PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Pembalasan 1


__ADS_3

Quenby kembali tertidur pulas setelah merayakan ulang tahunnya berdua dengan Rafa. Hadiah terindah yang di berikan putranya cukup membuat Quenby terharu. Sebuah lukisan, di mana lukisan itu menggambarkan cinta seorang anak kepada ibunya.


Sementara Rafa kembali ke kamarnya. Ia berbaring di atas tempat tidur, memikirkan Avram yang tidak biasanya lupa hari ulang tahun Quenby.


Terdengar suara pintu balkon dikamarnya di buka seseorang. Rafa berpura pura menejamkan mata, namun pendengarannya tajam, menangkap setiap pergerakan. perlahan seseorang berhasil membuka pintu balkon kamar, terdengar suara langkah kaki mendekat. Lalu berdiri di tepi ranjang, terdiam cukup lama. Dan seseorang itu tidak lain adalah Elena yang menyelinap ke dalam kamar Rafa.


Elena terdiam menatap wajahnya cukup lama. Lalu ia membungkuk, mengambil bantal di sebelah Rafa. Saat ia hendakembekap wajah Rafa dengan bantal tersebut, dengan sigap Rafa menarik pinggang Elena lalu ia hempaskan ke atas tempat tidur. Posisi Elena berada di bawah tubuh Rafa.


"Kau berniat membunuhku? atau kau merindukanku?" tanya Rafa tersenyum sinis menatap wajah Elena.


"Aku tidak pernah merindukanmu, aku hanya ingin membunuhmu?" jawab Elena dengan tatapan marah.


"Lalu? kenapa kau tidak lakukan? aku tidak akan melawanmu." Rafa semakin mendekatkan wajahnya di wajah Elena, hingga hembusan napasnya terasa dingin.


"Bisa saja aku lakukan dengan mudah, tapi-?"


"Tapi kau mencintaiku Elena, kau tidak akan sanggup membunuhku." Potong Rafa.


"Cih!" Elena menanggapi dingin pernyataan Rafa.


"Jangankan membunuhku, membunuh lalatpun kau tak sanggup. Selama ini kau hanyalah alat, tapi sama sekali kau tidak menyadari itu. Kau bangga telah melakukan hal yang memang tidak kau lakukan. Kau rela menyerahkan kesucianmu padaku. Aku menjadi sangat tersanjung Elena." Ungkap Rafa panjang lebar.

__ADS_1


"Kenapa kau bunuh teman temanku Rafa?" tanya Elena.


"Kenapa kau pertanyakan itu? seharusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri. Mengapa kau libatkan mereka ke dalam lingkaran setan." Kata Rafa tersenyum menyeringai.


"Berapa harga dirimu kau jual, hanya demi uang? kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau butuh uang? bukankah paman Sheblak kaya raya? lalu mengapa kau mencari uang dengan menjual dirimu?"


Elena memalingkan wajahnya, tidak menanggapi kata kata Rafa.


"Lihat aku!" bentak Rafa. "Apa kau sudah tidak sanggup menatap wajahku lagi? seperti yang biasa kau lakukan padaku?"


"Menyingkir dari tubuhku!" pekik Elena pelan.


"Tidak akan pernah, karena aku menginginkanmu malam ini, Elena.." Bisik Rafa di telinga Elena. "Bukankah kau datangi kamarku, menginginkan hal yang sama Elena?"


Sebelum Elena melanjutkan ucapannya. Rafa sudah lebih dulu menyentuh bibir Elena dengan liar. Awalnya Elena menolak, tapi bahasa tubuh tidak dapat menolak ciuman panas Rafa. Akhirnya Elena mengikuti setiap gerakan Rafa tanpa ada penolakan lagi.


Malam ini, Rafa menghabiskan waktu satu jam bermain di atas ranjang bersama Elena sampai dia puas.


Satu jam berlalu, permainan mereka selesai. Rafa langsung bangun dan turun dari atas tempat tidur. Mengambil pakaiannya lalu ia kenakan lagi. Setelah itu ia menarik tangan Elena supaya turun dari atas tempat tidur. Memaksa gadis itu untuk menggunakan pakaiannya lagi.


Setelah itu menyeret paksa tangan Elena dan mengusirnya dari rumahnya tanpa ada rasa kasihan lagi, seperti dulu yang pernah mereka rasakan.

__ADS_1


"Pergi kau dari rumahku, aku sudah puas dan tidak membutuhkanmu lagi." Kata Rafa mendorong tubuh Elena keluar dari pintu lalu menutupnya kembali.


"Rafa..kau bisa setega ini padaku..." ucap Elena dalam hati.


***


"Rafa..apa kau bisa membantuku?" tanya Quenby, duduk di kursi meja makan. Wajahnya terlihat pucat dan lesu.


"Tentu Momy, apapun akan aku lakukan." Jawab Rafa. "Momy sakit?"


"Aku sedikit pusing sayang, sepertinya aku tidak bisa bekerja hari ini. Sementara pekerjaanku banyak." Kata Quenby mengusap wajahnya pelan.


"Momy istirahat, nanti kuantarkan ke dokter. Soal pekerjaan biar aku yang urus." Usul Rafa.


"Terima kasih sayang!" Quenby mencium pipi Rafa, lalu beranjak dari kursi kembali ke kamarnya.


Rafa menghabiskan sarapannya, lalu beranjak dari kursinya. Melangkahkan kaki keluar dari rumah dan memutuskan untuk menyelesesaikan pekerjaan di cafe milik Quenby.


Sebelum Rafa ke kafe, ia lebih dulu menemui Aluna dan gengnya yang berada di markas. Sudah sejak satu jam yang lalu mereka menunggu kedatangan Rafa.


Tak lama kemudian Rafa datang ke markas itu, dan mereka terlibat perbincangan serius. Aluna menyerahkan beberapa foto yang berhasil ia curi sewaktu pengintaian atas perintah Rafa.

__ADS_1


Satu jam berlalu mereka berbicara serius. Rafa kembali meninggalkan markas menuju kafe milik Quenby.


__ADS_2