Polisi Malam

Polisi Malam
Bab 16 Edan


__ADS_3

Laporan yang aku tunggu datang lebih telat dan hasilnya mengecewakan. Pria yang diduga berada di rumah Nina tidak ada hubungannya dengan kematian Fero, sedangkan sampel DNA Herman juga tidak sesuai sehingga membuat dia benar-benar disingkirkan dari kecurigaan.



Aku dan Nando terdiam karena tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semua ini kepada Sonic.


Setelah beberapa saat, rekan dari tim teknis menelpon.


Dengan nada yang cemas dia berbicara "Kapten Agus, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”


Aku bertanya apa itu?


"Saat aku melakukan tes DNA pria yang ada di rumah Nina, aku baru sadar kalau pria ini pernah melakukan tes DNA juga 8 tahun lalu."


Aku dengan nada penasaran, 8 tahun lalu?


"Yah, namanya Edan, DNA Edan cocok dengan mayat seorang gadis berusia 5 tahun dan karena itu dia membawa pergi mayat anak itu."


Aku hampir berteriak dan berkata, "Terus bagaimana dengan hasil DNA Nina?"


"Ya, Nina memang ibu dari anak itu."


Berita ini membuatku terkejut dan berpikir sebenarnya apa yang terjadi pada Nina, sebelumnya sudah menemukan Herman, lalu dengan susah payah menemukan orang bernama Geri, terus keluar lagi nama baru Edan.


Aku sedikit kasihan kepada Herman kalau anak gadis yang berusia sekitar 6 tahun yang dengan susah payah dibesarkanya ternyata bukan anak kandungnya.


Nina sudah dari awal tahu tentang berita kematian putrinya Mina.


Lalu apa hubungan antara dia dan Geri? Apakah pria dan wanita yang ada di alat perekam rahasia itu adalah Nina dan Geri? Terus Mengapa Geri harus membunuh Fero? Dan siapa itu Edan?


Seketika kepalaku terasa kacau.

__ADS_1


Pada pagi hari tanggal 19 Mei 2015, di sebuah hotel yang terletak di Flores, seorang petugas kebersihan mencium bau yang aneh dan dia curiga kalau ada orang yang sedang memakai narkoba.


Setelah selesai merapikan kamar, dia dengan tenang berjalan ke koridor dan menelpon polisi.


Lima menit kemudian, polisi berhasil menangkap sepasang pria dan wanita di dalam kamar, dan menemukan obat-obatan terlarang serta uang tunai puluhan juta rupiah.


Polisi membawa mereka ke kantor dan saat memverifikasi informasi DNA mereka, terungkap bahwa mereka adalah Nina dan Edan.


Dua hari kemudian, Nando membawa mereka berdua ke biro kepolisian.


Nina tetap terdiam namun aku terus menatap ke arah Edan yang menunduk tidak berani menghadapku.


Aku lalu menyuruh Edan mengangkat kepalanya untuk melihatku.


Dia mengangkat kepalanya dengan enggan, namun menunduk lagi ketika dia melihat wajahku.


Karena aku merasa sangat familiar dengan wajahnya jadi aku menyuruh dia mengangkat kepalanya lagi, dia  mengangkat kepalanya dengan ekspresi tidak senang.


Saat aku menjenguk Doni di rumah sakit karena kecelakaan mobil, perawat yang membantuku untuk mengarahkan jalan adalah Edan yang menyamar.


Malam ini ruang interogasi terlihat terang.


Nina masih terdiam, dan aku sedang mengecek catatan bank sedangkan Nando duduk disampingku sambil merokok.


Polisi di departemen teknis diam-diam menyiapkan alat perekam suara agar dapat membandingkan suaranya dengan suara wanita di alat perekam rahasia GPS itu.


Jam di dinding berbunyi, Nina kadang melirik ke arah jam untuk melihat waktu.


Nando dengan wajah tegasnya berkata: "Kenapa, menghitung waktu ya, kamu berpengalaman juga ya tahu kalau tidak berbicara selama 24 jam bisa pergi begitu saja."


Nina tetap diam.

__ADS_1


Setelah selesai membaca catatan dan meregangkan pinggang, aku lalu bertanya padanya, tidak ada yang ingin kamu bicarakan?


Nina berbicara dengan ekspresi kosongnya, aku sudah menjelaskan soal masalah narkoba, kalau mau tahu hal lain lebih baik cari mereka untuk ditanyai.


Aku sambil mengetuk meja dan berkata kalau hari ini kita tidak akan berbicara soal pemakaian narkoba tapi berbicara soal yang lain.


“Aku tidak tahu apa-apa lagi.” Nina menatapku dengan ekspresi menguji di matanya.


Aku menatap mata Nina dan berkata, "Mina, Doni, Edan, Geri. Aku ingin kamu yang memutuskan untuk membicarakan siapa terlebih dahulu."


Nina menggenggam tangannya dan melirik ke samping: "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."


Aku lalu berdiri di depannya dan meletakkan sebuah dokumen sambil berkata padanya: "Kalau begitu kita akan membahas satu per satu, dimulai dengan Geri."


Ini ada informasi yang didapat oleh Sergio kalau di dalam rekeningnya Gery terdapat 180 juta rupiah dan selama tiga hari sudah ditarik 6 kali.


Kamera pengawas pun sudah merekam proses penarikan uang itu.


Orang yang mengambil uang itu adalah seorang anak perempuan, setelah menarik uang itu dia menaruhnya ke dalam tas berwarna merah, lalu meninggalkan ATM dan memasuki sebuah toko di jalan.


Setelah itu Nina keluar dari toko tersebut sambil membawa tas berwarna merah itu.


Aku lalu mengeluarkan tas merah itu di depannya, tas itu ditemukan di dalam kopernya.


Wajah Nina memucat, tetapi dia masih memaksakan dirinya untuk terlihat tetap tenang: "Apa maksudnya dengan ini?"


Aku mengabaikannya dan mengambil satu set foto.


Di dalam toko terlihat kalau Nina dan gadis kecil yang mengambil uang itu memasuki kamar mandi di lantai satu.


Karena tidak ada kamera pengawas di kamar mandi itu jadi Sergio menemukan gadis kecil itu.

__ADS_1


Aku memperlihatkan foto gadis itu di depan Nina dan itu seakan memblokir semua alibi yang akan dikeluarkannya: "Gadis itu sudah menjelaskannya padaku kalau kamu menyuruhnya menjalankan tugas yaitu menarik uang, sekali tarik 100 ribu dan ditarik 6 kali, apa benar?"


__ADS_2