
Livian di bantu Avram terus mencari bukti tentang dugaan yang mengarah pada sosok Rafa. Livian bukan ingin menjebloskan Rafa ke penjara, akan tetapi ingin membuktikan kalau Rafa memang mengalami gangguan psikopat dan harus di tangani dengan cepat sebelum Rafa menjadi dewasa dan tambah liar.
Namun Livian tidak mempertimbangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari baik dengan Rafa atau dirinya sendiri. Berbeda dengan Avram, membantu Livian hanya ingin membuktikan kalau Rafa tidak bersalah dan tidak dalam gangguan psikologi apapun.
Livian membuka kasus lama, tentang kematian joy dan kakaknya di cafe. Ia juga mencari keberadaan Albert yang menghilang begitu saja setelah melakukan tantangan yang berbahaya kepada Rafa. Tidak hanya itu, Livian pergi ke rumah sakit dan meminta info hasil visum kematian orang orang yang pernah bersinggungan dengan Rafa.
Berbeda dengan Avram, ia pergi ke psikiater handal. Mencari tahu apa itu tentang gangguan kejiwaan atau yang di sebut psikopat. Setelah mengantongi berbagai informasi yang akurat. Avram berusaha menyelidiki tingkah laku Rafa.
Avram mulai mendekati Quenby untuk di ajak kerjasama memperhatikan prilaku Rafa sehari hari, dari kebiasaan dan emosi Rafa yang tampil tenang namun terkadang emosinya meledak ledak kalau anak itu sedang merasakan kesedihan.
Sorenya Avram datang ke rumah Quenby dengan membawa seekor kucing lucu untuk di berikan pada Rafa. Menurut psikiater, kalau anak yang mengalami gangguan psikopat, kerap menyakiti binatang ataupun dirinya sendiri, terkadang melakukan buly terhadap orang lain. Yang menderita psikopat menyukai hal hal yang menyakitkan dan itu adalah kesenangannya. Namun sejauh ini, Avram maupun Quenby tidak menemukan gejala yang di sebutkan Avram berdasarkan keterangan Psikiater.
Rafa lebih cenderung memiliki kepribadian ganda, tetapi ia tidak pernah menyakiti binatang atau membuly orang lain. Di balik sikap Rafa yang seperti itu, tanpa di sadari Quenby atau Avram sekalipun apalagi orang lain. Rafa memiliki kepribadian lain dan hanya Elena yang tahu.
Gadis itulah yang memahami bagaimana Rafa, kepribadian Rafa selama ini. Oleh sebab itu, Elena selalu berhasil menenangkan Rafa di situasi apapun.
"Dad membawakanku kucing yang lucu, dia pikir aku gangguan jiwa. Dan Momy? ikut meng-iya kan apa yang jadi pemikiran Dady!" ucap Rafa kesal.
__ADS_1
Elena berdiri dari tempat duduknya, lalu berdiri di hadapan Rafa. Meraih kedua tangannya dan menggenggam erat.
"Orang tua, pasti inginkan yang terbaik buat anaknya. Meski terkadang di mata kita salah caranya." Jawab Elena tersenyum.
"Bukan makanan yang kusuka selalu tersaji di meja makan, bukan pakaian mewah yang aku inginkan. Tapi sentuhan tangan Momy, pelukan hangat, belaian tangannya saat aku benar benar terpuruk oleh perasaanku sendiri. Itu yang aku inginkan, tapi mereka tidak pernah memahaminya." Ungkap Rafa dengan mata berkaca kaca. "Bukan masalah yang setiap hari di pertontonkan, keributan dan pertengkaran."
"Tapi Rafa, semua itu sudah berlalu. Sekarang Momy kamu hidup tenang bersamamu." Timpal Elena.
"Terlambat, aku sudah terlanjur kecewa. Mungkin lebih baik aku diam, yang terpenting bagiku, Momy and Dady bisa bahagia dengan caranya sendiri dan aku sudah tidak perduli lagi." Balas Rafa kembali duduk di bangku.
"Bohong, bukan kau yang bicara. Tapi kekecewaanmu. Aku yakin, kau tidak bakalan tega melihat kedua orang tuamu menderita dan satu sama lain saling menyakiti." Elena kembali menepis semua pengakuan Rafa.
"Tentu saja aku tahu, karena aku tidak menilaimu dari ucapanmu." Elena jongkok di hadapan Rafa.
"Lalu?" tanya Rafa menatap kedua bola mata Elena.
"Ini!" Elena menunjuk ke dada Rafa. "Aku membaca dari isi hatimu, bukan bibirmu yang selalu menyangkal bahwa kau tidak perduli. Aku tahu kau kuat dan anak yang tangguh. Aku tahu kau rela apapun demi orang tuamu."
__ADS_1
"Elena.."
"Iya?" Elena berdiri lalu duduk di samping Rafa.
"Elena.." panggil Rafa lagi.
"Aku di sini Rafa!" sahut Elena kesal lalu menarik wajah Rafa supaya menghadap ke arahnya. "Katakan, apa kau mau bilang bahwa Elena adalah gadis yang paling mengerti kamu, dan kamu mrncintaiku." Mata Elena terpejam dan tersenyum menunggu reaksi Rafa.
"Tidak!" sahut Rafa.
"Whatt!!" Mata Elena terbuka menatap horor ke arah Rafa yang hanya tertawa kecil.
"Kau aneh sekali Elena, kenapa kau bersikap seperti itu dan bicara aneh aneh?" tanya Rafa.
"Itu bukan keanehan Rafa, itu cinta!" sahut Elena lalu berdiri dan melangkahkan kakinya.
"Cinta lagi cinta lagi, cinta itu makanan apa Elena! goda Rafa di akhiri tertawa lebar lalu berdiri memperhatikan Elena yang merentangkan kedua tangannya. Wajahnya tengadah menatap langit dan berputar pelan.
__ADS_1
"Cinta itu indah Rafa, meski selalu menghadirkan luka. Suatu hari nanti kau akan mengerti apa itu cinta, saat cinta tak lagi bersamamu, tak lagi ada di dekatmu!!" seru Elena.
Rafa terdiam mendengar penuturan Elena. Ada yang ganjal di setiap kata kata yang Elena ucapkan. Namun Rafa masih belum memahaminya.