Putri Mahkota Gila

Putri Mahkota Gila
Bab. 06 - Pertemuan


__ADS_3

Pagi harinya, Shu Yinzhi mengunjungi kamar Shu Qingzhi yang berada di sekitar wilayah kediamannya. Ia merasa penasaran mengapa wajah Shu Qingzhi begitu mirip dengannya. Ia bahkan sampai teringat dengan pepatah zaman dulu. ”Jika kau bertemu dengan seseorang yang memiliki wajah sama sepertimu maka, dia adalah jodohmu.”


”Tidak! Tidak! Bagaimana mungkin aku bisa percaya dengan pepatah zaman dulu?! Dia hanyalah gadis yang keberadaannya masih belum diketahui. Aku bahkan belum pernah menemui seorang gadis yang mampu melawan lima orang penjahat sekaligus.” batin Shu Yinzhi yang langsung mengalihkan perhatiannya dari Shu Qingzhi yang masih tertidur.


Dia itu kuat sekali. Insting berburunya sangat tajam.


”Yang Mulia! Yang Mulia!” seru seorang Kasim muda yang berlari memasuki ruangan tersebut dan berdiri langsung di depan Shu Yinzhi.


Shu Yinzhi yang terkejut mulai bertanya, ”Ada apa ribut-ribut mencariku?”


Setelah Kasim itu memberi salam, ia berkata kembali, ”Nona muda ini, ternyata adalah Putri istana Selir, Shu Qingzhi. Ada salah satu pelayan yang sibuk mencari Nonanya bahkan sampai menyelinap masuk ke Istana kekaisaran.”


Mendengarnya membuat Shu Yinzhi tampak sangat terkejut. Dia langsung menatap kembali ke arah Shu Qingzhi dan menatap kembali ke arah Kasim tersebut. ”Kau bilang, namanya adalah Shu Qingzhi? Darimana kau mengetahuinya?”


Kasim itu menjawab, ”Gadis pelayan itulah yang memberitahukannya padaku. Dia sedang mencari Putri ke-16 Shu Qingzhi.”


Shu Yinzhi terkejut. Ia langsung membuka lengan pakaian Shu Qingzhi sedikit dan ia pun langsung melihat puluhan luka sayatan dan luka bakar yang membuat kulitnya berbeda dari yang lain.


Aku pernah mendengar cerita tentang Putri ke-16 yang bahkan keberadaannya tak diakui oleh Kaisar. Semua Putri selir selalu memberikannya bekas luka yang sangat dalam. Ia bahkan pernah didorong masuk ke dalam hutan yang dipenuhi dengan bintang-bintang buas. Dan karena hal itu, pelayan rendahan yang menjaganya sejak kecil tercabik-cabik hingga mati. Dan belum lama ini, aku mendengar kalau Putri ke-16 jatuh sakit karena infeksi pada bekas lukanya yang tidak diobati dengan baik. Aku pikir dia baik-baik saja tapi, Para Putri selir memaksanya untuk tidur di luar karena mereka telah mengunci gudang penyimpanan yang merupakan tempat tinggalnya.

__ADS_1


”Kenapa aku merasa sangat kesal dan kasihan melihatnya? Siapa yang melakukan semua ini? Tapi, mengapa dia bisa semudah itu pergi dari istananya? Apa dia sudah tidak tahan dengan semua orang yang ada di sana sehingga dia memutuskan untuk pergi?” batin Shu Yinzhi yang melihatnya dengan perasaan kasihan sekaligus kesal dengan sikap yang ditunjukkan para Putri selir.


”Yang Mulia, apakah kita harus mengembalikannya ke istana para selir?” tanya Kasim tersebut.


”Tidak.” celetuk Shu Yinzhi. ”Mari dengar apa yang dikatakan pelayan itu terlebih dulu.” lanjutnya sambil berjalan keluar ruangan untuk bertemu dengan Fu Yiren yang sudah menunggunya di depan sana.


