
Tersadar ternyata aku sudah sampai di rumah dan segera bergegas masuk ke dalam setelah membayar Taxsi terlebih dahulu. Kulihat rumah tampak begitu sepi, kemana Bang Rehan? Biasanya dia ada di rumah pada jam seperti ini.
Aku melangkah menuju anak tangga, sesaat kemudian terdengar suara teriakan bersamaan dari orang yang ada di rumah, “Selamat Ulang Tahun” ucapan itu berhasil membuatku terkejut. Setelah mengucapkan itu mereka lantas menyanyikan lagu ucapan selamat ulang tahun.
Kulihat disitu selain ada Bang Rehan dan Rara, disitu juga ada Iqbal. Jadi tadi dia pergi terburu-buru hanya untuk menyiapkan ini.
Tuhan, apa aku terjebak dua cinta seorang kakak-adik sekaligus secara bersamaan! Apakah aku harus senang? Ataukah aku harus menangis? Apa yang harus kulakukan! Iqbal menghampiriku dan langsung memelukku.
“Semoga panjang umur, Lin! Makin sayang sama aku juga,” ucapnya kini menatapku, aku membalasnya tersenyum.
“Lo nangis yah!” sahut Rara kemudian.
“Eh, Diego juga datang ternyata!” kata Bang Rehan kemudian. Seketika Iqbal melepas pelukannya dan menatap kearah Diego. Sementara Diego tersenyum menghampiri kami.
__ADS_1
“Gue yang minta dia datang, Lin! Gapapa kan?” katanya kembali menatapku. Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapannya.
Kini saatnya aku memotong kue ulang tahun dan membagikannya pada mereka. Sebenarnya ini bukan acara ulang tahun besar-besaran. Ini hanya acara kecil-kecilan yang hanya di hadiri oleh sahabatku.
Tidak ada yang istimewa, aku bahkan melupakan hari ini. Tapi Diego, dia orang pertama yang mengucapkannya. Sementara suasana menjadi canggung, aku bingung harus bagaimana.
“Kita buka kadonya, yuk!” ajak Rara membuka pembicaraan. Aku lalu mengiyakan ajakkannya, berharap dengan demikian suasana menjadi mencair.
Yang kedua, adalah dari Rara, ia menghadiahiku sebuah gaun yang sebenarnya selama ini inginku beli. Dia sahabat terbaik, ia selalu tahu persis apa yang begitu kuinginkan.
Yang ketiga, adalah dari Iqbal. Ia memberiku sepasang sepatu. Ya, dia selalu mengatakan aku harus selalu rajin berolahraga.
Acara selesai, Rara dan semuanya berpamitan pulang pada kami. Setelah mereka pergi, sekarang tinggal aku dan Bang Rehan saja yang masih harus membersihkan semua peralatan yang tadi digunakan, termasuk membuang sampahnya.
__ADS_1
“Kadonya Diego gak dibuka tuh?” tegur Bang Rehan, aku hanya menggeleng mendengar ucapannya.
“Yaudah, gue istirahat dulu, Bang!” ujarku berlalu dari hadapannya.
Sesampainya di kamar, aku langsung meletakan bingkisan kecil itu di dalam laci meja. Dan langsung berbaring. Entah mengapa mataku begitu sulit terpejam dan arah pikiranku selalu terpusat pada bingkisan kecil itu. Haruskah aku melihat dan membukanya?
Sebelum membukanya, aku memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sebab tubuhku lelah seharian ini. Aku memutuskan untuk ke Kamar Mandi untuk membasuh tubuhku. Aku senang dengan acara ulang tahun pada kali ini, bukan karena beberapa hadiah, tetapi karena mereka yang melakukannya. Kebersamaan dengan mereka lebih aku sukai, aku berharap kami akan bersama selamanya hingga nanti kami menikah, dan tua bersama.
Menyenangkan bukan, saat-saat tua kami tumbuh bersama, tidak hanya aku dan kakak. Tapi semua. Ya, aku tahu, tepat setelah perceraian orangtua kami, kami sudah tidak mendapatkan apapun, tidak kasih sayang maupun kebersamaan, dan keputusanku waktu itu untuk ikut bersama kakak adalah keputusan yang tepat. Jika tidak, apakah aku akan terlantar seperti orang-orang diluar sana yang sering aku saksikan?
Kakakku, adalah karunia yang dititipkan Tuhan menjadi malaikat dalam hidupku. Aku berterimakasih karena hingga kini ia bersedia membersamaiku. Meski aku jarang mengucapkannya, namun sungguh itu selalu aku langitkan pada Tuhan betapa aku mensyukuri kebahagiaan itu. Aku berharap tidak hanya sekejap.
Bersambung,...
__ADS_1