PRIA Di Toko Bunga

PRIA Di Toko Bunga
Sesak


__ADS_3

 


“Bagaimana, apa kau sudah menyelidikinya? apakah dia benar-benar pergi kesana?”


“Benar, Nyonya. Dia membeli tiket penerbangan malam nanti!”


“Baguslah, harusnya dia melakukannya lebih awal. Kalau begitu, aku tidak perlu melakukan hal kotor lainnya.”


“Benar, Nyonya. Tapi sepertinya ada masalah!”


“Apa maksudmu?”


“Sepertinya, Dia mengetahui bahwa kitalah penyebab kecelakaan itu!”


“Lalu, apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita menyingkirkannya lagi?”


“Tidak, Nyonya, itu terlalu beresiko.”




Saat melewati ruang kerja Bunda, tidak sengaja aku mendengar pembicaraan itu. Aku begitu terkejut, aku tidak tahu jika yang Bunda lakukan sudah sejauh itu. Aku harus menghentikan Bunda, jika Ia tidak mendengarku. Maka terpaksa aku harus memberitahukannya pada Ayah,  karena itu satu-satunya cara agar ia berhenti.



Pak Min keluar dari ruangan itu, ia tidak melihatku karena saat pintu sedikit bergeser aku segera bersembunyi. Aku tidak tahu, jika Pak Min adalah salah satu orang yang bekerja sama dengan Bunda untuk melakukan hal pribadi lainnya. Yang membuatku resah adalah Pak Min juga bekerja dengan Ayah, dan Ayah sepertinya tidak menaruh curiga sama sekali padanya.



Aku berjalan mondar-mandir di kamarku, aku sibuk memikirkan apa yang tengah terjadi, dan apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku harus menghentikan Bunda? rasanya begitu sulit kupikirkan sendirian. Ditambah dengan Diego yang justru malah memilih pergi. Harusnya dia disini, melindungi Ayah dan membantuku menghentikan Bunda. Aku tahu hubungan kami tidak baik, tapi biar bagaimana pun Bunda tetap Ibunya juga.



Bunda membuka pintu kamarku, dan menatapku dengan raut wajah bingungnya. Bunda menghampiriku dan menanyakan, “apakah ada sesuatu yang membuatku risau” aku hanya diam tak menjawab. Bunda akan marah jika aku memberitahukan yang kudengar tadi. Jadi aku tidak akan mengatakan hal-hal aneh, yang membuatnya curiga. Aku akan menunggu sedikit lagi, dan melihat sejauh apakah ia akan bertindak. Aku mengatakan pada Bunda jika aku ingin istirahat, jadi Bunda membiarkan aku sendirian dan meninggalkan aku sendiri.



Ayah pulang dari kantor sedikit lebih telat dari biasanya, dan seperti hari-hari sebelumnya Ayah hanya melihat ke arahku. Bunda sudah menunggu dimeja makan. Ya, meskipun kami tidak cukup dekat, tapi kami tak pernah melewatkan jam makan bersama, hanya sesekali aku sarapan sendirian, ketika Ayah dan Bunda sibuk dengan urusannya dan tidak bisa pulang ke rumah.



“Bagaimana di kantor? apa ada masalah, sehingga membuatmu telat?!” tanya Bunda sesaat setelah Ayah bergabung dimeja makan.



“Kau sungguh penasaran! Bukankah Kau mengirim seseorang untuk mengawasiku? Dia tidak memberitahumu?” ucap Ayah dengan sedikit sindiran menurutku.



“Sudahlah! aku sedang tidak ingin berdebat,” kata Bunda kemudian berlalu tanpa menyelesaikan makannya, kulihat Ayah biasa saja, dan tidak terganggu dengan hal itu.



“Makanlah, kami memang sudah seperti ini!” ucap Ayah kepadaku dan sekilas melihat ke  arahku, aku hanya mengangguk menjawab ucapan Ayah.



“Bagaimana sekolahmu? Kau tidak bosan terus belajar?” tanya Ayah, ini pertama kalinya ia berbicara lebih lama denganku.



“Aku akan terus belajar, dan, melakukan yang terbaik!” ucapku. Aku merasa senang hari ini, aku merasa seperti kehidupanku berjalan normal.



