
Jam pelajaran kuliah sudah selesai. Rafa dan Elena bergegas keluar dari ruangan menyusuri koridor sambil berbincang bincang.
"Elena, kau ikut ke rumahku. Aku punya sesuatu buatmu." Kata Rafa memulai perbincangan.
"Wah, kalau boleh aku tahu?" tanya Elena tersenyum mengembang, menoleh ke arah Rafa.
"Hadiah, aku yakin kau suka." Jawab Rafa.
"Iya, aku mau!" sahut Elena antusias.
"Rafa!!!"
Rafa dan Elena menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang. Nampak seorang siswa pria bertubuh tingga besar melangkah mendekati bersama gengnya. Semua anak anak menepi ke dinding, memberikan jalan untuk anak itu.
"Kau.." ucapnya menatap tajam ke arah Rafa.
"Ada apa?" tanya Rafa berjalan satu langkah mendekati anak laki laki itu.
"Dia ketua geng yang ada di kampus ini selain Aranza, mereka sering memeras dan membuli anak anak lain." Bisik Elena. "Daren, namanya."
"Kau anak baru, mana jatah kami!" todong Dareen.
"Jatah?" kata Rafa mengulang kata kata Dareen. "Aku tidak mau!" sahut Rafa tenang.
__ADS_1
Mendengar penolakan dari Rafa, Daren meminta salah satu anak buahnya yang bertubuh besar untuk menghajar Rafa.
"Gendut! beri dia pelajaran!" perintah Daren.
Si gendut maju ke depan, mencengkram kerah baju Rafa lalu mengangkat tubuhnya. Di benturkan ke kaca jendela ruangan hingga pecah.
"Prank!!"
Suara jeritan ketakutan anak anak perempuan, bersamaan dengan tubuh Rafa yang di hempaskan ke lantai. Elena kali ini diam, ia membiarkan Rafa melawan dan memberikan pelajaran kepada mereka.
"Bukk!!"
Daren dan kawan kawannya tertawa terbahak bahak memperhatikan Rafa yang berusaha bangun dan berdiri tegap. Saat tangan si gendut mengepalkan tinju ke wajah Rafa. Dengan sigap, Rafa menahan kepalan tangan si gendut dan memutarnya kebelakang hingga si gendut meringis kesakitan. Tangan kanan Rafa mengepal lalu meninju wajah si gendut hingga terjungkal ke belakang.
Kemudian anak yang tidak memiliki rambut, maju ke depan menerjang Rafa. Dengan sigap, Rafa menyambut terjangan si botak, hanya dengan satu pukulan di wajah si botak, akhirnya ambruk dan meringis kesakitan.
Melihat anak buahnya kalah, Daren maju mendekati Rafa. Hanya dengan memutar tubuhnya, kaki kanannya menerjang tubuh Daren. Rafa berhasil melumpuhkan Daren, lalu Rafa menarik tangan Daren supaya berdiri, tangan kirinya mengepal.
"Bukk!"
Satu pukulan mendarat di wajah Daren hingga terjungkal ke lantai. Rafa tersenyum sinis menatap Daren. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah kerumunan anak anak yang memperhatikannya dengan kagum. Sebelumnya, tidak ada yang berani melawan Daren ataupun Aranza. Rafa berjalan tegap, menuju kerumunan anak anak yang memberinya jalan.
"Mulai hari ini! tidak ada pemalakan tidak ada buli! jika besok aku masih mendengar kedua hal ini, maka kalian akan berhadapan denganku!!" ancam Rafa sambil terus berjalan, hingga langkahnya terhenti tepat di depan Aranza.
__ADS_1
Aranza menarik napas geram, menatap tajam Rafa. Lalu ia memerintahkan semua anak buahnya untuk meninggalkan tempat. Tepuk tangan dan pujian terdengar, di berikan anak anak kepada Rafa yang telah mempermalukan Aranza dan menghajar Daren.
"Kau tidak apa apa?" tanya Elena.
"Tidak apa apa, aku sudah biasa." Jawab Rafa. "Ayo kita pulang."
Elena menganggukkan kepalanya, menggenggam erat tangan Rafa dan berjalan bersama meninggalkan kampus.
"Ternyata mereka berkumpul di universitas ini." Kata Rafa di sela langkahnya.
"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya?" timpal Elena.
"Kalau mereka berkumpul di sini dan di biarkan melakukan diskriminasi teehadap pelajar lainnya. Kemungkinan dalang dari semua pembunuhan itu ada di sini juga. Bermain di belakang layar." Ungkap Rafa menoleh ke arah Elena.
Elena terdiam dan menghentikan langkahnya, menatap tajam ke arah Rafa. "Kau benar!"
"Yang harus kita lakukan adalah, mencari tahu tentang Universitas ini, siapa saja yang berdiri di belakangnya." Usul Rafa.
"Tapi itu tidak akan mudah Rafa, kita harus mencuri data data rahasia Universitas ini." Timpal Elena.
"Kau benar!"
Keduanya terdiam, saling pandang. Kemudian tertawa lebar. "Aku tahu!" ucap mereka serempak.
__ADS_1
"Hahahaha!" Elena tertawa terbahak bahak lalu merangkul bahu Rafa dan kembali berjalan bersama.