Putri Mahkota Gila

Putri Mahkota Gila
Bab. 14 - Teleportasi


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Istana kekaisaran, ruang pribadi Putra mahkota.


”Belakangan ini, sering terjadi pemberontakan di Desa Hui. Sekelompok orang itu sering menjarah harta mereka dan memonopoli tanah mereka. Selain itu, beberapa dari mereka ada yang menarik pajak secara ilegal padahal, Istana sama sekali tak meminta mereka membayar pajak.” jelas Liu Zhenqi yang telah membacakan seluruh isi dokumen di depan Shu Yinzhi dan Tao Sonyun.


Sambil mengetuk-ngetuk mejanya, Shu Yinzhi berkata, ”Kau sudah mendengar penjelasan Liu Zhenqi. Kali ini aku tidak bisa turun ke lapangan untuk melihat keadaan mereka. Karena itu, aku menyuruhmu untuk menyelesaikan masalah yang ada di sana. Apakah kau berani untuk mengambilnya?”


Tao Sonyun yang sedang berlutut di depannya menjawab, ”Baiklah. Aku akan mengambilnya.”


***


Di istana Naga, Shu Qingzhi tak memiliki pekerjaan di sana. Ia terus menatap beberapa pelayan yang sibuk merapikan segala sudut ruangan yang sangat besar yang bahkan sepuluh kali lipat besarnya dari Istana kekaisaran.


Shu Qingzhi merasa tidak nyaman jika ia terus diam dan hanya menonton mereka dari tempat duduknya. Tak lama, ia pun melihat ke arah Shangguan Wei yang tampaknya akan segera pergi dari Istananya.


Karena penasaran, ia pun segera berjalan menghampirinya dan bertanya, ”Kemana Tuan penyihir akan pergi?”


Shangguan Wei menoleh ke arah Shu Qingzhi yang telah berdiri di belakangnya. Ia tersenyum senang saat melihatnya dan menjawab, ”Aku akan pergi bekerja.”


Shu Qingzhi menatapnya dengan bingung dan bertanya kembali, ”Untuk apa seorang penyihir Naga bekerja padahal dia sudah memiliki segalanya?”


Shangguan Wei tertegun saat mendengarnya. Ia tertawa pelan sambil mengusap kepala Shu Qingzhi dan menjawab, ”Tentu saja bekerja. Aku ini naga yang tenggelam dalam kebosanan. Jadi, untuk menghibur diriku sendiri, aku memutuskan untuk bekerja sebagai penyihir di dunia manusia.”

__ADS_1


Shu Qingzhi menatapnya karena tak mengerti. ”Aku juga ingin pergi keluar.” celetuknya yang membuat Shangguan Wei merasa bingung dan bertanya-tanya.


”Mengapa ingin kembali ke sana? Kau ingin lari dariku?” tanya Shangguan Wei.


Shu Qingzhi menggelengkan kepalanya dan menjawab, ”Aku ini berasal dari dunia manusia. Wajar jika aku merindukan tempat kelahiranku. Lagipula, aku tidak akan pergi karena aku tahu, kau pasti akan menahanku.”


Seketika, Shangguan Wei merasa sangat terkejut dan langsung mengelaknya, ”Bicara apa kau ini? Memangnya, siapa yang akan menahan mu? Aku bahkan membiarkanmu berkeliaran bebas di istanaku yang luas ini. Jadi, untuk apa aku melakukan hal yang percuma seperti itu!”


Shu Qingzhi tidak berekspresi saat menatapnya. ”Kalau begitu, aku ingin pergi ke dunia manusia. Mungkin saja aku akan menemukan tempat yang bisa membuatku nyaman dan tidak merepotkan Tuan penyihir lagi.”


Shangguan Wei terdiam sambil mengalihkan perhatiannya karena malu. Ia merasa canggung saat membawa Shu Qingzhi bersamanya apalagi, dia akan menemaninya bekerja dan bertemu dengan orang banyak.


Shu Qingzhi tertegun dan hanya menganggukkan kepalanya.


Sedetik kemudian, muncul sebuah cahaya merah yang menenggelamkan mereka berdua. Lalu, dengan perlahan muncul aroma embun yang datang dari banyak arah. Shu Qingzhi yang awalnya merasa tegang, mulai merasa sedikit tenang saat mendengar suara angin yang berhembus melewati celah-celah dedaunan dan suara percikan air sungai yang sedang mengalir.