“Keluarlah sesekali, anak muda harus menikmati masa mudanya!” kali ini, aku menatap Ayah. Sepertinya dia tulus mengatakan itu. Entah, tapi kurasa Ayah sedikit berbeda dari biasanya. Tapi sudahlah, selama itu hal positif bukankah itu baik-baik saja?



Ayah memang tidak begitu menyukaiku, tapi dia tidak melakukan sesuatu yang buruk padaku dan Bunda. Selesai sarapan Ayah segera bergegas kembali ke kamar, aku berusaha menahan Ayah. Aku ingin bisa melakukan sesuatu untuknya. Maksudku, aku ingin mengatakan ia harus berhati-hati pada Pak Min, sekertaris kantornya.



“Ayah tahu, apa yang ingin kau katakan, jangan khawatir!” ucap Ayah menepuk pundakku, ia sekilas menatapku tersenyum. Lalu kemudian berlalu.



\*\*\*



Libur sekolah sudah di mulai, sebentar lagi kami akan menempuh ujian akhir. Dan akan segera memasuki dunia perkuliahan. Sudah satu tahun Diego pergi dan sebentar lagi kudengar ia akan pulang berlibur kesini.



Mereka bilang, mereka akan mengirimku juga kesana, dan melanjutkan pendidikanku disana. Aku sempat menolak, tapi Ayah mengatakan ada Diego disana.



Jadi aku tidak perlu khawatir tentang apa pun. Karena Diego akan membantuku. Itu yang dikatakan Ayah, Bunda terlihat menentangnya. Tapi tak berbuat apa-apa, jika Ayah sudah memutuskan.



Aku sekarang tengah bersiap untuk menemui Evlin, aku mengajaknya bertemu untuk membicarakan sesuatu dengannya. Jujur saja, aku masih sangat menyukainya. Tapi, Evlin seperti tak menginginkan itu. Dia masih menunggu Diego, aku tahu kepergian Diego mengubah banyak hal buatnya. Terutama sikapnya, dia sekarang lebih banyak membatasi hubungannya dengan orang lain.



Aku sampai di taman, dan sekarang aku menunggunya. Aku masih teringat, ketika dulu aku mengajaknya bertemu disini, meski sekarang ia sudah dengan Diego. Tapi aku tahu hatinya buatku, Sebelum dia mengetahui bahwa Diego adalah lelaki yang dia tunggu selama ini. Aku mengetahui itu dari Rara. Dulu Rara sempat dekat dengan Diego, sama sepertiku. Atau malah lebih dekat dengan Diego. Tapi semenjak Diego pergi dan tak memberi kabar. Sejak itu Rara tak ingin berbicara dengannya.



Rara pernah mengatakan bahwa temannya sedang menyukai seseorang. Dulu aku tidak mengerti, dan tidak terlalu menanggapinya. Sekarang aku baru tahu bahwa teman yang ia bicarakan adalah Evlin. Ketika dia mengatakan itu, dulu aku tidak tahu siapa yang dia bicarakan dan tidak begitu menanggapinya. Lucunya, sekarang aku merasa terluka.



Evlin datang dan segera menghampiriku. Dia selalu terlihat cantik. Sama seperti hari ini, juga saat itu. Aku menyukainya, selalu. Meskipun aku tahu, aku tak akan pernah bersamanya, walaupun Diego sudah pergi.

__ADS_1



Aku tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi mungkin, yang orang katakan itu benar adanya, bahwa cinta pertama takkan pernah bisa di gantikan.



Aku seperti itu, aku tidak bisa menggantikan Diego. Kuakui, aku iri terhadapnya, aku bahkan sempat berharap Diego menemukan orang lain disana, aku harap Evlin di campakkan. Tapi, meskipun dia sudah pergi, aku masih tidak bisa menggantikannya. Aku masih tidak bisa menjadi pilihan.



“Bal, Lo kenapa sih? Ngelamun dari tadi,” ucapnya mengagetkanku, aku tersadar seketika. Ketika ia memanggilku sekali lagi.



“Hah? Iya, sorry,” kataku agak bingung, dia menatapku heran dengan exspresi menggemaskan. Harusnya kau memilihku, Lin. Bukan dia yang gak pasti akan kembali.



