
Sebuah anak panah dan busurnya ditarik secara bersamaan. Saat itu, seorang Pangeran sedang menatap ke arah titik sasarannya. Ia merasa sangat yakin pada anak panahnya yang sedang menegang. Dan saat kesunyian terjadi selama beberapa saat, Sang Pangeran langsung melontarkan anak panahnya dan dengan cepat, anak panah itu tepat mengenai titik sasaran terjauh dan membuat semua orang yang ada di sana terkejut.
”Pangeran ketujuh memang hebat!” seru seorang Kasim muda yang berdiri di belakang pangeran ketujuh bernama, Tao Sonyun.
”Huh! Aku ini hebat kan?!” ucap Tao Sonyun dengan nada yang seperti sedang membanggakan dirinya.
”Ya! Kakak memang sangat hebat!” seru beberapa pangeran muda lainnya yang merasa takjub dengan penampilan yang baru saja ditunjukkan olehnya.
”Jangan senang dulu. Kau masih belum bisa mengalahkan ku, adik Sonyun.” ucap pangeran keempat bernama Xu Yingge sambil menunjukkan wajah sinisnya di depan Tao Sonyun. Ia menatapnya seolah-olah ia akan mengalahkannya dengan satu serangan.
Tao Sonyun berdecak kesal dan berkata dalam benaknya, ”Cih! Menjengkelkan! Apakah dia harus menggangguku setiap hari?!” batinnya sambil menatapnya dengan kesal.
Saat Xu Yingge sedang menarik anak panahnya dan akan melepasnya, tiba-tiba saja muncul sebuah anak panah di belakang kepalanya. Seketika, Xu Yingge merasa sangat terkejut karena anak panah itu telah berhasil menggores wajahnya. Ia pun terdiam sambil menatap sebuah anak panah yang telah berhasil membelah anak panah milik Tao Sonyun.
”Siapapun dia, orang itu harus menerima akibatnya!” gumam Xu Yingge yang tampak kesal sambil membanting busur panahnya ke tanah.
Tao Sonyun yang melihatnya sempat menahan tawanya karena tak bisa membayangkan wajah Xu Yingge saat ini. Ia pun langsung mengalihkan perhatiannya dan berpura-pura tak mengetahui apa yang terjadi.
Merasa kalau sudah dipermalukan, Xu Yingge segera pergi menuju arah datangnya anak panah tadi. Dengan perasaan kesal, ia menyusuri jalan yang dipenuhi dengan pohon-pohon besar, berharap ia bisa menghukum orang itu dengan sangat berat. Dan beberapa langkah setelahnya, Fu Yiren muncul secara mendadak dari balik semak-semak dan ia pun langsung bersujud di depan kaki Xu Yingge.
__ADS_1
”Tolong, ampuni saya, Yang Mulia!” ucap Fu Yiren yang tak berani menunjukkan wajahnya di depan Xu Yingge yang tampak marah.
”Jadi, hanya pelayan rendahan sepertimu? Apakah kau baru saja mencoba membunuhku?” tanya Xu Yingge sambil menatapnya dengan dingin.
Sulit berkata jujur bahwa yang melakukan semua ini adalah Shu Qingzhi. Namun, saat ini ia tak memiliki pilihan lain. Jujur maupun tidak, ia akan tetap mati di tangan Xu Yingge. Seorang pelayan, juga harus bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan oleh Tuannya.
Xu Yingge menghela nafasnya dan berkata, ”Rupanya, pelayan rendahan sepertimu mau membunuhku? Tak ku sangka, kemampuan memanahmu cukup hebat.” ucapnya sambil mengeluarkan pedangnya. Dan disaat hal itu terjadi, tak ada satupun yang berani menghentikannya untuk membunuh Fu Yiren yang masih berlutut di depannya.
Lalu, saat ia akan menebas kepala Fu Yiren, Shu Qingzhi muncul secara tiba-tiba dan langsung menghentikan gerakan pedang milik Xu Yingge hanya dengan menggunakan tangan kosong!
Alhasil, tangan kanan Shu Qingzhi terluka cukup parah dan terdapat darah yang menetes tepat di depan bola mata Fu Yiren. Semua orang memasang ekspresi terkejut seakan tak percaya dengan kedatangan Shu Qingzhi yang mendadak. Tidak hanya itu, tampaknya Shu Qingzhi tak terlihat kesakitan sama sekali berbeda dengan Putri selir lainnya.
