PRIA Di Toko Bunga

PRIA Di Toko Bunga
Kesedihan


__ADS_3

 


 


Tak terasa waktu kian cepat berlalu, dan hari ini sudah satu tahun sejak kepergiannya. Ia pergi tanpa mengatakan apa-apa, tanpa pamit, bahkan tanpa memberitahuku apa aku harus menunggunya atau tidak?


Dia tidak mengatakan apa-apa. Aku mengetahui itu dari Rara. Aku tidak membencinya. Meskipun kepergiannya mengubah banyak hal dari diriku. 


Libur sekolah ini mengingatkanku akan banyak hal, aku merindukannya. Walaupun aku tidak tahu persis apa dia akan kembali. Rasanya aku ingin tahu, apa yang dia kerjakan, apa dia mengingatku, atau dia sudah memiliki orang lain?


Entah bagaimana nantinya, hanya saja aku tidak ingin membuka hati untuk siapa pun saat ini, aku begitu yakin suatu saat dia akan kembali. Meskipun mungkin kami tak akan bersama lagi.


Iqbal mengajakku bertemu di taman yang biasa kami datangi, dan mengatakan ada yang ingin dia bicarakan. Aku mengatakan akan menemuinya. Aku bersiap beberapa saat dan segera menuju kesana. Sesampainya disana kulihat dia sedang duduk dan seperti tengah memikirkan sesuatu. Entah apa yang dia pikirkan. Hanya saja dia tidak mendengar aku memanggilnya.


“Bal, Lo kenapa sih? Ngelamun dari tadi,” ucapku mengagetkannya, tapi belum membuatnya tersadar juga. Kembali aku memanggilnya dengan sedikit lebih keras, seketika dia terkejut saat aku memanggilnya sekali lagi.


“Hah? Iya, sorry,” katanya agak bingung.


“Lo kenapa ngajak gue ketemu?” tanyaku menatapnya.


“Ah, itu, anu—” ucapnya terpotong, entah apa yang sedang dia pikirkan.


“Apa sih Bal! gak jelas banget!” ucapku kesal, sementara yang di ajak bicara hanya nyengir kuda.


“Aku cuma pengen ketemu aja,” ujarnya lagi.


“Yaelah Bal, gue tuh sibuk tahu!” ucapku kesal pada Iqbal.


“Yah maaf,” ujarnya meyakinkan, kali ini aku menatapnya.


“Yaudah aku pulang yah!” ucapku.


“Kenapa sih Lin? Lo kecewa. Karena bukan Diego yang berdiri disini.”


“Apaan sih Bal, gue gak suka yah, Lo bahas tentang ini!” ucapku lantas akan berlalu.


“Gak bisakah! Lo liat gue! Kenapa selalu nganggep dia istimewa? hanya karena pertemuan singkat yang udah lama,” katanya yang kini bersuara.


“Aku minta maaf, Bal, aku pergi!” ujarku berlalu tanpa peduli dengan Iqbal yang berusaha mengatakan itu. Maafin aku yang buat kamu bingung dengan semua ini. Jangan maafin aku. Kataku yang mungkin tak bisa terdengar olehnya lagi.


Aku memang jahat, karena bersama kamu tapi kemudian pergi. Ini juga membingungkan untukku. Bertemu lagi dengan seseorang yang sempat kutunggu dan mengabaikanmu. Kau boleh membenciku.


Aku tidak terlalu baik untukmu Bal. temuilah seseorang yang lebih baik di luaran sana. Aku bukan perempuan itu, aku hanya perempuan egois. Aku menempatkanmu diposisi sulit. Karena itu aku harus membuatmu pergi.


“Dek, Lo dapet sms tuh!” kata Bang Rehan mengejutkanku, kulihat hp-ku ternyata yang mengirimiku pesan adalah pria waktu itu. Ada apa dia mengajakku bertemu?


“Kenapa Lo?” tanya Bang Rehan.

__ADS_1


“Gak kok, Bang!” ucapku tak ingin membuatnya khawatir.


“Oh, yaudah,” ujarnya singkat.


