PRIA Di Toko Bunga

PRIA Di Toko Bunga
Tanpa Kata


__ADS_3

 


 


“Lin, gimana? Mereka jadi ikut pikniknya?” tanya Rara saat kami tengah bersiap.


“Entar ya, gue coba hubungin lagi.”


Aku mencoba menghubungi Iqbal tapi ia tak menjawab. Aku mencobanya sekali lagi tapi tetap sama, tak ada jawaban.


“Gak ada jawaban, Ra, mungkin mereka gak pergi. Bang Rehan mana lagi!” ujarku pada Rara. Sementara Rara hanya diam tak mengatakan apa-apa. Namun pandangannya terfokus menatap hp-nya.


“Ra, woy,” ucapku segera menyadarkannya.


“Hah?” ucapnya menatapku namun seperti tak sadarkan diri.


“Yaelah, Lo apaan sih!”


“Iya maaf!”


“Gimana dong, mereka gak pergi. Padahal gue mau berangkat bareng Kak Diego, gue tuh udah ngatur semuanya! Ya tinggal balikan aja loh,” celotehku panjang lebar.


“Iqbal--,” ujar Rara terpotong menatapku.


“Iqbal kenapa?” kataku menyanggah.


“Iqbal tadi telepon, dia bilang—,”


“Bilang apa? Yang jelas dong!” ucapku kesal pada Rara.


“Kak Diego kecelakaan,” jelas Rara tak kuasa menahan air matanya.


“Canda deh Lo, gak lucu tahu. Gue tuh udah nyiapin semuanya!” ungkapku pada Rara, tapi Rara hanya menggeleng.


“Kita kesana ya Lin, sekarang!” aku ikut Rara dengan berderai air mata, aku tak percaya dengan semua yang kudengar baru saja. Tapi aku harus pergi, aku harus memastikannya sendiri.


Aku berharap mereka hanya mengerjaiku, tapi disana kulihat sudah ada Om dan juga Tante, juga Iqbal. Aku melihat sekujur tubuh Iqbal sudah dipenuhi darah.


“Bal, ini gak benar, kan?” kalian semua bohongkan? Kalian mau kerjain aku, kan? Tapi udah cukup, aku takut! Kak Diego mana?” tangisku pecah memenuhi seisi ruangan. Bang Rehan memelukku dan Iqbal hanya diam saja. Sementara Ibunya sudah tak kuat menahan tangisnya.


“Dia bakal baik-baik aja, dia sekarang ada di ruang operasi!” ujar Iqbal.


“Kenapa Bal? Kenapa Lo gak jaga dia buat gue! Gue percaya sama Lo.”


“Udah Dek, semuanya udah terjadi!”


“Kenapa, Bang? Kenapa ini harus terjadi sama Kak Diego, gue harus gimana? Gue sayang sama dia.”


“Iya, gue tahu, tapi lo gak boleh kayak gini.”


“Diego mengalami kecelakaan waktu dia mau menemui Kamu, Lin!” ujar Iqbal menatapku.


“Dia mau temuin aku!” kataku memastikan lagi apa yang baru saja aku dengar. Iqbal mengangguk mengiyakan tanyaku.


Seisi ruangan seketika berubah menjadi penuh dengan kepanikan dan kekhawatiran  dengan sesuatu yang akan terjadi selanjutnya. Sementara Tante Rani, Ibu dari Kak Diego kini tampak lemas dan terduduk di lantai menunggu dokter keluar dari ruang operasi.


Aku lihat Om Dirman juga tak kalah paniknya dengan semua yang hadir disini.


Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya dokter pun keluar dari ruang operasi dan menghampiri kami semuanya.


“Siapa walinya disini? Bisa kita bicara?!” ujar Dokter sesaat kemudian.


“Saya Dok, saya ibunya!” jawab Tante Rani kemudian berjalan sedikit menjauh.