”Siapa gadis ini? Aku tidak pernah melihatnya.” batin Xu Yingge yang langsung terdiam seketika tanpa menarik pedangnya kembali.
”Hei! Apa yang kau lakukan! Cepat lepaskan itu!” seru Xu Yingge yang tampak terkejut setelah pedangnya diambil oleh Shu Qingzhi dengan mudahnya.
Shu Qingzhi menolaknya dan terus memperhatikan pedang yang sudah berada di tangannya. ”... Jadi ini yang namanya pedang? Tajam sekali. Apakah pedang ini bisa digunakan untuk membelah pohon? Atau mungkin mencincang daging yang keras?” ucap Shu Qingzhi.
Mendengar suaranya, Fu Yiren tampak terkejut. Ia langsung mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Shu Qingzhi yang telah berdarah-darah. ”Nona! Tanganmu terluka!” seru Fu Yiren yang tampak cemas dan langsung berdiri sambil memperhatikan luka yang ada di tangan kanan Shu Qingzhi.
__ADS_1
Shu Qingzhi langsung menyingkirkan tangannya dan berkata, ”Aku baik-baik saja! Jangan terlalu banyak bertanya padaku.” ucapnya dengan suara pelan.
”Lancang! Kembalikan pedang itu padaku!” teriak Xu Yingge yang langsung mengangkat tangannya. Namun, saat Xu Yingge mencoba mengambil pedangnya kembali, Shu Qingzhi malah melemparnya dan mendarat tepat di tengah-tengah titik sasaran panah yang ada di depannya.
”.....”
”.....”
”Dia ini, berusaha untuk mempermalukan ku?!” batin Xu Yingge yang bertambah kesal.
Di belakangnya, Tao Sonyun terlihat puas menertawainya. Karena, pada akhirnya ia kalah dengan seorang gadis yang belum diketahui asalnya. Di istana kekaisaran ini, hanya ada dua orang yang tak bisa dikalahkan oleh para pangeran di sini. Mereka itu adalah Shu Yinzhi dan Xu Yingge. Namun, dengan beradanya Shu Qingzhi di sini, tampaknya posisi Xu Yingge akan tergantikan olehnya.
”Sudah cukup!” teriak Xu Yingge yang langsung menatap Shu Qingzhi dan Fu Yiren dengan dingin. ”... Aku ingin mereka dihukum mati sekarang juga! Gadis ini pasti adalah penyusup yang akan membunuh Kaisar! Cepat! Bunuh dia!”
Seketika, seluruh pasukan berkumpul dan langsung menahan kedua tangan Shu Qingzhi dan Fu Yiren. Berpikir kalau semua ini akan berakhir dengan mudah, Shu Qingzhi langsung menendang kedua kaki para penjaga. Dan ketika tangannya telah terbebas, ia langsung memukul kepala penjaga tersebut menggunakan batu berukuran sedang. Shu Qingzhi terus memukulnya tanpa henti hingga pada akhirnya, Tao Sonyun mendatanginya dan menahan kedua tangannya agar tak membunuh penjaga tersebut.
”Hei! Kau sudah gila? Apakah kau ingin membunuhnya dan menambah hukumanmu?” tanya Tao Sonyun sambil menatapnya.
Shu Qingzhi berhenti dan menatap ke arah Tao Sonyun dengan ekspresi yang tampak ketakutan. Ia menggelengkan kepalanya pelan-pelan dan berkata, ”Aku tidak ingin mati. Aku takut. Aku sangat takut.” ucapnya sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
Tao Sonyun menatapnya dengan sangat bingung dan bergumam, ”Mengapa dia menangis tiba-tiba?”
Saat itu terjadi, tiba-tiba saja seseorang datang dan langsung menarik Shu Qingzhi ke dalam pelukannya seolah ia tak ingin ada seorangpun yang melihat wajahnya ketika dia sedang menangis. ”... Siapapun yang membuatnya menangis, aku pasti akan membunuhnya!” ucap Shu Yinzhi yang ternyata adalah orang yang sedang memeluk Shu Qingzhi yang sedang menangis.