
Kami tertarik dan bertanya ada apa.
Dia mengatakan bahwa Nina ini ada "yang tidak betul".
Pada tanggal 9 Januari 2014, pemilik bangunan itu menerima telepon yang mengatakan bahwa di dalam rumah ada yang di curi dan menyuruhnya cepat kembali untuk mengurus hal itu.
Pemilik bangunan bergegas kembali ke rumah sewa dan mengetahui bahwa total ada 6 rumah tangga yang dicuri kali ini, dan kerugiannya tidak kecil.
Karena sudah menjelang akhir tahun, semua tabungan yang penyewa-penyewa itu kumpulkan dengan susah payah dijarah begitu saja membuat mereka marah dan membuat kekacauan.
Pemilik bangunan tidak punya pilihan selain memanggil polisi.
Semua penyewa pergi melakukan pelaporan dan hanya Nina yang tidak pergi.
Akhirnya kasus sudah diselesaikan dan komplotan tersangka juga sudah ditangkap, bahkan sebagian besar uang dan properti yang dicuri dikembalikan. Penyewa yang dicuri semua pergi ke kantor polisi untuk mendapatkan kembali properti mereka.
Hanya Nina yang tidak pergi ke kantor polisi, jadi dia tidak mendapatkan apa-apa.
Pemilik bangunan juga merasa kasihan pada Nina, tetapi diduga Nina meminta pemilik bangunan untuk mengembalikan kerugiannya.
Pemilik bangunan berkata, "Kamu sendiri tidak mau melapor ke kantor polisi, suruh kamu pergi juga kamu tidak pergi, sekarang mau minta ganti rugi, mau memeras orang ya?"
Nina mengeluh kalau pemilik bangunan tidak memberitahunya dan berkata, "Semua orang telah pergi hanya kamu saja yang tidak pergi, apa kamu buronan polisi jadi takut dengan polisi."
Keduanya bertengkar dan akhirnya berkelahi.
Kemudian, pemilik bangunan mengusir Nina.
Pemilik bangunan berkata: "Sebelum dia pergi, dia menatapku dengan tajam, menggertakkan giginya, dan berkata bahwa dia akan membakar rumahku suatu hari nanti."
Aku meminta formulir pendaftaran Nina pada pemilik bangunan.
Pemilik bangunan setelah mencarinya dalam waktu yang cukup lama akhirnya dia memberikan kami sebuah kertas yang berisi foto dan tanggal lahir Nina.
__ADS_1
Sambil memegang kertas yang kusut, aku menatap pemilik bangunan dan bertanya, jika aku ingin menyewa rumahmu apakah tidak perlu menggunakan KTP?
Pemilik Bangunan langsung tampak canggung dan berkata sambil tertawa, ada beberapa yang tidak punya.
Masalah itu tidak perlu dibahas lagi lagi pula aku hanya ingin menanyakan hubungan dia dengan Nina.
Pemilik bangunan itu mengatakan kalau Nina mulai tinggal di sini tahun lalu dan menyewa satu rumah dan dia tidak tau apa pekerjaannya.
Di belakang kertas itu terdapat nomor telepon Nina, aku langsung menelpon tapi dimatikan.
Aku dan Nando sedikit kecewa dan langsung pergi.
Tapi pemilik rumah tiba-tiba mengingat sesuatu dan langsung bertepuk tangan dan menyuruh kami menunggu sebentar dan dia memasuki gedung.
Setelah beberapa saat, pemilik bangunan keluar lagi sambil membawa karung compang-camping.
Aku bertanya padanya, apa maksudmu?
Pemilik bangunan membuka karung yang rusak, yang berisi beberapa botol kaca pecah.
Mata Nando berbinar, dan dia meminta pemilik bangunan segera mengatakan sesuatu.
Pemilik bangunan bilang sebenarnya dia hampir lupa tapi karena kami membahas soal Nina jadi dia teringat dengan kata-kata Nina kalau dia mau membakar rumahnya dan berpikir mungkin dia yang melakukannya.
Aku bertanya apakah dia melaporkan hal ini ke polisi?
Pemilik bangunan bilang kalau itu bukan kerugian yang besar jadi tidak perlu merepotkan polisi.
Sebenarnya wanita pemilik bangunan ini takut pada polisi karena yang menyewa rumah dengannya adalah orang yang beragam dan tidak melakukan prosedur yang benar, kemungkinan polisi akan datang untuk mendendanya.
Aku bertanya kapan jendelanya di pecahkan?
Pemilik bangunan bilang kejadiannya setelah tahun baru imlek, karena di rumahnya sudah di pasang kamera pengintai jadi kelihatan orang yang memecahkan jendela itu, videonya juga masih tersimpan.
__ADS_1
Dalam video tersebut, ada seorang pria dengan tas di pundaknya, dia berjalan ke lantai bawah sebentar, lalu berhenti sejenak dan mengeluarkan botol dari tasnya lalu menghancurkan jendela.
Penampilan pria ini mengingatkanku pada kasus Doni. Pria dalam dua video itu berperilaku sangat mirip.
Aku bertanya pada pemilik bangunan, "Ini jelas dilakukan oleh seorang pria, mengapa kamu menyalahkan Nina?"
Pemilik bangunan berkata dengan ekspresi jijik, dia itu layaknya sepatu yang rusak yang bisa dipakai siapa saja, dia berteman dengan banyak pria, siapa tahu kalau pria itu adalah salah satu yang baik padanya.
Aku bertanya apa maksudnya?
Pemilik bangunan bilang itu tidak penting dan langsung pergi.
Paskah yang di samping naik untuk menghentikannya dan berkata bahwa kamu harus menjelaskannya dengan jujur, atau kamu ikut kami menjelaskannya di kantor, kamu bahkan tidak tahu apa masalahnya.
Wajah pemilik bangunan itu langsung berubah, dan kemudian dia menjelaskan tujuan sebenarnya Nina menyewa rumah.
Nina menyewa rumah di sini untuk prostitusi.
Meskipun dia sudah berusia lebih dari lima puluh tahun namun karena pesonanya masih ada jadi banyak "tamu" yang menemuinya.
Pemilik bangunan tahu akan hal itu tapi karena Nina menambah biaya sewa bulanan sebanyak 600.000 sebagai "uang kopi", jadi dia mengizinkannya.
Aku bertanya pada pemilik bangunan apakah Nina pernah membicarakan hal tentang keluarganya?
Pemilik bangunan berpikir sejenak, dan berkata bahwa dia pernah mengobrol dengan "tamunya" dan mendengar bahwa dia punya seorang pria yang merupakan pengemudi yang bekerja jauh dari rumah sepanjang tahun.
Aku tanya kenapa kamu bisa sampai mengobrol dengan tamunya?
Pemilik bangunan itu bilang kalau orang itu ingin menyewa rumah di sini karena mungkin ingin selalu bisa melakukan hal intim dengan Nina. Kami bahkan saling menukar nomor WhatsApp, tetapi tidak pernah saling menghubungi.
Setelah mengatakan itu dia mengeluarkan ponsel dan mencari-cari sebentar lalu menyerahkan HP nya kepada kami.
Nomor itu membuatku tercengang.
__ADS_1
"Tamu" itu adalah teman kecilku.
Doni.