
Keesokan harinya.
”Yang Mulia.” seru Shu Qingzhi yang berhasil membangunkan Tao Sonyun yang sedang melamun, menatap keluar jendela. ”... Apakah Yang Mulia ingin pergi keluar? Udara cukup sejuk dan bisa membuat luka mu sembuh lebih cepat.”
Beberapa saat setelahnya, Shu Qingzhi memapah Tao Sonyun untuk berjalan keluar. Udara yang ada di dalam hutan jauh lebih sejuk dibandingkan udara yang ada di Istana. Aroma bunga tercium dimana-mana dan rumput yang berembun, membuat sepatu keduanya basah sedikit.
Shu Qingzhi menaruh Tao Sonyun di atas sebuah batu yang ada di dekat sungai. Ia berharap suara air yang mengalir bisa membuat pikirannya jauh lebih tenang dan membuatnya ingat siapa yang sudah menjatuhkannya dari atas jurang.
”Apakah Yang Mulia sudah merasa baik-baik saja?” tanya Shu Qingzhi setelah ia memperhatikan Tao Sonyun yang begitu menikmati udara yang ada di sekitarnya.
”Lumayan. Aku merasa bisa merasa lebih baik dari sebelumnya.” jawab Tao Sonyun. ”... Lalu, dimana laki-laki yang bersamamu kemarin?”
”Dia pergi berburu. Tuan penyihir berjanji akan membawakan daging rusa yang sangat besar.”
”Mengapa Tuan Putri tidak kembali ke Istana? Semua orang mengira kalau kau sudah mati karena terjatuh dari atas tebing. Lalu, sebenarnya siapa laki-laki itu? Tatapannya seperti bukan manusia.” tanya Tao Sonyun yang mulai serius menatapnya.
Shu Qingzhi terdiam selama beberapa saat. Pertanyaan yang dikatakan oleh Tao Sonyun membuatnya berpikir, untuk apa dia kembali ke Istana padahal dia sendiri yang telah memutuskan untuk pergi dari sana? Yang mulia Kaisar juga tak pernah menganggapnya dan seluruh Putri selir juga membencinya. Jadi, seharusnya tak ada seorangpun yang perlu bertanya tentang hal itu padanya.
”Aku sendiri yang sudah memutuskan untuk pergi. Jadi, aku tidak perlu menjelaskannya pada Yang Mulia.” jawab Shu Qingzhi.
”Setidaknya katakan sesuatu pada Yang Mulia Putra mahkota. Saat mendengar berita kalau Tuan Putri menghilang, dia menghukum seluruh pasukan yang diperintahkan untuk menjaga Tuan Putri sampai ke tujuan.”
Mendengar jawaban ini keluar dari mulut Tao Sonyun, membuat Shu Qingzhi begitu terkejut ketika mendengarnya. Dalam cerita aslinya, Shu Yinzhi mungkin sangat membenci dirinya. Akan tetapi, saat ia menggantikan posisi Shu Qingzhi, semuanya berubah menjadi terbalik. Ia tak pernah mengerti bagaimana perasaan Shu Yinzhi saat melihatnya. Ia mungkin dingin dan tegas. Ia juga tak tertarik pada apapun selain tugas negara yang harus diselesaikan olehnya.
”Kenapa Putra mahkota sampai-sampai menghukum mereka? Para pasukan itu sama sekali tidak bersalah. Aku yang menyuruh mereka pergi.” ucap Shu Qingzhi.
”Mau bagaimana lagi? Tak ada seorangpun yang berani menghentikan Putra mahkota saat itu. Kau tahu sendiri kalau dia sampai marah besar, pastinya akan ada yang harus mati karenanya. Sama seperti beberapa pasukan yang langsung mati setelah mendapatkan ratusan pukulan di punggung mereka.”
__ADS_1
Shu Qingzhi terdiam tanpa ekspresi. Ia menggigit bibirnya sambil memegang roknya dengan kuat. Ia sudah dibuat bingung oleh karakter yang tak seharusnya muncul dalam novelnya. Lalu, tiba-tiba saja karakter Shu Yinzhi yang seharusnya sangat membencinya malah bertindak sebaliknya. Begitu juga dengan keberadaan Tao Sonyun yang seharusnya menjadi karakter paling beruntung karena selalu berada di posisi paling aman.
Semuanya berantakan!
”Tuan Putri! Ada apa? Kau melamun.” tanya Tao Sonyun yang memperhatikannya.
”Tidak apa-apa.” jawab Shu Qingzhi yang kembali terdiam.
”Mengenai itu, Apakah Tuan Putri memiliki hubungan dengan Putra mahkota?” tanya Tao Sonyun yang membuat Shu Qingzhi merasa terkejut. ”... Kalau dari yang kulihat, Tuan Putri memiliki kesamaan dengan Putra mahkota. Selain itu, marga keluargamu juga sama. Mungkinkah kau itu adalah adik dari Putra mahkota?”
