PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
pesta orang bodoh 2


__ADS_3

Sesampainya di halaman kelab. Elena turun dari atas motor bersamaan dengan Rafa. Lalu melepas helm mereka masing masing dan di letakkan di atas motor.


Rafa mengerutkan dahi menatap raut wajah Elena yang terlihat pucat. "Kau baik baik saja?"


"Awalnya aku baik baik saja, tapi setelah mendengar kau menyanyi. Aku sedikit kehilangan rasa percaya diriku." Jawab Elena sambil merapikan rambutnya.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Rafa khawatir.


"Cium aku!" sahut Elena memajukan bibirnya, matanya terpejam.


Rafa menarik wajahnya, memperhatikan bibir Elena lalu tertawa kecil. "Baiklah, akan aku penuhi semua keinginanmu, Elena."


"Cup!


Rafa memcium bibir Elena sekilas, "sudah!"


"Kurang!" mata Elena terbuka dengan bibir masih dalam posisi seperti tadi.


"Sudah, jangan banyak banyak. Nanti kau mabuk!" sahut Rafa sekenanya sambil mengacak rambut Elena.


"Mabuk?" Elena menarik wajahnya.


"Iya mabuk, apa kau mau?" tanya Rafa.


"Hey Rafa, setahuku ciuman bisa membuatmu nyaman bukan mabuk." Jawab Elena di akhiri tertawa lebar.


"Ah lupakan, ayo kita masuk!"


Elena meraih tangan Rafa dan menggenggamnya erat, lalu mereka melangkah bersama.Suara hingar bingar musik mengentak-entak membuat telinga bising terdengar dari halaman kelab.


Sesampainya di dalam kelab Aroma nikotin juga alkohol terasa menyengat dari berbagai sudut ruangan. Manusia terkurung dalam mimpi dan halusinasi menelan tanpa jeda hingga kelelahan dan membentengi diri dengan topeng kemunafikan hanya untuk bertahan hidup. Atau sekedar berpura pura bahagia karena rasa sakit yang di dera.


"Kita ke sini mau apa, Rafa?" tanya Elena.


"Apakah kau lupa? malam ini pesta ulang tahun Aranza?" Rafa mengingatkan.

__ADS_1


"Astaga, aku lupa!" Elena menepuk keningnya sendiri.


"Ayo!" Rafa mengajak Elena menuju kerumunan orang yang tengah menari di lantai dansa. Lalu duduk di kursi sudut ruangan kelab.


"Di mana Aranza?" tanya Elena.


"Itu!" tunjuk Rafa ke arah dua saudara tengah menari bersama yang lainnya.


Aranza yang menyadari kehadiran Rafa dan Elena. Terlihat berjalan mendekat, di ikuti Valeri dari belakang.


"Kau datang juga, ternyata cukup bernyali rupanya." Sapa Aranza dengan nada cemooh.


"Apa kau mulai takut?" tanya Rafa menatap tajam ke arah Aranza.


"Kau bercanda," ucap Aranza. "Aku, putra Mr J tidak pernah merasa takut dengan siapapun. Apalagi dengan anak kecil sepertimu!"


"Oya? adikmu cantik juga. Boleh kujadikan pacar?" goda Rafa, membuat Elena yang ada di sampingnya cemberut.


Aranza tertawa kecil, mendekatkan wajahnya ke arah Rafa. "Langkahi dulu mayatku."


"Kurang ajar! kau pikir siapa?" bentak Aranza sambil menggebrak meja.


"Aku memang bukan siapa siapa, tapi sebentar lagi menjadi siapa siapa!" Jawab Rafa.


Sikap Rafa yang santai, jawaban Rafa yang menyulut emosi Aranza. Membuat Aranza semakin panas dan merasa di rendahkan.


"Beri dia pelajaran!!"


Salah satu anak buah Aranza maju dan melayangkan tinju ke arah Rafa. Dengan sigap Rafa menangkap tangan pria tersebut, lalu berdiri dan memutar tangannya, hanya dengan satu hentakan, ia kemparkan tubuh pria tersebut ke arah meja lain.


"Gubrakk!!"


Aranza menarik napas panjang, menatap marah kearah Rafa. "Serang!"


Suara musik Dj terus terdengar, bersamaan dengan suara gaduh perkelahian antara Elena, Rafa, melawan anak buah Aranza. Yang menari di lantai dansa sama sekali tidak terganggu awalnya, namun lama kelamaan mereka berhenti dan memperhatikan mereka yang tengah bertarung. Lama kelamaan diantara mereka bertaruh siapa yang akan menjadi pemenangnya

__ADS_1


Satu persatu anak buah Aranza, di buat tak berdaya oleh Rafa dan Elena. Tepuk tangan terdengar riuh. Lalu mereka meminta Aranza untuk melawan Rafa.


"Majulah!" tantang Aranza yang sudah tersulut amarah.


Rafa hanya diam, lalu tersenyum sinis. Sikap tenang, pergerakan yang tak terduga, menjadikan Rafa tidak dapat di kalahkan dengan mudah.


"Rasakan ini!"


Aranza maju dan menerjang tubuh Rafa dengan kaki kanannya, namun hanya dengan tangan kiri Rafa berhasil menangkap kaki Aranza lalu memutarnya, di hempaskan kesamping, menubruk meja dan kursi.


"Brakkk!


Aranza kembali bangkit dan menyerang Rafa kembali. Namun berkali kali, usahanya gagal. Giliran Rafa maju, hanya dengan menggunakan sikut tangannya, menghantam wajah Aranza. Anak itu tersungkur ke lantai, darah segar mengalir di hidungnya. Rafa membungkukkan badannya, mencengkram kerah baju Aranza dan berbisik di telinga Aranza.


"Katakan kepada Mr J, keluarlah..aku menantangnya duel sampai mati.


Setelah berbisik di telinga Aranza. Tubuhnya di angkat lalu di hempaskan ke arah meja.


"Brakk!"


"Sampaikan pesanku, Aranza!" seru Rafa. Lalu meraih tangan Elena dan beranjak pergi meninggalkan kelab, di iringi tepuk tangan dan pujian karena telah mengalahkan Aranza hanya dengan satu pukulan saja.


Sesampainya di luar kelab. Elena baru bersuara lagi. "Rafa, apa kau sudah mengetahui Mr J itu siapa?"


Rafa menggelengkan kepalanya. "Sebentar lagi, aku pasti tahu. Bersiaplah Elena.."


"Bersiap? apa maksudmu?" tanya Elena.


"Bersiap menjadi kekasihku Elena." Goda Rafa.


"Ih kamu ya! bikin aku takut saja!" sahut Elena mencubit gemas pinggang Rafa.


"Aww sakit Elena!" sahut Rafa.


"Biarin! ayo kita cari makan, aku lapar!" usul Elena lalu menggunakan helmnya.

__ADS_1


"Baiklah!"


__ADS_2