
Sesampainya aku dirumah, aku langsung berjalan masuk ke dalam bersama Kak Diego, ia berjalan mengikutiku dari belakang. Saat akan membuka pintu, aku langsung terkejut karena Rara yang membukakan pintu, padahal kemarin aku menolak Rara menjadi iparku dan Bang Rehan setuju saja, tapi, sekarang malah sedang bersama Rara.
Tanpa mengatakan apa-apa aku melihatnya cuek saja, dan melirik ke arah Bang Rehan meminta penjelasan. Dia mengatakan bahwa ia ke sini untuk menemuiku, tentu, aku tak langsung mempercayainya, karena jika benar ia ke sini untukku harusnya dia tadi menungguku sesaat sebelum sepulang sekolah.
Aneh saja, karena akhir-akhir ini ia selalu ke rumah. Kurasa Iqbal benar, sepertinya Rara sedang menyukai seseorang, apa itu Bang Rehan. Aku menatap Rara yang tengah asyik mencuri pandang pada Bang Rehan dan senyum-senyum sendiri, aku juga jadinya ikut-ikut senyum. Pasalnya, aku tidak pernah melihat Rara seperti itu.
Timbullah ide untuk mengerjai Rara, aku akan membuatnya kesal setelah itu aku akan mengatakannya. Aku akan mengatakan bahwa Bang Rehan memiliki kekasih yang sedang berada di Yogja. Dan akan segera pindah ke jakarta. Tentu saja, untuk membuatnya berhasil aku akan meminta Kak Diego untuk membantu. Sebenarnya dia tidak mau, karena Rara tidak dekat dengannya.
“Bang, gimana kabar Angel? gak pindah ke sini dia?” ucapku serius dengan mimik wajah yang kubuat-buat, demi meyakinkan Rara. Sementara Bang Rehan nampak bingung, pasalnya dia tidak mengenal nama perempuan yang di sebutkan.
“Baik aja dia, bentar lagi pindah ke Yogja, cewek Lo,” ucap Kak Diego sebelum Bang Rehan menanyakan siapa yang tengah kami bicarakan. Sejenak kulihat Rara tampak tidak suka dan mimik wajahnya berubah, sepertinya aku berhasil dan ini yang kutunggu. Bang Rehan sekarang benar-benar tampak bingung, dengan apa yang aku katakan.
“Angel itu siapa, Lin?” tanya Rara.
“Itu--, siapa sih, Kak?” tanyaku balik pada Kak Diego, karena ingin membuat Rara marah.
“Cewek Lo kan Rey?” ucap Diego. Sedangkan yang di tanya hanya bingung serta heran, karena apa yang kami bicarakan sama sekali tidak di mengerti.
“Jadi, Bang Rey udah punya pacar?” tanya Rara lagi, yang kini tampak ingin menangis.
“Apaan sih, gak jelas banget deh, masih lama gue ulang tahun!” jawab Bang Rehan, kini Rara bergantian menatapku dengan Diego.
“Praaaankkkk!” teriak kami bersamaan.
“Apaan sih Dek. Lo buat, iparmu nangis!” kata Bang Rehan.
“Ipar, maksudnya Lo berdua pacaran?” kini aku yang bertanya.
__ADS_1
“Iyaaa, Lo aja yang masih jalan sama dua cowok, kakak-adek lagi,” ucap Rara sementara aku dan Diego saling menatap bingung.
“Haha, gak yakin gue,” kataku dengan tawa yang kupaksakan. Karenaku sengaja ingin memecah suasana canggung yang kini kurasakan.
“Apaan sih Kalian, Evlyn tetap ceweknya Iqbal kok!” ucap Kak Diego tersenyum, setelah itu berpamitan pergi.
“Iya, dia udah ceritain semuanya, dia juga minta maaf sama Kamu,” ujar Bang Rehan lagi. Sesaat setelah Kak Diego pergi.
Aku mengejar Kak Diego setelah mendengar semua yang di ceritakan oleh Rara. Kini aku tahu kak Diego tidak pernah merencanakan apapun saat mengatakan dia menyukaiku.
Dia juga tidak pernah mengatakan bahwa Iqbal yang menyebabkan ia kecelakaan, apalagi sampai menyebarkan hal itu pada orang-orang di sekolah. Sebelumnya, dia juga pernah bertemu denganku. Sejak saat itu, dia mulai menyukaiku dan mencari tahu tentangku.
***
Hari itu, 19 Januari 2019, aku pergi ke toko bunga untuk kubawa saat berkunjung menemui Rara, karena saat itu Rara masuk rumah sakit. Aku ingin membelikannya bunga dan berharap semoga dia cepat sembuh. Aku memilih sebuah bunga mawar, tapi seorang pria tampan mengatakan bunga melati lebih baik bagi teman wanita. Entah, aku tidak tahu, dia tahu itu dari mana, tapi kurasa ia benar dan aku memilih bunga melati sesuai pilihannya.
Saat berkunjung ke rumah sakit, aku menceritakan kepada Rara bahwa aku telah bertemu seorang pria tampan. Waktu itu, aku mengatakan bahwa aku, “jatuh cinta” dan akan menunggu lelaki tampan itu. saat memberikan bunga itu pada Rara, ia menjerit dan mengatakan bahwa di kertas bunga itu tertulis “semoga kita bertemu lagi” pada saat itu aku merasa sangat bahagia sekali.
