PRIA Di Toko Bunga

PRIA Di Toko Bunga
Akhir Sebuah Cerita


__ADS_3

 Aku terbangun dari tidurku dan tiba-tiba mendapati diriku tengah terbaring di Rumah sakit. Dengan Ibu dan Ayah di sampingku, kulihat Iqbal juga ada disini, mereka mengatakan aku baru terbangun setelah dua bulan lamanya aku terbaring tak sadarkan diri.


Ibu memelukku dan mengucapkan terimakasih karena sudah terbangun, ia mengatakan ia pernah putus harapan akan kesadaranku, tetapi Evlyn membuatnya yakin akan kesembuhanku. Bunda menceritakan bahwa Evlyn setiap hari selalu menyempatkan diri untuk kesini.


Aku sekilas kembali teringat akan hari itu, hari ketika aku mengalami kecelakaan. Waktu itu aku hendak berangkat menuju rumah Evlyn, untuk mengantarkan barang Iqbal yang ketinggalan, karena ia berangkat lebih dulu dan begitu buru-buru.


Mungkin ia sengaja melakukannya, karena aku menolak untuk ikut piknik bersama mereka, jadi ia meninggalkan barangnya di sana dan mungkin melakukannya agar aku jadi ikut berangkat bersama mereka.


Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi, sampai akhirnya aku bisa mengejar motor yang di kendari oleh Iqbal. Tetapi terlihat olehku sebuah mobil dari arah yang berlawanan hendak menabrakkan mobilnya kearah Iqbal.


Aku berusaha mencegah hal itu terjadi, tapi naas bagiku, kekuatan orang itu bukan tandinganku. Ia terlihat lihai seperti seorang yang terlatih.


Aku sempat melihatnya dan sepertinya aku pernah melihat dia sebelumnya, sepertinya ia orang yang sama dengan orang yang menabrakku saat di Taman, apa dia temanku?


Aku menutup mataku dan mendengar suara dentuman keras kemudian setelah itu aku tak mengingat apa-apa. Karena hari ini aku baru terbangun, Ibu dan Ayah meminta aku untuk beristirahat dan meninggalkan ruanganku. Aku tak percaya, jika aku sudah begitu lama berada disini.


Kulihat Iqbal masih berdiri disini dan sepertinya ada yang ingin dia sampaikan, kali ini aku melihatnya tampak berbeda, ia hanya melihatku tanpa mengatakan apa-apa. Apa yang ingin dia sampaikan? Apakah ada kaitannya dengan kecelakaan itu?


“Aku minta maaf, sudah membuatmu seperti ini!”


“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja!”


“Baik-baik saja setelah dua bulan baru tersadar?!” katanya kearahku. Wah, dia tampak berani.


“Tetap saja, aku sudah tidak apa-apa sekarang!” kini ia duduk di kursi di samping tempatku berbaring. Ah, tepatnya di samping tempatku duduk sekarang.


“Banyak hal yang terjadi, saat kau disini!”


“Benarkah? Bisa kutebak, pelakunya sudah menerima hukumannya sekarang!” candaku menatapnya dengan wajah serius.


“Tidak, Bundaku otak di balik semua ini, dia menyewa orang lagi untuk melukaimu,” jelasnya, sementara aku hanya diam saja mendengar ungkapannya.


“Bunda bahkan memalsukan berita! Kau ingin tahu siapa pelakunya?”


“Rehan, Bukan? Aku sudah mengetahuinya!” kataku kini menatapnya.


“Kau sudah mengetahuinya, siapa yang memberitahumu, apakah Evl—,” ucapnya terpotong kemudian kembali terdiam.


“Aku melihatnya saat itu, juga saat di Taman!”


“Kau mengetahuinya, tapi tak mengatakan apa-apa?” tanyanya lagi.


“Aku meminta mereka pergi dari sini, dan jangan menemuiku, lagi pula kasus ini sudah di tutup!”


“Kau melakukannya, kau memintanya pergi dari sini?” tanyanya kini dengan nada berbeda.


“Wah, ini hari pertama aku tersadar setelah sekian lama, dan kau sudah menyerangku dengan begitu banyak pertanyaan.


***                                                             


Apakah yang kulakukan ini semua benar? Ataukah aku justru membuat kesalahan! Apa yang harus kulakukan sekarang, apakah Evlyn akan pergi dari sini, apakah Evlyn sudah menyetujui ini? Maaf, jika aku membuatmu terjebak banyak masalah. Semua ini karena aku.


“Bal, hei?” sapanya sekarang, aku sekarang melihat sekeliling dan tersadar aku ternyata sudah menuju rumahnya. Oh astaga, aku bahkan sekarang tidak tahu kemana aku berjalan.


“Kebiasaan deh, ngelamun mulu, ngapain kesini?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Maafin aku ya!”


