PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Mr J?


__ADS_3

Rafa masih berada di dalam ruangan, berpikir keras. Ia masih tidak percaya dengan keterlibatan Avram atas serangkaian peristiwa yang dituduhkan padanya.


"Jika Dad mau mengorbankan putranya, buat apa Dady menyembuhkan sakitku sampai harus melakukan hal hal yang kejam?"


Kepalanya mulai berdenyut, lehernya terasa kaku. Rafa mulai merasakan pusing dan mual, otaknya serasa mau pecah. Kemudian ia mengambil air mineral di dalam gelas. Meminumnya sampai tetesan terakhir, lalu ia letakkan kembali gelas di atas meja.


Rafa kembali mengecek ulang semua file dan catatan kecil yang terselip di balik surat perjanjian. Di dalam catatan kecil itu terdapat tulisan tangan Avram. Dalam catatan kecil itu, Avram mengatakan kalau dia merencanakan pembunuhan itu, namun bukan dia lah pembunuh sebenarnya. Tertulis sebuah nama berinisial J.


"J?" gumam Rafa.


Yang lebih mencengangkan lagi adalah, selama ini Avram menyembunyikan rahasia tentang penyakit Rafa yang di deritanya. Sejak kecil Rafa sudah mengalami kelainan otak, dan berkembang menjadi kanker ganas. Avram harus menyediakan uang dengan jumlah fantastis untuk kesembuhan Rafa. Meski tim Dokter tidak menyatakan sembuh total, namun Avram mau melakukan apa saja demi kesembuhannya, demi untuk menebus kesalahannya, demi untuk tetap bersama putranya.


Yang lebih menyakitkan lagi adalah Avram menuliskan kalau putranya sewaktu waktu bisa mengalami kecacatan otak jika Rafa mengalami depresi dan tekanan akibat kesedihan yang berlebihan. Avram juga menuliskan, tidak hanya cacat otak, Rafa bisa saja gila jika mampu melewati semua itu.


"Ya Tuhan, begitu parahkah sakitku ini.." ucap Rafa lirih. "Jadi benar, apa yang di katakan Ayah Livian."


Tak terasa air matanya kembali menetes untuk kesekian kalinya. Dadanya terasa sesak, kepalanya berdenyut hebat. Kesedihan dalam hatinya tak mampu lagi ia tahan. Namun seketika ia berhenti menangis, teringat kata kata Avram dalam catatannya.


"Tidak, aku tidak boleh menangis lagi. Aku tidak boleh sedih lagi, aku tidak mau gila! hahahahahaha!!" Rafa tertawa terbahak bahak di sertai deraian air mata.


Tiba tiba Rafa berhenti tertawa dan buru buru menyeka air matanya. Kembali bersikap tenang seolah tidak terjadi apa apa.


"Tok tok tok!


"Masuk!"


Pintu terbuka lebar, seorang pria bertubuh kekar, berjalan mendekati Rafa lalu menyerahkan dokumen yang Rafa tunggu.


"Tuan, ini data data rahasia Universitas yang Tuan Muda minta."


"Terima kasih, kau boleh kembali." Jawab Rafa seraya mengambil dokumen di tangan pria tersebut.


"Terima kasih Tuan!" pria itu berjalan mundur lalu meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Akhirnya aku dapatkan.." gumam Rafa lalu membuka file di dalam dokumen itu.


Satu demi satu ia buka dan membacanya dengan teliti. Tidak ada yang aneh, namun di file berikutnya ia menemukan beberapa nama yang berada di belakang berdirinya Universitas itu.


Mata Rafa melebar saat menemukan sebuah nama berinisial J. "Tidak mungkin..ini tidak mungkin!"


Kemudain Rafa mulai mencari identitas lengkap tentang nama berinisial J, di layar monitornya. Fakta baru kembali terungkap siapa sebenarnya sosok pria yang berinisial J tersebut, dan apa hubungannya dengan kejadian itu semua.


"Ini tidak mungkin!" seru Rafa marah seraya menggebrak meja.


Rafa kembali fokus menatap layar monitor hingga selesai. "Semua ini sudah di rencanakan dengan sangat sempurna, tapi kesalahanmu adalah melibatkanku." Rafa kembali matanya melebar saat detik detik terakhir. "Dad!!"


Rafa langsung berdiri dan berlari keluar dari ruangan menuju halaman markas. Naik ke atas motor milik Elena yang sengaja di tinggalkan untuk Rafa pulang. Dengan kecepatan tinggi, Rafa melajukan motornya ke suatu tempat yang ia dapatkan di pencarian identitas mr J.


