Putri Mahkota Gila

Putri Mahkota Gila
Bab. 10 - Sekelompok Bandit


__ADS_3

Dua hari kemudian.


”Nona! Apakah Nona sungguh-sungguh ingin pergi dari Istana?” tanya Fu Yiren yang tampak cemas setelah melihat Shu Qingzhi telah berdiri di gerbang depan Istana kekaisaran dan akan memasuki kereta kudanya.


Shu Qingzhi yang mendengarnya tertegun. Ia tampak bingung mengapa Fu Yiren begitu mencemaskannya. Ia pun hanya menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia akan benar-benar pergi dari Istana. Lagipula, ia tak lagi diinginkan oleh orang-orang ini. Jadi, lebih baik ia pergi saja karena tak ingin membuat masalah.


”Kalau begitu, izinkan pelayan ini ikut dengan Nona! Aku pasti tidak akan merepotkan Nona dan akan selalu membantu Nona apapun yang terjadi!" Seru Fu Yiren dengan antusias.


Shu Qingzhi terkejut dan ia pun langsung menggelengkan kepalanya. ”... Aku akan pergi sendiri. Kau tidak perlu menemaniku setiap saat. Lagipula, aku sudah banyak merepotkanmu.” ucapnya dengan pelan.


Fu Yiren yang mendengarnya tampak terharu. Ia terus menatap Shu Qingzhi dengan perasaan sedih. ”... Pelayan ini pasti akan mengirimkan surat setiap hari agar Nona tidak kesepian! Tapi, pelayan ini sangat yakin kalau Tuan Putri tidak akan sendirian di sana. Tuan Putri pasti menemukan orang baru yang lebih baik lagi!”


Shu Qingzhi terdiam dengan wajahnya yang terlihat bingung dan langkahnya yang semakin menjauh. Tanpa sadar, ia menginjak roknya sendiri sehingga membuatnya terjatuh ke belakang. Namun, beruntungnya Tao Sonyun dengan sigap langsung menahan punggungnya sebelum ia menyentuh tanah.


”Tidak bisakah kau berhati-hati meskipun sebentar?” tanya Tao Sonyun yang tampak heran sementara, Shu Qingzhi terus menatapnya karena bingung.


Lalu, tiba-tiba Shu Yinzhi datang menghampiri mereka berdua dan langsung mengambil Shu Qingzhi darinya. Hal itu membuat Tao Sonyun terkejut dan ia pun merasa bingung pada Shu Yinzhi yang awalnya sangat membenci Shu Qingzhi bahkan sampai mau mengusirnya dari Istana. Namun, setelah ia tahu Shu Qingzhi benar-benar akan pergi, sifatnya sangat berbalik dengan yang tadi.


Tao Sonyun berdecak kesal dan langsung mengalihkan perhatiannya. ”... Cih! Labil sekali!”


Shu Yinzhi langsung membuat Shu Qingzhi berdiri dengan kedua kakinya dan berkata, ”Apakah kau tidak bisa menggunakan kedua kakimu dengan benar? Berhentilah berharap ada seseorang yang akan menangkap punggung mu saat terjatuh! Lagipula, setelah ini kau akan sendiri. Jadi, lakukan semuanya tanpa berharap pada seseorang!”


Shu Qingzhi menatapnya dengan bingung dan raut wajah yang seolah bertanya, ada apa dengannya?


Melihat hal itu, Shu Yinzhi langsung mengalihkan perhatiannya kembali dan berkata, ”Masuklah ke dalam keretamu sebelum Kaisar tahu tentang hal ini!”


Shu Qingzhi tertegun. Tak lama setelah mendengarnya, ia melengkungkan senyum tipisnya dan berkata, ”... Terima kasih.” ucapnya sambil berjalan memasuki kereta kudanya tanpa mengatakan sepatah kata apapun lagi.


