Putri Mahkota Gila

Putri Mahkota Gila
Bab. 16 - Membenci


__ADS_3

Shu Qingzhi terbangun di antara bebauan laut yang ada di sekitarnya. Saat ini, sebuah tempat tidur yang empuk dan beberapa pelayan telah melayaninya dengan sangat baik. Sudah beberapa hari ini, ia tak sadarkan diri setelah membunuh orang-orang dengan brutal. Perhatiannya tampak tak berekspresi saat melihat tirai bambu bercorak naga.


”Sudah berapa hari?” gumam Shu Qingzhi yang tak bisa menggerakkan badannya.


Suara ini mampu terdengar di telinga Yin Chu yang sedang merapikan barang-barangnya. Sedetik kemudian, ia langsung menghampiri Shu Qingzhi yang masih berada di tempat tidurnya dan ia pun tampak terkejut saat melihatnya sudah terbangun meskipun setengah sadar.


”Syukurlah Nona baik-baik saja. Kami sangat mencemaskan Nona dan bahkan, Tuan penyihir sampai tidak ingin makan selama berhari-hari dan menghabiskan waktunya untuk bermalas-malasan.” ucap Yin Chu sambil mengusap matanya karena sedih.


Shu Qingzhi menatapnya dengan bingung dan bertanya, ”Siapa kau ini?”


Yin Chu terkejut dan langsung berkata, ”Apakah Nona sudah lupa? Aku adalah pelayanmu, Yin Chu.”


”Yin Chu?” Shu Qingzhi tampak kebingungan saat mendengar nama tersebut. Ia merasa sedikit familiar namun, ia gak bisa mengingat siapa pemilik nama ini dan bagaimana wajahnya. ”... Kau gadis yang sudah menolongku?”


Yin Chu langsung menjawab, ”Bukan aku yang menolong Nona. Tapi, Tuan penyihir yang sudah menghentikan Nona. Saat itu, Nona sudah membunuh tujuh orang penjahat. Sebelum Nona semakin lepas kendali, Tuan penyihir membuat Nona tertidur. Namun, karena sihirnya terlalu kuat, Nona sudah tertidur selama tiga hari.”


Shu Qingzhi tidak berekspresi dan menatap keluar jendela yang menampakkan sebuah pemandangan dalam laut yang dipenuhi dengan ikan-ikan kecil sampai yang besar. ”... Aku ingin keluar dari sini.” gumam Shu Qingzhi.


”T~ tidak bisa Nona. Jika Nona pergi, bagaimana dengan Tuan penyihir? Dia pasti akan sangat sedih jika Nona pergi.” ucap Yin Chu dengan cemas.


Shu Qingzhi menatap Yin Chu dan bertanya, ”Memangnya, aku ini siapa baginya dan dia itu siapa bagiku? Aku bahkan tak menyukainya dan tidak mengenalnya. Mengapa dia seenaknya saja membawaku kemari dan enggan untuk mengembalikan ku ke tempat asalku?”


Seketika, Yin Chu terdiam dengan ekspresi yang tampak terkejut sekaligus tak terima dengan semua perkataannya. Tetapi, Shangguan Wei sudah melarangnya untuk membentak Shu Qingzhi dengan alasan yang membuatnya penasaran.

__ADS_1


”Yin Chu! Pergilah dari sana. Aku ingin bicara dengannya.” ucap Shangguan Wei yang sedang berjalan menghampiri keduanya dari balik pintu.


Yin Chu langsung menatap ke arah Shangguan Wei yang telah berada di sebelahnya. Ia khawatir karena jika ia tidak berada di sana, ia tak akan bisa menghentikan Shangguan Wei ketika dia mulai marah dengan perkataan yang selalu dikeluarkan oleh Shu Qingzhi. ”... Semoga saja dia tidak memukulnya.” batinnya.


Beberapa saat setelah Yin Chu meninggalkan ruangan tersebut. Shangguan Wei tampak bingung dengan sifat Shu Qingzhi yang selalu berubah-ubah semenjak kejadian kemarin. Namun, anehnya ia tak pernah melihatnya tertawa meskipun sedikit.


”Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan terhadapmu. Saat aku marah, aku mungkin bisa menghancurkan negara tempat tinggalmu. Tapi, untuk sekarang aku akan mencoba mendengarkan ceritamu. Apa yang membuatmu seperti ini dan hal apa yang membuatmu tertawa.” ucap Shangguan Wei sambil duduk di atas tempat tidurnya.


