PRIA Di Toko Bunga

PRIA Di Toko Bunga
Adalah Salah


__ADS_3

Hari ini, aku berangkat sekolah dengan diantar oleh Kak Diego. Sebenarnya aku mulai curiga padanya, tepatnya aku akan mulai mencari tahu yang sebenarnya. Tentu saja, aku sekarang tidak boleh mudah percaya, apalagi tanpa bukti yang nyata, tapi aku akan tetap seperti biasanya. Aku tidak boleh ketahuan, dan harus berhati-hati. Hal pertama yang akan kucari tahu adalah, tentang Marshanda. Gadis yang selalu bersama Kak Diego, karena dari sana aku akan mengetahui banyak hal tentang Kak Diego. Aku akan memulainya sekarang.


Saat ini aku tengah bersama Kak Diego di kantin sekolah, kami hanya berdua saja. Aku memesan minuman, sengaja aku melakukannya. Saat aku berjalan dan akan duduk dengan Kak Diego, aku sengaja menumpahkan minumannya ke baju Kak Diego. Dia tidak marah, tapi langsung pergi ke toilet untuk membersihkan dirinya. Ini yang kurencanakan, sesaat setelah Kak Diego ke toilet, aku tidak membuang waktuku. Aku langsung memeriksa henfon-nya yang terletak begitu saja di atas meja. Segera aku mencari sesuatu yang memang harus aku temukan, tapi sial, aku tak menemukan sesuatu yang penting lainnya, tapi kau tahu, rencana tak selalu sebagus ekspetasi. Aku tidak melihat Kak Diego datang, tapi sebaliknya, dia melihatku memegang henfon-nya. Dia mengagetkanku dengan memanggilku. Tersadar aku menatapnya bingung, aku harus bagaimana.


Aku pikir, usahaku yang belum di mulai akan berhenti disini, tapi nasib baik, masih memihakku. Marshanda datang dan menghampiri meja kami. Dia mengajak Kak Diego berbincang. Aku segera pergi dari sana. Aku yakin, mereka bukan hanya sekedar teman, tapi ada sesuatu.


Aku yakin Marshanda adalah kekasih Kak Diego. Kalau tidak, mana mungkin dia selalu muncul di manapun, ketika aku bersama Kak Diego, tapi aku bingung, aku masih belum menemukan sesuatu apapun. Semua tampak direncanakan dengan begitu rapi.


Namun, jika kuingat kembali, sebelumnya aku tak pernah bertemu dengan Kak Diego sekalipun. Ketika dia datang ke rumah, itu pertama kali aku melihatnya. Dan tiba-tiba saja dia mengatakan dia menyukaiku. Itu tidak mungkin bisa disebut sebagai cinta pandangan pertama!


Aku tidak jadian dengannya, dia tidak mungkin tidak tahu. Tapi dia seolah tidak perduli dan tak pernah mempermasalahkannya. Apa yang dia rencanakan? kenapa aku tidak bisa menebaknya. Haruskah aku bertanya pada Marshanda langsung? Apa mungkin dia bisa membantuku? Ah tidak, dia bisa saja menceritakan semuanya pada Diego.


Pertanyaan demi pertanyaan, seakan datang silih berganti, memenuhi setiap sudut ruang pikiranku. Jika yang Bunda Iqbal ucapkan waktu itu benar, kenapa mereka tidak menanyakan langsung saja padanya? Bagaimanapun itu juga adalah Ibunya juga, meskipun bukan dia yang melahirkannya.


Apa mereka sungguh tak sedekat itu? sampai Bunda memintaku mencari tahu tentang itu semua? Apa yang harus kulakukan, apa aku tanyakan saja langsung pada Kak Diego. Seburuk apa pun dia, kupikir dia tidak akan mungkin melukaiku. Ah, entahlah semua tampak membingungkan.


Kak Diego berjalan menghampiriku, aku sedikit terkejut. Karena aku sedang memikirkan dia, tepatnya aku memikirkan apa yang sedang dia rencanakan, tapi dia sudah di hadapanku sekarang. Aku menatapnya, berharap bisa mengetahui semuanya lewat matanya. Tapi kau tahu, aku tidak ahli dalam membaca sesuatu hanya dari bagian tubuh.


Tentu saja, dia harus mengatakannya agar aku mengerti. Tapi dia tidak mengatakan sesuatu yang aku butuhkan. Dia hanya berbicara ini dan itu, sesuatu yang membuatku pusing. Dia hanya menatapku tidak mengerti. Sementara aku hanya melihatnya tanpa arti, eh maksudnya menatapnya penuh selidik.


“Kamu kenapa liatin aku gitu?” tanyanya membuatku bingung.


“Senang aja liat Kakak,” jawabku asal.