Dan tak lama setelahnya, kereta kuda itu pun akhirnya berjalan menuju sebuah desa terpencil yang berada jauh di wilayah kekaisaran. ”... Yang mulia, kau terlihat sangat mencemaskan gadis tadi. Jangan bilang, kalau kau memiliki hubungan dengannya? Aku pernah mendengar kalau sebenarnya, Permaisuri melahirkan dua anak kembar laki-laki dan perempuan. Mungkinkah, gadis tadi adalah saudara perempuan Yang Mulia?” tanya Tao Sonyun yang masih berdiri di sebelahnya.


Shu Yinzhi langsung menatapnya dengan dingin dan berkata, ”Semua ini tak ada hubungannya denganmu. Jadi, sebaiknya kau tutup mulut saja.” ucapnya sambil berjalan meninggalkannya bersama dengan beberapa Kasim lainnya.

__ADS_1


”Sifatnya sama saja seperti Yingge! Menjengkelkan dan tak bisa diajak bicara!” gumam Tao Sonyun yang tampak kesal.


Seorang Kasim tua menghampirinya dan berkata, ”Yang Mulia! Putri ke-8, Liu Hanning datang mengunjungi Yang Mulia.”


”Hah?” pandangan Tao Sonyun berubah menjadi jijik saat mendengar hal itu. ”... Bukankah aku sudah memutuskan untuk tidak bertemu lagi dengannya?! Mengapa dia datang lagi kemari?”


”Maaf, Yang Mulia. Putri ke-8 bersikeras untuk menemui Yang Mulia. Dia bilang ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Yang Mulia.” jawab Kasim.


Tao Sonyun menghela nafasnya dan berkata dengan malas, ”Kalau begitu, suruh dia menulisnya di secarik kertas saja! Bilang padanya kalau aku sedang sibuk!”


Kasim itu terkejut. Dan karena ia tak bisa mengatakan apapun lagi, ia pun menjawab, ”Baik, Yang Mulia.”


Di waktu yang bersamaan, kereta kuda itu melintas di atas sebuah tebing yang mengalir sungai deras di bawahnya. Ini adalah pertama kalinya Shu Qingzhi menaiki kereta kuda dan melewati jalanan yang tidak biasa. Ada begitu banyak kerikil dan gundukkan batu yang membuat keretanya bergoyang. Tak seperti saat mengendarai mobil di jalan yang halus dan rata.


Shu Qingzhi tahu apa yang dilakukannya saat ini. Jika di dalam naskah aslinya ia tetap berada di istana. Namun, kali ini ia membuatnya jauh berbeda dari sebelumnya. Saat berada di atas panggung, pasti tak ada seorangpun yang boleh melenceng dari naskahnya. Akan tetapi, penulis bisa melakukan apa saja bahkan merubah seluruh isi dalam ceritanya.


Itu sama saja seperti menarik tokoh utama untuk turun dari atas panggung.


Ia membuka tirai penutup kereta dan bertanya pada orang di depannya, ”... Apa yang terjadi di sana?”


Laki-laki tua itu tampak terdiam tanpa kata saat melihat ada sekelompok orang berjubah hitam yang sedang menghalangi jalan mereka berdua.


”Tuan Putri! Sepertinya, ada sekelompok bandit yang berkeliaran di dalam hutan. Aku rasa, aku telah melewati jalur yang salah.” jawab pria tua.


”Begitu, ya?” gumam Shu Qingzhi yang langsung berjalan keluar dari dalam kereta kudanya.


”Lihatlah! Siapa yang sedang menghampiri kita!” ucap salah satu bandit di sana.


Shu Qingzhi akhirnya berhenti berjalan beberapa langkah di depan bandit-bandit tersebut. Ia menatap pisau tajam yang dipegang oleh mereka begitu juga dengan tombak yang ada di belakang punggung mereka. Sekali melihatnya, ia langsung tahu kalau mereka ini sulit untuk dikalahkan apalagi, ia hanya membawa lima prajurit Istana.