“Bang, hidup gue kayaknya rumit amat yak!” ucapku melirik ke arah Bang Rehan yang tengah duduk bersama Rara.


“Emang, udah itu sama sepupu gue lagi dua-duanya!” ucap Rara yang tengah sibuk memainkan hp-nya.


“Udah gak gue!” jawabku. Lantas mereka menatapku secara bersamaan.


“Idih, apaan sih!” kataku lagi yang merasa risih dengan tingkah keduanya.


“Yakin tuh!”


“Eh, ngapain sih Lo, disini terus!” ujarku menatap Rara.


“Latihan jadi ipar Lo!” sahutnya santai, sementara aku menatapnya heran tak mengerti.


“Oh iya, Bang, gue keluar bentar!” ucapku lantas berlalu tanpa mendengarkan pendapat Bang Rehan, aku langsung pergi menuju cafe yang di janjikan untuk bertemu.


Aku sampai lebih dulu dari orang yang mengajak kami bertemu. Sesampainya disana aku langsung duduk di tempat yang di tunjuk oleh pramusaji. Sepertinya tempat ini sudah dipesan khusus, sebab aku tak melihat siapapun di sana, kecuali mereka pekerja di Cafe. Mungkin mereka tidak ingin pertemuan ini terganggu.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pria itu datang dan meminta maaf sebelumnya karena sudah menyita waktuku. Langsung saja dia mengatakan bahwa aku di undang untuk pergi makan malam ke rumah wanita yang kemarin, katanya, itu sebagai ucapan terimakasih. Karena kemarin aku bersedia bertemu dengannya.


Aku pikir, dia tidak perlu melakukannya. Itu bukan untuk sesuatu yang besar. Tapi pria itu meyakinkan agar aku datang dan ia akan menjemputku malam ini.


Malam yang di janjikan pun telah tiba, pria itu menjemputku setelah aku memberitahukannya alamatku. Tentu saja, terlebih dahulu meminta ijin pada Abangku, jika tidak. Aku tidak akan keluar tanpa ijinnya. Karena aku adalah tanggung jawabnya.


Pria ini tidak banyak bicara, lebih tepat, tidak ada pembicaraan apa pun saat menuju kesana. Sepertinya ia adalah tangan kanan dari keluarga wanita itu, tentu, kurasa ia mungkin asistennya atau pengawal pribadinya.


Ini yang membuatku lebih merasa gugup, aku akan malam dengan keluarga Iqbal. Aku tidak mengenal siapa pun disana. Ya, hanya Iqbal, dan Diego putra mereka yang tak ada di rumah.


Kembali kesini sedikit mengingatku pada hari itu, saat Diego pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Bahkan rencana kepergiannya pun tidak kuketahui. Ah, sudahlah aku tidak perlu mengingatnya.


Aku berjalan masuk ke dalam rumah itu dengan Pak Min yang berjalan di depanku, dan aku mengikutinya di belakang. Kulihat disana ada Ayah dan Bundanya Iqbal. Pria tadi langsung memberi hormat kepada lelaki itu, setelah itu ia pun pamit.


“Selamat datang!” ucap wanita itu tersenyum ke arahku dan aku membalasnya tersenyum.


“Kudengar, Kau sudah lama bersama Iqbal? Kau kekasihnya?” tanya lelaki di sampingnya.


“Ya,” jawab Iqbal. Aku tidak mengerti akan maksud hal ini. Apa yang di katakan Iqbal baru saja? Mengapa ia mengatakan aku kekasihnya, bukankah waktu itu sudah jelas kami sudah mengakhirinya.


Makan malam selesai, dan aku langsung berpamitan untuk pulang. Aku merasa tidak nyaman akan pembicaraan tadi. Saat aku melangkah ingin keluar, tiba-tiba lelaki itu bertanya pada Iqbal dimana Diego? Mengapa ia tidak bergabung dengan acara makan malam ini?


Aku menghentikan langkahku dan menatap kearah Iqbal, dia lucu sekali. Ia tidak mengatakan bahwa Diego ada disini. Padahal dia tahu aku menunggunya. Aku menatapnya kesal meminta penjelasan. Tapi ia hanya diam saja.


