
Aku kembali ke rumah dengan di antar oleh Pak Min, sesampainya di rumah aku masih melihat Rara masih ada disana, ia belum juga pulang padahal kurasa aku pergi begitu lama, tapi sepertinya ia betah berada disini. Atau aku yang merasa waktu begitu lambat karena hal tadi.
Iqbal mengirimiku pesan dan mengatakan bahwa besok ia akan menjemputku, karena besok akan mengantar Diego ke Bandara, ia akan kembali kesana, karena waktu liburannya sudah habis.
Sebenarnya aku merasa sedih juga malas, karena masih mengingat kejadian kemarin. Tapi aku merasa tak enak pada Iqbal, apalagi aku sudah berjanji akan melupakannya. Jadi aku mengiyakan ajakannya.
“Lin, Lo udah tahu Diego besok berangkat?!” tanya Rara melirik kearahku.
“Iya, udah. Iqbal udah kasih tahu!”
“Jadi?” kini Bang Rehan yang balik bertanya.
“Jadi apa?” ucapku malas, karena aku tahu kemana arah pembicaraan ini.
“Lo ikut nganter dia apa gak, Lin?” lanjut Rara.
“Iya, gue pergi. Iqbal besok jemput gue!”
“Iqbal, bukannya Diego!” ucapnya sambil menatap satu sama lain.
“Gue udah putus sama dia, sejak dia kesana! Oh ya, gue udah balik sama Iqbal.”
“Whaattt!” ucap Rara seakan terkejut dengan hal itu, yang kurasa biasa saja. Aku berlalu dari sana dan segera menuju kamarku di lantai atas. Dengan meninggalkan mereka yang masih sibuk membicarakan tentang ini.
__ADS_1
Sesampainya di kamar aku langsung menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhku yang seharian ini terasa lengket karena seharian beraktifitas. Selesai mandi dan mengganti pakaian, tanpa aba-aba aku langsung membaringkan tubuhku diatas kasur empuk ternyamanku.
Aku mencoba memejamkan mata, aku harus istirahat agar besok bisa beraktifitas kembali. Aku mencoba melupakan semua ini, walau terkadang rasa sakit kembali menyeruak. Tapi bagaimana pun, aku harus bisa melewatinya. Lagi pula, sudah jelas kami tak bisa bersama.
Seseorang mengetuk pintu kamarku, dan seolah pintu itu memintaku untuk segera membukakannya, karena tidak tahan dengan suara gedoran dari seseorang di balik pintu. sebenarnya agak malas. Tapi aku tetap membukanya. Dan ternyata itu adalah Rara dan Bang Rehan.
“Apaan lagi sih, ganggu orang tidur aja!” gumamku kesal.
“Rara mau nginap disini, Dek. Kubilang tidur di kamar Kamu aja,” sahut Bang Rehan.
“Apaan sih maen nginap-nginap, kayak gak ada rumah sendiri aja!” sahutku menatap mereka secara bergantian.
“Boleh ya, Lin!” ucap Rara mengedipkan mata dan segera berlari masuk ke kamar tanpa menunggu aba-aba dariku. Itu kebiasaan lama, aku memang suka sekali mengomel tapi Rara tak pernah menganggap serius ucapanku bahkan ia selalu mengabaikannya. Aku menatap Bang Rehan dan mengiyakannya. Lagi pula sepertinya akan menyenangkan bisa bersama Rara.
***
Hari ini Diego akan kembali lagi kesana, Iqbal mengajakku untuk ikut mengantarnya. Sebenarnya aku malas, tapi dia memaksaku. Aku akhirnya mengiyakan kemauannya, lagi pula tak baik jika aku bersedih untuk seseorang yang tak peduli, meski sebenarnya aku berharap banyak.
Kami sampai di Bandara hampir bersamaan dengan Diego, ia menatap kearahku, aku juga menatapnya, meski tidak ada hal yang istimewa disana. itu hanya hal biasa umumnya, mungkin bahkan ia tak sengaja.
Kau tahu, masalah selalu datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Seperti saat ini, pesawat yang akan di tumpangi oleh Diego di tunda dulu penerbangannya menjadi besok lusa. Karena cuaca sedang tidak memungkinkan untuk dilakukannya penerbangan, ya, memang cuaca saat ini tampak mendung dan cenderung gerimis tapi tak kunjung turun hujan deras.
