
Persiapan yang diperlukan sudah selesai. Dan hari ini raja dan ratu Wilayah Terlarang akan kembali bepergian, walau bukan dalam rangka bulan madu, tapi untuk menghadiri pesta di Kerajaan Silvista. Beberapa pengawal pribadi kedua orang paling penting itu sudah mempersiapkan kereta yang akan mengangkut mereka dan juga sekitar tiga kereta barang beserta para pelayan yang akan mengikuti.
Sedari pagi, kegiatan di istana berpusat pada kepergian Mikail dan Leia selaku dua pemimpin utama di Wilayah Terlarang. Leia sendiri mempersiapkan dirinya dengan mengenakan sebuah gaun sederhana berwarna merah muda dan melapisi gaun yang dikenakannya dengan mantel berwarna putih. Tubuhnya yang mungil dan juga mantel putih yang ia kenakan membuatnya tampak seperti bidadari mungil yang baru turun dari langit.
"Di mana Joanne dan Jean?" Tanya gadis itu saat para pelayan selesai mendandaninya.
"Nona Joanne dan Nona Jean sudah siap di pintu gerbang, Yang Mulia. Begitu juga dengan Yang Mulia Raja," ujar salah seorang pelayan.
"Kuharap aku tidak membuat mereka menunggu lama," kata Leia, "Kalian boleh kembali. Aku akan berada di pintu gerbang istana beberapa menit lagi. Ada sesuatu yang harus kukerjakan."
Para pelayan mengangguk patuh. Satu-persatu mereka keluar dari kamar Leia dan meninggalkan gadis itu sendiri. Setelah semua pelayan pergi, Leia menghampiri meja dan mengambil selembar kertas. Ia menuliskan sesuatu di atas kertas tersebut dan menggulungnya menjadi gulungan kecil. Dimasukkannya kertas tersebut ke dalam botol kecil dan kemudian bersiul pelan. Sebentuk air terbentuk di depannya dan dari sana muncul peri kecil dengan kulit biru dan bagian bawah tubuhnya adalah ekor sirip layaknya ikan. Peri itu adalah salah satu ras undine. Peri-peri kecil sepertinya biasa menjadi pembawa pesan atau menjadi perantara bagi makhluk-makhluk yang tinggal di Wilayah Terlarang.
"Memberi hormat pada Yang Mulia Ratu," sapa peri itu sambil membungkuk. "Apa ada yang bisa hamba lakukan untuk Anda, Yang Mulia?"
"Aku ingin kau mengirimkan surat ini," Leia memberikan botol kecil berisi kertas di tangannya, "Kirimkan pada seseorang di Kerajaan Silvista, wanita yang bekerja di istana utama kerajaan tersebut, namanya Silvhya, ia Nanny-ku ketika masih di kerajaan itu."
"Berikan surat ini dengan cara apapun, tapi jangan sampai orang lain tahu. Hanya dia yang boleh tahu. Kau paham maksudku?"
"Hamba mengerti, Yang Mulia," kata peri itu, "Saya akan mengantarkannya."
Leia tersenyum, kemudian memberikan tiga tangkai bunga kering kecil pada peri tersebut, "Ini imbalanku. Kau bisa membaginya dengan keluargamu."
Peri itu tersenyum senang menerima bunga dari Leia. Ia memeluk ketiga bunga kecil itu dan menghilang dalam air bergulung yang kemudian pecah menjadi embun.
Leia kemudian keluar dari kamarnya menuju pintu gerbang. Di sana, Mikail sudah menunggu dengan kemeja putih dan celana hitam. Sebuah pedang tersampir di pinggang kirinya. Penampilan Mikail yang tampak biasa ini jelas tidak bisa menyembunyikan auranya sebagai raja, tetapi Leia tidak mempermasalahkannya. Karena mata pemuda itu hanya tertuju padanya.
"Maaf, apa kau menunggu lama?" Tanya gadis itu ketika sampai di hadapan Mikail.
"Tidak, kau datang tepat waktu." Mikail tersenyum, "Ayo, kita berangkat."
