PRIA Di Toko Bunga

PRIA Di Toko Bunga
Siapa Yang Harus disalahkan?


__ADS_3

 


 


Selang beberapa hari tersebarlah berita di berbagai media bahwa pelaku di balik kecelakaan itu sudah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, seusai melakukan tindakan penganiayaan terhadap dirinya sendiri, berdasarkan hasil penyelidikan, ia langsung menggantung dirinya setelah itu.


Ia ditemukan dalam keadaan menggenaskan di salah satu kamar kontrakannya. Dan, oleh pihak kepolisian kasus tersebut di nyatakan selesai.


Meskipun sudah mendengar berita tersebut, aku merasa tidak puas, karena dia mengakhiri hidupnya tanpa menjalani proses hukum, karena perbuatannya sampai sekarang Kak Diego belum menyadarkan diri, karena kematiannya juga, kasus ini belum mendapatkan titik terang.


Kami belum mengetahui siapa otak di balik kejadian ini dan apa motifnya. Karena selama ini yang kutahu, dan berdasarkan pengakuan sahabatnya Kak Diego sangat baik terhadap siapa pun, jadi mereka merasa yakin jika ia tak memiliki musuh. Tapi sebaliknya, ia mungkin di musuhi oleh kebanyakan orang, ia juga bukan tipe pendendam.


Jadi saat mendengar bahwa kecelakaan itu terjadi karena di sengaja, mereka sangat kaget dan tak menduga hal itu sebelumnya.


“Ra, udah liat beritanya?” tegurku saat Rara menemuiku di kamar.


“Berita apa?” tanyanya balik.


“Pelakunya udah meninggal karena bunuh diri!”


“Oh iya, gue udah liat, Iqbal tadi telepon.”


“Menurut Lo, itu gimana?”


“Harusnya sih masih di tindak lanjuti! tapi, Tante sama Om udah sepakat buat menutup kasus ini dan memintanya di hentikan. Sayang sekali sih, tapi kita harus hargain keputusan mereka.”


“Lo bener, Ra! Tapi, yang gue takutin pelakunya bukan cuma satu orang, dan berhubung kasusnya di tutup, itu berarti mereka bisa melarikan diri.”


“Udah, percaya aja semuanya bakal baik-baik aja!”


“Ra, gue mau nanya! Bundanya Iqbal masuk penjara gara-gara apa? Gue gak tahu soalnya!”


“Yah itu, dia nyewa orang buat ngelukain Diego.”


“Oh ya, hmm, ngomong-ngomong,.. Iqbal ada bilang sesuatu gak?”


“Tentang apa, Lin?”


“Apa aja, seingat Lo!”


“Gak ada deh kayaknya!” tolaknya menatapku.


“Emang kenapa? Ada masalah?” tanyanya lagi.


“Hah, gak kok, gak ada!” ucapku. Aku tiba-tiba teringat kembali akan kata Iqbal, bahwa pelakunya di curigai adalah orang yang sama, aku sempat membahas Ibunya saat itu, tapi Iqbal tak mengatakan apa-apa, Bundanya juga di penjara saat itu, jadi apa mungkin dia juga yang merencanakan ini? tapi, bukankah Bundanya sudah meminta maaf pada Diego dan mengakui kesalahannya.


Aku harus menemui Iqbal dan bertanya padanya langsung. Jika tidak, aku tidak akan pernah mengetahuinya! Apa Iqbal menyembunyikan sesuatu dariku? Tapi jika memang iya, apa mungkin dia akan memberitahuku soal itu? kenapa ini semua menjadi begitu rumit!


Harusnya aku bisa menebaknya, tapi aku tak bisa memikirkan apa-apa sekarang! Aku bergegas pergi meninggalkan Rara tanpa mengatakan apa-apa.


Baru saja aku turun dari lantai atas, saat hendak keluar, aku berpapasan dengan Bang Rehan yang hendak masuk ke dalam.


“Mau kemana, Dek?” tanya Bang Rehan menatapku.


“Gue mau temuin Iqbal, gue harus pastiin sesuatu!”