Iqbal memintaku untuk pulang bersama Kak Diego karena katanya dia tiba-tiba ada urusan mendesak diluar, ini terlihat sedikit menyebalkan, bagaimana mungkin dia memintaku untuk pulang bersama lelaki ini.
Aku terpaksa menuruti permintaannya, karena tidak mungkin aku meminta Bang Rehan menjemputku. Aku pulang bersama Diego dengan ia yang menyetir. Kami sekarang hanya berdua karena Ayahnya pulang menggunakan mobilnya sendiri, dan tidak pulang ke rumah tapi langsung balik ke kantor.
“Apa Kamu tidak merasa nyaman?” ungkapnya kemudian.
__ADS_1
“Tidak, saya harus bisa akrab dengan Kakak Iparku, bukan?!” kataku yang seolah merasa sedang menyindirnya karena perlakuannya kemarin. Mungkin kau bisa menyebutnya sebagai upaya balas dendam. Kulihat ia hanya tersenyum sekilas menanggapi itu.
“Kalian pacaran?” ucapnya lagi.
“Mengapa bertanya, bukankah Kau sudah mengetahuinya! Kau sendiri yang mengatakannya kemarin,” tegasku dengan emosiku yang memuncak, walau aku tak begitu menunjukannya.
“Kamu benar!” urainya lagi.
“Turunkan aku disini,” ujarku.
“Tapi, kita bahkan belum sampai.”
“Saya tidak ingin merepotkan Kakak Iparku, Iqbal pasti takkan menyukainya!”
“Baiklah,” ungkapnya lantas menepikan mobilnya di tepi jalan, dan aku langsung turun dari mobil dan berlalu pergi tanpa mengatakan apa-apa, sekedar menatapnya pun saja tidak.
Setidaknya kali ini aku benar, ini yang harus kulakukan. Aku harus menghentikan segala penantian konyol ini. Aku juga harus menepati janjiku pada Iqbal. Jika aku tidak melakukannya, maka aku sendiri yang akan terluka. Aku berjalan kaki setelah itu dan dan menunggu taksi yang akan membawaku pulang.
Sepanjang perjalanan aku kembali teringat pada Iqbal. Urusan apa sampai dia begitu tergesa-gesa? Dan memintaku pulang bersama Diego. Aku mencoba menghubunginya tapi ia tak mengangkatnya. Apa dia sekarang mengabaikanku?
Bang Rehan menelponku dan menanyakan kapan aku akan pulang, aku mengatakan bahwa aku sedang dalam perjalanan pulang. Tapi lagi, kurasa hari ini hal aneh terus terjadi. Ia tidak biasanya menelponku apalagi menanyakan kapan aku pulang. Yah, kecuali ketika ia akan menjemputku.
Ini tidak seperti biasanya menurutku. Iqbal yang tiba-tiba pergi, biasanya ia tidak akan meninggalkanku, ia pasti akan mengantarku terlebih dahulu. Tapi ah sudahlah. Saat akan meletakan kembali hp-ku di saku baju, seketika hp-ku kembali berdering tanda ada pesan masuk.
Kembali kulirik dan itu dari Diego. Isi pesannya mengatakan, “Selamat Ulang Tahun”. Tentu saja, aku merasa semua perasaanku campur aduk sekarang, aku merasa senang, seolah aku sedang di istimewakan meski hanya berupa ucapan, aku juga merasa sesak.
Kenapa ia mengatakannya ketika kami tak bisa bersama. Aku menangis karena itu, sebab ia berhasil membuat perasaanku bingung. Kenapa ia harus mengucapkannya, harusnya ia tidak perlu melakukannya. Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang? Aku merasa aku ingin mengejarnya, dan meminta agar ia menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Kenapa dia selalu membuatku bingung akan perasaanku sendiri? Dan anehnya perempuan lebih menyukai seseorang yang seperti ini. Seseorang yang melakukan hal sederhana tapi berhasil membuatnya merasa di tinggikan. Aku seperti itu, aku merasa aku begitu dicintai meski dia tidak mengatakannya.
Bersambung,...