
Dua hari kemudian, ketika kami pergi menemuinya, Herman sedang menebas rumput di halaman rumahnya.
Begitu dia melihat kami, Herman langsung menyuruh istrinya membuat makan siang.
Aku bilang jangan repot-repot, kami hanya ingin membahas soal Mina.
Istrinya langsung menatapku dengan tatapan kosong jadi aku berpikir sejenak lalu berkata, "Pada tahun 1995, putrimu Mina menghilang, apa sudah lupa?"
Herman langsung meraih tangan istrinya dan berkata, "Kamu cepat beli dua botol minuman keras di supermarket."
Aku sedikit terkejut karena Herman melambaikan tangannya dan menyuruh kami masuk ke dalam rumah.
Setelah memasuki rumah, Herman menyalakan sebatang rokok dan berkata bahwa dia bukan Nina dan tidak tahu apa-apa.
Ini diluar dugaan ku, aku langsung bertanya, ke mana perginya Nina?
Herman berkata: "Kami bercerai tak lama setelah Mina menghilang, dan aku tidak tahu di mana dia sekarang."
Pada saat itu, Nina mengeluarkan semua uang keluarga demi menemukan Mina tapi dia tidak menemukan apa pun.
Pada saat itu Herman masih muda dan bertekad untuk melahirkan anak lagi, tetapi Nina tetap ingin menemukan Mina dulu.
Bahkan perabotan rumah terjual habis masih belum ada berita soal Mina, Herman merasa tidak baik untuk terus hidup seperti itu dan mengatakan sesuatu kepada Nina hingga membuat mereka berdua bertengkar.
Ketika itu Herman marah sampai memukuli Nina hingga membuat Nina pergi dari rumah dan tidak pernah kembali lagi.
Aku bertanya pada Herman, apakah dia tahu soal identifikasi tubuh korban dari kepolisian?
Herman bilang dia tahu soal itu karena pejabat desa memberitahunya untuk pergi ke kota Bogor bahwa putrinya telah ditemukan.
Dia pergi ke Bogor dan melakukan tes DNA juga, tetapi Biro Keamanan Umum mengatakan kepadanya bahwa DNA itu tidak cocok dan mayatnya bukanlah Mina.
Herman tidak berbohong karena aku pernah melihat catatan identifikasi mayat tersebut dan mayat itu pun sudah dibawa pergi oleh orang lain.
Aku terus mengobrol dengan Herman dan merasa tidak perlu curiga padanya lagi.
Saat aku pamit pergi, Nando tiba-tiba bertanya apakah belakangan ini ada informasi tentang Nina?
__ADS_1
Herman sedikit menghina Nina dengan mengatakan kalau perempuan itu liar dan tidak tahu apa dia benar-benar pergi mencari Mina atau tidak.
Aku merasa ada sesuatu di dalam kata-kata nya Herman dan kembali duduk untuk bertanya, apa maksudmu dengan "Perempuan liar"?
Herman tertegun sejenak kemudian dia dengan cepat bereaksi kembali sambil tertawa terbahak-bahak dan mengatakan lupakan saja.
Aku bilang tidak bisa dilupakan begitu saja harus memberitahu kepada kami atau kamu masih ingin kami kembali ke sini mencarimu lagi?
Herman berkata, sebenarnya bukan sesuatu yang penting, Nina dulu adalah "Wanita malam", kami bertemu di ruang jasa mencuci kaki.
Mendengarnya aku sedikit kecewa dan menyuruh Nando untuk pergi.
Herman ingin mengantar kami pulang jadi dia mengambil jaketnya dulu di gantungan baju.
Pada saat itu juga, Nando bergegas mengambil puntung rokok yang ada di atas meja dan dimasukkannya kedalam saku.
Aku tersenyum, berpikir anak itu cukup pintar.
Dalam perjalanan pulang, suasana hatiku tidak baik.