Shu Qingzhi terdiam bingung. Ia tak tahu apa akibatnya jika ia memberitahukan kebenarannya pada Tao Sonyun yang tak memiliki hubungan apapun dengannya. Semua jalan ceritanya telah berubah. Ini tak seperti karya yang ditulis olehnya dalam secarik kertas. Atau mungkin saja, seseorang telah mengubahnya sehingga alurnya menjadi sangat berantakan.
”Tidak mungkin itu terjadi. Lagipula, Yang Mulia Kaisar sendiri tidak menganggapku sebagai salah satu dari putrinya.” jawab Shu Qingzhi sambil menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia merasa sedih setelah ingatan tentang Shu Qingzhi kembali menggema di pikirannya.
Melihat hal itu, membuat Tao Sonyun merasakan penasaran. Ia mendekatkan wajahnya perlahan. Dan saat ia sudah berada tepat di depannya, Shangguan Wei muncul tiba-tiba dan membuat Tao Sonyun tampak terkejut dan langsung menghentikan gerakannya.
”Kau berusaha untuk menggoda calon permaisuriku?” tanya Shangguan Wei dengan senyum yang tampak mengancam.
***
Istana Kekaisaran, ruang pribadi Shu Yinzhi.
”Yang Mulia! Yang mulia!” seru salah seorang pasukan yang berlari menghampiri Shu Yinzhi dengan terburu-buru karena rasa takut yang menghantuinya.
Mendengar teriakan ini, membuat Shu Yinzhi melakukan kesalahan saat sedang menulis dokumen penting. Ia merasa sangat kesal karena ia harus menulis ulang. ”Haah,... Cepat katakan! Apa yang terjadi!” tanya Shu Yinzhi yang tampak kesal.
”Ini sangat gawat Yang Mulia. Pangeran ketujuh, menghilang saat bertugas! Terakhir kali, ia pergi ke dalam hutan yang dipenuhi binatang buas untuk menemukan penjahat di desa Hui!” jelas pasukan.
__ADS_1
Shu Yinzhi terkejut dan langsung menjatuhkan kuasnya. Ia menghela nafasnya dan berkata, ”Suruh Pangeran keempat Xu Yingge untuk mencarinya. Saat ini aku sedang sibuk!”
”Tapi, Yang Mulia. Pangeran keempat baru saja pergi keluar kota dan tak akan kembali selama beberapa hari.” lanjut pasukan tersebut.
Shu Yinzhi menghela nafasnya dan berkata kembali, ”Kalau begitu, suruh pangeran ketiga!”
Pasukan itu tampak terkejut setelah mendengarnya dan bertanya kembali, ”Maksud Yang Mulia, Pangeran Chen? Tapi, dia,...
”Mencoba melawan perintahku?” lanjut Shu Yinzhi yang langsung menatapnya dengan dingin.
Pasukan yang ada di depannya langsung menunduk dan berkata, ”B~ baik Yang Mulia.”
***
”Apa yang kalian lakukan?! Cepat rapikan semua kekacauan ini!” seru seorang Pangeran yang tampak marah setelah melihat ruangannya terlihat sangat berantakan seperti dihantam oleh badai malam.
”Baik! Pangeran Chen!” seru beberapa pelayan yang langsung bergerak merapikan seluruh tempat tersebut.
Yi Chen adalah Putra sulung dari selir pertama Kaisar yang berasal dari keluarga Yi. Ia merupakan teman berburu Shu Yinzhi sekaligus orang yang pernah mengajarkannya cara memanah dengan benar. Akan tetapi, semakin tua usianya, ia semakin keras kepala dan selalu memperhatikan hal yang tidak benar di sekitarnya. Ia sangat tidak menyukai jika tempatnya menjadi berantakan. Dan bahkan, ia pernah meminta beberapa pelayan pribadinya untuk membersihkan kamar yang bahkan bukan miliknya.
Meskipun begitu, ia tetap menuruti perintah yang diberikan Kaisar maupun Putra mahkota.
”Yang mulia! Yang mulia!” seru seorang Kasim muda yang berlari menghampirinya dengan terburu-buru.
Bola mata indah berwarna ombak biru, langsung menatap ke arah datangnya Kasim tersebut. ”... Ada apa terburu-buru begini? Cepat katakan dan sebaiknya jangan membuang-buang waktu ku!” ucap Yi Chen dengan tegas.
”Yang mulia Putra mahkota memerintahkan Anda untuk segera mencari keberadaan Pangeran ketujuh yang hilang di dalam hutan!” lanjut Kasim sambil berlutut di hadapannya.
__ADS_1
”Huh! Merepotkan!” gumam Yi Chen yang kemudian berkata pada para pelayannya, ”... Cepat! Kalian bersihkan semua kekacauan ini sampai aku kembali! Jika ada satu noda yang tertinggal, awas saja kalian!” ucapnya dengan dingin.
”B~ baik Yang Mulia!”