“Aku tahu Kamu bohong, ada yang mau kamu tanyain?” tanyanya lagi. Sejenak aku pikir, haruskah aku menanyakannya? Akankah dia menjawab pertanyaanku.


“Kemarin Kamu ketemu, Bunda?”


“Bunda?” kataku seolah tidak mengerti, dan balik bertanya.


“Aku tahu, Kamu bertemu Bunda. gak usah bohong.” ucapnya. Aku hanya diam karena kurasa aku ketahuan.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanyanya lagi. Astaga ini rasanya seperti aku yang tengah di selidik, padahal jelas-jelas dia yang bersalah. Tapi sekarang, aku yang di pojokkan


“tentang ini dan itu,” ucapku gugup, Kak Diego kini menatapku seakan memaksa aku untuk menjawab, atau ini usahanya untuk membuatku bicara.


Dia semakin menatapku dan melangkah semakin mendekat ke arahku, aku memundurkan langkahku. Hampir saja aku terjatuh jika Kak Diego tak segera menangkapku. Aku berusaha tidak gugup setelah beberapa kali menelan salivaku. Setelah itu dia melepasku dan itu membuatku bisa bernafas lega.


Tidak masalah jika kamu tidak ingin membicarakannya. Tapi jangan pikir aku tidak akan tahu. Aku akan segera mencari tahunya, jadi kuharap kamu tidak merahasiakan apapun dariku. Kata-katanya sedikit ingin membuatku tertawa, bagaimana bisa dia memintaku untuk tidak merahasiakan apapun darinya, sementara jelas dia yang sedang tengah berbohong.


“Kakak yang bohong, Kak Diego gak pernah bilang, kalau Iqbal adik Kakak,” ucapku tiba-tiba. Sementara dia hanya diam saja mendengarku mengatakan itu.

__ADS_1


“Kak Diego, pergi dari rumah, Kakak bahkan bilang ke orang-orang kalau Iqbal berkepribadian ganda, kenapa Kak Diego lakuin itu?” ucapku sekarang yang beralih mengatakannya.


Iya, aku mengatakan semuanya pada Diego. Aku tidak ingin berlama-lama memikirkan ini sendirian. Aku tidak peduli jika aku akan putus dengannya, seperti kataku sebelumnya, aku tidak menyukainya jika bukan karena Abangku. Ya, meskipun beberapa waktu selama bersamanya sedikit mengubah perasaanku.


Aku tidak ingin menyangkalnya, sekarang setelah aku mengatakan semuanya. Aku sudah merasa sedikit lega. Kini, Kak Diego menatapku kosong. Dia hanya diam menatapku tanpa mengatakan apa-apa. Melihatnya tak berbicara, aku memilih pergi dari sana dan kembali ke kelas dengan meninggalkan Kak Diego.


Meski tidak mengatakan hubungan kami berakhir, tetapi yang jelas aku sudah memutuskan hubunganku dengannya, ya, walaupun secara sepihak. Tapi aku tahu, dia juga mengetahuinya. Saat melihatnya hanya diam saja, sekarang aku yakin bahwa yang di katakan Bunda waktu itu adalah benar.


Sekarang aku melewati koridor kelas. saat berjalan menuju ke kelas, aku mendengar beberapa anak-anak berbicara mengenai desas-desus terkait kecelakaannya Diego, mereka mengatakan bahwa Iqballah penyebab kecelakaan itu.


“Lo, udah dengar gak, kalau Iqbal itu punya kepribadian ganda kalau dia lagi marah. Dia juga  penyebab Kak Diego, kakak kelas kita kecelakaan, dia nyewa orang,” bisik seseorang ke sekumpulan temannya yang lain.


“Ah masa sih, Iqbal kan terkenal banget, gak mungkin deh dia lakuin itu ,” kata seseorang yang lain.


“Serius deh, dia itu kelainan, ganteng sih!” ucapnya.


Desas-desus seperti itu, sudah mulai tersebar beberapa hari ini, aku mengetahuinya dari Rara. Ya, kami sekarang sudah akur setelah hari itu. aku sudah tahu juga, jika Rara menyukai Bang Rehan. Melihatku, kumpulan anak-anak itu menghentikan pembicaraan mereka.


Sementara seseorang yang di bicarakan, sekarang lewat di depan mereka. Iqbal dan kak Diego muncul secara bersamaan, meskipun dari arah yang berbeda. Mengetahui itu, mereka membubarkan diri dan pergi. Aku menghentikan langkahku saat melihat Iqbal, dan Iqbal pun menghampiriku.


Tanpa di duga, Diego pun berjalan menghampiriku. Ini membuatku bingung. Apa sekarang mereka sengaja menciptakan kebingungan untukku? Aku hanya diam saja, entah, aku bingung harus apa. Aku terdiam beberapa saat, setelah itu aku memilih melarikan diri.