Dilihat dari tinggi badan, penampilan dan juga aksen berbicara, Herman jauh dari target kasus ini.
Dan juga hilangnya Nina, di mana dia sekarang?
Kami kembali ke Jakarta dan langsung menghubungi kantor kepolisian Provinsi Bangka kota Agau untuk mencari informasi tentang Nina.
Namun ketika ditemukan nama Nina yang ternyata adalah akun kosong, namanya ada di daftar daerah setempat tetapi orangnya tidak diketahui keberadaannya.
Tapi Nando juga menemukan catatan daftar pengurusan tempat tinggal sementara Nina dan juga tertera nomor kartu identitasnya juga.
Setelah memeriksa platform umum masyarakat baru menemukan satu informasi mengenai Nina.
Platform tersebut menunjukkan bahwa Nina terlibat dalam pencurian tahun lalu.
Nina mengeluarkan buku alamat Biro Keamanan Publik dan menemukan bahwa polisi yang menangani kasus pencurian itu adalah Paskah.
__ADS_1
Setelah menelpon Paskah, dia mengatakan kalau dia sedikit lupa kecuali dia kembali ke tempat TKP.
Aku bilang sangat tepat kalau kita pergi sekarang karena semua informasi tentang kematian Doni mengarah kepada jalan Teratai.
Desa Kora Jalan Teratai terletak di pinggiran kota dari Kota Jakarta, walaupun disebut "di kota", tetapi daerahnya tidak benar-benar di kota malahan terletak di "Batas kota" antara Kota Jakarta dan kota lain.
Desa itu jauh dari kota, dan hanya sedikit orang yang datang ke sini.
Namun karena beberapa tahun ini Jakarta melakukan pembangunan di sekitar kota membuat desa seperti ini tampak makmur .
Transportasinya cukup nyaman, harga rumah murah, dan banyak pekerja migran yang menyewa tempat tinggal di sini.
Desa kota ini awalnya memiliki kurang dari 10.000 penduduk, tetapi sekarang diperkirakan sekitar 100.000 orang asing.
Penuh dengan rumah-rumah yang di bangun secara ilegal dan tersebar secara berantakan dan tidak menyianyiakan sedikit ruang kosong pun.
Jalan Teratai No 1197 letaknya bahkan lebih tersembunyi, jika Paskah tidak mengantar mereka mungkin saja mereka tidak akan menemukannya.
Ketika kami sampai pada jalan Teratai nomor 1197, kami mendapati seorang wanita pemilik bagunan yang baru membuka toko kelontongnya melihat kami dengan ekspresi gugup dan bingung.
Setelah dijelaskan tujuan kami, pemilik bagunan itu terus mengeluh dan berpikir bahwa penyewanya dalam masalah lagi.
Saat Nando menanyakan soal kasus pencurian, wanita pemilik bangunan itu tanpa banyak berpikir terus berkata tidak ingat.
Karena merasa kalau dia sengaja berbohong, Nando juga berbicara dengan nada marah.
Namun wanita pemilik bangunan itu juga pemarah, dan menjawab bahwa tempatnya sudah sering terjadi kasus pencurian dalam satu tahun terakhir. Apa yang kalian kerjakan?
Ekspresi Nando berubah, aku dengan cepat menepuk pundaknya dan memelototi wanita pemilik bangunan.
Pemilik bangunan itu juga merasa kalau dia sudah terlalu berlebihan dan tidak berani menatap kami.
Aku bertanya, pada 9 Januari tahun lalu, Apakah kamu ingat dengan kasus pencurian yang terjadi di sini?
Setelah berpikir sejenak dia lalu mengatakan tidak mengingatnya karena ada terlalu banyak barang yang dicuri.
Aku bertanya, apakah ada orang dengan nama Nina yang pernah tinggal disini?
__ADS_1
Begitu wanita itu mendengar nama "Nina", dia langsung berkata, "Sial, tentu saja aku ingat wanita itu.”