“Tentang Diego lagi!” ungkapnya.


“Iya, Iqbal pernah bilang sesuatu ke gue, tapi gak tahu itu apa, jadi gue harus nanya itu apa!”


“Gue gak ijinin Lo pergi, masuk ke dalam!”


“Abang apaan sih, Diego tuh temen Lo tahu!” celotehku.


“Gue bilang gak yah, masuk! Dia udah putusin Lo juga, gak usah berurusan lagi.”


“Gue tetap pergi!” sahutku tak kalah, aku tak suka ia menahanku seperti ini dan begitu tiba-tiba.


“Gue capek yah Lin, liat Lo kayak orang stress setiap hari, Lo harus sadar!”


“Sekarang Lo pikir gue gila kah?!” ucapku kesal, Rara yang mendengar keributan di bawah pun turun dan bermaksud melerai perdebatan kami, sebenarnya bukan pertengkaran sih, dia hanya memintaku untuk tidak pergi tapi aku menolak dan melawan.


“Kalian kenapa sih, ribut-ribut!”


“Abang tuh, maen larang aku pergi,” aduku pada Rara.


“Kak, kenapa sih?” tanya Rara pada Bang Rehan.


“Gue gak suka aja, dia ikut campur urusan Diego! Pake acara mau cari tahu segala.”


“Emang kenapa, merekakan pacaran!” celetuk Rara asal.


“Pacaran apa? Diego putusin dia kok, maksud aku, berhenti dan liat aja, nanti dia sendiri yang terluka!”


“Gue terluka kenapa cobak, Bang? gue justru senang bisa memecahkan kasus ini!”


“Lin, dengarin juga kata Kak Rehan! Jangan egois gitu, lagi pula buat kebaikan Lo juga!” kata Rara.


“Kalian berdua kenapa sih!? Hadeuh,” cetusku berlalu kembali ke dalam, aku kesal dengan Bang Rehan. Kenapa cobak dia tiba-tiba seperti ini, biasanya juga dia yang selalu ngedukung aku buat lakuin sesuatu yang aku mau, selama itu positif! Termasuk membuat naskah drama yang gak pernah kelar itu.


Apa benar, apa yang di katakan orang itu benar!? seorang Abang atau Kakak akan berubah ketika mereka akan menikah! Apa Bang Rehan juga gitu. Apa dia gak akan sayang sama aku lagi? Tapi setidaknya dia tidak perlu seperti itu, aku tidak suka di bentak. Dia tidak seperti ini sebelumnya.


Dia bahkan mengataiku gila, bosan melihatku seperti orang stress! Apa itu yang dia pikirkan tentangku, aku merasa aku seperti sudah tidak mengenalnya lagi. Ini pertama kalinya ia memarahiku, dan di situ ada Rara.


Aku sekarang hanya duduk-duduk saja di tepi ranjang, aku tidak ingin keluar menemui Bang Rehan, biar saja, itu salahnya yang membuatku kesal seperti ini. Apa dia pikir aku anak kecil sampai bisa memarahiku seperti tadi? Aku juga tak memintanya membawaku kesini.


Apa aku pergi saja dari rumah? Biar dia tahu aku tidak suka diperlakukan seperti tadi. Aku mendengar suara langkah kaki mendekati kamarku dan berhenti tepat di depan pintu, kemudian pintu kamarku di ketuk minta untuk dibukakan. Aku diam saja tak merespon. Biar saja ia lelah sendiri dan pergi.


“Dek, bukain pintunya! Lin,” panggil Bang Rehan, aku masih merasa kesal akan perkataannya tadi.  Tapi aku merasa kasian, ia terus memanggilku tetapi aku acuhkan. Bagaimana pun dia Abangku dan ia bebas memarahiku.


Aku berjalan mendekati pintu dan membukanya, sebenarnya aku hanya membukanya setengah dan pura-pura melihat siapa yang datang. Ya, siapa lagi jika bukan Abangku, dia benar-benar sesuatu, dan membuatku ingin menangis rasanya. Dia membuatku terlihat seperti seorang adik yang jahat.