Leia mengangguk. Mereka berdua masuk ke dalam kereta kuda yang akan membawa mereka ke pelabuhan. Dari pelabuhan mereka akan melalui jalan laut selama dua minggu, kemudian ketika sampai di daratan, mereka harus menempuh perjalanan selama kurang lebih seminggu untuk mencapai ibukota Kerajaan Silvista. Selama perjalanan mereka akan menginap di istana atau kastil kecil milik beberapa bangsawan kenalan mereka yang dengan senang hati memberikan mereka tempat menginap sebelum kemudian melanjutkan perjalanan lagi.
Duduk di dalam kereta dan merasakan kendaraan itu berjalan, Leia menyandarkan kepalanya di bahu Mikail. Pemuda itu mengelus surainya yang dibiarkan tergerai dan diberi pita berwarna hijau daun.
"Kau lelah?" bisik pemuda itu.
"Tidak. Aku hanya ingin bersandar," balas Leia, "Perjalanan ini akan melelahkan. Aku benci perjalanan jauh dan panjang."
"Tapi kita tidak bisa mengabaikan undangan yang sudah dikirimkan. Dan lagi, ini keputusan kita bersama." Kata Mikail, "Kau mau tiduran di pangkuanku?"
"Tidak apa-apa, Mikail. Aku bisa tiduran sambil bersandar di bahumu, asalkan kau memelukku." Leia tersenyum kecil.
"Hm? Kenapa ini? Kau terdengar manja di telingaku. Apa ini tanda-tanda bahwa kau akan hamil?"
"Kita baru menikah seminggu yang lalu, tidak mungkin aku akan hamil secepat itu." Gadis itu tertawa, "Kau benar-benar ingin menggendong bayi, Mikail? Apa anak-anak asuh kita sudah terlalu besar untuk kau gendong?"
"Mereka sudah remaja, aku tidak mungkin menggendong mereka lagi." Mikail ikut tertawa, "Jika kau hamil, maka satu lagi anakku akan bertambah. Anak-anak asuh kita yang lain pun juga pasti senang menerima adik kecil baru."
Pipi Leia bersemu merah. Dia tersenyum manis pada Mikail, "Kalau begitu, kita harus berusaha untuk mendapatkan bayi mungil pertama kita."
"Tentu saja. Jika tidak, aku tidak akan bisa menjadi ayah yang sebenarnya." Mikail menepuk kepala Leia dengan sayang, "Aku ingin punya anak perempuan untuk yang pertama, dia harus mirip sepertimu."
Leia tertawa mendengarnya, "Kita tidak akan tahu kapan punya bayi dan kau sudah menentukan ingin punya anak laki-laki atau perempuan? Kau tidak sabaran, Mikail."
"Aku tak peduli, asalkan itu lahir dari rahimmu, maka aku akan menyayanginya sepenuh hatiku." Balas Mikail.
"Kau sangat manis, Mikail. Kita lihat saja nanti. Aku juga ingin punya anak laki-laki yang mirip sepertimu."
Mikail tertawa kecil dan membawa kepala Leia ke dadanya. Selama perjalanan menuju pelabuhan, mereka berdua saling bercanda dan tidak pernah melepaskan pelukan masing-masing. Baru ketika kereta yang mereka tumpangi sudah sampai di sisi kapal yang akan membawa mereka, kedua pasangan itu keluar sendiri-sendiri dan melihat Kana berdiri di depan kapal sambil tersenyum. Rambut peraknya dibiarkan tergerai dan dihiasi jepit berbentuk bunga daffodil berwarna emas.
__ADS_1
"Kana," Leia menghampiri Kana dan memeluk wanita itu, "Kupikir kau tidak akan datang kemari."
"Tentu saja aku akan datang. Aku tidak mungkin tidak mengantarkan kalian berdua," Kana tertawa, "Kuharap kalian tidak menemui kesulitan untuk sampai ke Kerajaan Silvista. Dan untukmu, Leia, jangan sampai kau jatuh sakit. Perhatikan kesehatanmu dan jangan pernah jauh-jauh dari suamimu."
"Aku tahu, Kana. Terima kasih karena sudah memberitahuku." Balas Leia.
