Putri Mahkota Gila

Putri Mahkota Gila
Bab. 12 - Memeriksa Tempat


__ADS_3

”Yang Mulia! Di depan sana adalah tempat kami meninggalkan Putri Qingzhi.” ucap seorang pengawal yang menemani Shu Yinzhi menuju tebing yang ada di depan mereka.


Kuda mereka kembali melangkah menuju tempat tersebut. Namun, belum sampai di sana, mereka sudah menghirup aroma anyir darah yang sudah mengering. Shu Yinzhi mulai berfirasat buruk setelah merasakannya. Ia pun melajukan kudanya lebih cepat dari biasanya dan saat sampai di sana, seketika ia terdiam dan tak bisa mengatakan apapun.


Melihat Shu Yinzhi yang langsung terdiam di tempat tersebut, membuat pengawal yang ada di belakangnya merasa khawatir. Ia pun segera berjalan mendekati Shu Yinzhi sambil bertanya, ”Ada apa Yang Mulia? Apa yang Anda lihat di depan sana?”


Baru saja ia bertanya dan sampai di sana, wajahnya pun juga tampak terkejut saat ia melihat ada banyak genangan darah dan juga bagian-bagian tubuh manusia yang terlepas. Keduanya tak bisa bergerak lebih jauh lagi dan bahkan kuda tunggangan mereka tampaknya enggan untuk berjalan melewati mayat-mayat ini.


”Siapa yang membunuh mereka semua? Tidak mungkin Putri Qingzhi yang membunuh mereka semua.” gumam Pemuda yang tampak terkejut setelah melihat bandit-bandit itu terbunuh di hadapannya.


”Segera periksa! Apakah mayat gadis itu juga ada di sini.” ucap Shu Yinzhi sambil memperhatikan bibir jurang yang memiliki bekas cakaran besar seperti telah dihembus oleh angin yang sangat kencang.


Pemuda itu langsung menjawab, ”Baik, Yang Mulia!”


Selagi pemuda itu memeriksa para mayat yang ada di depannya, Shu Yinzhi turun dari atas kudanya dan berjalan menghampiri bibir jurang tadi. Jelas sekali, tebing ini tidak dihancurkan menggunakan pedang melainkan, seperti diterjang hembusan angin yang mampu mengoyak daging manusia. Ia juga memperhatikan beberapa pohon yang tumbuh di belakangnya. Pohon-pohon itu memiliki banyak pisau dan kapak yang menancap di dahannya.


”Apakah seorang manusia bisa melakukan hal yang seperti ini?” gumam Shu Yinzhi yang memperhatikan dan merasa kalau semua itu sangat mustahil dilakukan oleh manusia. Ia berpikir, mungkin saja penyihir Naga yang telah melakukan semua ini. Akan tetapi, penyihir Naga hanya ada di dalam dongeng saja.


Kekacauan apa yang sebenarnya telah terjadi di sini?


Tak lama, pemuda itu kembali menghampiri Shu Yinzhi dengan perasaan cemas. ”... Yang mulia, kami tidak berhasil menemukan mayat Putri Qingzhi di sini. Ada kemungkinan kalau dia sudah pergi dari tempat ini.” jelas pemuda.


Shu Yinzhi menatap pemuda itu dan bertanya, ”Benarkah dia sudah pergi? Lalu, siapa yang telah membunuh mereka?”


Pemuda itu menjelaskan, ”Dilihat dari mayatnya, sepertinya mereka mati bukan karena pedang yang memotong-motong tubuh mereka. Tetapi, tubuh mereka meledak hingga membuat mereka terpotong-potong seperti ini.”


”Jelas sekali. Gadis itu tidak membunuh mereka. Lalu, dimana dia saat ini?” tanya Shu Yinzhi.

__ADS_1


Dengan cepat, pemuda itu langsung menjawab, ”Kami belum mengetahuinya, Yang Mulia. Tolong, maafkan kami.”


Shu Yinzhi tampak cemas namun, ia tak ingin terlihat sedang mencemaskan Shu Qingzhi. Perhatiannya pun kembali tertuju pada seseorang yang sedang bersembunyi di belakang sebuah batu besar yang ada di dekat pohon. Dengan cepat, ia pun segera menghampirinya dan berharap laki-laki aneh ini tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.


”Katakan semuanya padaku! Apa yang terjadi di sini?!” tanya Shu Yinzhi dengan tegas sehingga membuat laki-laki yang tampak gila itu ketakutan.


”Yang Mulia, apakah Anda serius akan bertanya pada orang gila ini?” tanya pemuda di sebelahnya karena merasa kalau orang ini pantas diragukan.


”Tidak ada salahnya jika bertanya. Setidaknya dia memiliki sedikit kewarasan.” jawab Shu Yinzhi.


Kedua tangan dan kaki laki-laki gila yang ada di depannya tampak gemetar. Ia terlihat sangat ketakutan dengan apa yang terjadi di hadapannya tadi. Kedua matanya bengkak seperti telah menangis cukup lama hingga air matanya habis.


”A- ada banyak darah dan angin. Angsa putih berhenti mengepakkan sayapnya dan terjatuh di sembarang tempat. Lalu, penguasa laut marah dengan ombak datang dan menerjang pohon dedalu. Titik darah itu mengancam dan bisa menyentuh benda tanpa menggunakan tangannya. Semuanya mati,... Mati!” ucap laki-laki gila itu sambil mencengkram kepalanya hingga berdarah.


