
Bocah tanggung itu terus berdiri menatap lautan luas. Sesekali ia tersenyum, lalu tertawa.
Senyumannya hanya sedalam kulit. Namun jika bisa melihat ke dalam, anak itu benar-benar menangis.
"Aku bukan anak baik dan aku juga bukan anak yang jahat. Tapi aku bisa memiliki kedua hal itu tergantung dengan siapa aku berhadapan, dan mereka mempermainkanku layaknya sebuah lelucon. Dan aku hanya butuh sesuatu yang buruk untuk membalasmu." Gumam Rafa pelan.
Entah sudah berapa lama ia berdiri di jembatan itu. Mengingat semua peristiwa yang telah terjadi, merekam ulang semua percakapan di otak layaknya kaset kusut yang terus berputar. Apa motif Mr J merencanakan semua ini? dia bisa memutar balikkan fakta dan bisa mengetahui semua pergerakan Rafa.
"Elena?" ucap Rafa menyebut satu nama yang selama ini selalu ada untuknya. "Aku menyukaimu. Bodohnya aku ingin membunuhmu."
Rafa menarik napas panjang, lalu ia hembuskan perlahan. Membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya, naik ke atas motor dan menggunakan helmnya. Kemudian menyalakan mesin, melajukan motornya dengan kecepatan tinggi kembali ke rumah.
Hanya butuh waktu 15 menit saja, Rafa telah sampai di runahnya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti sesaat, melihat Livian berada di ruang tamu tengah berbincang dengan Quenby, Ava dan Karina.
Mereka tengah memperbincangkan Avram yang akan di sidang besok. Sementara Livian sudah membantu Avram untuk meringankan hukumannya dengan menghadirkan pengacara terbaik di kota itu.
"Rafa.." panggil Quenby.
Namun Rafa mengabaikannya, ia terus melangkahkan kakinya.
"Rafa!" seru Quenby seraya berdiri menatap tajam ke arah Rafa. "Aku memanggilmu, apa kau tidak dengar?"
Rafa berhenti melangkah, menarik napas dalam dalam. Lalu melangkahkan kakinya mendekati mereka.
"Ada apa Mom?" tanya Rafa dengan santai.
"Aku memanggilmu, kenapa kau diam saja?" tanya Quenby.
"Apa lagi yang mau kita bicarakan Mom?" tanya Rafa balik.
"Rafa, aku minta maaf. Tapi aku harus melakukan ini, yang bersalah tetap harus di hukum." Timpal Livian, beranjak dari kursi dan berdiri tegap menatap wajah anak itu.
"Oya?" Rafa tersenyum sinis. "Lalu? sedang apa kau disini, ayah? apalagi yang hendak kau bicarakan dengan keluargaku?" tanya Rafa sinis.
"Kau jangan salah paham Rafa, aku kesini hanya memberi kabar kalau aku sudah-?"
"Cukup!" potong Rafa. "Pengacara bukan? apa Momy tidak bisa melakukannya? kalau tidak bisa katakan saja padaku, aku siapkan 10 pengacara jika itu memang bisa membantu Dad."
"Rafa!" bentak Quenby. "Jaga bicaramu!"
"Kenapa Momy?!" tanya Rafa. "Apa aku harus bersikap manis? tertawa bahagia di depan kalian? kebahagiaanku yang mana lagi, yang akan kalian ambil dariku!!" pekik Rafa menatap tajam Livian dan yang lain.
"Rafa..cucuku.." ucap Karina menatap sedih.
"Aha..hahaha..kalian anggap aku ini apa? kalian anggap keberadaanku tidak ada! padahal aku ada! kalian tidak pernah mau mendengarku, dan memang aku tidak pernah menganggap kalian mendengarkanku. Saat ini yang ada dalam pikirannku hanyalah keburukan!"
"Rafa, apa maksudmu?" tanya Livian.
"Jangan pernah mengatur hidupku, urus saja diri kalian sendiri!!"
Setelah bicara seperti itu, Rafa beranjak pergi menuju kamar pribadinya.
"Maafkan Rafa, dia masih anak anak." Kata Quenby kembali duduk.
"Tidak apa apa Quen." Jawab Livian lalu duduk kembali dan melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda.
Tak lama, terlihat Rafa kembali keluar dari kamarnya. Tanpa banyak bicara, ia berlalu keluar dari rumah tanpa memperdulikan panggilan Quenby.
