PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Bertemu lagi


__ADS_3

Malam minggu.


Elena mengundang seorang pria yang di anggapnya kekasih ke rumah Quenby. Lalu memperkenalkannya kepada mereka semua.


Obrolan santai di ruang tamu terdengar menyakitkan di telinga Rafa yang memperhatikan di lantai dua. Semakin lama, tawa canda mereka terasa menusuk ke dalam hatinya.


Quenby bisa sehangat itu berbicara dengan orang asing. Tapi mengapa jika berbicara dengan putranya sendiri hanyalah penghinaan.


Perlahan Rafa menuruni anak tangga, berjalan santai melewati ruang tamu. Tidak ada yang memperdulikannya kecuali Avram.


"Rafa, kau mau kemana?" tanya Avtam.


Namun Rafa tidak memperdulikannya, ia terus berjalan keluar rumah. Terdengar suara motor, itu pertanda Rafa meninggalkan rumah entah mau kemana.


Tak lama kemudian, Elena dan pacar barunya pamit undur diri dengan alasan hendak makan malam di luar saja, berdua.


Quenby dan Avram mengizinkan mereka pergi. Sepeninggal mereka, Karina dan Ava menghampiri mereka.


"Ibu mau kemana?" tanya Quenby, menatap koper yang di bawa Ava.


"Kami mau pulang ke rumah, sudah saatnya kami pulang." Jawab Karina.


"Biar aku antar!" sela Avram.


"Tidak perlu." Kata Ava.


"Kenapa?" tanya Avram lagi.


"Quen, sebelum kami pulang. Ingat pesanku, walau bagaimanapun..Rafa darah dagingmu. Tidak sepatutnya kau membenci dia. Apalagi kau lebih memperhatikan Elena yang bukan putrimu. Ingat Quen, jangan sampaj penyesalan datang terlambat." Pesan Ava panjang lebar.


"Kami tidak pernah mengajarkan kau untuk membenci, kendalikan emosimu. Maafkan masa lalumu, putramu sangat membutuhkanmu." Timpal Karina.


"Kami pergi.." ucap Ava lalu mereka berjalan bersama keluar dari rumah.


Avram dan Quenby hanya diam mendengarkan nasehat orang tuanya. Saat ini, Quen merasa kecewa dengan sikap Rafa yang tidak bisa di harapkannya.

__ADS_1


***


Seperti biasa, Rafa duduk di bangku halte tepi jalan raya. Menikmati malam, memperhatikan sekitar. Memikirkan cara, bagaimana membongkar kejahatan Elena.


Dari kejauhan nampak Aluna melangkah dengan lesu, kepalanya tertunduk, lalu duduk di sebelah Rafa mendekap gitar kecilnya.


Rafa masih diam, menghisap rokoknya dalam dalam. Jangankan menyapa, menoleh sedikitpun tidak.


"Boleh minta rokoknya?" tanya Aluna membuka suara memecah keheningan di antara mereka berdua.


Rafa mengeluarkan kotak rokoknya dan pematik, ia sodorkan satu batang pada Aluna, lalu menyalakan pematik.


"Tik tik!"


Api menyala dari pematik, jelas terlihat wajah Aluna yang lebam lebam seperti habis kena pukulan. Namun Rafa enggan bertanya ada apa dengan gadis itu. Ia memilih kembali diam, menikmati setiap hisapan.


Aluna menghisap rokoknya, lalu ia hembuskan perlahan. "Kenapa setiap malam kau duduk di sini sendirian? kau menunggu siapa?" tanya Aluna.


"Krik krik!


"Kalau kau tidak mau jawab tidak apa apa, abaikan saja. Lagipula tidak semua pertanyaan tidak harus selalu ada jawabannya, bukan begitu?" Aluna tersenyum meringis karena sudut bibirnya pecah.


Rafa melirik ke arah Aluna, ia tertarik dengan kata kata yang di ucapkan Aluna.


"Tepat!" sahut Rafa.


"Apanya yang tepat?" Aluna memiringkan wajahnya, menelisik wajah Rafa.


"Tidak semua kejahatan harus di balas dengan kejahatan. Kalau bisa di balas dengan kelembutan dan ketenangan itu lebih menyakitkan. Luka fisik bisa di obati, luka hati apa obatnya?" gumam Rafa dalam hati.


Rafa tersenyum menyeringai, ia sudah mendapatkan ide untuk membalas dan membongkar kejahatan Elena, berkat celotehan gadis yang ada di sampingnya.


"Apa kau tidak waras? kenapa tersenyum? ada yang lucu?" tanya Aluna.


"Tidak ada, aku-?" ucapan Rafa terhenti saat sebuah mobil menepi tepat di depan mereka.

__ADS_1


Nampak Elena dan kekasihnya keluar dari pintu mobil, menghampiri Rafa dan Aluna.


"Rupanya kau disini?" tanya Elena tersenyum sinis menatap Rafa, lalu beralih memperhatikan Aluna.


"Siapa dia?" tanya Elena lagi.


Namun Rafa memilih diam dan berpura pura tidak mendengar.


"Oke, kalau kau tidak mau bicara denganku. Aku juga tidak punya waktu banyak, karena kami mau makan malam." Jelas Elena melirik sesaat ke arah pria di sampingnya.


Rafa hanya menarik napas dalam dalam, mrnggaruk kepalanya yang tak gatal lalu berdiri dan berlalu begitu saja dari hadapan Elena.


"Rafa!" panggil Elena.


Namun Rafa hanya mengibaskan tangannya ke udara, terus melangkahkan kakinya dengan santai.


"Kurang ajar! rutuk Elena. "Berani sekali cuekin aku."


Aluna yang sedari tadi diam, coba mencerna alur yang ada. Ia tertawa, lalu berdiri tegap, menatap wajah Elena.


"Kenapa kau tertawa?!" bentak Elena.


"Tidak ada undang undang di larang ketawa di sini, lagipula kenapa kau harus marah marah?" Jawab Aluna.


"Diam kau!" seru Elena.


"Dari tadi aku diam, memangnya aku apain kamu?" Aluna tertawa kecil. "Bilang saja kau menyukai dia, tapi dia nya nggak mau. Gimana kalau dia buat aku?"


"Tutup mulutmu!" Elena melepas sepatunya, hendak melempar wajah Aluna.


Namun Aluna sudah lebih dulu berlari sambil tertawa. "Hahahaha! kasian deh lo!"


"Sialan!" umpat Elena.


"Sudahlah sayang, ayo kita makan." Kata pria di sampingnya, menarik tangan Elena.

__ADS_1


Elena menepis tangan pria itu dengan marah. "Diam kau!"


__ADS_2