
Avram sama sekali tidak tahu siapa mereka yang telah membawanya pergi dari rumah sakit. Setibanya di pelabuhan, Avram di perintahkan keluar dari pintu mobil menuju sebuah kapal yang sudah di sediakan.
"Tuan Ava?!! seru Avram terkejut karena yang menyelamatkannya adalah Ava, ayah Quenby.
"Ayo, jangan bicara kita. Ini semua idenya Rafa putramu." Kata Ava tenang, sambil duduk dan menikmati minuman segar.
"Apa?? Rafa?" Avram mengulang pertanyaan Ava.
Ava menganggukkan kepala, "aku masih memiliki kejutan lain."
"Bukankah kau sudah pergi ke Indonesia?" tanya Avram semakin di buat bingung.
"Simpan pertanyaanmu, kita pergi sekarang." Jawab Ava.
Tak lama kemudian kapal Ferari itu mulai melaju dengan kencang meninggalkan pelabuhan menuju perbatasan.
Tak butuh waktu lama mereka telah sampai dari perbatasan. Mereka berdua turun dari kapal menuju daratan. Avram terkejut sekaligus senang, melihat Rafa dan Quenby juga Elena.
"Rafa!"
__ADS_1
Avram berlari lalu memeluk mereka berdua cukup lama. "Aku tidak menduganya, benar benar tidak menduganya."
"Aku juga tidak tahu, ternyata semua ini rencana Rafa dan Elena." Timpal Quenby.
"Ayo, kita tidak punya banyak waktu. Pesawatnya sudah menunggu kita!" seru Ava mengingatkan.
"Baiklah Ayah, ayo kita pergi." Ajak Quenby
Mereka melangkah bersama menuju pesawat pribadi yang sudah di persiapkan Rafa untuk membawa mereka ke Indonesia.
Namun sesampainya di sana, Elena menolak untuk ikut bersama mereka ke Indonesia.
"Aku masih ada Papa di sini, aku janji akan menyusul kalian secepatnya." Kata Elena.
"Iya, aku berjanji, secepatnya menyusul." Jawab Elena.
"Baiklah, aku tunggu kau di sana." Rafa memeluk Elena cukup lama dan mengucapkan kata terima kasih atas bantuan Elena selama ini.
"Aku pergi." Kata Rafa lalu melepas pelukannya.
__ADS_1
Elena menganggukkan kepalanya, lalu berjalan mundur menjauh dari pesawat itu. Ia melambaikan tangan saat Rafa mulai naik ke dalam pesawat bersama keluarganya.
"Aku tidak tahu, apakah ini pertemuan terakhirku." Gumam Elena, matanya berkaca kaca saat pesawat mulai melaju.
"Ya Tuhan, jangan cabut nyawaku. Aku ingin hidup lebih lama lagi, aku ingin bersamanya menghabiskan sisa hidupku bersama Rafa."
Air mata semakin deras membasahi pipi Elena, ia menjatuhkan tubuhnya di jalan aspal saat melihat pesawat mulai terbang tinggi.
"Tapi rasanya tidak mungkin, usiaku sudah tidak lama lagi..maafkan aku Rafa."
"Anak bodoh! berani sekali kau membantu mereka melarikan diri!"
Elena menoleh ke belakang, belum sempat ia bersuara. Tamparan keras mendarat di wajah Elena, membuat gadis itu tersungkur dan jatih pingsan.
"Bawa anak bodoh ini!" perintah pria itu.
Sementara Quenby yang ada di dalam pesawat bisa bernapas dengan lega. Akhirnya mereka bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.
Hidup sederhana, kota baru, identitas baru. Akan segera mereka lalui, Quenby meninggalkan semua kemewahan, harta dan kekayaannya demi mendapatkan sebuah ketenangan yang dia inginkan bersama keluarga kecilnya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Avram. Baginya tidak masalah mau hidup susah atau kaya, bisa dekat dengan putranya, melihat mereka baik baik saja itu sudah lebih dari cukup.
Berbeda dengan Rafa, saat ini ia tidak memikirkan apa apa, tidak menginginkan apa apa pula. Bisa membantu mewujudkan keinginan ibunya, hanya itu yang bisa ia lakukan. Tanpa keinginan, tanpa ada tujuan, entah apa yang di pikirkan. Rafa hanya tersenyum penuh arti tanpa ada yang bisa mengartikan senyuman Rafa. Saat ini, mereka tengah bahagia.