PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Isyarat tubuh


__ADS_3

Selesai makan di restoran, mereka keluar bersama. Sejenak Quenby melupakan pengkhianatan Livian dengan kehadiran dan candaan konyol dari Avram dan putranya. Di tambah sikap agresif Elena yang memaksa Rafa untuk mencintainya tanpa ada rasa malu di depan Quenby dan Avram. Membuat Quenby tertawa lepas tanpa bisa ia kendalikan mentertawakan sikap Elena.


Baru saja mereka sampai di halaman restoran, langkah mereka terhenti. Di depan mereka sudah berjajar pria dengan gagah menghadang mereka. Di antara pria yang berjajar rapi, nampak pria dengan postur tinggi besar, perutnya sedikit buncit. Kalau di bandingkan dengan Avram, ukuran tubuhnya lebih besar dan tinggi. Dengan tatapan tajam menatap mereka semua, wajah tanpa ekspresi, dengan kedua tangan di lipat di dada.


"Papa?!" seru Elena berjalan dua langkah, tengadahkan wajah menatap pria tinggi besar yang tak lain adalah Papanya Elena.


"Sudah kubilang berapa kali, pulang!" bentak pria itu menatap tajam Elena.


"Papa, aku tidak mau! aku kesepian di rumah!" sahut Elena menundukkan kepalanya. Lalu terisak sambil mengucek kedua matanya.


Melihat Elena menangis, pria itu membungkukkan badannya, lalu tertawa lebar menampakkan sederetan gigi putih tertata rapi, menatap wajah Elena.


"Hey jangan menangis, aku tidak marah. Lihat wajahku!" pinta pria itu.


Elena menurunkan kedua tangannya, lalu tertawa lebar membalas pria di hadapannya. "Aku juga bo,ong Pa!"


"Anak nakal!" bentaknya lagi lalu berdiri tegap.


"Papa! kenalkan, mereka itu-?" Elena tidak melanjutkan ucapannya, memperhatikan Papanya berjalan mendekati Quenby dengan tatapan tajam.


"Papa! mereka orang baik!" seru Elena berjalan mendekati Papanya lalu menarik tangannya mundur ke belakang, Elena khawatir Papanya marah dan memukul mereka.


"Papa jangan!" seru Elena lagi.


"Kau diam!" tunjuk Pria tersebut ke arah Elena.


"Sepertinya aku mengenalmu?" kata pria tersebut menatap tajam ke arah Quenby.


"Tentu saja aku mengingatmu," jawab Quenby. "Apa kabarmu, Paman Se Black!"


"Quenby!" sahut pria yang bernama Se Black.


Kemudian Se Black memeluk erat tubuh Quenby. "Sudah berapa lama kita tidak bertemu, apa kabarmu sayang?" tanya Se Black.


"Baik Paman, jadi Elena putrimu yang dulu itu?" tanya Quenby melepaskan pelukan Se Black.


"Benar Quen!" sahut Se Black dengan tatapan bahagia bisa bertemu lagi dengan Quenby.


Quenby adalah orang yang telah menyelamatkan nyawa Elena saat usianya 5 tahun, saat terjadi penyerangan oleh sekelompok orang yang hendak membunuh Se Black dan istrinya namun sayang, istri Se Black tidak dapat di selamatkan saat peristiwa itu.


"Oya Paman, ini putraku namanya Rafa." Quenby memperkebalkan Rafa.

__ADS_1


"Dan dia..-? Quenby terdiam sejenak. "Avram, ayahnya Rafa."


"Wah, senang sekali bertemu dengan kalian." Kata Se Black. "Elena, kemarilah!"


"Iya Pa!" sahut Elena.


"Dia yang telah menyelamatkan nyawamu dulu, kau harus berterima kasih!" perintah Se Black.


"Tidak perlu Pa, karena mereka calon mertuaku!" sahut Elena dengan lantang, sambil menggoyangkan tubuhnya tersipu malu, kepalanya tertunduk.


Se Black menatap jengah putrinya yang sudah kebiasaan Elena berkata jujur sesuai apa yang ia pikirkan. Sementara Avram dan Quenby mengulum senyum mendengar pernyataan Elena. Beda lagi dengan Rafa, ia hanya diam tanpa mengerti apa yang di ucapkan Elena.


"Kalau bicara sesuka hatimu, apa kau tidak malu?" bisik Se Black lalu mengalahkan pandangannya pada Rafa yang hanya celingak celinguk memperhatikan.


"Maaf, putriku memang seperti ini." Kata Se Black membungkukkan badan.


"Tidak masalah Tuan, Elena sudah kami anggap keluarga." Timpal Avram.


"Aku tidak meragukan kalian, aku tenang karena Elena bersahabat dengan kalian. Oya Quenby, kalau kau membutuhkan bantuanku, katakan saja. Pasukan, senjata, uang atau apapun akan kuberikan!" Kata Se Black sambil membusungkan dadanya.