Kana tersenyum kecil kemudian beralih pada Mikail yang berdiri di belakang Leia, "Jangan sampai kau hilang kendali saat di sana, Mikail. Kau tahu kalau temperamenmu yang dingin-dingin menyeramkan itu bisa membuat orang lain takut padamu hanya dalam satu kedipan mata. Perhatikan sikapmu juga."
"Tanpa kau peringatkan, aku juga akan mengingatnya."
Kana mengangguk puas. Ia mencium kening Leia dan Mikail satu-persatu, layaknya mengantarkan anak-anaknya pergi. Leia tersenyum manis dan mencium pipi Kana sebagai balasannya, "Terima kasih atas doamu, Kana. Aku akan membawakanmu cinderamata dari sana ketika kembali."
"Aku akan menantikannya," Kana tersenyum, "Sekarang naiklah ke kapal. Sebentar lagi kalian harus pergi, bukan?"
Leia mengangguk. Ia menyelipkan tangannya di lengan Mikail dan menaiki tangga menuju kapal. Kana memperhatikan mereka dalam diam dengan senyum tak lepas dari wajahnya. Ia menjentikkan jarinya dua kali dan seorang peri hijau kecil muncul di sisinya.
"Ya, Lady Kana?"
"Awasi mereka, Ryenie. Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada kedua anakku yang berharga." Kata wanita berambut perak itu, "Jangan sampai aku mendengar ada yang menyentuh mereka bahkan seujung jari pun."
"Dipahami, Lady Kana." Kata peri itu mengangguk, kemudian menghilang dalam kepulan asap beraroma apel.
Tangga menuju kapal dan jangkar dinaikkan secara perlahan ke atas kapal. Kana melihat Leia melambaikan tangan padanya dan ia pun membalas. Kapal besar putih yang selalu membawa Mikail dan rombongannya ke manapun itu mulai bergerak meninggalkan pelabuhan. Ketika kapal tersebut bergerak semakin menjauh, Kana kembali menjentikkan jarinya, kali ini seorang siren muncul dari dalam air.
"Anda memanggil saya, Lady Kana?" Tanya siren itu.
"Kawal perjalanan mereka bersama kawananmu, pastikan mereka sampai ke tujuan mereka dengan selamat."
"Baik, Lady Kana," ujar siren tersebut, kemudian kembali berenang ke lautan.
"Baik, Yang Mulia." Ujar pengawal itu, kemudian menyilakan Kana masuk ke dalam kereta.
***
Leia menyunggingkan senyuman menatap langit biru saat kapal mulai bergerak. Dia memejamkan mata merasakan angin laut membelai wajahnya. Mikail yang berdiri di sebelahnya tersenyum kecil melihat istrinya.
"Bagaimana kalau kita makan siang?" Tanya Mikail, "Joanne dan Jean pasti sudah lapar sekarang."
Leia mengangguk. Ia mengikuti Mikail menuju buritan dan melihat di sana sudah ada meja besar dengan taplak putih, empat kursi yang dilapisi kain beludru berwarna sama, dan hidangan lezat yang menggugah selera. Joanne dan Jean, dua anak kembar itu sudah berada di sana dan sedang memainkan sesuatu sambil tertawa-tawa. Ketika Leia dan Mikail mendekat, senyum lebar tersungging di bibir keduanya.
"Apa kalian menunggu lama?" Tanya Mikail sambil menepuk kepala Joanne.
"Tidak, kami bermain sambil menunggu kalian datang, Ayah." Kata Joanne, "Koki kapal membuatkan kalian makanan yang sarat nutrisi, katanya agar Ibu memiliki lebih banyak tenaga dan tidak gampang sakit."
Leia tersenyum lembut dan duduk di antara kedua anak kembar itu. Mikail juga duduk di kursi yang tersisa dan mereka mulai menikmati makan siang. Tak ada yang berbicara, tetapi Joanne dan Jean selalu melakukan hal-hal yang lucu dan membuat Leia tertawa.
"Hentikan, kalian berdua, jangan membuat makanan hanya menatap kalian." Tegur Leia lembut, "Makanlah dulu, baru bermain."