“Begini Buk, karena benturan di kepalanya cukup keras, dan pasien mengalami pendarahan yang cukup hebat, kita hanya bisa berharap kepada Tuhan untuk kesembuhannya. Operasi berhasil tapi tak menjamin kesadarannya seratus persen.”


“Jadi maksud Dokter! Anak saya tidak akan selamat!”


“Kami hanya melaksanakan tugas kami, Buk! Selanjutnya Allah yang menentukan, Ibu yang sabar.”


Aku berharap semua ini hanya mimpi buruk saja, aku ingin segera terbangun dari mimpi ini. Tapi kurasa tak bisa, Rara memelukku sambil menangis dan itu menunjukan ini semua nyata, ini bukan mimpi. Tapi benar terjadi.


Tuhan, aku tidak mau Diego pergi, cukuplah perpisahan kemarin yang memisahkan kami, jangan lagi kematian merenggut cinta ini, jangan ambil cintaku Tuhan, jangan, kumohon.


Tante Rani seketika langsung pingsan tak kuasa melihat putranya terbaring tak sadarkan diri dengan alat pembantu pernapasan terpasang ditubuhnya. Begitu pun aku, aku begitu terpukul dengan semua ini.


Aku pikir kami akan baik-baik saja setelah ini. Kenapa Tuhan pertemukan kami lagi jika akhirnya ia akan merenggutnya kembali, kau bahkan tak ijinkan aku sejenak bersamanya.


Aku belum minta maaf padanya, aku marah padanya, aku menolak berbicara dengannya. Tapi ia tak marah padaku, aku harus mengatakan aku salah. Dia harus mendengar aku menyesalinya Tuhan. Aku masuk untuk menemuinya ke ruangan tempat ia dirawat sekarang.


“Kak, gak mau bangunkah kamu? Kamu gak mau ngomong sama aku?”


“Lin, kita pulang dulu yuk! Kita balik lagi nanti, percaya Diego bakal baik-baik aja!”


“Gak Bang, gue gak mau, gue mau disini nungguin dia bangun!”


“Lin, kita pulang dulu yuk, Kamu harus istirahat!” ujar Rara yang kini menghampiriku, karena kami sudah seharian berada disini.


“Gak Ra, gue gak mau, gue mau nunggu dia bangun, kasih tahu dia. Gue ada disini, Ra, dia gak dengerin gue!”


***                                                        


Setiap hari yang kulakukan hanyalah menunggu keajaiban, aku selalu berkunjung ke rumah sakit untuk menemaninya, bercerita tentang semua yang kurasakan, atau bahkan membantunya mengompres tubuhnya yang sekarang tidak bisa dia lakukan sendiri.


Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya ini akan terjadi, aku hanya terus memikirkan hal bahagia sejak kita bertemu, tapi bodohnya, aku tidak mengenalimu ketika kamu datang untuk yang kedua kalinya.


Aku begitu buruk, bukan? Tapi sekarang bisakah kamu bangun dan ijinkan aku perbaiki semuanya, aku takkan marah lagi, aku takkan menolakmu bicara lagi, aku takkan meninggalkanmu ketika aku kesal. Jadi, bisakah kamu mendengarku sekali ini?


Aku mohon, aku tahu aku mungkin tak baik, bisakah kamu mengajariku sampai aku baik? Jadi tolong, bangunlah sekarang.


Kenapa begitu nyaman terbaring disana, apa kau tak mau melihatku? Apa disana kau sedang bermimpi, hingga kau tak ingin menemuiku? Tapi tolong, jangan menyiksaku seperti ini. Tolong bangun, kau boleh memarahiku nanti, kau juga boleh memaki, kau boleh mengeluh akan sikap burukku. Aku akan mendengarmu!


Jangan seperti ini, aku tak suka melihatmu terbaring tanpa mengatakan apa-apa. Tidakkah kau ingin melakukan segala hal yang indah denganku? Kau sungguh tidak ingin berjalan-jalan denganku?!


