PRIA Di Toko Bunga

PRIA Di Toko Bunga
Bisakah Aku Untuk Tenang?


__ADS_3

    


Setelah semuanya terungkap aku merasa sedikit lebih baik sekarang. Setidaknya aku tidak perlu lagi merahasiakan identitasku. Yang setiap waktu selalu membuatku merasa bersalah.


Sebenarnya aku beruntung memiliki saudara seperti Diego, dia selalu terlihat baik-baik saja meski memendam segala sesuatunya sendiri. Ia menjadi penguat untukku ketika masalah menyerangku. Aku selalu merasa iri dan seolah menganggap hanya aku yang memiliki masalah.


Tapi ternyata sama, hanya bedanya ia selalu menjadi penguat untuk dirinya sendiri. Sekarang kami tengah sarapan bersama seperti hari biasanya. Diego bilang ia akan menjemput ibunya di Bandara. Aku turut merasa senang untuknya.


Ayah mengatakan agar aku untuk keluar sesekali diluaran sana. Ya, selama beberapa hari terakhir ini aku memang jarang keluar. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di Rumah dan berjalan-jalan di taman belakang Rumah, yang memang sangat cukup luas. Aku bahkan sudah jarang, bahkan hampir tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Evlyn.


Aku sekarang menyadari bahwa Diego akan lebih pantas untuknya di banding aku. Aku hanya anak tidak sah dari perselingkuhan Bunda. Aku bukan putra keluarga ini, bukan juga pewarisnya.


Semua yang kudambakan, hancur berantakan sekarang. Semua cinta aku rasa, aku takkan memilikinya. Tapi Diego menenangkanku, ia menguatkan dan mengatakan semua akan baik-baik saja dan akan berjalan kembali normal seperti biasanya.


Aku tersadar dari lamunanku ketika Diego mengatakan ada Evlyn diluar dan sedang menungguku, aku kemudian menghampirinya diluar tepat setelah Diego pergi dari sini. Ia menatapku sendu, kami berjalan keluar dan berhenti di sebuah taman pinggir jalan.


“Kenapa gak pernah angkat teleponku?” tanyanya menatapku.


“Bukankah Kamu sudah mendengarnyaa dari Diego, dia pasti sudah menceritakan semuanya!” sahutku tertawa sinis.


“Menceritakan apa? Diego tak mengatakan apa-apa! Ia hanya memintaku menemuimu di dalam!” ucapnya kini dengan wajah terheran-heran.


Lagi, dia benar-benar membuatku merasa tak berdaya, kenapa dia tak memberitahukannya saja padanya, harusnya ia melakukannya.


Bukankah jika begitu Evlyn akan kembali bersamanya? Mengapa ia membuatku tampak begitu buruk, aku begitu iri padanya selama ini. Tapi Diego memperlakukanku berbeda.


“Bal, Lo kenapa sih?” tanyanya lagi.


“Diego gak ada bilang apa-apa sama kamu?” tanyaku tak menggubris tanyanya baru saja.

__ADS_1


“Gak, dia cuma bilang, kamu adiknya yang baik! Itu yang dia tulis dikado ulang tahunku.”


“Dia bilang kayak gitu?!” ujarku memastikan lagi.


“Um, dia bilang kayak gitu!”


“Dia bohong, aku gak kayak gitu!”


“Emang kamu gimana?” ujarnya sembari tersenyum.


“Aku selalu iri sama Diego, dia selalu baik!”


“Kenapa?”


“Aku bukan anak Ayah, aku anak Bunda dari pria lain,” jelasku menceritakan semuanya dan Evlyn pun mulai menceritakan tentang kehidupannya juga.


“Aku gak punya Ayah-Bunda, setelah mereka bercerai aku gak tahu mereka dimana! Mengingat semuanya rasanya menyakitkan, tapi semuanya bisa di lewati, karena Bang Rehan selalu buat aku. Kamu juga gitu, Kak Diego selalu ada buat Kamu!” jelasnya tersenyum.


“Maksud kamu?” tanyanya dengan wajah bingung.


“Kita temanan aja!” kataku lagi.


Dia hanya menatapku tersenyum, entah apa yang dia rasakan. Aku mengatakannya setelah kupikirkan baik-baik. Dan itu keputusanku.


“Yaudah, aku pergi yah sekarang!” ucapku berlalu pergi setelah ia mengiyakannya.


Aku memutuskan ia sekarang, aku berharap ia akan kembali bersama Diego. Hanya Diego yang terbaik untuknya saat ini.


Evlyn mengejarku dan mengatakan ia mengajak kami pergi piknik bersama, ia berharap semoga aku dan Diego bisa hadir. Aku mengiyakannya dan akan berbicara dengan Diego tentang rencana itu.

__ADS_1


***                                   


Sekarang aku ada di tempat Bunda di tahan, aku menemuinya sendirian. Aku merasa sedih melihat keadaan Bunda sekarang. Tapi ia harus menjalani masa hukumannya di sebabkan karena perbuatannya.


“Bal, gimana keadaan kamu sekarang? Bunda minta maaf gak bisa temanin Kamu!” aku hanya mendengarkan ucapannya, tanpa mengatakan apa-apa.


“Kamu gak mau jawab bunda sekarang!” ujarnya lagi.


“Cepat keluar dari sini, dan jalani kehidupan yang lebih baik!” tegasku lantas bergegas pergi dari hadapan Bunda, meski sebenarnya waktu kunjunganku belum berakhir.


“Apa nanti--, Iqbal mau ikut bunda?”


“Tidak, iqbal akan tetap tinggal bersama Ayah!” kataku lantas keluar dari sana meninggalkan bunda.”


***                                                        


“Diego, Evlyn ngajak kita piknik bareng! Ikut yah!” kataku sesampai di rumah.


“Kamu aja, aku sibuk! Banyak yang harus aku kerjain,” tegasnya.


“Aku udah putus sama dia!” kataku mengalihkan pandangan agar tak melihatnya, yang sekarang kurasa tengah menatapku.


“Apa karena aku? Kamu pikir aku bakal balikan sama dia!” kini aku beralih menatapnya.


“Lo lebih berharga dari apapun! Yaudah, gue pergi dulu!” tegasnya lagi menepuk pundakku.


Sekarang aku tambah tidak mengerti dengan sikap mereka, baik Diego juga Evlyn. Apa yang mereka pikirkan? Kenapa begitu sulit untuk itu. Aku tahu dia masih menyukainya, tapi hanya berusaha tegar dan menghindarinya.


Apa sekarang dia bersikap ingin menjadi seperti seorang Abang? Hmmm, benar-benar rumit rasanya. Tapi kuyakin, aku akan membuatnya berbaikan. Lagi pula, Evlyn menginginkan itu. Meski sebenarnya ini menyakitkan, ia adalah wanita pertama yang aku sukai sekian lama dan sampai hari ini.

__ADS_1


Bersambung,...


__ADS_2