“Lo kenapa ngajak gue ketemu?” tanyanya lagi.



“Ah, itu, anu—” ucapku terpotong, karena aku jadi ragu apa aku akan memberitahukan Diego akan kembali atau tidak.



“Apa sih Bal! gak jelas banget!” ucapnya kesal, aku hanya nyengir karena bingung apa yang harus kukatakan.



“Aku cuma, pengen ketemu aja,” ucapku memilih berbohong. Ya, untuk sekali ini saja. Kumohon biarkan aku mencoba menggapainya.



“Yaelah Bal, gue tuh sibuk tahu!”



“Yah maaf,” ujarku meyakinkan, kali ini ia menatapku.



“Yaudah aku pulang yah!” ucapnya.



“Kenapa Lin? Lo kecewa. Karena bukan Diego yang berdiri disini.”



“Apaan sih Bal, gue gak suka yah, Lo bahas tentang itu!” ucapnya lantas akan berlalu.



“Gak bisakah! Lo liat gue! Kenapa selalu nganggep dia istimewa? hanya karena pertemuan singkat yang udah lama,” kataku yang kini bersuara.




Aku sekarang akan segera pulang, tapi Ayah menelponku dan memintaku untuk segera menjemput Diego di bandara. Ayah bilang, ia sekarang tidak bisa meninggalkan pekerjaan kantor. Karena sekarang disana sedang ada masalah.



Sebenarnya aku tidak berharap dia pulang, karena aku tahu aku hanya akan terluka, aku ingin bersikap egois. Tapi lagi, dia selalu beruntung dan unggul dalam hal apapun.



Aku sekarang sudah tiba di bandara. Berbeda dari perkiraanku, kupikir aku akan menunggu Diego beberapa saat. Tapi ternyata, dia sudah tiba lebih dulu di banding denganku. Dia menanyakan kenapa aku disini, aku menjelaskan bahwa aku disini karena Ayah memintanya, sebab ia sekarang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.



Mungkin aku cemburu, sebelum aku tidak mengetahui bahwa Diegolah lelaki yang di sukai Evlin. Sikapku biasa saja padanya, tapi kali ini berbeda. Dulu tidak ada kebencian. Tapi sekarang waktu telah mengubahnya, aku merasa tidak menyukainya sama sekali.



Kau tahu, aku sekarang merasa tidak ingin mengungkapkan pada siapa pun, tentang hal yang Bunda lakukan. Pikiran jahat, seperti sedang menari di pikiranku. Aku merasa seolah kini aku setuju pada Bunda untuk menyingkirkannya.



“Kamu kenapa pulang?” tanyaku sekarang.



“Kenapa? Apa kau tidak suka!” katanya menatap ke arahku yang tengah sibuk menyetir.



“Bukankah Kamu suka berada disana!?” ujarku lagi, dengan nada sinis.



“Wah, sepertinya Kau benar-benar tidak ingin aku pulang!” ucapnya lagi.



“Ya, aku tidak suka!”



Kami sampai dirumah dengan di sambut cukup meriah oleh Ayah dan Bunda. Ah, bukan untuk kami. Tapi untuk Diego. Entah mengapa, itu membuatku merasa tidak suka. Aku tidak menyukainya. Aku berlalu ke kamar, dengan tidak memperdulikan Bunda memanggilku. Baru saja aku masuk di kamar, Bunda ternyata menyusulku kemudian.



“Kamu kenapa? Kamu sakit?” tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.


__ADS_1


“Tidak, Bunda. aku ingin istirahat! Bisakah Bunda pergi.”



“Kau takkan mau mengatakannya?” katanya lagi.



“Ayolah, aku tak apa-apa,” ujarku pada Bunda.



“Baiklah, sekarang aku akan pergi!” ucapnya lalu kemudian berlalu.



Mungkin aku tak benar-benar harus melakukannya. Aku cukup berdiam diri saja dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Lagi pula, jika aku melakukannya, Ayah pasti takkan mengakuiku lagi. Sekarang saja semua terasa begitu sangat menyulitkan.



Ya, aku tak ingin membuat Ayah marah. Lagi pula posisi kami sama. Sama-sama berstatus anak, hanya saja beda nilainya.