Kita bisa melakukan semuanya, kita bisa menikmati senja di sore hari, kita bisa berjalan sambil berpegangan tangan, kita bisa berpose dengan baju couple, kita akan melakukan semua hal yang di lakukan sepasang kekasih! Jadi kumohon bangunlah.


Sudah cukup dengan ini semua, aku tak ingin melihatmu lebih lama terbaring disini. Kau tidak merasa kasian padaku? Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu padaku, bangunlah dan katakan apa itu? Aku akan mendengarkanmu sekarang.


Maaf untuk semua sikap keras kepalaku, aku akan mengubah sikapku, aku akan menjadi lebih baik. Aku akan mencintaimu sepanjang usiaku, jadi tidakkah kau mengerti? Apa permintaanku begitu berat? Aku hanya ingin kau membuka matamu dan katakan kau baik-baik saja, seperti waktu itu.


Kenapa kau suka sekali disini? Tidak bisakah kau mendengarku? Kau jahat, jika tidak bangun sekarang! aku lelah menunggumu, aku setiap hari selalu disini, tapi kau bahkan tak ingin melihatku, kau tak mau membuka matamu.


Apa kesalahanku begitu membuatmu marah? Kau akan membuatku mati jika kau tak memaafkanku! Kau tahu, kau tidak tampan dengan wajah seperti ini.


Tidak bisakah kau bangun sekali lagi seperti waktu itu! tidak bisakah kau mengatakan kau tak apa-apa, atau berkeluhlah jika kau merasakan sakit.


Mengapa kau hanya diam saja, mengapa tidak mengatakan apa-apa. Mengapa kau membuatku merasa seperti ini?


Hanya kau yang bisa mengatakan apa yang kau rasakan, setiap aku bertanya mengapa kau tak bangun, mereka tak menjawabnya. Mereka hanya menepuk pundakku dan menangis. Kenapa? Apa kau akan meninggalkanku seperti ini?


Mengapa menemuiku jika kau ingin pergi meninggalkanku? Tidakkah kau merasa kasian padaku, hatiku sakit setiap kali melihatmu seperti ini. Dimana senyumanmu? dimana sikap dinginmu?


Tunjukkan padaku sekarang. Respon aku, jangan hanya diam, jangan membuatku muak.


Aku bahkan melupakan diriku, dan mau hidup hanya untukmu! Tapi kau mengacuhkanku, bukankah kau jahat sekali! Kau sangat jahat. Kau tak peduli padaku yang memanggilmu setiap hari. Setidaknya dengar aku.


***


“Lin, bolehkah kita bicara diluar?” ujar Tante Rani menghampiriku.


Aku mengiyakannya dan kami menuju sebuah cafe di dekat rumah sakit.


“Tante mau bicara apa?” tanyaku sesampainya disana.


“Makasih sudah menemani Diego setiap hari, tapi berhentilah sekarang!”


“Maksud Tante apa? Kenapa aku harus berhenti?”


“Kau tahu sendiri, ini sudah tiga minggu, tapi Diego belum juga sadarkan diri, kau tahu! Kita sudah tidak memiliki harapan!”


“Ini baru tiga minggu, tapi Tante sudah menyerah! Bukankah Tante itu Ibunya?”


“Karena saya ibunya, sebab itu saya seperti ini, Diego juga pasti akan memintamu berhenti!”


“Tante tidak percaya dia akan bangun?”


“Tiga minggu bukanlah waktu yang sebentar, itu cukup lama.”


“Saya akan tetap menunggunya! Sampai dia bangun, dan dia melihat saya!”


“Berhentilah, jangan seperti ini! Lupakan dia, dan jalanilah kehidupan yang lebih baik!”


“Itu konyol, Tante memintaku berhenti.”


“Jangan menyiksa diri, Diego juga pasti tidak akan suka, kita ikhlaskan dia.”


“Dia belum meninggal Tante, kita masih punya harapan.”