“Ngapain kesini?” ketusku acuh tanpa mau membukakan pintu.


“Bukain pintu dulu cobak, Dek!” pintanya menatapku. Tanpa berkata aku langsung membukakannya.


“Sorry, abang tadi bentak kamu!”


“Trus?”


“Abang minta maaf, Dek, ku! Maafin gak!?” ucapnya menarik hidungku.


“Gak mau, males!”


“Ayodeh Lin, gue lupa, adek gue udah besar!” ucapnya, dan itu sukses menggugah hatiku, bagaimana tidak, aku merasa bersalah padanya. Aku marah hanya karena sesuatu yang sepele.


“Iya, gue maafin, jangan mellow deh!” ucapku memeluknya.


“Dasar, cengeng betul,” ujarnya mengacak rambutku. Kemudian pergi menjauh ke bawah.


Aku merasa ada hal yang aneh tentang ini semua, kenapa Bang Rehan sering mengatakan hal aneh, aku harus berhenti mencari tahu dan ikut campur akan hal itu, jika tidak, maka aku akan terluka! Iqbal juga tiba-tiba berbeda, ia malah mengatakan mengapa aku begitu ingin tahu tentang masalah ini.


Pelaku yang sama? Itu berarti Bundanya adalah otak di balik ini semua, tapi siapa yang menjadi kaki tangannya? Aku tidak cukup mengerti, mereka mengatakan aku akan terluka, tapi kenapa? Bukankah itu berarti aku mengenal siapa pelakunya.


Iqbal juga mengatakan bahwa ia adalah orang terdekat Kak Diego.


Jika aku pikirkan baik-baik, dan jika apa yang di katakan Iqbal adalah benar! Maka pria yang ditemukan tewas waktu itu, yang di duga merupakan sebagai pelaku yang terlibat dalam kecelakaan.


Itu bukanlah pelaku yang sesungguhnya. Tapi merupakan kaki tangan mereka, yang mungkin di jebak untuk menutupi perbuatan mereka dan mengalihkan stigma publik.


Jika aku benar, itu artinya mereka membuat korban baru lagi. Tapi anehnya, aku merasa disini pelaku yang sesungguhnya sedang dilindungi? Siapa dia? Apa pelakunya adalah orang yang begitu penting sampai harus dilindungi?


Apakah mungkin itu adalah Iqbal? Ah, aku bisa saja salah. Jika memang itu dia. Apa mungkin dia akan memberitahuku bagaimana persisnya ini semua. Dia bilang akan mencaritahunya, tapi ia bahkan tak mengatakan apa-apa.


Ia bahkan tak pernah menghubungiku lagi. Kurasa Iqbal mengetahuinya, tapi ia berusaha menyembunyikannya.




Hari itu, saat Kak Diego mengalami kecelakaan untuk yang pertama kali, kami tengah berdiri di sebuah jalanan kecil yang sudah lama di non aktifkan. Kami saat itu memang tengah sedang berlerai. Tiba-tiba muncul sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan dan menabrak Kak Diego.



Jika di pikirkan, sangat tidak logis jika itu hanya sebuah kebetulan. Aku yakin ini sudah direncanakan begitu lama dan rapi sampai begitu sulit terpecahkan.



Saat kecelakaan terjadi, aku yang ada di sana begitu panik dan terkejut, tentu saja aku tidak memperdulikan kemana arah perginya pelakunya saat itu. Sesaat setelah aku memanggil bantuan, dan mobil yang akan membawa kami akan segera pergi, aku tak sengaja melihat seseorang yang hendak pergi dari sana, ia seorang lelaki yang memakai pakaian serba hitam, dan terlihat tergesa-gesa mengendarai motornya dan pergi.



Apa mungkin dia pelakunya? Jika bukan, mengapa ia tidak datang saat aku berteriak meminta bantuan sementara dia ada disana. Ini tampak mencurigakan, karena aku melihatnya tepat setelah kejadian itu berlangsung, mengapa juga dia tampak begitu terburu-buru saat itu!