Saat ia telah berada di depan, ia langsung menatap Fu Yiren yang tampak sedang mencemaskan keadaan Shu Qingzhi setelah ia tak kembali semalaman. Lalu, setelah Fu Yiren melihat keberadaan Shu Yinzhi di depannya, ia pun langsung melangkah mundur mendekatinya dan bertanya, ”Yang Mulia! Maaf atas kelancangan ku. Bisa aku mengetahui, bagaimana keadaan Nona saat ini? Jika dia terluka, aku mohon selamatkan dia.” ucapnya sambil bersujud di depannya.


Shu Yinzhi berjalan mendekatinya dan berkata, ”Tegakkan badanmu!”


Fu Yiren merasa sangat terkejut. Ia pun langsung mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke arah Shu Yinzhi yang ada di depannya.


Fu Yiren terkejut dan membuka matanya kembali.


Shu Yinzhi melanjutkan, ”Mengapa Putri ke-16 melarikan diri dari Istana? Aku menemukannya sedang bertarung dengan lima orang penyusup dan berakhir dengan luka sayat dan tusukan anak panah di kedua bahunya. Kau adalah pelayan pribadinya dan seharusnya kau tahu bagaimana perasaan Nona mu saat ini.”


Seketika Fu Yiren terdiam dengan wajah yang tak dapat menahan kasihan mengingat kejadian yang baru-baru ini menimpa Shu Qingzhi. Ia tak bisa menahan keinginannya untuk menangis sehingga ia hanya bisa tertunduk diam.


”Aku tak bermaksud tidak sopan pada Yang Mulia. Tapi, pelayan rendahan ini memohon pada Yang Mulia agar membiarkan Nona tinggal di sebelah Anda untuk sementara waktu. Ia tak pernah mendapatkan ketenangan di istana Putri selir. Sebenarnya, saat ini Nona sedang sakit tetapi, para Putri selir selalu mengganggunya. Karena itu, aku mohon pada Yang Mulia untuk membiarkan Nona tetap tinggal di sini!” ucap Fu Yiren sambil bersujud di depannya.

__ADS_1


Jadi, berita tentang Putri ke-16 benar. Tak ku sangka aku bisa bertemu dengannya. Dan mengapa, hal ini harus terjadi?


”Kaisar mungkin akan marah jika dia tahu kalau Putri ke-16 tinggal di istananya. Kau juga, harus memikirkan orang yang ada di sekitarmu dan apa jadinya jika Putri ke-16 tetap tinggal di Istana Kaisar.” jawab Shu Yinzhi.


Fu Yiren terlihat sangat terkejut sekaligus tertekan dengan apa yang dikatakan oleh Shu Yinzhi. Ia tahu tidak seharusnya ia berada di istana kekaisaran dan sudah seharusnya ia tetap tinggal di Istana putri selir. Namun, ia terlalu mencemaskannya hingga ia pun memutuskan untuk menyusulnya saja.


Fu Yiren mengangkat kepalanya kembali dan berkata, ”Maafkan pelayan ini sebelumnya. Tapi, apakah Yang Mulia percaya kalau sebenarnya, Nona adalah adik sekaligus saudara kembar Yang Mulia?”


Shu Yinzhi terdiam dengan wajah yang tak bisa menahan keterkejutannya setelah mendengar hal tersebut. Ia tertawa mengejek dan berkata pelan, ”Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Kau menyamakan ku dengan Putri ke-16 yang sakit-sakitan seperti itu?” ucap Shu Yinzhi sambil menatap Fu Yiren dengan dingin.


”....!”


Untuk sesaat, Shu Yinzhi mengalihkan perhatiannya dan berkata, ”Pergilah bersama Putri mu. Aku tidak membutuhkan kalian berdua jika berada di Istana ini.” ucapnya sambil berbalik membelakanginya.


Beberapa langkah saat ia akan pergi dari tempat tersebut, tiba-tiba terdengar suara, ”Yinzhi! Tunggu sebentar!” seru Liu Zhenqi yang berlari menghampirinya dengan membawa secarik kertas di tangannya.


Shu Yinzhi langsung menatap ke arah Liu Zhenqi yang telah berada di sebelahnya dan bertanya, ”Ada apa?”


Liu Zhenqi menunjukkan kertas tersebut di depannya dan berkata, ”Kau harus membaca surat ini! Ini adalah pesan yang ditulis langsung oleh mendiang permaisuri!”

__ADS_1


__ADS_2