
”Yang Mulia, perjalanan ke Desa Hui masih cukup jauh. Apakah Yang Mulia ingin beristirahat sebentar?” tanya seorang pengawal yang berjalan di sebelah Tao Sonyun.
Tao Sonyun menatap langit yang mulai gelap. ”... Benar juga. Kita sudah berjalan dari pagi tadi. Mungkin, sebaiknya kita beristirahat sebentar di sini. Yang lainnya pasti lelah.” jawabnya.
”Baik, Yang Mulia. Saya akan segera memerintahkan pada pasukan yang lain.” pengawal itu berjalan mundur dan memberitahukan hal ini pada semua orang yang ada di belakangnya.
Tao Sonyun yang mulai berpikir untuk beristirahat sebentar, merasa kalau ada sesuatu yang harus diperiksa olehnya. Selagi para pasukan sedang beristirahat di tempat mereka, Tao Sonyun menunggangi kudanya dan berjalan masuk ke dalam hutan.
Benar saja, beberapa langkah setelah ia menjauh dari keramaian, ia mendengar suara teriakan beberapa orang yang terluka. Selain itu, terdengar juga suara daging yang terkoyak oleh sebuah pisau yang sangat tajam.
Tao Sonyun yang awalnya tak ingin ikut campur, mulai merasa penasaran dengan apa yang terjadi di dalam hutan. Tanpa pikir panjang, ia segera turun dari atas kudanya untuk melihat apa yang terjadi di sana. Meskipun ia sudah menghirup aroma darah dan jeritan dari beberapa orang, ia tampak tak menghiraukan hal itu sama sekali.
Di sisi lain, Shu Qingzhi telah menghabisi sebagian dari sekelompok orang yang berusaha mengepungnya. Shangguan Wei kehabisan kata-kata untuk membujuk Shu Qingzhi agar ia tidak melakukan hal itu. Namun, tetap saja ia tidak bisa dihentikan. Ia mulai cemas karena Shu Qingzhi mulai mendapatkan luka yang cukup parah akibat pertarungannya. Dan ia juga ikut menyesal karena telah mendarat di tempat yang salah dan tidak seharusnya dia mengajak Shu Qingzhi kembali kemari.
”Shu Qingzhi! Hentikan! Jangan lakukan lagi!” seru Shangguan Wei yang berusaha menghentikan Shu Qingzhi. Namun, Shu Qingzhi malah menyerangnya sehingga hal itu membuatnya terluka.
”Hanya yang kuat yang bisa bertahan hidup! Aku tidak ingin mati sekarang!” teriak Shu Qingzhi yang langsung menyerang penjahat tersebut dengan brutal bahkan sampai membuat pisaunya patah.
Semua penjahat ini mati dengan luka sayatan yang ada di sekujur tubuh mereka. Selain itu, beberapa ada yang memiliki luka tusukan pada jantung mereka sehingga membuat pendarahannya tidak bisa dihentikan. Setidaknya sudah ada tujuh orang yang mati di tangannya. Dan sampai saat ini, ia tak pernah berhenti menyerang mereka dengan segala cara.
Dan sebelum keadaannya semakin parah, Shangguan Wei memeluknya dari belakang sehingga membuat pergerakannya seketika terhenti saat itu juga. ”Shu Qingzhi. Hentikan! Jangan sakiti dirimu sendiri.” bisik Shangguan Wei.
Saat hal itu terjadi, sekelompok penjahat ini langsung pergi meninggalkan mereka berdua dengan perasaan takut setelah setengah dari mereka telah terbunuh di tangan Shu Qingzhi yang hanya menggunakan pisau.
__ADS_1
Shu Qingzhi merasa tersentuh. Ia menyentuh punggung tangan Shangguan Wei yang sedang memeluknya. Perlahan, bibirnya mulai bergetar dan kedua bola matanya terlihat sembab karena dipenuhi dengan air mata. Untuk pertama kalinya, Shu Qingzhi menjatuhkan pisaunya ke tanah. Ia pun langsung jatuh terduduk diikuti oleh Shangguan Wei yang memastikan dia tidak akan membunuh lagi.
”Selama ini, aku sangat takut. Aku takut aku akan mati. Sangat takut!” ucap Shu Qingzhi dengan pelan. Setelah itu, ia pun berteriak dan menangis keras sambil menutupi wajahnya yang sedang sedih.
Di belakangnya, Shangguan Wei tampak tak bisa berkata apapun lagi untuknya. Ia sangat mengerti perasaannya dan ketakutan yang selama ini dialami olehnya. Wajar saja karena ia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari siapapun dan selalu menjadi orang buangan yang ditindas tanpa rasa manusiawi.
Di tengah-tengah tangisnya, Shangguan Wei berbisik, ”Jangan menangis. Semuanya sudah tidak apa-apa. Sebaiknya, kau tidur saja. Kita akan kembali sekarang.”
