
Belakangan ini aku melakukan hal yang memalukan.
Pada tanggal 21 april 2015, di kota ini terjadi sebuah kasus pembunuhan di pesisir sungai Musi, seorang pemuda bernama Doni meninggal yang juga merupakan teman kecilku.
Saat itu, aku masih seorang kapten tim polisi kriminal, tetapi aku di skors saat penyelidikan pembunuhan itu oleh Sonic, pemimpin kepolisian kami.
Sebelum Doni mati, dia melaporkan ke kantor kepolisian bahwa aku terpaksa menerima suap, dan setelah itu dia meninggal secara misterius.
Pada akhirnya aku menjadi seorang “penjahat yang siap diselidiki”.
Dua hari kemudian, si Sonic menyuruhku untuk lebih awal ke ruang rapat untuk membicarakan hal itu.
Saat ingin memasuki pintu kantor biro kota jantungku mulai berdetak kencang karena melihat mobil polisi kejaksaan: bukannya hanya membahas masalah itu, mengapa sampai harus membawa mobil kepolisian ke sini, ini mau menangkap orang langsung di tempat?
Setelah lama merokok, aku mematikan puntung rokok dan memberanikan diri masuk ke gedung kantor.
__ADS_1
Ruang rapatnya ada di lantai dua yang sudah dipenuhi orang-orang, mereka menatapku dan membuatku bergidik.
Yang duduk di tengah adalah direktur divisi bernama Harto dari kejaksaan, dia secara khusus bertugas dalam penyelidikan pejabat publik, jika ada dia maka itu merupakan masalah besar.
Direktur Harto berkata: "Agus, kamu itu seorang polisi kriminal dan pastinya tahu prosedur penanganan kasus ini, kami memanggilmu ke sini berarti kami memiliki bukti kejahatanmu" Dia kemudian mengangkat amplop kulit di tangannya: "Apakah amplop ini terasa familiar?".
Kemudian aku menatapnya dan bertanya apa maksudnya?
“Apa hubunganmu dengan Doni? Terus di mana uang yang dikasih Doni kepadamu? Dan bagaimana caramu membunuh Doni? Katakan!” Direktur Harto menampar meja dengan tangan kanannya, menyebabkan tutup cangkir teh di atas meja bergetar.
Aku berkata, "Oke, kalau begitu, aku membutuhkan prosedur yang benar. Jika prosedurnya ada maka akan mudah dibicarakan. Aku akan menyanyikan sebuah lagu jika kamu ingin dengar, tapi kalau tidak ada prosedur yang benar maka menyingkir dari hadapanku, jangan banyak bicara omong kosong di sini."
Terjadilah kekacauan di ruang rapat, banyak orang menyarankanku untuk tidak terlalu emosi dan beberapa orang juga mengatakan hal-hal baik kepada Direktur Harto. Sonic yang duduk di kursi dengan wajah kosong sambil perlahan menyesap teh tidak melihat ke arahku maupun Direktur Harto. Sonic masih terlihat mendukungku, jika tidak mungkin saja cangkir teh di tangannya sudah mengenai kepalaku.
Perhitunganku benar, dia belum melakukan prosedur apa pun yang dibutuhkan, jika tidak, dia pasti sudah secara langsung menangkapku daripada mengadakan pertemuan ini. Sonic yang tidak berkomentar apa pun membuat Direktur Harto merasa lebih tidak nyaman daripada aku. Jelas kelihatan bahwa dia sudah tidak tahan dengan emosinya, dan juga tidak baik membuat keributan di depan Sonic sehingga suasana di seluruh ruang rapat menjadi sangat tegang.
__ADS_1
"Agus- Kapten Agus, kamu salah paham dengan kami, ini tugas kami dan kami hanya ingin mencari tahu." Suara wanita muda datang. Itu adalah jaksa wanita di sebelah Direktur Harto yang berbicara. Dia belum terlalu berpengalaman dengan adegan seperti ini jadi suaranya sedikit canggung. Aku sebenarnya tidak ingin membuat masalah seperti ini, tetapi Direktur Harto memperlakukanku sebagai penjahat ketika aku datang, dan sikap dia membuat aku marah. Aku juga bilang kalau kamu punya pertanyaan, tanyakan saja. Mendengar apa yang aku katakan, jaksa wanita menghela nafas lega.
"Apa hubunganmu dengan mendiang Doni?" katanya.
“Doni itu teman dari kecilku, tidak, tepatnya bisa dianggap setengah teman. Karena setelah umur 10 tahun aku sudah tidak pernah melihatnya lagi sampai akhir tahun lalu. Pada malam 20 Desember 2014, saat aku sedang bekerja di kantor polisi jalan megah, polisi membawa seorang pria. Setelah polisi menyelesaikan prosedur yang dibutuhkan, dua orang asisten polisi bertubuh kekar membawanya ke area penanganan kasus, seperti menggendong ayam.”
“Pria itu menangis sepanjang jalan masuk ke kantor, aku melihat punggungnya dan merasa sedikit akrab. Tapi yang membuatku terkejut, dia memanggil namaku. Agus, selamatkan aku! Aku bertanya siapa dia. Dia bilang aku adalah Doni, kamu tidak mengenalku? Dia terus mengeluh kalau dia selalu diikuti orang lain dan ingin melaporkan hal itu kepada polisi, tetapi bukannya polisi membantunya, polisi malah ingin menahannya."
“Aku sering berurusan dengan pecandu narkoba, jadi ketika Doni berbicara matanya sering menghindar kesana-kemari dan aku langsung tahu bahwa kemungkinan besar dia telah menggunakan narkoba, jadi aku tidak bertanya lagi. Kemudian, polisi-polisi itu bilang kalau Doni memakai narkoba dan mereka ingin menahannya.”
“Bagaimana kamu bisa mengenal Doni?” tanya jaksa wanita.
“Aku bilang saat aku mengenal Doni itu sudah sangat lama, saat itu aku masih balita? Apa kamu masih ingin mendengarnya?” Terus dia mengangguk. “Aku lahir di pabrik pengecoran mesin di Kota Jakarta, ibuku adalah seorang pekerja pengecoran dan merupakan rekan kerja dengan orang tua Doni. Doni dua tahun lebih tua dari aku, dan aku sering bermain bersamanya. Ibu Doni bahkan mengakui aku sebagai "putra tidak sedarahnya", kedua keluarga kami berhubungan sangat baik.”
__ADS_1
"Terus gimana?"