PRIA Di Toko Bunga

PRIA Di Toko Bunga
Yang Terlupakan


__ADS_3

 


 


Kau tahu, dia sudah benar-benar mencuri hatiku sekarang. Setelah pertemuan kami di toko bunga saat itu. Selanjutnya kami terus bertemu. Tapi ia sudah tidak mengenaliku. Saat itu, ketika dia terlambat datang sekolah, dia berlari dengan terburu-buru sampai akhirnya ia terjatuh dan semua buku yang ia bawa jatuh berantakan. Aku membantu gadis itu, dengan mengumpulkan kembali bukunya yang jatuh dan memberikannya kembali padanya.


Seketika aku langsung melihat wajahnya, dan aku langsung mengenali bahwa itu adalah dia, bukan tanpa alasan, aku bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Aku sengaja melakukannya untuk bisa dekat dengannya. Dan akhirnya aku bisa bersamanya kembali.


Namun, kebahagiaanku tidak bertahan lama. Kepulanganku disini di sambut dengan tidak baik oleh Ibu tiriku, kurasa ia mengirim seseorang untuk mengikutiku. Entah apa alasannya, kurasa ia ingin menyingkirkanku.


Aku sepanjang jam istirahat, menghabiskan waktuku dengan bermain basket di lapangan. Marshanda ada disana, ia datang menemuiku dan memberiku sebuah botol air mineral. Dia adalah orang yang paling dekat denganku saat aku disini. Tak di rencanakan. Ini tiba-tiba, Evlin pun menghampiriku ju ga. Dan mengatakan ia kesini hanya ingin menemuiku. Tapi, ya, waktunya tidak tepat. Marshanda menyeka keringatku di depan Evlin, sepertinya ia sengaja melakukannya, karena sebelumnya aku mengatakan Evlin adalah kekasihku dan memperkenalkannya pada Marshanda, namun, kurasa ia tidak menyukainya.


Evlin langsung pergi dari sana, mungkinkah dia tadi cemburu? Hei, ayolah dia tidak pernah seperti itu, apa mungkin dia bisa tiba-tiba seperti itu? Entahlah, tetapi yang jelas aku harus mencarinya sekarang, untuk menjelaskan semua kesalahpahaman. Dan, aku harus tahu apa yang ia rasakan! Aku mencarinya kemana-mana, tapi tak kunjung bertemu dengannya. Hingga terpikir olehku untuk mencarinya di taman belakang sekolah.


Benar saja, dia ada disana, tapi Evlin tidak sendirian. Ia tengah bersama seseorang. Aku berjalan mendekat, hingga terlihat olehku bahwa ia sedang bersama Iqbal. Kulihat mereka tengah asyik berbincang. Hingga akhirnya Evlin menjelaskan sesuatu pada Iqbal.

__ADS_1


Sempat mengiris hatiku, ia mengatakan bahwa, ia bersamaku bukan karena ia menyukaiku tapi karena Abangnya dan aku berteman, Iqbal terlihat senang sekali dan ia langsung mencium wanita yang ada di sampingnya.


Sebenarnya aku sudah mengetahui itu, tapi kali ini aku merasa berbeda, ia mengatakannya pada orang lain, dan itu membuatku merasa sakit. Kenapa Iqbal menciumnya? Mungkinkah mereka memiliki ikatan spesial? Kurasa memang seperti itu, jika tidak, Iqbal tidak akan mungkin menciumnya. Iqbal adalah adik tiriku, kurasa semua hal beruntung selalu memihaknya.


Aku ingin pergi dari sana, tapi, Evlin sudah melihatku lebih dulu. Ia memanggilku, gugup. Kurasa ia tahu jika aku sudah melihat dan mendengar semuanya.


Sementara Iqbal tampak biasa saja. Aku pergi dari sana, tapi Evlin mengerjarku. Ia memanggilku, dan aku menghentikan langkahku. disitu aku bertanya, “apa aku salah? Apa aku membuatnya merasa tidak nyaman? Atau, aku merusak hubungannya?” ia hanya menggeleng dan tertunduk, Hatiku sakit sekali.


Kurasa ia mengatakan sesuatu saat itu, tapi aku tidak bisa mendengarnya. Sepeda motor melaju kencang ke arahku, aku menyadari hal itu. Tapi sepertinya aku tidak memiliki kekuatan untuk menghindarinya. Seketika, kudapati diriku sudah terbaring tergeletak di jalanan aspal.  Dengan luka dan darah segar mengalir di sekujur tubuhku.


Setelah itu aku mendapati diriku sudah terbaring di rumah sakit dengan infus yang setia berada di pergelangan tanganku, di sampingku sudah ada teman-teman. Mereka memberitahuku bahwa Evlin yang membawaku kemari dan menghubungi semua teman-temanku. Aku bertanya, “dimana dia sekarang” mereka mengatakan ia menangis dan akan keluar mencari udara segar. Aku rasa dia ada di taman.