Kau tahu, Bang Rehan ternyata tahu bahwa aku menyukai lelaki itu, dan sejak pertama dia bertemu kak Diego, Ia tahu bahwa itu lelaki yang kusuka. Karena ia membaca tulisanku di buku harian, “Pria ditoko Bunga” aku merasa sangat bahagia sekali. Karena sekarang kami telah bertemu kembali.
Tapi mungkin sudah sedikit terlambat, aku baru mengetahuinya sekarang. Jika Rara tidak menceritakannya, mungkin aku takkan pernah mengingatnya. Dia tahu jika aku adalah gadis yang selama ini dia tunggu, tapi tidak pernah mengatakannya. Aku bahkan sudah sengaja melupakannya.
Aku sekarang menyadari kekeliruanku, ya, aku berpikir bahwa dia sangat buruk, dia sengaja mendekatiku. Hanya untuk menghancurkan Iqbal. Tapi ternyata aku salah, aku telah melukai perasaannya. Aku sudah menuduhnya melakukan apa yang sebenarnya dia tidak lakukan. Dia bahkan tidak membenci Iqbal, takkan pernah.
Sungguh aku begitu bodoh saat ini, Aku menyesali sikapku. Aku ingin mengejarnya sekarang. Tapi, terlambat. Dia sudah pergi. Marshanda datang dan mengatakan Kak Diego akan pergi dan akan tinggal di luar negeri, dia juga tidak mengatakan kapan dia akan kembali.
Marshanda datang, sesaat sebelum ia mengirimiku sebuah pesan dan mengajakku bertemu. Kami bertemu di sebuah cafe yang biasa aku datangi dengan Kak Diego. Dia menceritakan bahwa, dia dan Kak Diego hanya berteman. Dia juga mengakui, bahwa ia menyukai Kak Diego. Tapi Kak Diego hanya menyukaiku dan menganggapnya hanya seorang sahabat, dan tidak lebih.
__ADS_1
Waktu terasa berputar begitu cepat. Aku bahkan belum sempat mengatakan apa-apa pada Kak Diego, tidak begitu banyak yang kulakukan bersama Kak Diego. Tapi sekarang dia sudah ingin pergi. Aku merasa sesak, rasanya aku tidak ingin bernafas sekarang. Ada luka yang terlambat kusadari.
Marshanda sudah pergi sekarang, tapi aku masih terduduk disini. Entah kenapa, ingatanku saat bersama Kak Diego, sekarang kurasa seakan sedang berputar-putar di pikiranku. Aku di kejutkan dengan panggilan masuk dari telponku. Kulihat Iqbal menelponku. Aku mengangkatnya dan dia mengatakan Kak Diego akan pergi sekarang.
Segera sadar dari lamunanku, sekarang aku lihat cafe ini akan segera tutup. Itu yang mereka katakan, mereka tadi hendak memberitahuku, tapi aku tidak mendengarnya. Aku berlalu pergi dari sana setelah beberapa kali meminta maaf kepada salah seorang pegawai.
Aku sekarang pergi menuju ke rumah Iqbal, setelah dia mengatakan bahwa Kak Diego ada di sana. dia berharap aku bisa mencegah kepergiannya, karena Kak Diego tentu tidak akan mendengarkannya. Dia ke sana, hanya untuk berpamitan kepada Ayahnya.
Aku sampai tepat di sana, kulihat Kak Diego tengah berdiri bersama dengan Ayah dan ada Bundanya di sana. Iqbal juga datang ke sana setelah dia mengajakku ikut bergabung. Kak Diego tampak sudah bulat akan keputusannya. Dia beberapa kali meminta Ayahnya tak khawatir.
“Kau, akan benar-benar pergi, sekarang?” tanya Bunda Iqbal pada Diego.
“Bukankah itu yang Anda inginkan!?” ucap Diego, tampak akan ada keributan di sana. Tapi Iqbal berusaha menahannya, dengan mengatakan Pada Diego bahwa aku sekarang ada di sini. Kak Diego melihatku sejenak sebelum ia memalingkan wajahnya lagi.
“Kau mengenalnya?” tanya Ayahnya pada Diego.
“Aku tidak mengenalnya, sepertinya dia kesini untuk Iqbal,”
Aku terkejut mendengar itu, Kak Diego mengatakan bahwa ia tidak mengenalku. Aku terdiam menahan air mataku tumpah, aku tidak mengerti mengapa ia mengatakan itu. Ia kembali menatapku, namun tanpa mengatakan sesuatu pun ia berlalu dari sana dan segera menuju bandara.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa, dia sudah pergi sekarang. Aku bahkan tidak tahu apakah ia akan kembali. Iqbal berjalan mendekatiku dan memintaku agar jangan menangis. Aku semakin menangis di buatnya, Iqbal memelukku dan mengatakan semua akan baik-baik saja.
Kembali kuingat, saat masih di rumah sakit, ketika Kak Diego mengalami kecelakaan dan di rawat di sana. Aku tidak ingin menemuinya, dan malah pergi ke taman dan duduk di situ. Aku merasa bersalah karena akulah yang menyebabkan ia melewati itu semua. Tapi tak disangka, Ia malah justru menemuiku, dan mengatakan ia baik-baik saja.hanya agar aku tak merasa khawatir.
Padahal jelas sekali dia terlihat menahan sakit, dengan wajah pucat seperti itu. tetapi ia malah menemuiku setelah Dokter mengatakan ia baru melewati masa kritisnya. Dan belum sadarkan diri. Begitu sadar ia langsung menemuiku. Dia membuat orang lain merasa bingung, dan menuduhnya sembarang. Aku benci lelaki itu, tapi sekarang dia sudah pergi dan aku merindukannya.
Bersambung,...
__ADS_1