“Maaf buat? Aku justru berterima kasih sama kamu, Abang Rey gak perlu menyerahkan diri lagi ke polisi, kami akan pergi dari sini,” jelasnya panjang.


“Bagaimana dengan Rara?” tanyaku.


“Pernikahan mereka batal, kamukan tunangannya kemarin!” ucapnya tertawa.


“Kalian mau pergi kemana?”


“Ada, suatu tempat yang hanya di penuhi kebahagian, disana kamu tidak akan terluka!” ungkapnya pelan.


“Bolehkah aku ikut?” tanyaku, tapi ia membalasnya tertawa, apa dia menganggap ucapanku ini lelucon? Sekarang ia berpamitan pergi, ia mengucapkan terima kasih atas semua hal dan selama ini.


Aku hanya diam saja melihat ia hilang di kejauhan. Aku merasa kosong sekarang! Aku merasa sendiri, kembali seperti hari di mana aku belum mengenalnya. Aku mengenalnya dari Rara dan sejak itu aku merasa hidupku berbeda, ia mengubah banyak hal dari diriku. Tapi seseorang merenggutnya dariku, meski hanya sebentar, tapi ia meninggalkan banyak kenangan untuk selalu kuingat.


Apakah,.. apakah kita bisa bertemu lagi nanti? Jika kita bertemu lagi, akankah kamu msih mengingatku? Ketika kita bertemu suatu saat, akankah kamu menerimaku di kedalaman hatimu? Bukan, bukan untuk sebentar, bisakah kamu menetap dan jangan pergi lagi? Bisakah kamu menjadi teman menetapku, dan jangan hanya singgah.


Aku sekarang merasa semuanya kembali diawal lagi, aku merasa aku tak memiliki siapapun lagi, aku merasa semua yang kubangun hanya sia-sia tanpa arti, semua yang kumiliki tak berharga lagi.


Aku hanya disini, tak kemana-mana, aku bahkan sudah tidak tahu di mana tujuanku.


Rara setiap hari menemuiku dan menceritakan semua keluh kesahnya, tak ada yang spesial, ia hampir sama denganku. Sekarang Ayah dan Ibu sudah berbaikan, mereka sudah rujuk. Sementara Bundaku, aku tidak tahu dia di mana, dia tak menemuiku, mungkin Ayah memintanya pergi.


Kehidupan berjalan normal dari biasanya, sekarang aku tak perlu melakukan hal-hal aneh atas permintaan Bunda, mungkin lebih baik jika Bunda benar-benar pergi.


Kulihat Diego, ah entahlah, aku tidak tahu apa yang dia rasakan, mungkinkah ia merasa sedih? Seharusnya ia tak memintanya pergi jika ia merasa begitu. Padahal ia menyukainya telah cukup lama.


“Iqbal, kamu gak mau temuin Evlyn, dia pergi hari ini? tanya Ibu saat kami ada di ruang keluarga.


“Ayolah, dia masih muda, siapa pun pasti berbuat salah, anakmu juga tidak apa-apa sekarang!” ucap Bunda lagi, dan semuanya tertawa memenuhi seisi ruangan, ya, kecuali Diego. Ia mungkin sedang tak ingin becanda. Ia hanya diam saja.


“Kamu tidak menemuinya?” tanyaku pada Diego. Sementara ia hanya diam saja dan berlalu pergi tanpa menjawab. Ini pertama kalinya aku melihat sikap dinginnya, atau dia memang seperti itu. Entahlah, hanya dia yang mengetahuinya!


***


“Dek, gue minta maaf ya,” ucap Bang Rehan tiba-tiba saat kami tengah merapikan barang yang akan di bawa saat pergi.


“Hush, gak ada ucapan maaf ya.”


“tetap aja, ini semua salah gue, kalau gak, kita bakal tetap disini.”


“Hush,...!” sahutku lagi.


“Ih, apaan sih Dek, lo lagi ngusir ayam apa,” ujarnya dan aku tertawa.


“Iya, Abang ayamnya!”


“Enak aja, Rumah kita udah terjual, tapi gak mahal amat sih!”


“Udahlah, gapapa, nanti kita cari rumah yang kecil aja.”


Sebelum pergi aku berkeliling-keliling terlebih dahulu di sekitaran rumah, aku merasa sedih harus meninggalkan rumah dan tempat ini, bagaimana pun aku besar ini disini, rasanya ini sudah seperti tempat kelahiranku sendiri.


Tempat di mana orang-orang mengenalku, dan setiap saat aku dapat pulang kesini, di tempat ternyaman yang pernah aku miliki bersama orang yang menyayangiku, aku merasa sesal karena tidak banyak yang bisa kulakukan, tapi sekarang, aku akan menjaga Abangku dan mengurusnya lebih baik.

__ADS_1


Soal pernikahan itu, Abangku masih muda dan perjalanan kami masih panjang, aku tahu aku tak bisa berbohong dan mengatakan semua baik-baik saja.