Meski dengan rasa sakit yang masih menjalar di sekitar tubuhku, aku memaksa untuk menemui Evlin disana. meski mendapati penolakan keras dari mereka, terutama Rehan, tapi aku tetap memaksa untuk keluar dan meminta mereka untuk tidak menghalangiku. Ya, aku sedikit keras kepala jika benar-benar sudah niat. Aku tidak akan mendengarkan siapapun.


Benar saja, kulihat Evlin ada disana dan ia sedang menangis. Aku berjalan mendekatinya, sepertinya ia terkejut melihatku. Karena baru saja, aku mendengar Dokter mengatakan aku masih belum sadarkan diri. Tapi sekarang sudah berada di hadapannya. Tentu saja, mungkin siapapun akan merasa sangat terkejut.

__ADS_1


Melihatku justru membuatnya semakin menangis, aku bingung di buatnya. Harusnya dia tersenyum dan langsung memelukku, tapi kurasa tidak, itu tidak berlaku buatnya. Apa dia berpikir aku sudah mati dan sekarang yang sedang berdiri di depannya adalah hantu? Atau, mungkinkah dia menangis karena terharu, karena tidak perlu mengusirku. Sebab aku sudah pergi dengan sendirinya. Dan, ia bisa bebas bersama Iqbal? Wah, buruk sekali pikirannya.


Sebagai antisipasi, aku memikirkan sesuatu terlebih dahulu. Sampai akhirnya aku memeluknya dan memintanya berhenti menangis. Aku mencoba menenangkannya, dengan mengatakan, “bahwa aku tidak apa-apa, dan aku baik-baik saja”.


Sesudah itu aku keluar dari rumah sakit, aku mulai mencari tahu sebab kecelakaanku. Karena kupikir itu terasa sangat janggal dan tidak pantas jika di anggap sebagai murni suatu kecelakaan. Jelas itu di rencanakan, bagaimana tidak! Jalanan lokasi kejadian saat itu berada tidak jauh dari sekolah. Dan tidak terlalu jauh dari situ, terbentang sebuah jalanan raya yang aktif digunakan oleh semua kendaraan, baik roda dua maupun empat. Sementara di tempat kami berdiri itu jelas hanya jalanan yang sudah lama dinon aktifkan, karena sangat kecil dan sudah terdapat kerusakan. Dan pembangunan baru membuka jalanan lain.


Benar saja jika yang menabrakku saat itu adalah sepeda motor, tetapi akan sangat terlihat bodoh sekali jika kau pikir sepeda motor itu sengaja mengambil jalanan itu. Memangnya siapa yang sengaja ingin mencari mati disitu? Jika tidak di bayar oleh si penghasut, yang punya niat jahat untuk menyingkirkanku.   


Terpikir olehku, untuk menemui Ayah waktu itu. aku bertemu dengannya dengan menyamar. Ah, tepatnya dengan menggelabui orang-orang agar tidak mengenaliku. Karena akan sangat berbahaya jika seseorang melihatku, terlebih lagi jika itu adalah anak buah Ibu tiriku. Karena mereka berkeliaran di mana-mana, Dan kuyakin ada di antara mereka yang ditugaskan untuk mematai Ayah.


Ya, Ibu tiriku sangat tidak menyukaiku, karena aku adalah anak dari seorang perempuan yang sangat dicintai Ayah, dan ia pun mencintaiku. Merasa tidak mendapat cinta yang sama dari Ayah, sejak itu Ibu mulai membenciku. Ayah dan Ibu kandungku sudah sejak lama bercerai, tetapi tetap saja perasaan Ayah tak pernah berubah, karena Ibuku adalah seorang istri sekaligus Ibu yang baik, ia selalu menempatkan waktu untuk kami dan selalu memberi cinta tulus. Mereka bercerai karena Ibu tiriku sengaja merusak pernikahannya dan itu adalah satu kesalahan Ayah.


Aku meminta Ayah untuk membantuku, memberiku seorang pengawal yang di percayakan Ayah. Tidak memberitahukan itu untuk apa, aku ingin membuktikannya sendiri. Dan, tak ingin merusak pernikahan Ayah, bagaimana pun Ibu tiriku sangat mencintai Ayah, walau tidak kepadaku.


Setelah beberapa hari aku berhasil mengetahuinya, lelaki yang di tugaskan Ayah untuk membantuku, bekerja sangat cepat dan benar saja, kecelakaan itu direncanakan. Mereka membayar seseorang untuk menyingkirkanku, karena mereka tidak ingin ada dua orang pewaris dalam satu perusahaan. Dan mereka akan membuatnya hanya menjadi pewaris tunggal.

__ADS_1


Bersambung,...


__ADS_2