Sejurus kemudian, Shu Qingzhi mendadak tertidur di atas bahu Shangguan Wei. Ia tertidur cepat seperti ini karena Shangguan Wei menggunakan sihir dalam perkataannya. Dan di waktu bersamaan, Shangguan Wei menyadari kalau ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka. Namun, ia memilih untuk diam karena orang itu tak akan merugikan mereka berdua.
Karena tak ingin orang itu tahu kalau ia adalah penyihir, Shangguan Wei berjalan dengan membawa Shu Qingzhi menuju suatu tempat yang jauh dari kerumunan pasukan yang sedang beristirahat.
Di sisi lain, Shangguan Wei tampaknya memang sudah menyadari keberadaan Tao Sonyun yang sedang bersembunyi di sana. Hanya saja, ia tak ingin memperpanjang urusan ini dan memilih untuk melupakannya saja. Akan tetapi, Tao Sonyun sendiri merasa sangat terkejut setelah melihat hal itu terjadi di depan matanya.
”Kenapa Putri Qingzhi bisa ada di sana? Lalu, siapa laki-laki yang sedang bersamanya tadi? Dan juga, apakah semua ini serius? Orang-orang itu mati dalam sekejap?” guman Tao Sonyun yang memikirkannya. Raut wajahnya pun tampak khawatir dan berpikir kalau semua ini hanya ilusi.
”Putra mahkota mungkin tak akan percaya kalau aku baru saja bertemu dengan Putri Qingzhi. Oh, mungkin tidak. Dia pasti akan sangat marah begitu ia mendengar kalau Putri Qingzhi masih hidup dan dia berencana untuk membunuhnya lagi.” pikirnya yang mulai curiga.
”Yang Mulia! Ternyata Anda di sini! Kami sudah mencari Yang Mulia di sekitar hutan.” seru seorang pengawal yang berlari menghampiri Tao Sonyun begitu pengawal ini melihat kudanya terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
”Mengapa Yang Mulia tidak tidur? Perjalanan kita masih sangat panjang esok hari.”
Tao Sonyun melirik ke belakang dan berkata, ”Sebetulnya, aku baru saja melihat sesuatu yang sangat jarang dilihat di istana.”
__ADS_1
Pengawal itu tertegun dan langsung menatap ke arah Tao Sonyun tunjuk menggunakan matanya. Lalu, setelah itu ia tampak terkejut begitu ia disuguhkan dengan pemandangan mengerikan. Yaitu tumpukan mayat-mayat yang membentuk sebuah danau darah di sekitarnya.
”S~ siapa yang sudah melakukan semua ini, Yang Mulia?”
Tao Sonyun melipat tangannya dan menjawab, ”Siapa lagi jika bukan Putri Qingzhi? Orang-orang ini mengepungnya sehingga mereka merasakan akibatnya.”
”Tapi, bukankah Putri Qingzhi sudah mati setelah jatuh dari atas jurang?”
”Aku rasa tidak seperti itu.” jawab Tao Sonyun. ”... Dia memang terjatuh dari atas jurang. Lalu, ada seseorang yang menyelamatkannya. Bukankah itu adalah hal yang mungkin saja terjadi jika orang itu benar-benar beruntung?”
”Apakah Yang Mulia benar-benar melihatnya? Yang mulia tidak sedang bercanda, kan?”
”Tentu saja tidak!” jawab Tao Sonyun. ”... Tapi, tampaknya laki-laki yang menyelamatkan Putri Qingzhi bukanlah manusia. Sorot matanya saja sangat berbeda dan aromanya, lebih seperti aroma pedalaman laut.”
”Mungkin, Yang Mulia berpikir kalau laki-laki itu adalah penyihir?”
Tao Sonyun tertegun dan bertanya kembali padanya, ”Kau mengetahui sesuatu?”
Pengawal itu menganggukkan kepalanya dan menjawab, ”Tentu saja. Belakangan ini, aku sering dengar dari penduduk desa kalau ada seorang penyihir yang mampu menyuburkan tanaman mereka dalam sekejap. Selain itu, dia juga bisa menumbuhkan bunga dari sebuah pohon yang sudah mati. Mereka menyebut orang itu sebagai penyihir. Namun, mereka tak pernah tahu siapa namanya.”
”Penyihir? Jadi, laki-laki itu adalah penyihir? Mengapa dia bisa ada di sini?” tanya Tao Sonyun yang tampak tidak percaya.
”Mungkin, itu adalah suatu kebetulan Yang Mulia. Penyihir itu tinggal di daerah laut. Jadi, wajar saja jika dia bisa bertemu dengan Putri Qingzhi.”
__ADS_1
Tao Sonyun berpikir, ”Benar juga. Lalu, apa yang harus aku lakukan dengannya? Apa yang akan terjadi jika aku memberitahukan hal ini pada Putra mahkota?”