Aku tidak ingin berlama-lama terjebak di antara kedua kakak-adik itu. Tapi langkahku terhenti saat kak Diego memegang tanganku. Dia membuatku gugup saja. Pasalnya di samping kami sedang ada Iqbal yang tengah berdiri. Ah, lagi. Aku merasa sangat gugup sekali.


Iqbal melihat ke arah tanganku yang sedang di pegang oleh Diego. Bukan tangan sih, hanya pergelangan tangan. Itu juga, karena Diego ingin aku berbicara dengannya. Entah apa yang ingin dia katakan. Hanya saja aku tidak begitu yakin apa dia akan mengatakan yang sebenarnya atau tidak.


“Pulanglah ke rumah, Ayah menunggu. Bukankah terlalu lama meninggalkan rumah. Sudah cukup!” ucap Iqbal yang kini bersuara. Mendengar itu, Diego melepas tanganku.


“Kau benar-benar mau aku pulang! Yakinkah kau suka?” kata Diego membalas.


“Hentikan, jangan seperti anak-anak,” balas Iqbal tak kalah. Lantas dia berlalu pergi meninggalkan aku dan Diego.


Kini Diego menatapku. Aku menatapnya heran dengan apa yang terjadi. Apa alasan yang membuatnya sampai harus pergi meninggalkan rumah? Yang kutahu, mereka adalah keluarga kaya. Jika soal warisan, kupikir keluarga mereka bukan tidak mampu. Apa yang membuat putra keluarga kaya meninggalkan rumah?


“Kamu salah paham, aku tidak pernah mengatakan Iqbal memiliki dua kepribadian, aku tidak mengatakan bahwa Iqbal yang menyebabkan aku kecelakaan. semua tahu, itu murni kecelakaan, Kamu terlalu percaya Bunda,” kata Diego sebelum benar-benar pergi.


Aku melihat kak Diego pergi tanpa mengatakan apa-apa, aku merasa bersalah sekali. Aku tidak tahu apakah itu benar, aku merasa aku telah melakukan kesalahan, tanpa memastikan sebelumnya apakah itu benar? Aku sudah melukai perasaannya, tapi, itu dari Bunda, apakah Bunda menceritakan kebohongan! Tapi untuk apa?


Aku merasa seperti sengaja di bohongi, apa seseorang sedang menggunakanku untuk mencapai tujuannya? Kenapa dia melakukan ini? Bukankah ini berarti seseorang sedang sengaja menciptakan kerenggangan. Kepalaku hampir pecah dengan semua ini. Begitu sulit untuk di mengerti.


Jam pulang sudah di mulai. Aku segera membereskan semua peralatan tulisku dan memasukannya kedalam tas. Setiap pulang, aku biasanya bersama Rara atau terkadang aku meminta Bang Rehan mengantarku karena jam pulang kami berbeda. Karena kelas tiga sekarang sudah menerima jam tambahan. Jadi pulangnya agak berbeda dengan kami.

__ADS_1


Aku sekarang berada di halte bus, aku sengaja tidak meminta Bang Rehan mengantarku. Aku akan pulang dengan angkutan umum saja, Namun, Diego datang dan mengatakan akan mengantarku. Meskipun sudah kutolak beberapa kali dengan alasan agar ia tak ketinggalan kelas tambahan. Tapi kau tahu, dia bahkan tidak mendengarkan kataku. Ya, tidak heran, Bang Rehan mengatakan dia memang keras kepala.


Kupikir dia akan marah denganku, tapi kurasa lelaki ini sangat sulit untuk di tebak, dia melajukan motornya dan memintaku memeluknya agar aku tak jatuh. Padahal sederhana saja, dia jangan mengebut dan aku tidak akan jatuh. Wah, dia benar-benar sesuatu. Dasar mesum.


***


Saat akan ke kelas, sebelumnya aku mendengar anak-anak mengatakan bahwa akulah yang menyebabkan kecelakaan Diego. Aku sengaja menyewa seseorang setelah sebelumnya aku merencanakannya terlebih dahulu, aku tahu, mereka tidak asal bicara. Pasti ada seseorang yang sengaja menyebarkan kebohongan.


Aku tahu, hubunganku dengan Diego tak baik-baik saja. Akupun tahu apa alasannya meninggalkan rumah, dia tak melakukannya karena dia menginginkannya. Aku mendengarnya, saat Bunda memintanya pergi dari rumah, Bunda mengatakan bahwa tak ada tempat di rumah ini buatnya. Selama ini aku hanya diam saja, aku takut pada Bunda.


Aku tahu, Ayah juga mengetahui hal ini. Karena itu Ayah tidak begitu menyukaiku. Bukan tidak berani, tapi hubungan Ayah dan Bunda adalah ikatan bisnis, jadi, Ayah membutuhkan Bunda. berbeda dengan Bunda, ia sangat menyayangi Ayah dan menghormatinya. Tapi Bunda tidak bisa menerima Diego.