“Bahkan Dokter tidak tahu mengapa dia tidak bangun, mereka bilang kita tidak punya cukup harapan, tidakkah Kamu mengerti?”


“Tante yang tidak mengerti, kita hanya perlu menunggu keajaiban!”


“Berhenti omong kosong! Kami sudah booking tempat untuk pemakamannya!” ucapnya lantas berlalu pergi meninggalkanku sendirian.


Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar, bagaimana bisa seorang Ibu menyiapkan tempat pemakaman untuk anaknya yang jelas belum di nyatakan meninggal oleh Dokter, padahal kita hanya perlu menunggu sedikit lebih lama. Tapi dia sudah melakukannya, aku tahu persis, ini juga berat untuknya, tapi tetap saja, ini salah.


Dia tidak bisa melakukannya. Bagaimana jika Diego tersadar dan ia mengetahuinya, pasti itu akan menghancurkan hatinya.


Seorang Ibu yang berusaha ia lindungi, tapi sekarang tak percaya bahwa putranya akan kembali. Apa yang harus kulakukan? Ini semua tidak benar, aku tetap harus menunggunya, aku yakin mereka salah. Ia akan terbangun sebentar lagi. Dia pasti bangun, aku takkan membiarkan siapapun melukai atau mengambilnya dariku.




“Bang, kita harus memindahkan Kak Diego ke rumah sakit yang lebih besar, di sana perawatannya lebih cepat hasilnya, kita harus pindahin dia, Bang!”



“Dek, dia sekarang di rawat dirumah sakit terbaik, ya, walaupun belum menunjukan hasil apa-apa, kita harus menunggu.”



“Gak, Bang, kita harus pindahin dia, Abang tahu, Ibunya bahkan udah pesan tempat pemakaman buat Kak Diego.”

__ADS_1



“Gaklah, Dek, Diego itu belum meninggal, percaya dia bakal baik-baik aja.”



“Bakal baik-baik aja? Sampe kapan kita harus nunggu, aku gak mau nunggu lebih lama lagi, aku takut, Bang!”



“Sadar, Lin, Kamu jangan kayak gini, jangan buat semuanya tambah rumit, yah!” tutur Bang Rehan memelukku.



“Iya, Lin, semua ini berat buat kita, Kamu harus bisa lebih kuat lagi,” tambah Rara kemudian.



Entah mengapa, setelah bertemu dengan Tante Rani hatiku menjadi tambah lebih gusar dari sebelumnya, walaupun mereka meyakinkanku dengan berbagai cara, tapi hatiku tetap tak tenang, bagaimana jika apa yang dikatakan Tante Rani itu adalah benar?



Bagaimana jika Kak Diego tak pernah terbangun lagi? Apa yang harus kulakukan, aku tak ingin kehilangan lagi, cukup kemarin adalah salahku, aku tidak ingin jika dia pergi dari sini.



Tuhan aku harus bagaimana? Tolong sadarkan dia Tuhan, aku tidak menginginkan apa-apa lagi, aku hanya ingin bersama dia, tolong! Jangan ambil dia, jangan ambil dia untuk kali ini. Biarkan aku bersamanya, jika nanti kami memang tak bisa bersama, aku tidak apa-apa. Tapi jangan renggut dia sekarang.



\*\*\*



Kembali lagi aku ke rumah sakit ini, aku menatap wajah teduh itu, tapi tampak sangat pucat, sepertinya dia benar-benar kesakitan.



Dia bahkan tak bisa berkeluh, dia menanggung rasa sakitnya sendiri. Lalu bagaimana kau akan merenggutnya dariku? Aku tak siap, jika harus tak melihatnya lagi.



Jika dia sembuh tidak apa-apa dia kembali ke luar negeri, atau bahkan tinggal disana. tidak apa-apa jika dia nanti bertemu dengan orang lain, aku tidak akan sedih. Tapi yang pasti, aku masih bisa mendengar namanya disebut, atau bahkan memanggilnya di kesendirianku, tapi jangan renggut hidupnya.