"Aku percaya padamu, Paman. Tentu aku akan meminta pertolonganmu jika aku membutuhkannya!" sahut Quenby.


"Tentu Paman!" sahut Quenby dan Avram bersamaan.


Se Black tersenyum menatap Quenby, Avram dan Rafa bergantian. Senyumnya ia tarik kembali, menatap Rafa cukup lama.


"Musuh yang paling berbahaya bukanlah senjata api yang menempel di keningmu. Musuh yang paling berbahaya, terlihat polos, ramah." Kata Se Black pelan namun jelas terdengar oleh semuanya.


"Tentu Paman, akan aku ingat!" sahut Quenby menoleh ke arah Rafa sekilas.


Se Black menganggukkan kepalanya, lalu berjalan mendekati Rafa. Tangannya terulur mengusap lembut pipinya, membungkukkan badan.


"Tatapan matamu begitu polos, senyummu penuh arti, sikap tenangmu begitu mematikan. Entah apa yang terjadi padamu, Nak." Bisik Se Black di telinga Rafa, lalu kembali berdiri tegap.


Rafa begidik, lalu tertawa kecil menanggapi kata kata yang di bisikkan Se Black. Namun bagi Se Black, suara tawa Rafa mengandung arti kengerian di telinganya.


"Oke, aku pamit Quenby, jaga dirimu baik baik!" kata Se Black lalu balik badan, melangkahkan kaki di ikuti semua anak buahnya.


"Sampai jumpa Paman!" seru Quenby. "Ayo kita pulang!"


Elena mengangguk, menatap tajam ke arah Rafa. Ia sangat mengerti apa yang terjadi dengan Rafa. Dan Elena bertekad untuk tetap berada di samping Rafa, apapun yang terjadi.

__ADS_1


***


Siang itu Quenby baru saja selesai mengurus surat perceraiannya dengan Livian, di temani Rafa. Mereka keluar bersama dari dalam kantor yang biasa tempat mengurus perceraian.


"Momy, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Rafa menghentikan langkah Quenby.


"Tentu sayang." Jawab Quenby menatap ke arah Rafa.


"Sudah yakinkah dengan keputusan Momy?" tanya Rafa.


"Tentu saja, aku memilih hidup bersamamu, hanya kita berdua tidak ada yang lain." Jawab Quenby tegas.


"Terima kasih, Momy!" sahut Rafa lalu memeluk sekilas ibunya.


"Quen!"


Rafa dan Quenby menoleh ke arah suara, terlihat Livian keluar dari pintu mobil, berjalan menghampiri mereka. Melihat kedatangan Livian, Rafa berdiri di belakang tubuh Quenby.


"Kau? ada apa kau datang ke sini?" tanya Quenby marah.


"Quen, aku mohon. Jangan ceraikan aku, aku sangat mencintaimu. Aku sama sekali tidak ada niat mengkhianatimu sama sekali tidak, ada yang berusaha menjebakku Quen. Dan aku sama sekali tidak tahu siapa yang telah memberikan obat obatan terlarang itu, sumpah bukan aku, Quen!" ungkap Livian menatap wajah Quenby


Quenby menanggapi dingin pernyataan Livian, dari sorot matanya tidak terlihat ada kebohongan. Namun saat ini, hati Quenby terlanjur sakit hati.


"Simpan semua kata katamu, keputusanku sudah bulat!" seru Quenby.


Livian terdiam, menarik napas kecewa. Harus dengan cara apa untuk meyakinkan Quenby kalau ia tidak bersalah. Livian mengalihkan pandangannya pada Rafa yang berada di belakang Quenby. Ia menatap aneh ke arah Rafa, yang memajukan bibirnya, lalu lidahnya menjulur seolah tengah mencemooh dan mempermainkannya.


"Quen, urungkan niatmu. Aku benar benar korban di sini, aku...aku sama sekali tidak tahu mengapa semua ini terjadi. Aku merasa telah di jebak, dan siapapun yang melakukan ini bukanlah seseorang yang bodoh." Ungkap Livian.


"Momy, aku lapar..ayo kita pulang!" rengek Rafa bergelayut manja di lengan Quenby.


"Ayo!"


Quenby mengabaikan kata kata Livian, lalu ia berjalan bersama meninggalkan Livian yang masih terpaku di tempatnya.


Livian balik badan menatap punggung Quenby dan Rafa. Terlihat Rafa menoleh ke arah Livian, mengibaskan tangan di lehernya sendiri, lalu mengacungkan jempol ke bawah.


Terucap satu kalimat dari bibir Rafa namun dapat terbaca oleh Livian.


"You and me..end." Ucap Livian membaca gerakan bibir Rafa.

__ADS_1


__ADS_2