Dalam waktu 20 menit, Rafa telah sampai di sebuah jembatan. Ia menepikan motornya sembarangan, lalu membuka helm dan berlari ke arah seorang pria yang hendak terjun bebas ke bawah laut.


"Dady!!! Dady!!" Pekik Rafa terus berlari ke arah pria itu yang tak lain Avram yang hendak mengakhiri hidupnya. Karena Avram tidak akan sangguo hidup apabila putranya tahu kalau ialah yang telah merencanakan pembunuhnya. Avram sanggup kehilangan Quenby. Tetapi Avram tidak sanggup di benci putranya sendiri.


"Dad, bertahanlah!" seru Rafa menatap tubuh Avram yang berada di bawah.


"Lepaskan Rafa, aku tidak pantas hidup. Aku tidak pantas menjadi ayahmu. Aku ayah yang buruk!!" kata Avram.


"Tidak Dad! kau Dady terbaik yang pernah kumiliki!" seru Rafa menoleh ke arah jalan, nampak sebuah mobil menepi. "Tolong!"


"Rafa!!" seru Quenby keluar dari dalam mobil lalu berlari ke arahnya dan membantu putranya menarik tangan Avram naik ke atas jembatan.


"Bertahanlah!" seru Quenby, mengulurkan tangannya. "Pegang tanganku!"


Avram mencoba meraih tangan Quenby lalu menggenggamnya erat. "Cepat tarik Rafa!


"Iya Momy!" sahut Rafa kemudian mereka berdua terus menarik tubuh Avram dengan susah payah.


Usaha mereka berdua, akhirnya membuahkan hasil. Avram berhasil di tarik ke atas jembatan, kemudian ketiganya terjatuh ke jalan aspal.

__ADS_1


Quenby dan Rafa bangun dan memeluk Avram dengan erat. "Kau bodoh sekali melakukan hal ini!" rutuk Quenby sambil terisak.


"Maafkan aku, Quen..Rafa..aku tidak sanggup kalau kalian membenciku." Jawab Avram.


"Mengapa aku harus membencimu? kau bodoh sekali!" umpat Quenby kesal. "Kau pergi begitu saja dari kantor Polisi, bukankah sudah kubilang aku akan membebaskanmu."


"Quen, masalahnya. Aku-?" Avram tidak melanjutkan ucapannya karena Rafa sengaja mencubit tangan Avram cukup kencang sebagai kode untuk tidak mengatakan apapun kepada ibunya.


"Awwww!!" pekik Avram kesakitan.


"Kenapa kau menjerit?" tanya Quenby melepas pelukannya.


"Rafa mencubitku, sakit sekali." Jawab Avram.


"Itu hukuman buat Dad, karena sudah melakukan tindakan bodoh!" rutuk Rafa.


"Tambah lagi hukumannya buat ayahmu, sudah bikin kesal!" timpal Quenby.


"Tenang Momy, hukuman Dad kita tambah di rumah saja. Sekarang kita pulang, aku lapar sekali." Pinta Rafa.


"Kau juga sama nakalnya seperti Dady kamu. Sudah kubilang jangan pulang telat, aku tungguin kau tidak pulang juga!" balas Quenby semakin kesal. "Kalian berdua harus aku hukum!"


"Hahaha!" Avram dan Rafa tertawa terbahak bahak melihat wajah Quenby yang cemberut. Lalu mereka berdua memeluk Avram dengan erat.


"Sudah lama kita tidak bersama sama seperti ini, aku sangat merindukan situasi ini." Ungkap Avram.


"Maafkan aku yang terlalu sibuk dan tidak sempat memikirkan kalian. Perasaan kalian, aku terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri." Timpal Quenby.


"Rafa maafkan kami..kami berjanji tidak akan seperti itu lagi. Mulai sekarang, apapun yang terjadi kita harus saling terbuka dan selalu bersama sama."


Quenby mengulurkan telapak tangannya, di sambut tangan Avram dan Rafa. Ketiganya saling berpegangan tangan dengan erat.


"Hari ini berjanji, besok Momy melupakan janjinya. Hari ini Momy mau menemaniku, besok sudah pasti akan lupa dengan semua janjimu, Mom..tapi tidak apa apa. Aku tetap menyayangi kalian berdua." Ucap Rafa dalam hati. "Selagi aku masih bisa bernapas, akan kulakukan apapun itu "

__ADS_1


__ADS_2