”Mereka sudah terbiasa bertahan hidup dengan menjarah harta para pengelana. Pasti sangat sulit bertahan hidup dengan cara yang seperti itu.” gumam Shu Qingzhi yang memperhatikannya.

__ADS_1


”Hei! Nona! Kau lumayan juga. Apakah kau ingin hartamu tetap aman sehingga kau memutuskan untuk menyerahkan dirimu?” tanya salah seorang bandit sambil berjalan mendekatinya dan menyentuh wajahnya.


Lalu, dengan cepat Shu Qingzhi langsung menyingkirkannya dan berkata, ”Tanganmu itu sangat kotor! Sebaiknya, bersihkan dulu jika kau ingin menyentuhku!”


”Aku rasa tidak masalah jika harus bersenang-senang dengan gadis dari kerajaan ini.”


”Tunggu sebentar!” seru Shu Qingzhi yang langsung berbalik menghadap para pasukan yang ada di belakangnya. ”... Kalian bisa pergi!”


Salah seorang pasukan terkejut dan langsung berkata, ”Tapi, Nona! Seperti yang Pangeran katakan, kami harus mengantarkan Nona sampai ke tempat tujuan.”


Shu Qingzhi tidak berekspresi dan menjawab, ”Aku tahu. Karena itu aku menyuruh kalian kembali ke istana. Aku sudah sampai di tempat tujuan.”


”Tapi, Nona!"


”Pergilah!” ucap Shu Qingzhi sekali lagi. Lalu, di antara para pasukan itu ada yang berkata, ”Sudahlah, tinggalkan saja. Lagipula, kita sama sekali tidak dibayar untuk melakukan ini.”


Mendengar ucapan itu, membuat para pasukan akhirnya bergerak mundur dan kembali ke istana meninggalkan Shu Qingzhi bersama dengan bandit-bandit tadi.


Tak lama setelah merdeka akhirnya pergi, salah seorang bandit bergerak cepat dan langsung menerkamnya dari belakangnya. Dan beruntungnya, Shu Qingzhi mampu menghindarinya dengan sangat cepat. ”... Kau ini sangat tidak sabaran, ya.”


Tanpa perlu pikir panjang, Shu Qingzhi segera melepas hiasan rambutnya yang memiliki ujung tajam. Setelah itu, ia kembali menyerang ke arah laki-laki yang mencoba untuk menerkamnya dari belakang. Namun, laki-laki itu menahannya dengan pisau besarnya sehingga serangan tersebut tidak bisa mengenainya.


Di belakangnya, muncul beberapa orang lainnya yang langsung menerkamnya dengan pisau yang ada di tangan mereka. Dan lagi-lagi, Shu Qingzhi menggunakan kedua kakinya untuk menendang mereka semua ke belakang. Namun, ada satu orang yang bergerak dari samping dan langsung melukai bahunya.


Dengan sebuah batu berukuran sedang, Shu Qingzhi langsung melemparkannya ke arah bandit yang ada di sebelahnya hingga berdarah. Lalu, di depannya datang kembali bandit yang akan menyerangnya dengan sebuah tombak. Ia pun segera melepas sepatunya untuk menahan serangan tersebut.


Tak sampai di sana, beberapa bandit yang lain mulai bergerak dari belakang sehingga, membuat Shu Qingzhi terpaksa melepas seluruh hiasan rambutnya dan melemparnya ke arah para bandit yang ada di belakangnya.


Namun, serangannya tak pernah mengenai salah satu dari mereka. Ia pun akhirnya terpojok dan hanya terdiam dalam posisinya yang sama.


Karena lawan yang tak sebanding dengannya, Shu Qingzhi berlari ke arah jurang dan menjatuhkan dirinya ke dalam sungai yang deras. Saat itu terjadi, ia sempat melihat sebuah cahaya dari kedua mata sesosok hewan yang tak pernah dilihat olehnya sebelum akhirnya, ia tak sadarkan diri karena kepalanya membentur permukaan air.

__ADS_1


__ADS_2