
Sudah hampir satu jam, Rafa menyetir mobil. Namun siapa sangka, Rafa bukan membawa Avram dan Elena ke rumah sakit tetapi menuju laut.
Sesampainya di sebuah jembatan, Avram kembali sadar. Ia menatap keluar jendela mobil dan bertanya. "Rafa, kau mau kemana?"
"Mengantarkan kalian ke neraka!" jawab Rafa.
Avram dan Elena terkejut, lalu berusaha membuka pintu mobil, namun semua pintu sudah terkunci.
"Kau mau membunuh kami?" tanya Elena.
Rafa menoleh ke belakang menatap Elena dan Avram bergantian. "Kau pikir aku percaya ucapan kalian?"
"Tapi aku sudah berkata jujur!! seru Avram marah.
"Jujur? kenapa kau jujur di saat nyawamu terancam? kenapa tidak sedari dulu kau jujur? kenapa kau biarkan kebohongan terjadi selama bertahun tahun?" Jawab Rafa.
"Rafa, aku-?"
"Diam! sudah terlalu banyak kalian bicara. Aku sudah tidak percaya apapun di dunia ini kecuali ibuku." Potong Rafa lalu menghajar wajah Avram yang sudah lemah, begitu juga Elena mendapatkan satu pukulan di wajahnya. Hingga mereka berdua jatuh pingsan.
Setelah itu ia keluar dari pintu mobil, dan membuka pintu mobil lainnya untuk mengeluarkan Quenby dari dalam mobil.
"Kau tunggu di sini Mom, jangan kemana mana." Ucap Rafa, lalu ia kembali membuka pintu mobil dan menyalakan mesinnya, memutar arah mobil menjauh dari tepi jembatan.
"Selamat jalan Dad..Elena..semoga kalian bahagia disana." Gumam Rafa memperhatikan Elena dan Avram lewat kaca spion.
Rafa yang sudah tidak percaya lagi, dan memutuskan mengakhiri hidup Avram dan Elena. Bahkan Rafa tidak percaya kalau ayahnya adalah Enzi Alexi Ortama. Rafa lebih meyakini apa yang ia pikirkan kalau Avram dan Elena bukanlah ayah dan anak angkat. Tanpa pikir panjang lagi, Rafa melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Mobilpun melaju cepat, sebelum menabrak pembatas jembatan. Rafa membuka pintu mobil dan keluar lalu berguling di jalan aspal.
__ADS_1
"Brakkk!!"
Mobil menabrak pembatas jembatan lalu meluncur deras ke bawah laut.
"Byurrrr!!!"
Mobil tenggelam ke dasar laut, Rafa berdiri lalu berlari ke tepi jalan raya memperhatikan ke bawah di mana mobil itu tenggelam.
"Matilah kalian semua, biarkan ibuku hidup tenang.." ucap Rafa pelan.
"Rafa!"
Rafa menoleh saat sentuhan tangan Quenby menyentuh pundaknya. "Momy?"
"Kau sedang melihat apa?" tanya Quenby.
"Kau membunuh ayahmu sendiri?" tanya Quenby tidak mengerti.
Rafa menceritakan semua kejadian yang baru saja terjadi, semua pengakuan Avram tidak terlewati, Rafa ceritakan semuanya.
Tiba tiba saja Quenby tertawa terbahak bahak, mengeluarkan senjata api di balik pinggangnya lalu ia arahkan kepada Rafa.
"Momy, apa maksudmu?" tanya Rafa menatap tajam ke arah Quenby.
"Kalau kau tega membunuh ayahmu, bukan hal yang tidak mungkin aku lah korban terakhir yang akan kau bunuh Rafa." Jawab Quenby.
"Klikk!!"
__ADS_1
Quenby mulai menarik pelatuk dan menahannya.
"Kalau memang aku mau membunuhmu, sudah kulakukan dari dulu Momy.." sahut Rafa.
"Kalau kau saja tidak percaya pengakuan Avram. Apa aku harus mempercayaimu Rafa? kalau aku hidup di antara manusia gila seperti mereka, apa kau satu satunya yang waras?" Quenby berjalan mundur kebelakang dua langkah, mengarahkan senjatanya ke kepalanya sendiri.
"Momy, apa yang akan kau lakukan?" tanya Rafa, berjalan perlahan mendekati Ibunya.
"Aku bukan ibu yang baik, aku perempuan bodoh. Harusnya aku mempercayai semua kata katamu, harusnya aku tidak membiarkan mereka membodohiku." Ungkap Quenby.
"Tidak Mom, kau tidak bodoh, kau juga tidak salah." Rafa berusaha menenangkan dan berjalan lebih dekat ke arah Quenby.
"Aku hanya ingin tahu satu hal, apakah benar? Avram bukan orang yang telah menodaimu?" tanya Rafa.
"Waktu ayahmu menodaiku, usiaku masih anak anak. Begitu juga dengan ayahmu, dia masih remaja. Aku bertemu dengannya hanya sekali, di malam itu saat dia mabuk dan menodaiku. Setelah itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Tiba tiba Avram datang dan mengaku kalau dia yang telah memperkosaku dan mengatakan kau adalah putraku. Aku berusaha menerimamu juga Avram meski hati kecilku tidak yakin. Rafa..apakah kau mau memaafkanku?"
"Tentu saja Momy..sekarang berikan senjata api itu padaku. Semua sudah berakhir, kita bisa hidup tenang. Hanya kita berdua, tidak ada yang lain. Aku menyayangimu, sangat menyayangimu.." Rafa mengulurkan tangannya, meminta dengan lembut senjata api di tangan Quenby. Perlahan Quenby menurunkan senjata apinya, lalu ia berikan kepada Rafa.
"Terima kasih Momy!"
Rafa melemparkan senjata api itu ke dasar laut, lalu memeluk Ibunya dengan erat.
"Kita pulang, lupakan semuanya dan Momy bisa hidup dengan tenang. Aku akan selalu menjagamu dengan nyawaku." Ucap Rafa pelan.
Quenby menganggukkan kepalanya, lalu melepas pelukannya. "Ayo kita pulang, makan bersama, main basket bersama!"
Rafa menganggukkan kepalanya, lalu meraih tangan Quenby dan menggenggamnya erat. Melangkah bersama meninggalkan tempat itu.
__ADS_1