Aku ingin sekali menemuinya, aku ingin mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya, aku juga ingin meminta maaf atas semuanya, juga terimakasih, karena sudah menemuiku untuk kedua kalinya.


Suatu saat, maukah kau bertemu denganku lagi? Bisakah kita baik-baik saja saat pertemuan itu? Ataukah saat itu tiba, kau sudah bertemu orang lain yang lebih baik. Tapi, bisakah aku tetap menyimpanmu sampai saat itu?


“Lyn, kalian pindah ya hari ini?” kata Rara menemuiku di luar kompleks, ia mengatakan meskipun ia sudah tidak bersama Bang Rehan, setidaknya hubungan kami tetap baik-baik saja. Aku merasa sedih mendengarnya mengatakan itu.


“Bengong mulu, Lyn,” ucapnya lagi.


“Iya-iya, Ra, makasih ya buat semua ini, maafin gue juga!” kataku memeluknya lagi.


“Mellow deh jadinya, biar gimana pun kita sahabatan!”


“Bakalan kangen tahu gue,” ungkapku.


“Gue juga, jangan lupain gue ya!”


***


Sekarang waktunya kami pergi dari sini, rasanya kakiku begitu enggan beranjak pergi, aku tidak tahu kapan akan kembali lagi kemari, atau bahkan kami tak akan pernah menginjakkan kaki disini lagi. Meski pun ini bukan daerah asalku, tapi tempat ini meninggalkan banyak kenangan untukku.


Aku berharap setidaknya bisa melihat Kak Diego untuk yang terakhir, tapi ia pun sepertinya tidak ingin mengunjungiku, sejak ia sadarkan diri aku tak pernah melihatnya lagi.


Akankah semuanya berakhir seperti ini? Kenapa aku merasa sedih akan hal ini, padahal jelas-jelas ia sendiri yang memintaku pergi darinya.


Kami sekarang tengah menunggu bus yang akan membawaku pergi, entah kenapa aku berharap ia akan muncul disini, setidaknya sekali. Aku menatap jam tanganku berkali-kali, dan melihat ke arah sana. Aku menantinya bahkan di saat terakhir, bukankah itu lucu, bukan?


Bus yang kami tunggu sekarang pun sudah sampai, aku tertawa sekilas karena apa yang kuharapkan diluar dugaan, ia tidak datang kesini. Mungkin dia memang sudah tak ingin melihatku lagi. Apa yang kuharapkan ini, ini terlalu jauh dari kenyataan.


Mungkinkah aku harus mengikhlaskannya? Ataukah aku tetap membiarkan harapan ini berbicara, supir bus memintaku untuk segera naik karena para penumpang mendesaknya untuk segera pergi dari sini, Bang Rehan mengingatkanku untuk segera masuk.


Sekarang aku tengah berdiri dan bersiap untuk masuk ke dalam bus, tapi aku melihatnya sosoknya sekarang. Dia tengah berdiri di seberang jalan sambil menatapku. Apa dia ingin melihatku sekarang! Apa ini ucapan salam perpisahan? Tapi setidaknya aku telah melihatnya. Itu sudah cukup bagiku.


Aku memasuki Bus sekarang, dan Bus yang kunaiki bergegas membawaku pergi.


Aku sekarang sudah berada jauh dari sana, aku merasa lega, karena setidaknya aku telah melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Meski sebenarnya aku merasa sangat sesak.


Jika cinta bisa hidup sekali lagi, kuingin merengkuhnya, tanpa patah, tanpa air mata. Namun, takdir seakan membawaku jauh dari sana dan tak mengijinkan untuk bersama. Tapi aku yakin, perpisahan bukanlah suatu akhir, melainkan sebuah awal baru untuk pertemuan baru.


Selesai


Jika cinta bisa hidup sekali lagi, kuingin merengkuhnya. Tanpa patah, tanpa air mata. Namun, takdir seakan membawaku jauh dari sana dan tak mengijinkan untuk bersama. Tapi aku yakin, perpisahan bukanlah akhir, melainkan sebuah awal baru untuk pertemuan baru.


***


Evlyn Cassandra Dewi, adalah seorang gadis cantik yang terjebak cinta kedua kakak-adik secara sekaligus. Yang pada akhirnya, membawanya bertemu kembali dengan seorang pria yang selama ini di nantikannya. Siapakah pria yang di nantikannya itu?


Akankah ia akan kembali bersama pria yang di nantikannya? Atau justru takdir memisahkan cinta mereka karena konflik kehidupan?


Simak kisahnya dalam cerita yang berjudul, “Kakak Resek” ini, yang berhasil memadukan antara konflik, cinta, menjadi narasi yang indah untuk di baca. Yang sangat di sayangkan jika terlewatkan.


Semoga kalian menyukainya, yah! 🥰👋


 

__ADS_1


__ADS_2