Entah apa salahku? Sampai mereka disini tak begitu menyukaiku. Apakah itu karena Bunda? ataukah karena Ayah memang tak menganggap Bunda sebagai istri, kecuali sebagai ikatan hubungan diatas kertas?



Aku tidak mengerti, mengapa Bunda tetap bertahan pada Ayah, yang jelas-jelas tak begitu menghiraukannya. Aku juga tak paham, mengapa Bunda bersikeras melakukan hal-hal yang jelas salah?



Harusnya dia pergi, menjalani kehidupan yang lebih baik bersamaku. Disini memang terdapat segalanya, tapi yang paling begitu kau inginkan, tak ada jaminan kau akan bisa mendapatkannya.



Seperti hari ini, aku begitu tercengang ketika mendengar rencana Ayah akan menjodohkanku dengan putri dari rekan bisnisnya. Aku tidak mau, kenapa harus aku? Kenapa tidak Diego saja.



Mereka mengatakan itu akan baik untuk masa depanku. Semua mata menatap kearahku, dan meminta pendapatku. Termasuk juga Diego, apa dia yang meminta ini pada Ayah? Ckk.



“Aku tidak mau, aku memiliki pilihan sendiri!” ucapku memecah suasana, Ayah menatap kearahku seperti tidak suka. Ayolah, dia memang tidak selalu menyukaiku! Apa yang harus kutakutkan? Sementara Bunda menatapku, mengisyaratkan agar aku harus menerimanya.



“Apa yang Bunda lakukan! Aku tidak mau,” kataku lagi menatap kearah mereka.



“Aku yakin, Kau akan bisa meyakinkan Putramu!” ucap Ayah melirik Bunda.



“Mengapa kalian harus memaksanya, dia sudah besar, kuyakin dia memiliki pilihannya sendiri,” kini Diego yang bersuara, entah apa yang sedang dia lakukan! Apa dia pikir aku akan berterimakasih padanya.



“Ya, benar sekali. Perempuan yang waktu itu, yang datang ke rumah ini. Dia wanitaku!” ucapku yang kini melirik kearah Diego. Kulihat ia menghentikan makannya, sepertinya ia kecewa.



“Kau dan Evlin?” tanya Bunda, yang seolah tahu apa yang sedang kupikiran. Sepertinya Bunda mengharapkan itu.



“Kau mengenalnya?” tanya Ayah pada Bunda.



“Tentu saja, aku mengenalnya. Aku pernah bertemu dia sebelumnya. Dia akan cocok dengan Iqbal,” ucap Bunda dan itu membuatku tersenyum. Bukan karena apa, tapi karena kulihat wajah Diego terlihat menahan kecewa.



“Baiklah. Tapi aku harus melihatnya, ajak dia ke rumah!” ujar Ayah lalu melangkah pergi.



Ini bukan bagian dari rencanaku, maksudku aku hanya



ingin membatalkan perjodohan itu. Membawa dia kemari? Itu seperti, kau sengaja ingin membunuhku. Aku jelas tidak bisa, aku harus menjauhkan dia dari Diego.



Aku tidak bisa membawanya kemari. Sementara Diego sekarang menatapku yang terdiam, apa dia tahu apa yang kupikirkan?



“Bagaimana, Kau akan membawanya?” tanya Diego, yang menurutku ia jelas sedang menyindirku.



“Tentu saja, jangan khawatir! Dia sangat menyukaiku!” ucapku tersenyum kearahnya, dan langsung berlalu menuju kamar tanpa mengatakan apa-apa lagi. Mungkin dia terhentak mendengar itu.



Sementara aku sekarang sedang sibuk memikirkan apa yang harus kulakukan di kamar. Bagaimana caranya aku mengajak Evlin kemari tanpa perlu ia melihat Diego? Aku jelas tidak ingin meminta bantuan pada Bunda. Ia akan merasa seolah aku memihaknya, meski sebenarnya aku perlu bantuannya.



Apa Diego sekarang tengah menertawakanku? Ah, sial. Apa mereka sengaja melakukannya? dia baru saja kembali disini, tapi sudah memberi masalah untukku. Padahal aku bahkan tidak melakukan apa-apa yang membuatnya marah padaku.


__ADS_1


Bersambung,...


__ADS_2