"Ya, Bu." Joanne dan Jean menjawab bersamaan.
Selesai makan siang, Joanne dan Jean mengatakan akan berkeliling di kapal dan Mikail mengizinkan. Sekelompok pelayan datang dan menyajikan minuman segar untuk mereka berdua dan membereskan piring-piring kotor.
Leia meminum jus jeruk yang disajikan dan menatap laut yang terbentang luas. "Menyenangkan sekali bisa bersantai sambil menikmati angin yang ada di laut."
"Kau memang selalu suka bersantai, Leia," kata Mikail, "Kemarilah, aku ingin memelukmu."
Leia menggeser tempat duduknya lebih dekat pada Mikail dan membiarkan lengan pemuda itu merengkuhnya ke dalam pelukan. Ia tertawa geli ketika jemari Mikail menyentuh lehernya dan menggelitikinya di sana.
__ADS_1
"Kau berani menggelitiku?" kata gadis itu dengan senyum lebar.
"Aku berani, lagipula lehermu adalah titik lemahmu, dan kau juga orang mudah digelitiki." Balas Mikail.
Leia tertawa lagi saat jemari Mikail pindah ke pinggangnya. Gelitikan pemuda itu membuatnya tertawa dan pipinya memerah. "Mikail, hentikan. Kau membuatku geli!"
"Aku memang berniat melakukannya dari tadi." Mikail ikut tertawa.
"Apa? Kau ini ... awas saja!" Leia mulai membalas perbuatan Mikail dan membuat tawa pemuda itu semakin lebar.
Selama beberapa lama, mereka hanya saling menggelitiki dan tidak menyadari kehadiran Althea yang ada di dekat mereka. Baru ketika Leia mendongak, dia berdeham dan cepat-cepat merapikan gaun serta rambutnya yang agak berantakan.
"Rupanya kau, Althea," kata Mikail saat melihat Althea yang berdiri tak jauh dari mereka.
Althea mengangguk, senyum geli terpampang di wajahnya melihat Leia yang sedikit malu dan tersenyum kearahnya.
"Saya membawa berita dari mata-mata kita di Kerajaan Silvista," kata Althea langsung, kemudian menyerahkan kertas-kertas yang ada di tangannya. "Ini adalah berita yang dibawa oleh burung merpati kita."
Mikail menerima kertas itu dan membacanya, Leia yang duduk di sebelahnya juga ikut membaca. Keningnya berkerut samar melihat isi kertas tersebut sementara suaminya hanya diam dan mengangguk sekali seolah memahami apa makna isi kertas tersebut.
"Rupanya itu rencana mereka," kata Mikail, "Menurutmu bagaimana, Leia?"
"Aku tidak menyangka mereka masih tetap mengincarku bahkan setelah aku dinyatakan meninggal," Leia meringis, "Apa hanya karena racun yang ada di tubuhku? Inti sari racun, berarti jantungku, dan mereka berniat mengambil nyawaku dan jantungku hidup-hidup. Luar biasa."
"Tapi karena aku sudah mengikat racun di dalam tubuhmu, maka hal itu takkan berlaku lagi," kata Mikail lagi, "Racunmu itu adalah jenis langka, walaupun disebut racun pun, itu adalah berkat. Karena dengan itu kau bisa membunuh atau bahkan menyembuhkan seseorang. Aura sihirmu pun berasal darinya. Karenanya kau tidak perlu khawatir. Racun yang ada di dalam tubuhmu sudah memiliki seorang pemilik."
Leia hanya tersenyum. Dia kemudian membaca kembali isi kertas yang diberikan Althea, "Mereka mengadakan pesta untuk menjebakku, mungkin ingin memberitahu pada dunia bahwa aku, Putri Lacia la Midford, kembali hidup dan akan ditumbalkan demi naiknya raja berikutnya di Kerajaan Silvista."
Mikail mengangguk, "Konon, ada tradisi yang cukup gila di kerajaan itu, di mana seoranr raja yang baru harus memberikan tumbal berupa jantung seorang wanita yang paling dikasihi sebagai persembahan untuk para dewa. Jantung itu kemudian diletakkan di sebuah altar dan ketika petir menyambarnya, jantung tersebut akan berubah menjadi batu suci yang memiliki kekuatan tak terbatas yang akan menjadi senjata sang raja hingga akhir hayatnya.