Ini tampak masuk akal, jika dia memang pelakunya. Bayangkan saja, seusai melakukan tabrakan yang di sengaja itu, ia lantas menyembunyikan diri ditempat yang tak terlihat dari Tkp, hanya untuk memastikan bagaimana keadaan korban, setelah memastikan dan melaporkannya.



Ia segera pergi dari sana dengan terburu-buru agar tak diketahui. Karena ada orang yang melaporkan kecelakaan itu pada kantor polisi.



Setelah sampai rumah sakit dan Kak Diego menjalani perawatan dari Dokter. Aku menunggunya di luar, setelah beberapa lama Kak Diego akhirnya sudah sadarkan diri.



Setelah memastikan ia baik-baik saja, aku berpamitan pulang. Hari itu Abang Rehan juga datang sesaat setelah aku menghubunginya. Tapi kami tidak pulang bersamaan, ia kesini tidak membawa motornya karena sedang ada di bengkel.



Pria itu, pria yang kulihat dilokasi kejadian, bukankah dia memiliki postur tubuh yang hampir sama dengan Abang Rehan? Apa ini suatu kebetulan, mengapa juga ia ketika itu membawa motornya di bengkel di hari yang sama? Bukankah itu berarti ia membawanya untuk diperbaiki karena mengalami kerusakan.



Jika kuingat lagi, bukankah hari itu aku yang mencuci pakaiannya, aku tidak ingat  begitu persis, hanya saja samar-samar kuingat, hari itu kulihat bajunya seperti tergores oleh sesuatu karena ada kerobekan disana.



Aku harap aku salah, aku berharap ini hanya karena kecemasanku saja. Abang Rehan tidak mungkin adalah pelakunya!? Untuk apa dia melakukan itu, Kak Diego adalah sahabatnya sendiri. Tapi aku masih mengingat apa yang di katakan oleh Iqbal, pelakunya adalah orang terdekat kak Diego.


__ADS_1


Apa ini berarti Abang Rehan bekerja untuk Bundanya Iqbal? Tapi kenapa? Inikah yang dia maksud dengan, “aku harus berhenti mencari tahu tentang itu, jika tidak, maka aku akan terluka” itukah alasan dia meminta maaf karena tak bisa menjadi seorang kakak yang baik? Untuk itukah ia membentakku dan melarangku pergi hari itu? ia hendak menutupinya dariku.



Iqbal juga sudah mengetahui ini tapi dia juga ingin menyembunyikannya dariku, mengapa aku harus menerima ini semua?! Bagaimana aku bisa hidup tanpa Abangku? bagaimana bisa aku melihatnya di hukum dan mendengar orang-orang memanggilnya penjahat? Mengapa ia harus melakukan ini, untuk uang berapa ia di bayar sampai melakukan ini?



Bagaimana ini bisa terjadi padaku, Abangku satu-satunya, dia sudah melakukannya. Apa yang harus kukatakan pada Rara? bagaimana perasaannya jika ia mengetahuinya, padahal mereka sedang berencana akan menikah! Kenapa ia harus membuatku untuk memilih, antara ia dan cintaku, aku menyayangi Kak Diego tapi Abangku adalah hidupku. Aku hidup hanya untuknya.



Apa dia melakukan ini juga untukku? Tapi tetap saja ini salah, ini tidak bisa dibenarkan! Bagaimana aku akan bisa menemui Kak Diego? Bagaimana aku mampu menghadapinya! Aku sudah berjanji akan menangkap pelakunya, aku sudah berjanji Kak Diego akan mendapatkan keadilan, aku mengatakannya dengan begitu sombong! Tetapi apa ini?



Aku begitu bersemangat menunggunya tersadar, tapi apa ini, ini membuatku begitu tak berdaya. Aku tak menyangka bahwa Abangku adalah pelakunya, aku pikir itu orang lain. Kak Diego menganggapnya sebagai seorang sahabat.



Kenapa semua begitu sulit, aku harus menemui Iqbal sekarang, aku akan bertanya padanya  langsung. Aku takkan membiarkannya membodohiku lagi. Aku rasa dia tahu, bahwa berita yang disebar kemarin adalah kebohongan, mereka sengaja membuatnya. Ini sudah di rencanakan. Mereka memanipulasi berita, dan, untuk apapun alasannya mereka harus bertanggung jawab.



