PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Merayu


__ADS_3

Rafa duduk di kursi dengan tatapan kosong, sesekali dia tersenyum. Teman di sebelahnya yang bernama deden menepuk pelan bahu Rafa. Rafa menoleh, menatap ke arah Deden yang mengerutkan dahinya.


"Kamu kenapa? dari tadi senyum senyum, padahal Pak Rahmat lagi tidak bercanda? jangan jangan kau memyukai Pak Rahmat?" bisik Deden pelan.


Rafa matanya menatap horor Deden, mendekap mulutnya sambil tertawa. "Dia sudah punya istri, mana mungkin aku menyukainya." Balas Rafa menggoda Deden, membuat pria kurus itu tak dapat menahan tawanya dan mengundang perhatian Rahman dan kawan kawan lainnya.


"Upss!" Deden kembali fokus setelah mendapatkan tatapan tajam dari Rahmat.


Semntara Rafa menoleh ke arah Sekar yang tengah memperhatikannya dengan malu malu.


"Aku punya ide, mungkin aku bisa mendekati sekar untuk mengetahui siapa ayahnya." Ucap Rafa dalam hati. Lalu Rafa tersenyum membalas senyuman Sekar, membuat gadis itu senang. Rafa kembali fokus menatap ke arah Rahmat, namun bukan memperhatikan pelajaran, tapi sibuk merangkai setiap peristiwa yang menimpa keluarganya.


Waktu terus berjalan, jam pelajaran telah selesai. Rafa membereskan bukunya lalu di masukkan ke dalam tas. Ia berdiri lalu mendekati Sekar.


"Hei.." sapa Rafa memberikan senyum modus nya pada Sekar.


"Hai Rafa, ke kantin yuk?" ajak Sekar sambil berdiri.


"Boleh! sahut Rafa tersenyum.

__ADS_1


Kemudian mereka melangkah bersama menuju kantin. Sesampainya di kantin, Sekar memesankan makanan untuk mereka berdua, lalu kembali duduk di samping Rafa.


"Rafa.."


"Iya?" sahut Rafa menatap ke arah Sekar.


"Kau sudah punya pacar?" tanya Sekar malu malu.


"Pacar?" Rafa teringat saat Elena mempertanyakan hal yang sama. Rafa tersenyum mengingat semua hal tentang gadis itu.


"Hei malah senyum senyum!" tepuk Sekar ke bahu Rafa.


"Bagaimana?" tanya Sekar.


"Aku, aku belum punya pacar." Jawab Rafa ragu.


"Kebetulan sekali, aku juga belum punya pacar." Sahut Sekar, menundukkan kepala lalu mengambil sendok, mengaduk aduk mangkok bakso di hadapannya.


Rafa terdiam, ia tidak tahu bagaimana caranya merayu seorang gadis. Bahkan ia tidak tahu kata kaya yang pas untuk di katakan kepada Sekar. Jika ia langsung bicara ke intinya, Rafa khawatir Sekar akan curiga.

__ADS_1


Kemudian Rafa mengingat semua rayuan Elena, gaya manja gadis itu. Dan bagaimana Elena memperlakukan Rafa. Perlahan tangan Rafa terulur, membenarkan rambut Sekar yang menghalangi wajahnya.


"Ih Rafa, kamu manis sekali.." puji Sekar tersenyum pipinya merah merona.


Sementara Rafa menjadi kikuk melihat sikap Sekar yang berlebihan. Kemudian ia alihkan pembicaraan untuk menutupi kebingungannya.


"Rangga itu saudara kandungmu?" tanya Rafa.


"Iya Rafa, dia kakak kandung aku." Jawab Sekar. "Rafa, kau makan baksonya. Nanti keburu dingin, tidak enak lagi."


"Oh iya lupa." Rafa mengambil sendok lalu mengaduk baksonya. "Kau tinggal dengan kakekmu, juga orang tuamu?" tanya Rafa hati hati.


"Ceritanya panjang Rafa, dan kalau di ceritakan itu membuatku sedih." Jawab Sekar, wajahnya cemberut.


"Oke, kau tidak perlu cerita sekarang. Kita makan bakso nya ya." Kata Rafa.


"Maaf ya Rafa." kata Sekar merasa tidak enak.


"Tidak apa apa, lain kali kau bisa cerita apa saja padaku." Rafa mengusap puncak kepala Sekar sesaat. Membuat gadis itu semakin terpesona dengan sikap Rafa yang lembut.

__ADS_1


"Aku harus mencari tahu, tapi tidak bisa terburu buru. Mungkin dengan caraku mendekati Sekar, aku bisa membebaskan Dad dari segala tuduhan." Gumam Rafa dalam hati.


__ADS_2