Polisi Malam

Polisi Malam
Bab 6 Fero


__ADS_3

Aku memberi tahu Nando soal masa lalu Doni.


Nando langsung merasa tertarik dan merasa kasusnya di mulai dari masalah itu.


  Keesokannya aku pergi menemui Vitalis untuk menanyakan siapa dua anak lainnya?


Kepala departemen Vitalis mengatakan kedua anak itu bernama Fero dan Agro. Kedua keluarga ini juga pindah setelah kejadian itu, ketiga keluarga ini berhubungan baik, anak-anak mereka pun juga berteman baik.


Setelah itu kami hanya mengobrol sebentar dan tidak mendapatkan informasi berguna lainnya.


Dan pada akhirnya pak Vitalis menggelengkan kepalanya dan berkata kalau dia sudah tua dan tidak mengingat lebih banyak lagi.


Aku lebih baik pamit pulang saja.


Setelah keluar dari rumah pak Vitalis, aku menelpon Nando yang tampak kecewa karena dia tidak dapat menemukan arsip kejadian di pabrik pengecoran mesin.


Terus aku bertanya apakah ada catatan orang hilang yang tidak dikenali di dekat pesisir sungai Musi 20 tahun lalu.


Nando berkata ada setelah mengeceknya.


Aku meminta Nando untuk menyalin semua catatan itu, setelah ragu sejenak Nando pun menjawab


Pada pukul 7 malam saat aku di kantor, Nando memberikan catatan Hard drive nya yang berisi catatan 140 orang hilang dan kurang lebih 700 mayat tidak dikenal yang ditemukan.


Aku tanya kenapa begitu banyak?


Nando memberitahu kalau catatan yang diberikan itu didapatnya dari file internet, belum lagi ditambah dengan file kertas sebelumnya, jumlahnya bahkan dapat membuat orang runtuh seketika.


Awalnya aku mengira banyak orang yang tenggelam di sungai Musi hanyalah mitos belaka, tapi ternyata benar.

__ADS_1


Aku menyuruh Nando mengatur anggota untuk membantu menganalisis data file ini dengan mengecualikan usia tulang mayat yang melebihi 10 tahun, dan secara bersamaan atur beberapa orang untuk mengecek data pada file kertas itu.


Nando mengangguk dan memasukkan Hard drive ke sakunya, dia bertanya, "Terus apa yang sudah kamu temukan?"


Aku memberitahunya dua nama anak lainnya.


“Fe apa namanya?” Nando bertanya lagi.


Kataku Fero.


Nando terus tidak mengatakan apa pun lagi dia bergegas ke komputernya, setelah mengotak atik komputernya dia berkata kepada kapten Agus, apakah dia orangnya.


Aku menatap foto orang -orang yang terlibat pada layar komputernya dan semakin dilihat aku merasa orang itu sedikit familiar.


Aku mengklik bagian halaman kontak kerabatnya, dan menemukan kalau orang tuanya pernah bekerja di pabrik pengecoran mesin, benar ini orang yang kita cari.


Aku terus melihat ke bawah dan pada bagian tanggal lahir tertera tanggal 21 Desember 2007.


Dengan kata lain, Fero sudah mati.


Tapi aku heran, kenapa Nando bisa mengenal Fero dan menemukan informasinya dalam sekejap.


Nando berkata kalau dia yang menangani kasus Fero.


Kasus itu tidak akan pernah dilupakan Nando dan dia tidak pernah memberitahu siapa pun.


Pada tahun 2007, Nando baru mulai bekerja tapi sudah sembarangan berbicara dan menyinggung atasan. Kemudian dia dikirim dari biro kota ke kabupaten kecil dan menjadi polisi keamanan publik di kantor polisi kabupaten.


__ADS_1


Pada 21 Desember ada yang melapor menemukan mayat laki-laki di atas gunung. Nando yang bertugas saat itu juga ikut dengan rekan polisi lainnya mendaki gunung.


Karena kondisi fisiknya sehat, dia segera sampai pada TKP duluan.


Begitu dia melihat mayat itu, dia muntah.


Untuk orang yang baru saja bergabung dalam kepolisian, mayat pria itu terlalu menakutkan.


Tubuhnya telanjang dan diikat di pohon, ada banyak luka di tubuhnya, dan kemungkinan dia telah dipukuli sebelum mati.


Leher mayat itu sudah patah, dan hanya tersisa sedikit bagian daging yang menyangganya, kepala dan dadanya nyaris tidak bersatu lagi, ketika angin gunung bertiup, kepala yang tergantung di dada bergoyang, seolah-olah akan jatuh.


Mayat itu hanya mengenakan satu sepatu, dan sepatu lainnya tergeletak sendirian di kejauhan, dengan rerumputan dan pepohonan yang berantakan.


Kemudian seorang detektif senior datang dan langsung mengarah ke mayat memeriksanya dengan cermat, dan menemukan bahwa mata mayat sedikit menonjol, bibirnya biru dan ungu, dan lidahnya setengah mencuat.


Detektif senior itu awalnya mengira kalau korban di cekik terlebih dahulu dan berusaha memberontak.


Nando telah mempelajari seni rupa di universitas dan telah melihat banyak model telanjang, tapi ini adalah pertama kalinya dia melihat mayat telanjang, belum lagi kematiannya sangat tragis sehingga dia langsung muntah.


Direktur memintanya untuk memotret mayat itu.Tangannya gemetar seperti sakit parkinson, dan dia tidak bisa memegang kamera dengan stabil sama sekali.


Direktur menghela nafas dan meminta detektif senior itu untuk bersama Nando untuk menjaga tubuh mayat itu karena dia ingin turun gunung untuk menjemput orang lain.


Angin dingin bertiup kencang di atas gunung, setelah lama menunggu direktur masih belum kembali, mereka kedinginan dan lapar. Detektif senior itu meminta Nando untuk turun gunung mencari makan dan minuman.


Nando sebenarnya sudah tidak mau menunggu lagi, tetapi dia adalah pendatang baru dan tidak tahu jalan menuruni gunung apalagi jalannya gelap dan mudah tersesat. Pada akhirnya, detektif senior itu yang turun gunung, dan Nando tetap menunggu di sana.


Sampai hari ini, Nando tidak ingin mengatakan apa yang dia alami ketika dia sendirian.

__ADS_1


Ketika Direktur tiba, mereka menemukan ada orang lain yang mati di pohon yang di sebelah korban membuat mereka sangat ketakutan sehingga mereka berpikir ada yang mati lagi.


Ketika mereka mendekat, mereka menemukan kalau Nando sedang pingsan sambil memeluk pohon besar. Beberapa orang mencubitnya dan akhirnya membangunkan Nando.


__ADS_2