
“Mars, aku butuh bantuanmu sekarang!”
“Mauku bantu apa, Diego?”
“Aku akan pergi dari sini, keberadaanku terancam di sini.”
“Apa maksudmu, aku tidak mengerti?”
“Bunda akan menyingkirkanku. Sebelum itu terjadi, aku akan pergi.”
“Kenapa harus pergi? Tidakkah kau lelah, terus melarikan diri.”
__ADS_1
“Aku tak mau Ibu kandungku terancam, aku harus melindunginya. Setelah itu aku akan kembali, jangan katakan pada siapapun.”
“Bukankah, Kau sekarang sudah bersamanya? Kau menunggunya lama. Dan sekarang, Kau akan meninggalkannya?”
“Aku percayakan dia padamu! akan lebih baik, jika, Ia bersama Iqbal.”
***
Hari ini aku melihat Evlyn duduk di halte, sepertinya dia akan pulang. Aku mengatakan aku akan mengantarnya. Dia menolaknya dengan mengatakan ia tidak ingin aku ketinggalan jam tambahan, tapi aku tidak mendengarkannya. Ia tidak meminta Rehan mengantarnya, mungkin dia pikir kami ada jam tambahan hari ini, tapi ternyata tidak, setelah guru mengatakan tidak bisa mengisi kelas hari ini.
Aku senang karena tidak ada jam hari ini, itu berarti hari ini aku akan lama bersama dengannya, di hari terakhir aku di sini. Aku tidak memberitahukannya tentang kepergianku. Aku meminta Rehan untuk pulang lebih awal, dan jangan menjemputnya.
Evlyn tampak bingung dengan Rara yang akhir-akhir ini selalu datang ke rumahnya, apalagi Rara mengatakan itu untuk menemuinya. Evlyn curiga jika Rara menyukai Rehan. Aku hanya berpura-pura tidak tahu saja. Ia mengajakku untuk mengerjai Rara, sebenarnya aku malas. Tapi aku tidak ingin menolak ajakannya.
Ia mengatakan, bahwa akan mengerjai Rara, dengan mengatakan Rehan memiliki seorang kekasih bernama, “Angel” dan tinggal di Yogja, Evlyn mengatakan bahwa Angel akan segera pindah ke jakarta.
__ADS_1
Rara yang tidak tahu rencana itu tampak sedih, dan terlihat sangat kecewa. Sementara aku sudah tidak mampu lagi menahan tawa, apalagi saat melihat exspresi wajah Rehan. Dia sepertinya mendukung adiknya. Dan berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan, demi menutupi itu pada Rara.
Namun, melihat wajah Rara yang sudah hampir ingin menangis. Kami pun berteriak, “praaankk” secara bersamaan. Dan, seisi ruangan seketika berubah menjadi penuh dengan suara tawa. Sampai akhirnya Rehan mengatakan bahwa mereka berpacaran. Dan, Evlyn menjadi bingung di buatnya, karena rencana awalnya adalah mengerjai Rara, tapi akhirnya malah dia sendiri yang jadi.
Aku juga meminta maaf kepada Rara, karena saat itu, aku berbuat seolah-seolah aku tidak mengenalnya. Dikarenakan hubungan kami yang tidak cukup baik. Aku juga, meminta maaf kepada Rehan karena sudah memintanya membantuku, dengan mengatakan seolah-seolah aku adalah seorang lelaki yang tidak baik, dan tidak cocok bersama adiknya. Hal itu kulakukan hanya untuk mengetahui, apakah Evlyn mau menerimaku atau tidak.
Ternyata dia menerimaku, meskipun aku tidak mengatakan, “ayok kita pacaran” tetapi kami bersama setelah hari itu, lucu juga. Dia menerimaku karena aku adalah sahabat Abangnya. Dan bukan karena dia suka padaku.
Saat kami di taman, ia meminta untuk pulang, karena kami sudah menghabiskan waktu terlalu lama di taman. Aku mengiyakan, tapi terlebih dahulu mengajaknya untuk mencari makan, karena aku sudah merasa lapaar. Tapi sepertinya dia tidak nyaman akan ajakan itu, ia memberikan alasan khawatir pulang terlambat. Aku mengatakan, bahwa aku sudah meminta ijin terlebih dahulu kepada Rehan dan ia membolehkan. Tapi, tampaknya itu semakin membuat dia merasa tidak nyaman.
Aku tidak jadi mengajaknya mampir di tempat makan, aku langsung saja mengantarnya pulang, seperti yang dia mau. Tapi kurasa dia merasa bersalah karena menolaknya. Sepanjang perjalanan ia hanya diam saja, aku pun ikut terdiam melihatnya. Jadi, kami sama-sama diam hingga akhirnya kami sampai di rumahnya.
Disitu lucunya, ia sepertinya tidak sadar jika kami telah sampai, dan malah bertanya balik padaku. Aku menggodanya di situ, kubilang, “kau mau kubawa pulang, sampai tidak mau turun dari motor” Seketika dia langsung turun dan langsung berlalu pergi. Tampaknya dia malu.
Kau tahu, apa yang terjadi selanjutnya, ia lupa melepaskan helm-nya dan langsung berlalu pergi ke dalam rumah, aku sempat memanggil, ingin memberitahukannya. Tapi dia tidak meresponnya dan langsung pergi tanpa menoleh, jadi aku membiarkannya saja, dan tertawa sendiri melihat tingkahnya.
__ADS_1
Aku merasa lucu melihat tingkahnya hari ini, sebab dia sangat jarang seperti itu saat bersamaku, ya, mungkin karena aku belum memiliki hatinya sepenuhnya, atau entahlah. Aku rasa aku juga sulit untuk menebaknya, tapi kuharap ia akan bisa membuka hatinya untukku. Setidaknya, semoga seperti itu. Aku harap ia bisa mengingatku, walau aku tak bisa memastikan apa dia akan menerimaku lagi, tapi kuharap tak ada orang lain di hatinya.
Bersambung,...