
Aku berangkat ke Bandara, karena masa liburanku akan segera berakhir. Ayah dan Bunda, serta Iqbal ikut serta mengantarku. Aku tahu Bunda senang dengan kepergianku, aku juga tahu, Iqbal mengajak Evlin untuk ikut serta mengantarku.
Tapi sesampainya disana, pesawat yang akan mengantarku ditunda keberangkatannya hari ini menjadi besok pagi karena cuaca hari ini sedang tidak mendukung. Kulihat, Bunda tampak tidak menyukai penundaan penerbangan malam ini, tapi ia berusaha tidak menampakkannya. Karena ada Ayah disana.
Sesaat kemudian, Bunda menerima telepon dari seseorang yang entah siapa, kemudia ia pamit dengan tergesa-gesa. Tampak Iqbal juga sama, sesaat setelah bunda pergi, ia pun pamit kepada kami, dan meminta Evlin agar pulang bersamaku.
Aku tidak tahu, apa Iqbal hendak mengikuti bunda atau itu untuk urusan yang berbeda.
Lelaki yang kutugaskan kemarin untuk membantuku, juga ikut hadir untuk mengantarku. Hanya saja, ia tidak menampilkan diri dihadapan kami. Aku memintanya membantuku sampai aku benar-benar sudah berangkat dari sini. Tapi kau tahu sendiri, aku tidak jadi pergi karena penundaan keberangkatanku.
Aku menelpon lelaki itu, dan memintanya melaksanakan tugasnya sekali lagi, yaitu menyelidiki kemana Bunda pergi dan untuk urusan apa. Setelah ia berhasil mendapatkan informasi itu aku memintanya segera melapor padaku tanpa diketahui oleh siapa pun.
Aku pulang bersama Evlin, aku merasa ia kesal dengan sikapku kemarin. Aku mengajaknya sedikit berbincang tapi kurasa ia tidak ingin berbicara denganku. Ditengah perjalanan ia memintaku untuk menurunkannya dijalan, aku menolaknya tapi ia terus memaksaku.
Sebenarnya aku ingin menahannya, tapi lelaki yang kutugaskan meminta bertemu. Aku menyukainya, dia selalu bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat.
Akhirnya aku terpaksa menurunkannya, sebelum aku pergi aku ingin memastikan ia pulang terlebih dahulu. Setelah ia menaiki Taxsi, dan bergegas pergi. Barulah aku pergi dari sana. Tapi tiba-tiba aku teringat bahwa hari ini dia ulang tahun. Aku lalu mengiriminya pesan ucapan selamat ulang tahun, untuknya.
Seharusnya aku tidak melakukannya dan tidak membuat ia bingung. Tapi pesan itu sudah terlanjur sudah kukirim dan tak bisa kuhapus lagi.
Setelah itu aku memberitahukannya pada Iqbal dan memintanya menuju ke rumah Evlin. Karena disana mereka tengah menyiapkannya. Iqbal berterima kasih padaku dan meminta aku nanti untuk segera menyusul.
Rehan mengirimiku pesan dan menanyakan hadiah apa yang harus ia berikan pada adiknya, aku memintanya tak perlu khawatir.
Karena aku sudah meminta seseorang untuk membawakan hadiah yang sudah kupesan kesana. Dan itu adalah sebuah buku yang sengaja kupilih untuk kelancaran studynya nanti.
Rehan setuju dengan hal itu. Aku sampai di tempat yang kujanjikan dengan pria itu, kami bertemu diam-diam, dia masuk ke mobilku dan segera melaporkannya padaku.
“Bagaimana? Kau sudah mengetahuinya!” tanyaku pada Pria itu.
“Ya, Tuan. Saya dengar presdir sudah mengetahui tentang pelaku dibalik kecelakaan itu, juga tentang perselingkuhan Nyonya!”
“Apa, Bunda berselingkuh?” tanyaku memastikan.
“Ya, benar Tuan.”
“Dengan siapa?” tanyaku lagi.
“Dengan Pak Min, sekretaris pribadi presdir!” aku setengah tidak mempercayai itu. Selesai dengan itu, Iqbal memintaku segera kesana.
