramu ketika bernyanyi, Leia."



"Kau terdengar seperti anak berusia lima tahun yang ingin dimanja," kekeh Leia, "Tapi, aku akan mengabulkannya. Biarkan aku duduk, rebahkan kepalamu di pangkuanku."



Leia bangkit untuk duduk dan memosisikan kepala Mikail di pangkuannya. Jemarinya mengelus rambut Mikail yang matanya sedang terpejam sebelum kemudian mulai bernyanyi.



Hoshi ni yuuki ni kioku ni (Through the stars, snow and memories)



Kimi no ashiato sagasu (I'm looking for your footprints)



Douka towa no yasuragi (I pray you rest peacefully for all eternity)



Koko wa yume no tochuu de (This is the middle of the dream)



Osanai tsubasa de sakamichi kaketeku (With wings that still can't fly, I run up the hill)



Michi kara hagurete kono me o tojiteku (When I stray from the path I close my eyes and keep going)



Hoshi ni yuuki ni kioku ni (Through the stars, snow and memories)



Kimi no ashiato sagasu (I'm looking for your footprints)



Douka towa no yasuragi (I pray you rest peacefully for all eternity)



Koko wa yume no tochuu de (This is the middle of the dream)



Itsuka subete modorite (Someday everything will return to what it was)



Sora no hate hitorikiri (The one place on top of the sky)



Anata ga matsu yasuragi (is peacefully within you)



Hikari no ato nokoshite (Trusting the future after the light in good hands)



Osanai tsubasa de sakamichi kaketeku (With the wings that still can't fly, I run up the hill)



Michi kara hagurete kono me o tojiteku (When I stray from the path I close my eyes and keep going)



Yume ni ai ni kokoro ni (Through the dreams, love and emotion)



Kimi no ashiato sagasu (I'm looking for your footprints)



Towa no hikari nokoshite (Leaving behind the light of eternity)



Yurugi no nai tsubasa de (with your unwavering wings)



Towa no ai o anata ni (May you have eternal love)



{Noria – Raggs no Chikonka (Raggs Requiem, 07-Ghost Insert Song)



Leia tersenyum kecil ketika mendengar nafas Mikail terdengar teratur setelah ia selesai bernyanyi. Dengan perlahan ia merebahkan kepala Mikail dan kemudian berbaring di samping pemuda itu. Seakan tahu Leia berbaring di sebelahnya, pemuda itu menarik Leia ke dalam pelukan hangatnya dan membuat Leia mendesah, senang.



"Selamat tidur, Mikail." Bisik Leia sebelum ikut terlelap bersama pemuda itu.


__ADS_1



__ADS_2