
Beberapa saat sebelumnya, Tao Sonyun menunggangi kudanya untuk masuk ke dalam hutan yang menurutnya menjadi tempat para penjahat. Namun, saat mereka sampai di tengah-tengah hutan, kudanya mendadak berhenti dan tak ingin melanjutkan perjalanannya.
”Orang-orang di desa bilang kalau tempat ini dipenuhi hewan-hewan buas. Tapi, tempat ini juga menjadi sarang bagi para penjahat. Ayolah. Para penduduk desa sangat berharap pada kita berdua. Kita harus melanjutkan perjalanan.” ucap Tao Sonyun sambil mengelus rambut kudanya. Akan tetapi, kudanya tetap diam tak bergerak karena takut dengan apa yang sudah ada di depan matanya.
Tao Sonyun menghela nafasnya karena ia merasa tak yakin bisa merayu kudanya. Ia pun akhirnya turun dari atas punggungnya dan berjalan memasuki hutan yang ada di depannya. Dengan sebuah pedang yang telah terlepas dari sarungnya, ia melangkah perlahan tanpa suara saat memasukinya.
Bayangan gelap berada di sekitarnya. Suara dengkuran hewan buas yang sedang tertidur, terdengar jelas di telinganya saat ini. Tanahnya yang lembab dan dipenuhi dengan genangan air, membuat langkah Tao Sonyun terasa berat dan membuat suara yang sedikit. Meskipun begitu, ia sangat yakin kalau pendengaran hewan-hewan buas yang ada di sini lebih tajam dari pendengaran manusia.
Dan benar saja, saat ia melangkah di tengah-tengah rerumputan tinggi yang lembab, terdengar suara ular yang sedang berdesis di dekatnya. Ia pun langsung menghindar dan menjauhi suara tersebut. Dengan rumput yang sangat tinggi, tidak memungkinkan baginya untuk melihat ada berapa ular yang sedang menyerangnya.
Tanpa pikir panjang, ia pun segera berlari kembali ke dalam hutan dan menjauhi rumput tinggi di sana. Ia mungkin berhasil menghindar dari serangan ulat tersebut. Akan tetapi, langkahnya ini membawanya di hadapan seorang pemuda berjubah hitam yang sedang tersenyum seringai ke arahnya.
Sedetik kemudian, muncul lima ekor serigala besar yang langsung mengepungnya dari berbagai arah. Perhatiannya tak henti menatap wajah pemuda bertudung hitam yang menjadi sebab munculnya hewan-hewan buas di sekitarnya.
Begitu ia mengetahuinya, Tao Sonyun segera menarik pedangnya dan berlari ke arah pemuda yang berdiri di sana. Akan tetapi, seekor serigala muncul di hadapannya dan langsung menghempaskannya hingga membuatnya terdorong ke belakang. Tak sampai di sana, Tao Sonyun melemparkan beberapa pisau belati ke arah serigala tersebut. Namun, serangannya ini tak bisa melukainya.
”Yang Mulia Pangeran ketujuh, Tao Sonyun. Senang bertemu denganmu.” ucap pemuda sambil memberi salam padanya.
Tao Sonyun menatapnya dengan serius dan bertanya, ”Kau ini siapa? Apa kau yang sudah memanggil hewan-hewan buas ini?”
Pemuda itu tersenyum dan menjawab, ”Aku tidak bisa mengatakannya pada Yang Mulia untuk sekarang. Yang mulia mungkin tak akan mempercayai perkataanku.”
__ADS_1
Tao Sonyun berdecak kesal dan bertanya, ”Apa maksudmu aku tak akan percaya?! Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi! Kau adalah orang yang sudah merampas harta orang-orang di desa Hui, iya kan?” ucapnya dengan keras.
Pemuda itu tertawa dan berkata, ”Hal itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Sepertinya, Yang Mulia sudah salah sangka terhadapku.”
”Lalu, kau ini siapa? Tidak mungkin kau bukan bagian dari penjahat yang ada di desa Hui!”
”Haah, Yang Mulia sama sekali tak mengerti ucapanku.” ucap pemuda sambil berjalan mendekatinya dan Tao Sonyun berusaha melangkah mundur menjauhinya. ”... Biar ku jelaskan padamu, Yang Mulia. Dunia ini, menyimpan tujuh rahasia yang tak boleh diketahui oleh orang biasa. Dari yang paling muda. Mereka itu adalah Bunga musim semi, Ombak kematian, Matahari penjaga bumi, Petir langit, Seruling musim dingin, Ratu penjaga gerbang kematian dan yang pertama, Yang Mulia Raja Naga. Mendengar hal ini, mungkin Yang Mulia akan langsung tahu kalau aku adalah Matahari penjaga bumi. Dan karena Yang Mulia sudah mengetahui rahasia ini, aku terpaksa harus membunuhmu.”