Akupun langsung menuju kesana dengan kecepatan tinggi. Tapi, sesampainya disana hal pertama yang kulihat adalah Iqbal berpelukan dengan Evlyn. Apa dia sengaja melakukannya?
Rehan memanggilku, mengetahui aku datang. Iqbal dengan spontan melepas pelukannya. Seketika, suasana berubah menjadi canggung dan Evlyn tampak tidak tahu apa yang harus di lakukannya.
Rara mengajak untuk melanjutkan ke pembukaan kado, sepertinya ia berusaha mencairkan suasana agar tidak kaku. Dan, Evlyn menyetujuinya. Setelah semua kado dibuka, entah kenapa bingkisan dariku tidak dibuka, bahkan tidak di sentuh sama sekali. Mungkinkah ia membenciku sekarang?
Sejak rencana kepergianku, aku tak mengatakan apa-apa padanya dan memutuskannya langsung secara sepihak, ya, karena aku ingin dia baik-baik saja, karena saat itu keberadaanku sedang di incar oleh ibu tiriku.
Aku kesana selama satu tahun lebih dan pulang hanya saat liburan telah dimulai. Wajar saja jika ia sekarang membenciku.
Aku tidak terlalu ingin memikirkannya, selama dia baik saja, aku sudah merasa tenang. Aku hanya tidak ingin dia terkena masalah, jika terus berada di sampingku.
Mungkin aku cukup egois, aku pergi ke australia hanya untuk melarikan diri. Aku tahu Bunda mengincarku, tapi setelah aku kesana, aku tahu ia tidak memiliki rencana jahat pada Evlyn. Karena tahu Iqbal menyukainya.
Ia berusaha keras untuk membuat Iqbal mendapatkan apa yang dia mau. Termasuk menyingkirkanku!
Aku tidak terlalu mengerti, apa Iqbal juga menginginkan agar aku tersingkir, lelaki itu mengatakan agar agar aku bersembunyi untuk waktu yang lama, dan aku melakukannya. tapi, kurasa aku tidak ingin melakukannya lebih lama lagi.
__ADS_1
Mengapa aku harus lari saat Ayah berada di sampingku? Bukan mengandalkan Ayah dan merasa aku cukup bersantai saja, tapi aku putra keluarga kami.
Aku masih terfikir akan kata lelaki itu, bahwa Bunda berselingkuh dengan sekretaris pribadi Ayah dan telah melahirkan seorang anak.
Siapa anak lelaki itu? mungkinkah dia adalah Iqbal? Ah, tidak mungkin. Iqbal jelas-jelas anak Ayah dan ia saudara tiriku. Ia tidak mungkin anak tidak sah dari pria selingkuhan Bunda.
Mungkin sekarang rumah sudah di penuhi oleh keributan tentang semua itu, tentang rahasia Bunda yang hendak ia kubur, tapi Ayah berhasil menggalinya. Kami memutuskan pulang setelah itu, kami pulang menggunakan satu mobil, dengan aku yang menyetir. Sementara motor yang dikendarai Iqbal waktu kesini akan di urus oleh lelaki suruhanku.
“Kamu sudah tahu?!” ujarku pada Iqbal memulai pembicaraan.
“Tentang apa?” tanyanya balik.
“Bunda berselingkuh dengan sekertaris Ayah!” ucapku.
“Bunda berselingkuh—” katanya kini menatap kearahku. Aku pun membenarkan itu.
“Kau tahu dari mana?” tanyanya lagi.
“Ayah bahkan sudah tahu! Mungkin sekarang rumah sudah dipenuhi keributan.”
“Benarkah?”
“Um, Kau tahu, Bunda bahkan melahirkan seorang anak dari pria selingkuhannya.”
“Dia sungguh melakukannya, siapa putranya?” tanya Iqbal lagi.
“Tidak tahu!”
Sesampainya kami di rumah, benar saja, rumah sudah dipenuhi keributan sekarang, dan terkejutnya lagi, Pak Min ada disana.
Mungkin ia ingin bertanggung jawab seperti seorang lelaki, tapi tetap saja, apa pun usahanya dia telah menghancurkan pernikahan seseorang.
