
Entah sudah berapa lama Quenby menangis di kamarnya, ia sama sekali tidak menduga kalau Livian sudah mengkhianatinya.
"Tidak Quen, kau tidak boleh lemah. Mungkin ini jalan yang terbaik untukku." Gumam Quenby menyemangati dirinya sendiri seraya mengusap air matanya.
"Rafa.." Quenby mulai sadar dan teringat akan putranya. Untuk pertama kalinya ia menampar putranya, Quenby merasa sangat menyesal lalu ia keluar dari kamar mencari keberadaan Rafa.
Di luar kamar, Quenby berpas pasan dengan Karina. "Bu, di mana Rafa?" tanyanya.
"Aku juga mencarinya." Jawab Karina. "Aku sudah mencarinya, tapi tidak ada di semua ruangan."
"Rafa!" Panggil Quenby putus asa, dadanya sesak perasaan menyesal menyelimuti dalam dadanya.
"Mungkinkah, Rafa pergi ke rumah Avram?" pikir Karina.
"Avram?" ucap Quenby, lalu ia bergegas berlari ke luar rumah dan memutuskan untuk mencari Rafa di rumah Avram.
Quenby melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sepanjang jalan ia terisak merutuki kebodohannya.
"Maafkan aku, Rafa..maafkan aku.."
Pengalaman adalah guru terbaik, sekuat apapun menggenggam harapan dan impian akan kalah oleh kenyataan. Quenby menyadari kesalahannya, mengakui kelemahannya. Sekuat apapun perempuan mampu menaklukkan dunia, mampu membuat pria manapun bertekuk lutut di hadapannya, tetapi perempuan tetaplah perempuan yang tidak lepas dari kodratnya sebagai perempuan.
Tak lama kemudian ia telah sampai di halaman rumah Avram. Quenby bergegas keluar dari pintu mobil dan berlari menuju rumah Avram. Ia langsung masuk ke dalam rumah karena pintu terbuka dengan lebar.
"Avram?"
Quenby terkejut mendapati Avram dalam keadaan terluka di sekitar wajahnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Quenby duduk di kursi.
"Quen, aku-?"
"Apakah Rafa kesini?" Quenby memotong ucapan Avram.
"Tidak ada, kemana Rafa? apa yang terjadi?" tanya Avram balik dengan raut wajah cemas.
"Aku tidak tahu, tadi itu..? Quenby menceritakan apa yang terjadi saat perayaan pesta ulang tahun Rafa.
"Apa? kau menampar Rafa? tega sekali kau lakukan itu pada putraku!" bentak Avram lalu berdiri.
__ADS_1
"Dia putraku juga! aku yang mengandung dan melahirkannya!" balas Quenby lalu berdiri menghadap Avram.
"Kau tidak bisa menjaga putramu sendiru!" bentak Avram.
"Kau menyalahkanku? semua ini gara gara kau! andai saja kau tidak menolak menikah denganku, dan tidak menghadirkan wanita lain. Mungkin tidak seperti ini! dan sekarang kau menumpahkan kesalahanmu padaku!!" seru Quenby tidak mau kalah.
"Quen, bukan aku tidak mau menikah denganmu, tapi-?"
"Seharusnya kau yang mengusap air mataku, seharusnya kau juga yang menjadi sandaran aku. Tapi kau sulit sekali aku jangkau..apa salahkuuu!!! jerit Quenby sambil menepuk nepuk dadanya sendiri.
"Quen! Avram menarik bahu Quenby lalu memeluknya dengan erat. Membiarkannya menangis di dalam pelukannya.
"Maafkan aku..kita perbaiki hubungan kita. Aku mau berjuang sama sama denganmu, kita rawat Rafa bersama sama. Bisa?" tanya Avram.
"Aku tidak tahu." Jawab Quenby melepas pelukannya. "Kita cari Rafa dulu, aku takut sesuatu terjadi padanya." Usul Quenby.
"Baiklah, ayo!" Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari Rafa.
***
Sementara di tempat lain, di sebuah taman kota. Elena mengajak Rafa ke taman itu untuk menenangkannya setelah peristiwa di pesta ulang tahunnya.
"Aku tahu.." sahut Rafa dengan tatapan kosong.
"Bukankah kita berada di sini juga karena sebuah alasan? apa bedanya dengan keluargamu?" balas Elena.
"Semua orang punya alasan, masa lalu, kau tidak bisa menyalahkan keadaan karena kesalahan orang lain. Om Livian, Om Avram dan Tante Quenby, pasti memiliki masa lalu yang buruk. Kau harus mengerti itu, Rafa." Bujuk Elena lagi.
"Apakah aku yang harus selalu mengertj mereka? sedangkan mereka tidak pernah mengerti aku." Jawab Rafa kesal.
"Aku tahu, tapi percayalah. Mereka sangat menyayangimu, inginkan yang terbaik. Jangan pernah kau benci keluargamu, karena keluarga tempat kau pulang."
"Elena.." Rafa menoleh, menatap kedua bola mata coklat milik Elena.
"Iya?" sahut Elena.
"Tidak apa apa, aku hanya memanggil namamu saja." Jawab Rafa tertawa kecil.
"Pukk!"
__ADS_1
Elena menepuk keningnya sendiri, lalu mencubit gemas hidung Rafa.
"Aku dari tadi bicara serius, kau malah bercanda." Rutuk Elena.
"Aku bosan bicara serius, aku ingin sesuatu darimu?" Rafa kembali menatap kedua bola mata Elena.
"Apa? katakan padaku, apapun yang kau minta akan kuberikan termasuk hati dan jiwaku." Elena tersenyum tipis, berkali kali mengerlingkan matanya.
"Maukah kau menjadi sahabat yang bisa di ajak gila bersama?" tanya Rafa.
Elena menarik napas panjang, bibirnya mengerucut lalu berdiri tegap.
"Kapan kau mau bicara serius? dari tadi bercanda terus." Kata Elena kesal.
"El, aku tidak mau menjadi dewasa, lagipula aku masih anak anak. Kau tahu itu bukan? memangnya kau mau apa dariku?" tanya Rafa lalu berdiri menghadap Elena.
"Cintamu, hatimu, jiwamu, seemuanya!" kata Elena sambil tertawa lebar.
"Aku tidak mengerti ucapanmu, yang jelas aku lapar!" jawab Rafa.
"Baiklah, kalau begitu kita makan!" Elena menggenggam erat tangan Rafa. Hatinya menjadi sangat senang saat berdekatan dengan anak itu. Meski apa yang di rasakan Rafa biasa saja, namun Elena tidak perduli sama sekali.
"Rafaaa!!"
Rafa dan Elena menoleh ke arah suara, nampak Quenby dan Avram menghampiri mereka.
"Dad, Mom?" sapa Rafa.
"Sayang, aku mencarimu. Kau membuatku khawatir." Quenby memeluk Rafa erat. "Maafkan aku sudah menamparmu. Maukah kau memaafkanku, sayang?" ungkap Quenby.
"Tidak apa apa Mom, lupakan saja." Jawab Rafa lalu melepaskan pelukan Quenby.
"Elena, sekali lagi terima kasih." Kata Quenby.
"Sama sama Tante!" sahut Elena.
"Mom, aku lapar. Bisakah kita makan?" usul Rafa.
"Tentu sayang, ayo Elena. Kita makan bersama." Ajak Quenby.
__ADS_1
Elena menganggukkan kepalanya, lalu mereka berjalan bersama meninggalkan taman.