"Tradisi ini tidak pernah diperlihatkan pada masyarakat kerajaan tersebut dan hanya orang-orang di istana yang mengetahuinya. Karena itu tidak heran kalau kau pun ingin dibunuh saat mereka tahu kau berbeda dari mereka."
"Benar. Karena hal itulah aku sampai harus melompat dari tebing," kata gadis itu, "Tapi aku tidak menyesali keputusanku untuk melompat. Pada akhirnya aku bertemu denganmu dan itu hal yang paling kusyukuri seumur hidup."
Mikail tersenyum dan menggenggam tangan Leia, "Kalau begitu, kau tidak perlu takut kalau mereka kembali menghinamu. Ada aku di sisimu."
Leia mengangguk, "Aku tahu itu."
***
Perjalanan selama lebih dari satu bulan itu akhirnya mencapai akhirnya. Rombongan Mikail dan Leia sampai di depan gerbang ibukota Kerajaan Silvista, Vyresta. Leia mengintip sedikit dari balik jendela kereta kuda yang membawa mereka dan mengerutkan kening. Ia berpikir akan ada perubahan di kerajaan ini setelah lebih dari lima tahun. Tapi semuanya tetap sama, bahkan Leia mengenali rumah kecil yang menjual bunga-bunga tempat biasa Nanny membeli bunga hias untuk kamarnya dulu.
Semuanya masih sama, entah ini hanya perasaan Leia saja atau memang ada yang tak beres di kerajaan ini.
"Sepertinya tak ada perubahan yang berarti," kata Leia kemudian menjauhkan pandangannya dari jendela, "Terlalu mirip dengan yang dulu."
"Begitukah? Mungkin raja kerajaan ini terlalu sibuk dengan urusan perang atau semacamnya hingga tak melihat keadaan rakyatnya yang tak pernah berubah." Ujar Mikail, "Tidak perlu dipikirkan. Kedatangan kita ke sini murni karena undangan dan apapun yang terjadi di tempat ini bukanlah urusan kita."
Leia mengangguk setuju. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Mikail dan pemuda itu mengelus kepalanya.
Rombongan kereta tersebut mencapai gerbang istana. Seorang prajurit keamanan istana menghampiri salah satu kereta dan berbicara sebentar dengan kusir, beberapa menit kemudian gerbang emas di depan mereka dibuka dan prajurit tersebut mempersilakan mereka masuk. Kali ini, Leia kembali mengintip dari balik jendela dan mengerutkan kening.
Bila keadaan di luar istana tampak sama seperti yang terakhir kali ia lihat, istana adalah kebalikannya. Bangunan dengan puncak atap berwarna merah tua itu tampak berbeda, baik dari segi penampilan maupun keadaannya. Mata Leia melihat kerumunan para gadis dalam balutan gaun berwarna-warni yang menyakitkan mata. Dandanan mereka tak kalah menor dari wanita yang berada di rumah bordil sementara kipas bulu di tangan mereka menyembunyikan sebagian wajah yang Leia duga sedang tersenyum lebar dan tertawa cekikikan.
Kereta yang ditumpanginya dan Mikail sampai di depan pintu istana. Kusir membukakan pintu untuk mereka. Mikail keluar lebih dulu dan kemudian membantu Leia. Ketika kakinya menapaki tanah, Leia mendongakkan kepalanya dan pandangannya bertemu dengan tatapan seorang wanita dengan rambut pirang keemasan dan mengenakan mahkota dan jubah kerajaan. Di sebelah wanita itu, pemuda yang Leia kenal sebagai kakaknya juga turut berada di sana.
"Selamat datang,perwakilan Wilayah Terlarang," senyum sang wanita pirang, "Saya adalah ratukerajaan ini, Iris la Midford. Senang sekali kalian mau menerima undangan untukmenghadiri pesta ulang tahun kerajaan kami."
__ADS_1