Tampak Ayah sedang berdiri menatap keduanya yang tampak menanggung rasa bersalah.
“Sekarang katakan siapa putra kalian?” bentak Ayah.
Iqbal berjalan mendekati keduanya, dan tengah berdiri di dekat Ayah. Tampaknya ia juga sangat marah pada Bunda. Ya, siapa pun pasti akan melakukannya terlebih itu adalah Ibu kandungnya.
“Bunda berselingkuh pada Ayah dengan pria pengkhianat ini! Katakan siapa putra kalian!” bentak Iqbal tak kalah kerasnya dengan kemarahan Ayah.
“Iqbal—” ucap pria itu terpotong dan kini menatap kearah Iqbal.
“Berani sekali seorang pengkhianat menatap saya seperti itu!” entah mengapa, ia begitu kesal pada pria itu. Meski itu salahnya, tapi disini Bunda penyebab semuanya.
Aku yang menyaksikan itu hanya bisa berusaha menenangkan Ayah.
“Baik, jika Kau tidak ingin mengatakannya, maka bersiaplah untuk bercerai,” ujar Ayah berlalu meninggalkan kami. Sementara Iqbal dan aku masih berdiri disana, merasa tak enak di sana aku mengajak Iqbal juga untuk pergi ke kamar, sebelum aku sendiri pun berlalu dari situ.
Entah mengapa, aku melakukan ini, aku tidak benar-benar masuk kamar, tapi berusaha mendengarkan pembicaraan mereka, yang barangkali ada yang tidak kuketahui.
“Aku minta, Bunda pergi dari sini, Ayah tidak ingin melihat Bunda!”
“Bunda melakukan semuanya demi Kamu.”
“Berhenti melakukan semuanya untukku, aku tidak pernah memintanya, Bunda justru menghancurkan hidupku.”
“Berhenti mengatakan itu, bukankah Kamu sengaja ingin bertunangan dengan Rara, hanya untuk membuat Evlyn kembali padamu! Bunda mewujudkan semuanya.”
“Tapi tidak dengan menjadikanku anak tidak sah dari lelaki lain, aku begitu bangga menjadi anak Ayah, aku berusaha menjadi yang terbaik agar Ayah mencintaiku. Aku selalu mengejar cinta Ayah, tapi Bunda menghancurkan semuanya!”
“Iqbal berhenti, ini semua salah Bunda.”
__ADS_1
“Berhenti mengejarku sekarang, Ayah akan membenciku jika ia mengetahuinya!”
***
Sesaat aku begitu terkejut mendengar semuanya, Iqbal bukan anak Ayah, tapi anak pria itu. Ia anak dari selingkuhan Bunda.
Itukah mengapa Bunda ingin menyingkirkanku?! Karena aku anak sah keluarga ini, Bunda khawatir aku menghalangi Iqbal untuk menjadi pewaris.
Tersadar, kulihat Bunda berjalan menghampiriku, aku ingin berlari. Tapi, kali ini ia tampak berbeda, ia tampak kebingungan dengan memohon padaku.
“Diego, Bunda yang salah, bantu Bunda, kejar Iqbal sekarang. Dia akan melakukan hal aneh, jika Kamu tidak menemuinya. Iya, bunda yang salah. Bunda jahat sama Kamu, tapi tolong,” ucapnya terbata menahan air mata, serta tetap memohon.
“Bunda tenang aja, diego cari dia sekarang!” ujarku menenangkan.
Bukan tidak marah, aku sangat marah padanya sekarang, aku kesal, tapi, aku harus menjadi pihak penengah. Aku tidak ingin menambah keributan yang sudah tercipta.
Aku sekarang mencari Iqbal, ternyata ia sedang berdiri tak menentu di simpang jalan. Aku menghampirinya, sepertinya ia tidak ingin di ganggu. Aku cukup mengerti, tapi aku harus menemuinya demi Bunda.
“Lo udah dengar kan, gue bukan anak Ayah! gue cuma anak gak sahnya Bunda!” ujarnya menahan tangis. Dia tidak menatapku, ia sepanjang tadi terus menunduk.