“Kak, kapan kamu mau bangun? Apa Kak Diego gak rindu sama aku? Kakak yang beliin hadiah buku itu buat aku, aku gak bisa belajar sendiri, Kak Diego harus ajarin aku! Bangun cobak Kak, aku harus nangis kayak gimana lagi, biar Kakak mau bangun!”



“Mungkin dia masih marah sama Om, karena Om kemarin marah sama dia!” ucap Ayahnya yang kini sudah berada di sampingku.



“Gak Om, Kak Diego gak kayak gitu.”



“Makasih yah, Lin, udah mau temanin dia!”



“Om jangan bilang kayak gitu, Evlyn percaya Kak Diego bakal bangun.”



“Kamu benar, kita hanya harus berdoa.” ujarnya tersenyum kemudian melangkah keluar meninggalkan kami.



“Ayah Kakak baru aja datang, dia percaya Kakak bakal bangun, jadi, cepat bangun dari sini.” Aku memegang tangannya, aku berharap dia akan bisa mendengarnya dan segera tersadar.



“Sebentar lagi aku masuk perguruan tinggi, temanin aku yah!” jelasku masih menatapnya.



Aku kemudian bergegas pergi dari sana, dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, di sana aku melihat ada Iqbal sedang berdiri di depan pintu gerbang rumah. Aku pun berjalan mendekatinya.



“Ada yang mau aku omongin sama kamu!” pungkasnya.



“Apa?” sahutku singkat.



“Ini tentang Diego,” ujarnya lagi.




“Sebelum dia mengalami kecelakaan, sebenarnya dia berusaha melindungi aku!”



“Maksud Kamu apa?”



“Saat itu, kami hendak menuju rumah Kamu. Kami tidak berangkat dengan satu mobil, aku mengendarai motorku dan pergi lebih dulu, sementara dia menyusul. Tapi ditengah perjalanan sebuah mobil hendak mencelakaiku, Diego berusaha mencegahnya tapi kecelakaan itu malah mengenainya.”



“Apa, dia pergi saat akan menemuiku karena ajakan itu, kenapa Kamu baru bilang sekarang! Ini semua salahku, aku penyebab Kak Diego mengalami kecelakaan itu. Kalau saja aku gak merencanakan itu, ini gak akan terjadi!”



“Gak Lin, ini bukan salahmu! Semuanya udah terjadi! Tapi ada yang ganjal Lin, dari kecelakaan itu.”



“Ada yang mengganjal, maksud kamu seseorang bisa saja merencanakan ini semua?”



“Kurang lebih seperti itu, dan menurut hasil penyelidikan, ini adalah perbuatan pelaku yang sama dengan kejadian sebelumnya. Dan yang tidak bisa kupercaya, mereka mencurigai pelakunya adalah orang terdekat!”



“Orang terdekat, siapa? Bunda Kamu di pen—” ucapku terpotong dan segera tersadar.



“Gapapa, Kamu benar, Bunda dipenjara! Aku juga bingung, Lin. Tapi tolong rahasiakan ini dulu. Aku harus cari tahu sendiri.”



“Iya, semoga pelakunya cepat tertangkap.”



“Yaudah, aku pergi dulu. Kamu masuk sana ke dalam!” ujarnya lantas berlalu.



Semua membuatku menjadi begitu pusing, belum selesai dengan satu masalah, sekarang masalah baru sudah saja datang.



Apa mungkin yang dikatakan Iqbal baru saja itu benar! Siapa orang itu, dan terlebih ia adalah pelaku yang sama dengan yang waktu itu.



Yang membuatku paling terkejut adalah pelakunya merupakan orang terdekat korban. Kak Diego dekat dengan banyak orang! selain Bang Rehan, ada Kak Ardi, Andi, tapi tidak mungkin mereka itu. karena jelas mereka adalah sahabatnya.