”.....”


Melihat Shu Qingzhi yang hanya terdiam selama beberapa saat, membuat Shangguan Wei tampak heran dan bertanya, ”Ada apa? Kau tidak ingin menceritakannya? Atau ada sesuatu yang salah di sini?”


Shu Qingzhi menggelengkan kepalanya karena malas berbicara. Sesaat, ia mengalihkan perhatiannya dari tatapan Shangguan Wei yang terus melihatnya. ”Tidak banyak yang aku ingat. Secara tak sadar, aku telah membuat sebuah cerita yang membuat kehidupanku berantakan dan berakhir tragis. Aku ini orang yang tak diinginkan oleh siapapun. Aku sudah terbiasa hidup sendiri dan bertahan hidup dengan kedua tanganku. Tapi, anehnya kau langsung datang begitu saja dan mengatakan hal yang sia-sia.” ucapnya pelan.


Disisi lain, Tao Sonyun tampak telah sampai di sebuah desa bernama Desa Hui. Sesuai dengan laporannya, Desa ini terlihat sangat miskin karena ada sekelompok orang yang memeras uang mereka. Selain itu, tampaknya mereka juga sedang gagal panen sehingga, mereka tak memiliki bahan makanan untuk sehari-hari.


”Kasihan sekali.” gumam Tao Sonyun yang langsung turun dari atas kudanya.


Beberapa langkah setelah ia meninggalkan pasukannya, seorang wanita paruh baya tampak sedang berjalan melewatinya. Namun, keadaannya tampak sangat kurus karena selama beberapa hari ini, ia belum makan apapun. Dan saat keduanya berpapasan, wanita itu terjatuh karena tak kuat berjalan dengan membawa dua ember air yang masih penuh.


”Nyonya? Kau baik-baik saja?” tanya Tao Sonyun yang tampak cemas setelah melihat keadaannya.


Wanita itu tampak tidak bisa bernafas. Wajahnya terlihat pucat dan bibirnya kering. Ia bahkan tak bisa membuka kedua matanya.

__ADS_1


”Siapapun! Berikan air dan makanan! Cepat!” seru Tao Sonyun pada beberapa pasukannya.


Setelah mendapatkannya, ia mencoba memberi minum pada wanita itu perlahan. Dan tak lama kemudian, ia pun membuka matanya meskipun ia terlihat sangat lemah dan tidak bisa berjalan lagi.


”Yang Mulia, tolong kami. Ada sekelompok penjahat yang selalu menghabiskan bahan makanan kami. Jumlah mereka ada puluhan orang dan mereka mampu menggunakan pedang sebagai senjatanya.” ucap wanita dengan nada ketakutan.


Tao Sonyun menggigit bibirnya dan langsung berkata, ”Segera menyebar dan tangkap orang-orang yang sudah menjarah harta penduduk desa! Jangan sampai ada yang tersisa!”


***


”Kau ingin mencoba pergi ke dunia manusia lagi?” tanya Shangguan Wei yang kemudian dijawab oleh Shu Qingzhi dengan anggukan kepala. ”... Tapi, kau tidak akan membunuh siapapun yang ada di sana kan?” lanjutnya yang langsung membuat Shu Qingzhi menggelengkan kepalanya.


Shangguan Wei menghela nafasnya dan berkata, ”Baiklah! Tapi, berjanjilah padaku kau tidak akan melakukan macam-macam yang membuatku harus menidurkanmu!”


Shu Qingzhi menganggukkan kepalanya.


Setelah yakin dengan jawabannya meskipun hanya dengan gerakan kepala, Shangguan Wei akhirnya menuruti apa yang diinginkannya. Ia pun memegang tangan Shu Qingzhi dengan erat dan berkata, ”Jangan sampai dilepas jika kau tidak ingin hancur.”


Beberapa detik setelahnya, Shangguan Wei menjentikkan jarinya dan saat itu juga, mereka pun sampai di sebuah pinggiran sungai yang ada di bawah jurang. Shu Qingzhi mulai percaya kalau sihir teleportasi milik Shangguan Wei memang tidak bisa digunakan dengan baik.


Saat cahaya yang membawa mereka pergi telah menghilang, Shu Qingzhi menatap ke tanah dan melihat ada seorang pemuda yang tampak sekarat dan sepertinya, pemuda ini telah jatuh dari atas jurang ketika sedang bertarung dengan seseorang.


***

__ADS_1


*selamat lebaran:)


__ADS_2