“Iya, gue tahu, tapi Lo tetap anak Ayah!” ujarku berusaha menenangkan.
“Gak, dia belum tahu aja. Kalau dia tahu, dia bakal benci sama gue!”
“Ayah memang gitu kalau lagi marah, gue pergi dari rumah, bukan semata karena Bunda, tapi juga Ayah!”
“Maksudnya?” ucapnya kini menatapku.
“Iya, aku gak pernah setuju Ayah nikah lagi sama Bunda, makanya ia sama Ibu bercerai. Ibu gak setuju. Ketika itu Ayah mengusir kami, sebab itu aku pergi,” akhirnya aku menceritakan semua yang terjadi saat itu, juga alasan mengapa aku kembali.
Ayah memintaku pulang dan meminta maaf padaku dan Ibu. Ibu mengijinkanku meskipun tidak bisa mempertahankan pernikahan itu.
“Tapi kita berbeda, semarah apapun Ayah, Kamu tetap darah dagingnya!”
“Apapun itu, Kamu harus melewati semuanya! Setidaknya demi Bundamu, dia melakukan semuanya untuk Kamu!”
“Tapi tidak perselingkuhan itu.” aku berhasil mengajaknya pulang ke rumah, disana Bunda sudah menunggu, melihat kami ia langsung memelukku dan meminta maaf.
Bunda mengatakan akan menyanggupi permintaan Ayah dan bercerai dengan mengikuti semua prosedur. Bunda mengakui semua kejahatannya termasuk merencanakan kecelakaan itu, dan pak Min ia dipecat dari kantor secara tidak terhormat, juga harus menjalani masa hukuman.
Ayah tampak sangat marah dengan semua pengakuan itu, terkait Iqbal, ia tetap bersama kami. Ayah tidak ingin menyebarkan aib lebih banyak lagi. Meskipun sekarang Ayah mungkin belum bisa menerima keberadaan Iqbal.
Iqbal sendiri, kurasa ia tampak lebih baik sekarang, tidak ada lagi hal-hal yang perlu dipendam seorang diri. Sekarang semua tampak lebih jelas, dan membiarkan waktu menjadi obat penenang paling ampuh!
Aku sekarang belum bisa kembali ke australia, aku mengambil cuti untuk beberapa waktu, dan menunggu sampai keadaan menjadi lebih baik, aku memilih untuk menemani Ayah agar tak pusing memikirkan semuanya sendirian.
Ibuku sekarang sudah bisa kembali ke indonesia, tepatnya setelah Bunda menjalani masa hukumannya, karena selama ini, keberadaannya khawatir terancam, jadi aku memintanya untuk sementara tinggal diluar negeri.
Sebenarnya aku sangat berharap agar Ibu dan Ayah dapat berbaikan serta rujuk kembali. Sebab Ayah sekarang sudah menyadari kekeliruannya, dan menanggung akibat perbuatannya. Aku juga tahu, ayah juga berharap hal yang sama.
“Kudengar ibumu akan kembali hari ini?” tanya Ayah saat sarapan.
“Iya, saya akan menjemputnya pagi ini,” kulihat Iqbal hanya mendengarkan tanpa bergabung dengan pembicaraan kami.
“Kau keluarlah sesekali!” ujar Ayah menatap Iqbal, aku hanya tersenyum melihat tingkah para pria yang tinggal serumah ini.
Selesai sarapan aku langsung beranjak pergi ke Bandara untuk menjemput Ibu. Kulihat, diluar ada Evlyn. Sepertinya dia kesini hendak menemui Iqbal.
“Mau bertemu Iqbal?” tanyaku yang seolah tidak tahu, hanya untuk membuat suasana tidak canggung. Ia hanya mengangguk, aku memintanya masuk dan menemui Iqbal di dalam. Tapi, ia menolak dan memintaku untuk memanggilkannya untuk dia.
Aku pun mengikuti permintaannya dan kembali masuk menemui Iqbal, untuk memberitahunya bahwa Evlyn ada diluar dan menunggunya, setelah itu aku kembali bergegas menuju bandara untuk menjemput Ibu.
__ADS_1
Bersambung,...