Aku tahu desas-desus seperti itu berasal dari Bunda. Aku mengetahuinya karena beberapa hari ini aku mengikutinya. Aku juga tahu bahwa dia menemui Evlyn dan barangkali mengatakan hal yang yang sama. Bunda ingin menyudutkan Diego. Dengan mengatakan bahwa Diego menyudutkanku. Aku sangat mengerti bahwa Bunda ingin Diego tersingkir.


Aku tidak mengerti mengapa Bunda begitu membenci Diego! sebelum Diego pergi Ia meminta agar tak mendekatiku. Diego kecil saat itu mendengarnya dan mengikutinya hingga sekarang. Aku tahu, Diego tak membenciku. Tentang Evlyn, aku  tahu aku salah. Tapi yang jelas, aku tidak setuju dengan Bunda.


Aku menemui Bunda di kamar, aku akan memintanya berhenti melakukan itu semua. Aku tidak ingin keluarga kami hancur, aku sudah tidak kuat, aku tidak ingin jadi pengecut yang terus-terusan bersembunyi. Dan, tetap diam ketika tahu semuanya salah. Aku membuka pintu kamar, tanpa sebelumnya meminta ijin terlebih dahulu.


“Bunda, berhenti lakuin ini semua! udah cukup, Diego gak lakuin apa-apa ke aku, Bunda yang lakuin semuanya,” kataku pada Bunda yang tengah duduk di meja rias.


“Cepat juga kamu mengetahuinya, Kamu meminta seseorang untuk mengikuti, Bunda!”  ucap Bunda dengan santainya.


“Aku mohon berhenti, Bunda, sebelum Ayah tahu semuanya!”


“Apa maksudmu? Kau akan memberitahukan semuanya pada Ayahmu?” Tanya Bunda menatapku.


“Aku tahu, kenapa Diego pergi dari rumah. Bunda yang meminta dia pergi, sekarang Bunda buat aku jadi penyebab kecelakaan Diego, yang seolah-olah dia yang merencanakan ini semuanya.”


“Bunda lakuin semuanya buat Kamu, karena kita gak ada tempat di sini. Bunda hanya sebatas hubungan bisnis buat Ayah, Kamu.”


“Gak, Bunda. berhenti lakuin semuanya, dan, buktikan Kita bisa. Ayah gak seperti itu!”


“Jangan beri tahu Ayahmu! Sekarang Kamu keluar!” ucap Bunda menepuk bahuku. aku terdiam sejenak, aku tidak mengerti jalan pikiran Bunda.


Bunda selalu mengatakan bahwa semuanya, semua yang ia lakukan adalah buatku, padahal aku tidak memintanya melakukan semua itu, aku tidak tahu apa yang Bunda takutkan? Tapi yang jelas itu akan menghancurkan semuanya. Ayah akan mengetahui ini, apa Bunda pikir ayah akan diam saja.


Aku berlalu dari kamar Bunda, dan menuju kamarku sendiri. Aku tak melakukan apa-apa. Tapi di setiap waktuku, aku selalu merasa bersalah kepada Diego. Aku di sini menikmati semuanya, dengan Ayah dan Bunda yang selalu bisa kulihat, dan selalu bisa kuajak bicara. Sementara Diego di luaran sana, pasti dia merasakan kesepian, tanpa siapa-siapa.


Aku tahu banyak tentang Diego, karena aku meminta seseorang untuk mengikutinya tanpa sepengetahuannya. Dia akan sangat membenciku karena Bunda, dia bahkan enggan datang ke rumah. Ia hanya keluar ketika Ayah menemuinya. Ada rasa sakit, ketika kutahu Ayah sangat menyayanginya lebih dariku. Diego selalu menolak ketika Ayah memintanya kembali ke rumah.


Ayah jarang berbicara denganku, ia hanya menanyakan sesuatu yang penting saja. Seperti bagaimana sekolahku? Tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali. Ya, walaupun ia tak pernah menanyakan keadaanku, dan apa yang kurasakan. Aku sangat ingin dekat dengan Ayah tapi sesuatu yang di lakukan Bunda, selalu membuat Ayah menjauh.

__ADS_1


Seharusnya Bunda berhenti dan mulai memperbaiki semuanya. Tapi ia hanya diam saja seolah tak perduli. Ia tahu Ayah semakin menjauh, bahkan Ayah sama sekali tak pernah berbicara dengannya, kecuali ketika ada masalah. Saat itu baru ayah akan berbicara padanya. Tapi Bunda selalu menjadikan semuanya seolah-olah baik-baik saja dan tidak ada masalah.


 Bersambung,...


__ADS_2