Berat memang, tapi aku sudah memutuskan. Aku sudah membuat pilihan, aku akan membuat Abangku mengakui perbuatannya, meskipun aku akan kehilangan semuanya. Meskipun aku tahu, aku takkan bisa menemui Kak Diego lagi, aku ikut bertanggung jawab untuk semua ini.



Aku sekarang tengah berdiri berhadapan dengan Iqbal, aku menemuinya langsung tanpa memberitahunya terlebih dahulu, aku tahu, jika aku memintanya ia tidak akan menyetujuinya.



“Kamu sudah tahu, bukan? Mengapa menyembunyikannya?”



“Kamu sudah mengetahuinya ternyata, aku pikir, aku berhasil!”



“Kenapa melakukannya? Kamu tahu, berita itu bohong.”



“Aku minta maaf, aku hanya tidak ingin membuatmu terluka!”



“Kamu salah, aku sudah terluka! Harusnya Kamu memberitahuku, ketika kau sudah mengetahuinya!”



“Aku minta maaf,” ujarnya kini menunduk. Aku menarik nafasku berat. Entah apa yang kurasakan sekarang, aku tidak tahu apa yang kurasakan.



Aku merasa perasaanku campur aduk sekarang, aku merasa marah, aku sedih, aku kesal. Tapi tidak tahu aku harus marah pada siapa? apakah itu pada Abangku? atau pada Iqbal? atau bahkan pada diriku sendiri?



Aku benar-benar tampak seperti orang bingung sekarang, aku tidak tahu apa aku pantas marah? selama ini Abangku selalu melakukan semuanya untukku dan dia yang terbaik, ia mengurusku menggantikan tugas orang tuaku. Aku tidak merasa kekurangan, ia selalu menuruti permintaanku, Mungkin Abangku lelah bekerja, aku tidak pernah membantunya. Bahkan tak bertanya apa yang dia lakukan!



Mungkin Abangku ingin mengeluh, tapi tak kunjung mengatakannya, tak seharusnya aku bertanya, untuk apa ia melakukan pekerjaan kotor itu? itu untukku dan ia sendiri juga butuh hidup!



Mungkin ini juga berat untuknya, berusaha terlihat baik-baik saja padahal ia menanggung rasa bersalah, ia takut aku terluka, jadi tak mengatakannya.



Siapa yang harus di salahkan? Ini semua sebabku, maafkan aku, tak seharusnya kau membawaku dan menanggungku sejak hari itu, seharusnya kau katakan jika kau juga merasa kesulitan, kau tak mampu menanggungku di pundakku.



Harusnya kau biarkan aku saat itu, jika kau tidak melakukannya, kau takkan hidup seperti ini.



Seharusnya kau menjalani kehidupan dengan baik, tanpa beban, dan bertemu dengan cinta tulus yang akan mengubah hidupmu. Tapi kita terjebak disini! Siapa yang harus disalahkan? Apa pada orang tua kita yang tak peduli? Apa pada mereka yang memilih pergi dan melepaskan tangan ini?



Terlambat untuk menyesali dan menangisi apa yang telah terjadi, sekarang kita harus menghadapinya. Dan menentukan pilihan untuk memperbaiki semuanya.



Aku takkan bertemu dia lagi jika dia nanti sudah sadarkan diri, aku akan melangkah pergi menjauh darinya, karena kuyakin melihatku hanya akan menyakiti hatinya.



 Aku tidak ingin dia merasa terluka lagi, aku tak perlu muncul dihadapannya lagi, lagi pula dia sudah memutuskanku, dan aku yakin, dia juga takkan membutuhkanku. Dia juga takkan mencariku.




Aku takkan mengusiknya, aku akan menghilang dari pandangannya begitu dia terbangun! Setidaknya aku masih bisa melakukan itu, hanya untuk sekali ini!