Setelah mengakhiri kalimatnya, pemuda itu langsung mendorong Tao Sonyun ke dalam jurang yang ada di belakangnya. Karena terus menatap wajahnya yang dingin, Tao Sonyun sampai tak menyadari adanya kematian yang telah menunggunya. Lalu, setelah itu ia pun tak sadarkan diri saat mendarat di permukaan sungai.
***
”Kalau kau sudah bangun, cepatlah buka matamu! Jangan membuat kami menunggu!” bentak seorang pemuda yang sepertinya berada tepat di dekatnya.
Perlahan, Tao Sonyun mencoba untuk membuka matanya. Ia melihat sebuah atap yang terbuat dari kayu rapuh yang dimakan rayap. Selain itu, ia juga sempat menghirup aroma bubur gandum yang baru saja selesai dimasak. ”... Dimana ini?” tanya Tao Sonyun yang tampak kebingungan. Setelah itu, ia pun menatap ke arah seorang pemuda yang memiliki wajah bersinar seperti matahari.
”Berterima kasihlah lebih dulu dan aku akan menceritakan segalanya padamu!” celetuk pemuda.
Lalu, tiba-tiba terdengar suara seorang gadis yang menjelaskan, ”Yang Mulia jatuh dari atas jurang dan dalam keadaan sekarat. Lalu, Tuan penyihir menyelamatkan Yang Mulia sebelum Anda benar-benar mati.”
Mendengar suara ini, perhatian Tao Sonyun seketika terarahkan pada seorang gadis berumur 14 tahun yang sedang memegang semangkuk bubur gandum untuknya. Ekspresinya terkejut setelah ia tahu kalau gadis ini adalah Shu Qingzhi yang seharusnya sudah mati. Lalu, pemuda yang sebelumnya berbicara dengannya adalah Shangguan Wei. Namun, saat ini belum mengenalnya.
__ADS_1
Tao Sonyun langsung terduduk dari posisinya dan bertanya, ”Bagaimana Tuan Putri bisa sampai di tempat ini? Bukankah kau sudah terjatuh dari atas jurang dan tidak selamat?”
Shu Qingzhi terdiam dan menatapnya dengan bingung. Lalu, Shangguan Wei menarik pundak Tao Sonyun hingga membuatnya menatap wajahnya langsung. ”Jangan sentuh dan jangan berbicara dengan permaisuri ku!” ucapnya dengan dingin yang membuat Tao Sonyun seketika berhenti bicara.
Dari belakang, Shu Qingzhi menepuk pundak Tao Sonyun hingga membuatnya menoleh ke arahnya. ”... Tubuh yang lemah harus diisi dengan makanan meskipun sedikit. Kemari lah.” ucap Shu Qingzhi sambil memberikan sendok yang berisi bubur gandum miliknya.
Sadar kalau Shu Qingzhi mencoba untuk menyuapi Tao Sonyun, Shangguan Wei segera berjalan mendekatinya dan mengambil mangkuk bubur miliknya. ”Biar aku saja yang melakukannya. Kau beristirahat saja. Lagipula, hari sudah mulai gelap.”
Shu Qingzhi tertegun dan langsung menatap ke arah Shangguan Wei di sebelahnya. ”Tapi, apakah Tuan penyihir tahu bagaimana cara mengobati orang sakit?”
”Dia sepertinya tidak bisa, Nona!” celetuk Tao Sonyun.
”Tentu saja aku bisa melakukannya. Aku ini adalah penyihir yang bisa melakukan segalanya.” jawab Shangguan Wei sambil menutup mulut Tao Sonyun.
Shu Qingzhi terdiam tak berekspresi. Beberapa detik kemudian, ia pun menjawab, ”Terima kasih.” setelah itu ia pun segera pergi meninggalkan mereka berdua.
”Entah kenapa, aku merasa kalau laki-laki itu bukan manusia.” batin Tao Sonyun yang langsung menatap Shangguan Wei. Namun, ia tak pernah menyadari kalau ucapannya itu mampu didengar oleh Shangguan Wei.
Sambil membuang sendoknya, dengan perasaan kesal Shangguan Wei mengangkat mangkuknya ke atas dan berkata dengan dingin, ”Nah! Anak manusia! Kemari lah! Katakan Aaa…”
”......”
__ADS_1