Semoga Iqbal dan polisi bisa menangkap pelakunya dengan cepat, ia harus dijatuhkan hukuman berat, karena perbuatannya Kak Diego sampai sekarang belum sadarkan diri.



Bahkan kalau perlu dia harus dipenjara seumur hidup, ini percobaan pembunuhan.



“Ngapain sih Lin, ngomel sendiri!” ujar Rara tiba-tiba.



“Lo udah tahu tentang kecelakaannya Kak Diego, dan pelakunya!?” tanyaku pada Rara dan Bang Rehan.



“Iya udah, serahin aja semuanya ke polisi!” sahut Bang Rehan kemudian.



“Benar tuh, lagi pula kita gak bisa ngapa-ngapain!”



“Gak, gue harus ikut cari tahu! pelakunya mungkin sekarang lagi senang-senang, dia gak tahu apa yang gue rasain dan gue lewatin, dia harus dihukum.”



“Jelaslah, harus. Penjahat gak bisa dibiarin gitu aja,” ungkap Rara lagi.


__ADS_1


“Udah, Dek! Serahin aja semuanya ke polisi, nanti Lo bisa terluka lagi.” ujar Bang Rehan.



“Perhatian banget sama Adeknya, cemburu gue!”



“Udah ih, nih makan buah, kalian berdua.”



“Ok,” tungkas Rara. Aku hanya diam tak menjawab. Lantas berlalu ke kamar tanpa mengatakan apa-apa.



“Maen pergi aja,” ucap Rara yang masih bisa kudengar.



“Udah biarin aja.”



Aku harus bisa mencari tahu tentang ini semua, aku tidak ingin pelakunya lolos. Ia harus menanggung semua akibat perbuatannya. Aku heran, kenapa ada orang yang masih mau melakukan pekerjaan kotor hanya demi uang.



Padahal dia bisa melakukan sesuatu hal yang lebih baik. Apa saja, yang penting tidak merugikan.



Tapi begitulah hidup, tidak semua orang adalah orang baik. Terkadang orang yang kau anggap baik pun masih bisa mengkhianati kepercayaan penuhmu. Tapi tetap saja, akulah penyebab semua ini, aku yang meminta mereka datang ke rumah.



Harusnya aku tidak melakukannya, yang paling buruk adalah aku. Aku yang harus bertanggung jawab atas semua ini, aku harus bisa mencari tahu semuanya sendiri, jika tidak, maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Aku harus melakukannya sekarang juga.



Aku melangkah turun kembali ke bawah, dan masih menemui Rara juga Bang Rehan disana. mereka menatapku heran, karena baru saja aku sampai rumah dan sekarang sudah mau pergi lagi. Aku sudah bertekad bulat akan menangkap pelaku utama serta kaki tangannya.



Sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu harus memulai ini semua dari mana, haruskah aku mendatangi teman Kak Diego satu persatu dan menanyainya. Tapi aku bahkan tidak tahu dimana alamat rumahnya, dan terlebih aku baru bertemu mereka sekali saat mereka berkunjung dirumah sakit waktu itu.



Harusnya tadi aku menanyakannya terlebih dahulu pada Bang Rehan, jika iya, maka sekarang aku tidak perlu tampak kebingungan seperti itu. Bodohnya, aku bahkan tidak mengetahui hal-hal serinci ini.



Apa aku harus pulang lagi dan menanyakannya. Tapi Rara nanti akan menertawakannya. Ah, tapi siapa yang peduli. Ini saat yang genting.



Siapapun tidak akan peduli pendapat orang lain, selama itu adalah hal kebenaran. Jika aku tidak melakukannya sekarang, maka kemungkinan besarnya pelaku akan bisa melarikan diri. Tapi bagaimana jika aku menanyakannya saja pada Iqbal, kurasa ia tahu semua teman-teman Diego meskipun mereka tidak dekat.



