PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Kabar duka


__ADS_3

Rafa duduk di kursi, kepalanya tertunduk. Ia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya saat Quenby tengah marah.


"Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi anak nakal, suka menantang, menunjukkan kehebatan di muka umum. Apa untungnya dengan seperti itu? jawab Rafa!" bentak Quenby marah. "Lihat aku, tatap mataku!"


Rafa mengangkat wajahnya menatap ke arah Quenby. "Momy..biar aku jelaskan, aku tidak seperti itu.."


"Terus saja membantah! semua yang di katakan gurumu adalah kebohongan? begitu maksudmu?" tanya Quenby. "Dan Dady mu hanya memberikan pengaruh buruk buatmu!"


"Cukup Momy!" seru Rafa lalu berdiri menatap tajam Quenby lalu beralih menatap Livian yang sedari tadi hanya diam.


"Aku tidak akan membela diri lagi, aku juga tidak perlu menjelaskan apa apa pada kalian. Tapi jangan salahkan Dady! sahut Rafa. "Di mana Momy ku yang dulu, Mom yang selalu ada buatku, selalu aku rindukan, selalu kunantikan pelukan hangat, tawa canda, di mana momy ku.."


Quenby menarik napas dalam dalam, ia palingkan wajahnya ke samping.


"Aku rindu Momy..aku sangat merindukannya..di mana Momy..di mana momy ku!!" bentak Rafa menatap tajam ke arah Livian.


"Rafa! kau anak terpelajar. Apa sepantasnya kau membentak ibumu?" tanya Livian akhirnya angkat bicara.


Rafa menggelengkan kepalanya, berjalan mundur.


"Aku tidak tahu kalian siapa, kalian begitu asing buatku. Aku tidak tahu kebohongan apa yang kalian sembunyikan dariku, aku tidak tahu..aku tidak tahu!" seru Rafa lantang lalu berlari meninggalkan mereka menuju luar rumah.


"Rafa!" panggil Quenby, lalu melangkahkan kakinya menyusul Rafa keluar rumah.


"Rafa..maafkan aku." Quenby memeluk tubuh Rafa dari belakang. "Bukan maksudku tidak mempercayaimu, aku hanya takut kau memilih jalan yang salah. Kau masih kecil sayang, apa salah? kalau aku mengkhawatirkanmu?"


"Momy tidak salah, aku yang salah. Maafkan aku, Momy. Aku berjanji akan membatalkan semua tantangan Tuan Albert." Sahut Rafa balik badan lalu membalas pelukan Quenby.


"Lusa aku akan meliburkan diri, bagaimana kalau kita jalan jalan?" tanya Quenby.


"Dad boleh ikut Mom?" tanya Rafa tengadahkan wajahnya menatap sang ibu.


"Tentu saja sayang, kita jalan jalan bersama. Ayah Livian juga pasti ikut bersama kita."


"Terima kasih Mom.." sahut Rafa kembali memeluk erat.

__ADS_1


"Sudah malam, sebaiknya kau tidur. Bukankah besok pagi kau harus sekolah?"


Rafa menganggukkan kepalanya, lalu mereka berjalan bersama kembali masuk ke dalam rumah.


"Tuhan, sesakit apapun hatiku. Aku tidak bisa membenci momy.." ucap Rafa dalam hati. "Aku tidak inginkan apa apa Tuhan, aku hanya ingin melihat kedua orangtuaku bahagia. Hanya itu Tuhan, mengapa hal itu sangat sulit?"


***


Keesokan paginya seperti biasa, keluarga Quenby sibuk mempersiapkan diri. Namun pagi ini ada yang beda, Livian terlihat sangat manis sikapnya seperti dulu kala.


Tiba tiba saja dia menghampiri Rafa yang tengah duduk di kursi meja makan, lalu mencium puncak kepalanya.


"Pagi sayang.' Sapa Livian lalu duduk di kursi.


"Pagi Ayah!" sahut Rafa.


"Bagaimana pengobatanmu? ada perubahan?" tanya Livian lalu mengambil gelas air mineral di atas meja.


"Baik, Dokter bilang aku pasti sembuh. Dan aku bisa punya anak lagi." Jawab Quenby.


Rafa tersenyum lalu menggelengkan kepala. "Tidak apa apa Ayah, aku mengerti." Sahut Rafa.


"Bagaimana kalau besok kita jalan jalan?" tanya Quenby.


"Boleh, aku ikut dengan kalian. Sekarang habiskan sarapanmu Rafa, biar aku yang mengantarmu sekolah." Lagi lagi Rafa hanya menganggukkan kepalanya.


Lima belas menit kemudian mereka telah selesai sarapan. Livian dan Quenby mengantarkan Rafa ke sekolahnya, sepanjang perjalanan Rafa hanya terdiam memperhatikan Livian dan Quenby berbincang bincang kadang di selingi candaan. Hingga tak terasa mereka telah sampai di depan pintu gerbang.


"Nanti siang, aku akan menjemputmu." Kata Livian menoleh ke belakang menatap ke arah Rafa.


Rafa menganggukkan kepalanya, lalu membuka pintu mobil. Ia melambaikan tangan saat mobil melaju meninggalkan sekolah.


"Rafa!"


Rafa menoleh ke arah belakang, nampak Elena berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"El?" sapa Rafa.


"Hai Rafa, selamat pagi!" sapa Audrey yang baru saja datang tiba tiba menghampirinya.


"Audrey." Kata Rafa.


"Rafa, kau punya waktu tidak?" tanya Audrey.


"Maksudmu?" tanya Rafa.


Sementara Elena hanya diam, dengan raut wajah kesal.


"Boleh? aku belajar bareng kau?" pinta Audrey menatap penuh harap.


"Tidak ada, Rafa hari ini belajar bersamaku. Besok belajar di rumahku dan besok, besoknya lagi!" seru Elena lalu menarik tangan Rafa memasuki halaman sekolah.


"Kau kenapa Elena?" tanya Rafa di sela sela langkahnya.


"Tidak apa apa, ayo masuk kelas!" sahut Elena.


Sesampainya di dalam kelas, mereka duduk di bangku. Tak lama kemudian Anna masuk ke dalam kelas dan meminta semuanya untuk tenang.


"Hari ini ada kabar buruk, teman sekelas kalian yang bernama Joy meninggal." Jelas Anna menceritakan apa yang telah terjadi pada Joy.


Semua murid terdiam, mereka tidak percaya kalau Joy telah tiada dan kematiannya sangatlah tragis.


"Bu! apakah Joy di bunuh?" celetuk salah satu siswa.


Anna hanya diam, tatapannya beradu pandang dengan Rafa. "Sebaiknya kalian keluarkan buku matematika." Anna terus menatap tajam Rafa tanpa berkedip sedikitpun.


Rafa sendiri tidak terganggu dengan tatapan tajam Anna. Ia terlihat santai, tenang, bahkan melemparkan senyuman ke arah Anna.


Anna mengerjapkan matanya, lalu mengaluhkan pandangan pada murid lain.


"Ketenangan yang anak itu perlihatkan bisa sangat mematikan." Gumam Anna dalam hatu.

__ADS_1


__ADS_2