Aku kembali melangkah keluar, saat kudapati seseorang telah berdiri di depanku. Ya, dia adalah Diego, kami sama-sama saling menatap tapi tak berbicara sama sekali.

__ADS_1


Aku merasa sangat marah, tapi aku merindukannya. Dua perasaan yang hadir secara bersamaan, dan itu membuatku ingin menangis, ia menghampiriku sekarang.


“Bagaimana makan malamnya? Kau sudah bertemu dengan Iqbal?” tanyanya tanpa merasa bersalah. Seketika Ayahnya pun langsung menghampiri kami dan bertanya apa kami saling mengenal.


“Kau mengenalnya?” tanya Ayahnya lagi.


“Tentu, aku mengenalnya, Dia adik iparku!” ucapnya tersenyum, aku langsung pergi dari sana.


Ya, aku mungkin salah karena telah menunggunya dan berharap ia akan kembali lagi denganku. Tapi apa yang ia katakan! Kau lihat, dia tak menganggapku sama sekali. Aku Cuma terlalu berharap pertemuan keduaku mungkin akan berbeda, aku pikir penantian ini akan sedikit lebih baik dan meninggalkan moment indah yang akan terus kau ingat. Tapi kau melihatnya, dia tak mengharapku sama sekali.


Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan, kenapa aku menunggunya? Padahal kutahu ketika dia pergi, dia tak mengatakan apa-apa. Ia bahkan tak meminta aku untuk menunggunya. Tapi aku menunggunya.


Siapa yang harus kusalahkan? Diriku sendiri, aku yang tak paham untuk memahaminya. Aku pikir, ini cinta sejati tapi ternyata hanya aku.


Pertemuan itu, kurasa mungkin aku juga salah. Dia tak pernah menyukaiku. Mungkin ia memang seperti itu pada semua orang, pada setiap pelanggan yang datang. Ya, aku tidak terlalu cukup dewasa untuk memahami itu semua dan menyebut itu cinta. Dan selama ini?     


Mungkin wanita itu benar, ia hanya menjadikanku alat untuk menjatuhkan Iqbal. Karena selama ini ia tak disana. Haha, ini benar-benar lucu dan diluar dugaanku.


Aku berlalu dari sana, kulihat Iqbal tengah berdiri di taman. Ia menatapku iba, itu membuatku sedikit merasa bersalah karena selama ini aku juga tak jauh berbeda dengan Diego, aku meninggalkannya karena merasa bertemu dengan cinta sejati yang sesungguhnya. Aku melangkah terlalu jauh dan aku sekarang dijatuhkan. Mungkinkah semuanya sudah di rencanakan sejak awal? Aku berjalan menghampirinya.


“Kamu gak apa-apa?” tanyanya masih menatapku.


“Gapapa, apa?” ujarku seolah tak mengerti.


“Kamu gapapa? kupikir ia sengaja melakukannya, ia tidak ingin Kamu berada diposisi yang tak nyaman,” ucapnya lagi.


“Aku gapapa, Bal, gak usah bahas itu lagi!”


“Jangan dipikiran yah!” ucapnya kembali menyadarkanku. Untuk sejenak aku kembali menatapnya.


“Kamu bilang kita pacarankah, Bal?”


“Iya—itu--,”


“Yaudah, ayok kita terusin!” ucapku tersenyum.


“Tapi....,” ujarnya terpotong menatap ke arahku.


“Kamu gak mau?” tanyaku menatap kearahnya.


“Aku mau, tapi Diego,..”


“Aku bakal coba lupain dia kok, lagi pula aku salah!” ujarku, tanpa menunggu jawabannya, aku langsung berlalu pergi. Karena kuyakin ini saatnya untuk berhenti mengharapkan sesuatu yang tak pasti.


“Terimakasih, Lin!” teriaknya di kejauhan, aku tersenyum mendengar itu, bagaimana pun aku akan mencoba membuka hatiku untuknya yang jelas-jelas mengharapkanku.


 Bersambung,...

__ADS_1


__ADS_2