\*\*\*



Bunda mengatakan bahwa kasus kecelakaan yang menimpa Diego akan segera  di tutup, Bunda  memelukku karena aku telah membantunya melaksanakan tugasnya, mereka merahasiakan tentang pelaku yang sebenarnya, dan mengalihkan perhatian dengan membuat pelaku baru.



Entah sampai kapan ini akan tetap bertahan, aku tahu, suatu saat orang-orang akan segera mengetahuinya! Tapi setidaknya, untuk saat ini, aku hanya ingin melindungi Evlyn, aku tidak ingin dia terluka jika dia mengetahui yang sebenarnya. Aku tahu ini salah, tapi kuharap kau bisa mengerti.



Beberapa media meliput berita terkait kasus kecelakaan yang merupakan percobaan pembunuhan itu, mereka mengungkap siapa pelakunya. Yang dinyatakan tewas karena mengakhiri hidupnya sendiri dengan menyayat anggota tubuhnya sendiri.



Dengan meninggalnya pelaku tersebut maka pihak kepolisian mengatakan akan menutup kasus tersebut, sebab tidak memungkinkan lagi untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.



Aku tahu, itu bukan suatu pemberitaan pembenaran. Tapi semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Bunda.



Aku rasa, Pria yang di nyatakan sebagai pelaku itu, bukanlah bunuh diri. Ia tidak melakukan itu. Tapi orang-orang Bunda yang melakukannya, agar ia tak berbicara dan memberikan kesaksian di hadapan publik.



Aku tidak tahu kejahatan Bunda sampai dimana, awalnya kupikir semuanya sudah berhenti saat Bunda bercerai dengan Ayah. Saat Bunda mengakui kejahatannya, aku percaya bahwa semuanya sudah berakhir. Tapi ternyata semuanya diluar dugaan. Dan sekarang, ia melakukan kejahatan lagi demi menutupi kejahatan yang lain, dan lagi, ia mengatakan semuanya demi aku.



Mungkin Tuhan takkan memaafkan Bunda akan kejahatannya kali ini. Lihat saja, disini ada kelonggaran. Pria itu dinyatakan tewas dengan cara melukai anggota tubuhnya sendiri, setelah itu ia menggantung dirinya. Benarkah pria itu melakukannya sendiri? Kalau begitu bukankah dia tampak begitu hebat, dan ia merupakan satu-satunya orang yang melakukannya.



Coba pikirkan baik-baik, tidakkah setelah ia melakukan itu, ia merasa kesakitan atau bahkan kekurangan darah? Harusnya seusai melakukan itu, ia tentunya tengah berbaring tak berdaya. Tapi ia menggantung dirinya. Benarkah ia mampu melakukannya tanpa ada orang lain bersamanya saat itu?



Saat aku menemuinya, aku memberikan ia sebuah amplop berisi bayaran penuh atas permintaan Bunda. Sejak itu aku tahu ia melakukannya demi uang. Tapi benarkah seseorang yang habis mendapatkan bayaran mengakhiri hidupnya? Tapi untuk apa?



Benarkah juga, Polisi yang bekerja untuk menangani  kasus itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya? Atau sebaliknya, mereka di bawah perintah Bunda! sebagai orang yang memiliki kekuasaan, apa yang tidak mungkin bisa di lakukan Bunda dengan segala yang ia punya.



Aku menemui Abang Rehan dan kurasa ia pikir aku tidak mengetahuinya, entahlah, orang-orang yang kucintai dan kupercaya sekarang malah berbalik menyerang, aku pikir ia benar-benar tulus bersahabatan dengan Diego. Ah iya, aku memang tidak begitu dekat dengan Diego, tapi aku tak jahat, aku mungkin merasa iri, tapi tak akan melakukannya.



Itulah mengapa kita tak bisa benar-benar percaya pada orang lain. Bagaimana tanggapan Diego jika ia mengetahuinya? Ataukah ia sudah mengetahui ini dari awal?



Saat aku menemui Evlyn hari itu di taman belakang sekolah, Diego tiba-tiba muncul. Kurasa ia dan Evlyn tengah berlerai saat itu, kemudian setelah itu mereka pergi.