”Sampai kapan kau akan memejamkan matamu? Kita sudah sampai.” ucap Shangguan Wei sambil melepaskan pegangan tangannya.


Perlahan, Shu Qingzhi mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. Tak ada lagi suara sapu yang sedang digunakan dan tak ada lagi aroma laut yang ada di sekitarnya. Seolah-olah semuanya telah hilang tanpa jejak. Lalu, saat ia benar-benar membuka matanya, seketika tatapannya terkejut saat ia telah berada di dalam sebuah hutan dan di belakangnya, terdapat sebuah sungai yang sedang mengalir deras.


”Apakah ini adalah dunia manusia? Mengapa tuan penyihir menaruhku di hutan?” tanya Shu Qingzhi yang tampak heran setelah melihat sekelilingnya yang hanya memiliki pohon pohon besar dan suara dengkuran hewan-hewan buas yang sedang tertidur di siang hari.

__ADS_1


Seketika, Shangguan Wei merasa canggung dan bingung untuk menjawabnya. Perhatiannya sempat menatap sekitar dan mencoba memikirkan jawaban yang cocok untuk pertanyaannya. ”... Sebenarnya, belakangan ini aku tidak bisa berteleportasi dengan baik. Setidaknya, kita tidak mendarat di pinggir tebing atau di tengah-tengah kelompok penjahat, kan?”


”Ada dua korban di sini! Mereka tampaknya sangat kaya!” ucap seseorang yang sedang bersembunyi di dalam hutan. Dan tak lama setelahnya, muncul tujuh pemuda berjubah hitam yang sedang mengepung keduanya dari segala arah. Mereka ini adalah kelompok penjahat yang belakangan ini sering memeras harta penduduk desa dan menagih pajak secara ilegal.


”Lupakan apa yang aku katakan barusan.” ucap Shangguan Wei yang langsung menarik Shu Qingzhi ke belakang punggungnya.


Mereka semua tampak seperti penjahat dengan wajah mereka yang tampak mengerikan. Selain itu, mereka memegang sebuah pedang biasa yang mereka dapatkan dari para pasukan istana yang mati saat sedang bertugas. Tampaknya, mereka ini lebih kuat dari pasukan-pasukan istana.


Salah satu dari penjahat ini menghunuskan pedangnya dan berkata, ”Serahkan semua yang kau miliki termasuk gadis kecil yang ada di belakangmu.”


”Hah? Memangnya aku akan memberikannya secara cuma-cuma? Setidaknya lawanlah aku dengan seluruh kemampuan kalian!” celetuk Shangguan Wei yang tak terima.


Berada dalam keadaan seperti ini, membuat Shu Qingzhi tiba-tiba teringat dengan kejadian yang saat itu pernah menimpanya saat berada di rumah sakit jiwa. Ia dikepung oleh beberapa laki-laki yang ukuran tubuhnya sepuluh kali lipatnya dari ukuran tubuhnya. Setiap hari, selalu ada ujian bertahan hidup di sana. Siapapun yang gagal, dia akan mati di tangan pasien yang lain.


Hanyut dalam kegilaannya sendiri, Shu Qingzhi menarik pisau yang berada di pinggang Shangguan Wei dan berjalan di depannya. Sontak, hal itu membuat mereka semua terkejut dan terdiam selama beberapa saat.


”Aku sangat benci berada di posisi ini. Mengapa Putri yang malang ini selalu berada dalam bahaya kemanapun dia pergi? Dia bahkan tak diakui oleh Ayahnya sendiri dan kakak laki-lakinya.” ucap Shu Qingzhi dengan pelan.


”Kau tidak perlu melakukannya! Biar aku saja yang akan melawan mereka semua!” bisik Shangguan Wei yang langsung menarik Shu Qingzhi ke belakang.


Shu Qingzhi yang awalnya terdiam, mulai menoleh ke arah Shangguan Wei dan memelototinya dengan tatapan yang terlihat sangat marah. ”... Mereka ini benar-benar membuatku kesal. Kau jangan pernah menghalangiku atau aku juga akan membunuhmu.”

__ADS_1


__ADS_2