Aku membuka henfon-ku dan mencari kontak dengan nama, “Iqbal” dan siap akan menggesernya. Namun, belum sempat aku menyentuh layar hijau, hp-ku bergetar tanda telepon masuk, dan tepatnya itu dari Iqbal. Ia mengajakku bertemu di tempat biasanya.



Apa mungkin Iqbal sudah menemukan pelakunya? Dan akan segera memberitahuku ketika kami sudah bertemu. Aku segera bergegas pergi menuju taman pinggir jalan yang biasa kami datangi.



Iqbal sudah ada disana lebih dulu di banding denganku. Ia menghampiriku dan sekarang tampaknya ia begitu tegang. Apa yang ingin dia sampaikan? Kenapa begitu berbeda dari biasanya?



Apa mungkin dia tidak bisa menemukan pelakunya, karena sudah berhasil melarikan diri ke luar negeri sebelum polisi berhasil menangkapnya. Ah, aku suka menerka-nerka karena Iqbal belum juga membuka pembicaraan sedari tadi. Padahal aku sudah berharap ia langsung mengatakannya.



“Gue minta Lo kesini buat—” ucapnya terpotong.



“Buat apa, Bal, ngomong aja!” kataku penasaran.



“Bang Rehan belum ceritakah?”



“Cerita apa? Yang jelas Bal, kebiasaan deh!”



“Bang Rehan sama Rara berencana buat nikah, jadi, gue mau tanya hadiah buat pengantin baru itu apa? karena Lo cewek, jadi mungkin tahu,” celotehnya panjang lebar sementara aku sudah terheran-heran, itukah yang membuat dia tampak tegang. Padahal itu sesuatu yang tampak biasa saja.



“Lo minta ketemu, cuma buat nanya ini?” tanyaku balik.



“U’um, emang mau bilang apaan?” ujarnya santai.



“Gue mau balik,” tegasku langsung pergi.



Aku pikir dia mengajak bertemu itu untuk urusan yang penting. Aku tadi kesini dengan terburu-buru karena menyangka tebakanku benar. Tapi jauh dari harapan, ia hanya membuatku kesal saja.



Tunggu dulu Bang Rehan dan Rara berencana untuk menikah, kenapa terburu-turu? Mereka juga tak mengatakan apa-apa saat aku tadi dirumah. Atau mungkin saat mereka hendak memberitahuku, aku sudah bergegas pergi dan tidak sempat.



Kenapa mereka tak menunggu Kak Diego baru merencanakan semuanya, apa karena mereka juga sudah tidak sanggup untuk menunggu? Sudah satu bulan dari sekarang, Kak Diego belum juga sadarkan diri dari komanya. Aku mengerti, mungkin mereka tidak mau menunggu lama, sebab itu tak memberitahukannya padaku. Tapi aku adiknya seharusnya ia membicarakannya lebih dulu denganku.



Aku sekarang tengah berada diruang tamu, bersama Bang Rehan. Ia tampak diam dari biasanya. Aku menghembuskan nafasku berat hendak memulai pembicaraan, dan harap ia sendiri yang akan mengutarakannya padaku.



“Bang, ada yang mau kamu omongin ke gue?” tanyaku santai.



“Tentang apa?” ujarnya bertanya balik.



“Apa aja! gue udah tahu kok!”



“Tahu apa sih, Dek!”



“Lo mau nikahkan sama Rara!”



“Baru rencana, makanya gak gue omongin, masih nunggu Diego dulu.”



“Lo buat gue salah paham tahu.”



“Emang suka gitu sih,” ejeknya menertawakanku.



“Abang,” jeritku malas.



“Iya canda, bawel.”



“Lin, maafin gue yah!” ungkapnya tiba-tiba.



“Maaf buat apa?”



“Belum bisa jadi Abang yang baik buat Lo!”



“Apaan sih Bang, mellow deh!” tawaku mengejeknya.



“Iye, gak pernah bener!”


__ADS_1


Bersambung,...


__ADS_2