Karena lokasi kecelakaan tidak begitu jauh dari sekolah, saat itu kudengar terjadi kecelakaan disana, entah bagaimana terjadinya, tetapi yang jelas aku sekilas melihat Rehan lewat dijalan sekolah.



Mungkin itu dari arah yang sama, atau bahkan juga tidak, tapi aku mengabaikannya saat itu. Karena kupikir itu tidak ada kaitannya. Tapi saat kudengar Bunda mengatakan pada Evlyn bahwa Diego menjebakku dan mengatakan aku pelakunya. Aku bingung sejak saat itu.



Sejak dia kembali bunda begitu terobsesi, dan mengatakan aku harus berhati-hati, Diego akan mengusik kehidupanku, atau bahkan akan menyingkirkanku. Ia kembali kesini setelah sekian lama untuk mengambil posisinya kembali.



Saat itu aku tidak begitu mengerti apa yang dikatakan Bunda, mengapa ia akan mengambil posisinya kembali? Padahal kami adalah sama-sama anak Ayah.



Diego tak pernah menemuiku, tapi aku melihatnya ada disekolah hari itu, dan ia bersama Evlyn dan kurasa mereka berpacaran. Tapi sebelum itu Rara sudah mengatakan, bahwa ia ada di sekolah dan akan bersekolah disini.



~~~                                                              

__ADS_1



Aku menemui Abang Rehan saat ia berada di rumahnya sendirian, ia tampak kaget saat begitu melihatku, karena sebelumnya aku tak pernah menemuinya kecuali saat berkunjung ke rumahnya, dan itu untuk menemui Evlyn.



“Kamu bekerja dengan Bunda, bukan?” tanyaku, setelah aku mengetahui ia adalah pelakunya, pendapatku tentang dia pun sedikit berubah. Dulu aku pernah mengatakan bahwa aku bangga padanya, karena ia melakukan hal-hal sederhana hanya untuk melindungi Evlyn.



“Apa Evlyn sudah mengetahui tentang ini?” ucapnya balik bertanya.



“Kenapa Kau bertanya, apa itu begitu penting!”



“Katakan, apa Dia sudah mengetahuinya?”



“Dia akan segera mengetahuinya sendiri!” ujarku.



“Itu berarti dia belum mengetahuinya?”



“Ya, belum, kenapa melakukannya, kalau Kau takut ia mengetahuinya!”



“Sampai saat itu tiba, bisakah Kau merahasiakannya?!”



“Kenapa aku harus melakukannya, untuk seorang penjahat?”



“Karena kau menyukai Evlyn, dan tak ingin membuatnya terluka!” ucapnya tegas menatapku, aku hanya menghembuskan nafasku berat.



“Tidakkah Kau merasa bersalah? Diego sangat mempercayaimu!” ujarku.



“Pergilah, tidak ada yang akan Kau dapatkan dariku!” ucapnya lantas meninggalkanku. Aku pun langsung bergegas pergi dari sana dan segera pulang ke rumah.



Baru saja aku sampai di Rumah dan belum sempat masuk ke dalam, kulihat Evlyn ada disana. Untuk urusan apa dia menemuiku? Mungkinkah ia sudah mengetahuinya?



“Kau sudah mengetahuinya, bukan? Kenapa tidak mengatakannya?” ujarnya menatapku, aku tahu ia merasa terpukul mengetahui itu. Ini bukan seperti dia sebelumnya, ia menatapku tapi kali ini tatapannya sendu.



“Kau sudah mengetahuinya, aku pikir aku berhasil!”



“Kenapa Kau semakin menjadikannya penjahat?”



“Aku tidak ingin Kamu terluka, aku tahu ini salah, tapi aku tidak ingin Kamu terluka jika mengetahuinya!”



“Kamu salah, aku memang sudah terluka, dan Kau membuatnya tampak lebih buruk lagi!” ungkapnya lantas berlalu pergi.



“Dia memintaku merahasiakannya darimu!” jelasku setengah berteriak.