***
"Elena, maukah kau menemaniku malam ini ke kelab malam?" tanya Rafa menatap raut wajah Elena.
"Tentu saja, asalkan bersamamu, aku siap menemani kemana saja." Jawab Elena bergelayut manja di lengan Rafa.
__ADS_1
"Terima kasih, kau memang yang terbaik." Kata Rafa, tangan kananya mengusap lembut pipi Elena.
"Hei, kau menyentuh wajahku? apa kau serius?" Elena menarik kepalanya, menatap aneh.
"Kenapa? bukankah selama ini, itu yang kau inginkan?" tanya Rafa balik.
"Apakah kau sudah mencintaiku?"
Rafa mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu!" sahut Rafa di akhiri tertawa kecil. "Lupakan, sebaiknya kita pergi sekarang."
"Baiklah!" sahut Elena senang.
Rafa memakaikan helm di kepala Elena, lalu ia menggunakan helmnya sendiri.
"Elena.."
"Ya?" sahut Elena.
"Maukah kau hidup untukku?" tanya Rafa.
Elena mengerutkan dahinya menatap wajah Rafa. Ia merasa aneh dengan pertanyaan Rafa.
"Maksudmu, hidup untukmu dan mati bersamamu?"
"Mungkin!" jawab Rafa. "Lupakan, ayo naik!"
Dengan ragu ragu Elena naik ke atas motor, memeluk erat pinggang Rafa dengan erat. Kemudian Rafa melajukan motornya dengan kecepatan maksimal.
Sepanjang jalan, Rafa bernyanyi sambil tertawa. Dan tentu saja membuat Elena takut, untuk pertama kalinya ia merasakan hal yang berbeda dengan Rafa. Namun tidak mengurangi rasa cinta dan sayangnya terhadap anak itu. Elena terus mendengarkan dengan seksama setiap bait yang Rafa nyanyikan di sepanjang jalan.
There’s someone down below blowing you a kiss.
Ada seseorang di bawah yang meniupmu ciuman.
Mereka melihat dari jendela mereka
as all arms fall to their sides,
karena semua lengan jatuh ke sisi mereka,
and all eyes fix on the death of tomorrow.
dan semua mata tertuju pada kematian besok.
And you found everything you need
Dan Anda menemukan semua yang Anda butuhkan
to make a life complete,
untuk membuat hidup lengkap,
completely revolting and they have safety and relief
benar-benar memberontak dan mereka memiliki keamanan dan kelegaan
For sale down the street.
Dijual di jalan.
I see you in line every day
Saya melihat Anda sejalan setiap hari
__ADS_1
You had time to waste and I’m not sorry,
Anda punya waktu untuk buang dan saya tidak menyesal,
such a basket case, hide the cutlery.
seperti kotak keranjang, sembunyikan alat pemotongnya.
I had time to kill, it’s dead and buried.
Aku punya waktu untuk membunuh, sudah mati dan dikubur.
You’ve got guts to spill but no one trustworthy.
Anda punya keberanian untuk tumpah tapi tidak ada yang bisa dipercaya.
These creatures are waking up in these dark trees.
Makhluk-makhluk ini terbangun di pepohonan gelap ini.
Awaiting like vultures.
Menunggu seperti burung pemakan bangkai.
Eyes roll back turn white in time to feed
Mata berguling kembali menjadi putih pada waktunya untuk memberi makan
They salivate in hunger.
Mereka mengeluarkan air liur dalam rasa lapar.
for you, and everything they need
untuk Anda, dan semua yang mereka butuhkan
to make a death complete,
untuk membuat kematian lengkap,
completely unnatural and salvation lies
benar-benar tidak alami dan keselamatan kebohongan
behind those dead eyes that watch you while you sleep every night, and
Di balik mata mati yang mengawasi kau saat kau tidur setiap malam, dan
You had time to waste and I’m not sorry,
kau punya waktu untuk buang dan aku tidak menyesal,
such a basket case, hide the cutlery.
seperti kotak keranjang, sembunyikan alat pemotongnya.
I had time to kill, it’s dead and buried.
Aku punya waktu untuk membunuh, sudah mati dan dikubur.
You’ve got guts to spill but no one trustworthy.
kau punya keberanian untuk tumpah tapi tidak ada yang bisa dipercaya.
__ADS_1
Alkalin trio-time to waste