”Apa yang dikatakannya? Aku tak mengerti sama sekali.” batin Shu Yinzhi.


Pemuda yang ada di sebelahnya berbisik padanya, ”Mungkin, laki-laki gila ini bermaksud untuk menyampaikan pada Yang Mulia kalau Putri Qingzhi sudah menjatuhkan diri dari atas tebing sebelum bandit-bandit ini di kalahkan.”


Pemuda itu menatapnya dengan bingung dan berkata, ”Yang Mulia berpikir seolah-olah Putri Qingzhi adalah orang yang mudah depresi. Aku rasa, dia sudah cukup senang bertemu dengan Yang Mulia meskipun hanya sebentar.”


Lalu, tiba-tiba saja laki-laki gila itu menyentuh pakaian Shu Yinzhi dan menatapnya dengan penuh rasa ketakutan, ”Kau adalah Putra mahkota yang akan dinobatkan sebagai Kaisar berikutnya. Tolong, bawa pria tua ini ke istanamu! Hamba merasa sangat tidak aman di sini! Tolonglah, Yang Mulia Putra mahkota!”


Karena telah bertindak sembarangan, para pasukan yang lain langsung mendorong laki-laki gila ini menjauh darinya. ”... Dasar orang gila! Beraninya kau menyentuh Yang Mulia dan memerintahnya!” bentak salah seorang pasukan.


Namun, lagi-lagi pria tua itu mencengkram pakaian Shu Yinzhi sambil berkata, ”Tolong aku, Yang Mulia! Aku akan menjatuhkan diriku dari atas tebing jika Yang Mulia tidak ingin membawa pria tua ini ke istana!”


”Menjijikan! Jangan sembarangan menyentuh Yang Mulia!” bentak pasukan yang langsung menendang laki-laki gila itu ke tanah.

__ADS_1


Shu Yinzhi menghela nafasnya dan berkata, ”Berikan dia sejumlah uang untuk menyewa penginapan.”


Tak lama, salah satu dari pasukannya melempar sebuah kantong kecil berisikan uang yang tidak sedikit. Setelah menerimanya dengan baik, Shu Yinzhi kembali berkata, ”... Gunakan uang itu untuk menyewa penginapan. Kau mungkin akan terbunuh jika bersikeras masuk ke dalam istana. Kalau sudah, aku permisi.”


Setelah itu, Shu Yinzhi akhirnya pergi bersama dengan beberapa pasukannya. Namun, saat ia baru saja akan menaiki kudanya, ia mendengar suara dentingan beberapa keping emas yang terjatuh ke tanah. Ia pun menatap kembali ke arah laki-laki tadi. Namun sayangnya, laki-laki malah mengakhiri hidupnya di atas jurang karena tak diizinkan memasuki istana.


”Huh! Berani sekali orang seperti dia menyentuh Yang Mulia dan bahkan memerintahnya! Biarkan saja dia bunuh diri di sana!” gerutu salah seorang pasukan yang melihatnya.


Di sisi lain, Shu Yinzhi sedang membayangkan dan bertanya-tanya mengenai perkataan yang baru saja dikatakan oleh laki-laki gila tadi. ”... Tidak mungkin gadis itu bunuh diri di sini. Aku sangat yakin, sampai saat ini dia masih hidup.” gumam Shu Yinzhi.


***


”Tuan penyihir! Darimana saja kau ini?! Nona sudah lelah menunggumu sejak tadi!” celetuk Yin Chu yang langsung menatap Pemuda berjubah hitam yang baru saja memasuki ruangan tersebut.


Shu Qingzhi langsung menatap pemuda tersebut. Sekilas, ia merasa pernah bertemu dengannya. Akan tetapi, ia lupa kapan itu terjadi. Ia pun hanya bisa menatapnya dengan bingung dan bertanya-tanya, siapa dia ini?


”Sebaiknya Tuan penyihir jelaskan apa yang selama ini telah terjadi. Nona merasa terguncang saat ia terbangun di tempat ini.” lanjut Gu Ruo.


”Benarkah?” tanya pemuda yang langsung berjalan menghampiri Shu Qingzhi yang tampak kebingungan. ”... Calon permaisuri ku, apakah kau sama sekali tidak mengenalku? Bukankah kita pernah bertemu beberapa jam lalu?”


Shu Qingzhi hanya bisa menatapnya sambil menggelengkan kepalanya karena bingung.


”Hah? Kau tidak ingat siapa yang sudah memberikanmu jubah hitam saat kau berada di Istana kekaisaran?” tanya pemuda itu sekali lagi namun, Shu Qingzhi tetap tidak mengerti apa yang dikatakan olehnya.


Yin Chu berbisik, ”Mungkin, Tuan penyihir harus mengenalkan nama terlebih dulu. Kalau seperti ini terus, Tuan penyihir hanya akan membuat Nona merasa kebingungan.”


Pemuda itu berdeham dan terdiam selama beberapa saat. ”Biarkan aku memperkenalkan namaku terlebih dahulu.” ucap pemuda. ”... Aku adalah seekor naga hitam yang bercita-cita menjadi manusia biasa dan bekerja sebagai penyihir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namaku adalah, Shangguan Wei. Tuan penyihir Naga yang tinggal di pedalaman air.”

__ADS_1


”....?”


”....”


__ADS_2