“Kau sungguh melakukannya? Dia sudah menjagaku selama ini, sekarang aku yang harus melakukannya, aku tidak ingin membuatnya menjadi penjahat lebih lama. Tapi kau membiarkannya,” ujarnya lantas berlalu pergi dari sana.



Aku merasa bersalah padanya untuk semuanya, tapi aku, aku malah mengikuti kata Bunda, tapi tak lama, ia sudah mengetahuinya. Aku hanya ingin berbuat sesuatu untuknya, meski kutahu ini tidak dapat di benarkan.



\*\*\*                                                        



“Lyn, Lo kenapa?” tanya Rara saat ada di Rumah, untuk sejenak aku menatapnya, aku merasa bersalah untuk ini semua, mungkin ini akan menghancurkan perasaannya. Disini juga tengah ada Abang Rehan bersama kami.



“Kau begitu ingin menikah dengan Abangku?” tanyaku masih menatapnya. Dan ia tampak bingung menatapku juga melihat ke arah Bang Rehan.



“Tentu saja, apa yang Kau katakan!”



“Bagaimana jika aku menolaknya,” sergahku.



“Kenapa Kau ingin menolaknya lagi, Kau sudah menyetujui ini kemarin.”



“Itu karena aku belum tahu--,”  ucapku kini menatap Bang Rehan yang sekarang tengah menatapku juga.



“Dek, ayo kita bicarakan ini diluar!” ajaknya.



“Tidak mau, Kau harus mengatakannya sendiri pada Rara!”



“Mengatakan apa, Lyn, Kak?” kata Rara bingung akan semuanya. Kulihat Abangku menarik nafasnya berat, ini menyiksaku. Tapi aku harus melakukannya.



“Iya, aku pelakunya! aku yang membuat Diego kecelakaan, aku bekerja untuk Bundanya iqbal, ia memintaku menyingkirkannya dan aku menerima bayaran penuh, aku juga yang menabraknya saat di taman.”



“Apa maksudnya, Kak?” kata Rara.



“Aku mencoba membunuhnya!” jelasnya menatapku.



“Kenapa Kau melakukannya, Kau becanda, bukan?” sergah Rara tak percaya.



“Dia tak berbohong, batalkan pernikahanmu!” kataku menatap Rara.



“Apa yang Kau lakukan, kenapa Kau ingin aku membatalkannya, kami akan menikah apapun alasannya!”



“Ra, aku minta maaf, aku tak pantas untukmu, carilah lelaki yang baik,” ujarnya pada Rara, seketika aku langsung meninggalkan mereka juga Rara yang tengah menangis sejadi-jadinya!



Aku hanya terduduk di dalam kamar, dengan tatapan kosong, tiba-tiba hp-ku berbunyi dan itu dari Lelaki yang menemuiku kemarin. Ia mengajakku bertemu, dan aku menyetujuinya, aku tidak tahu untuk urusan apa dia ingin menemuiku?



“Kakakmu tak perlu menyerahkan diri pada Polisi, kasus ini sudah ditutup! Dan, Ayahnya Diego meminta kalian pergi jauh dari kehidupan putranya, jangan menemuinya lagi!”



“Kenapa aku harus melakukannya? penjahat tetap harus di hukum! untuk apapun alasannya,” kataku berlalu meninggalkannya.



“Diego yang memintanya,” ucapnya. Mendengar itu aku merasa hatiku bagai tersayat, aku takkan bisa menemuinya lagi, apakah ia sudah menyadarkan diri sekarang? aku berbalik menatap Lelaki itu lagi.



“Iya, Diego sudah menyadarkan diri, dan ia baik-baik saja sekarang!” sahutnya seolah menjawab tanyaku, dan ia kemudian langsung berlalu pergi. Untuk sebentar aku bisa merasakan senang, karena mengetahui keadaannya baik-baik saja. Tapi kesedihanku lebih besar dari semuanya. Aku tak percaya ini akan terjadi pada keluargaku, Abangku.



Aku masih tak bisa menerimanya. Kakak yang selama ini sangat kusayangi, ternyata ia melakukannya. Aku ingin menangis sejadi-jadinya, tapi aku harus kuat. 



Bersambung,...

__ADS_1


__ADS_2