
”Hei! Kau sudah terlihat baik-baik saja selama dua hari. Mengapa tidak kembali ke alammu saja?” tanya Shangguan Wei yang kesal karena Tao Sonyun tetap bersama dengan mereka berdua padahal, awalnya Shangguan Wei ingin mengajak Shu Qingzhi bekerja dengannya.
Sambil memakan makanannya, Tao Sonyun berkata, ”Aku menunggu seseorang. Putra mahkota pasti menyuruh seseorang untuk mencariku. Sayang sekali jika aku menyia-nyiakan kesempatan ini.”
”Kesempatan apa maksudnya?” batin Shangguan Wei.
Saat sedang memakan makanannya, tiba-tiba saja Shu Qingzhi tersedak duri ikan yang menyangkut di tenggorokannya. Dengan cepat, Tao Sonyun dan Shangguan Wei segera menyodorkannya gelas minuman secara bersamaan. Keduanya langsung saling memberikan tatapan kesal karena tak ingin kalah saing. Namun, saat itu terjadi, Shu Qingzhi malah mengambil gelasnya sendiri tanpa menghiraukan dua gelas yang telah disodorkan padanya.
”Ada apa?” tanya Shu Qingzhi yang tampak heran setelah melihat wajah mereka berdua.
Mendengarnya, membuat keduanya langsung menurunkan gelas mereka dan kembali pada posisi yang sama. Belum selesai sampai di sana, Tao Sonyun menepuk punggung Shu Qingzhi dan berkata, ”Berhati-hatilah saat makan. Jangan sampai kau tersedak hanya karena duri ikan.”
Shu Qingzhi langsung menatap ke arahnya dan kemudian ia pun menganggukkan kepalanya. Sementara itu, Shangguan Wei tampak kesal setelah melihat Tao Sonyun yang berpura-pura baik padanya. Ia bahkan sampai mematahkan sumpitnya.
Melihat sumpitnya patah, Shu Qingzhi segera memberikan sumpitnya untuk Shangguan Wei karena sebelumnya, ia sudah selesai makan.
”Apa ini? Bertukar sumpit? Bukankah ini sama saja seperti,...” batin Shangguan Wei yang langsung menerimanya dengan wajah memerah karena malu. Tao Sonyun yang melihatnya hanya bisa terdiam sambil menunjukkan senyum palsunya.
***
__ADS_1
”Jadi, dia menghilang di sini?” gumam Yi Chen yang telah sampai di desa Hui. Seperti yang tertulis dalam laporan, desa ini sangat miskin dan sedang mengalami gagal panen setelah hujan tak juga turun. Beberapa juga ada yang terlihat kelaparan dan kurus karena kerap kali mereka sering didatangi sekelompok orang yang datang untuk merampas harta mereka. ”Miris sekali.”
”Hei! Apa yang kalian lakukan?! Cepat! Berikan semua makanan kalian untuk mereka!” seru Yi Chen yang langsung menunjuk ke arah seluruh pasukannya.
”B- Baik Yang Mulia!” seru beberapa prajurit yang tak berani melawan perintahnya.
Beberapa detik setelahnya, mereka malah memberi makan rakyat yang kelaparan di sana dan melupakan tugas mereka untuk mencari keberadaan Tao Sonyun yang masih menghilang. Jika Shu Yinzhi memberikan tugas ini pada Xu Yingge, mungkin saja ia bisa melakukannya dengan cepat. Akan tetapi, ia bukan orang yang selalu mempedulikan rakyat miskin dan selalu bertindak semaunya.
Sementara itu, pada malam harinya Tao Sonyun merasa kalau tak ada satupun orang yang mau mempedulikannya. Sudah dua hari ia menghilang dan tak ada satupun orang yang mencarinya. ”Haah, ini aneh sekali. Apakah mereka sudah lupa kalau aku masih menjadi anggota kerajaan?!” gumam Tao Sonyun yang tampak kesal sambil melempar sebuah batu ke dalam sungai.
”Tapi, mengenai kejadian kemarin, apa yang laki-laki itu katakan tentang tujuh rahasia? Aku menjadi penasaran. Apakah benar dia itu adalah matahari penjaga bumi? Sepertinya, serigala yang waktu itu, selalu mengikutinya perintahnya. Tapi, hal seperti itu memangnya ada?” gumam Tao Sonyun yang tampak bingung namun, ia juga merasa penasaran.
Tao Sonyun menoleh ke arahnya. ”Putri Qingzhi! Mengapa kau juga datang kemari?”
Shu Qingzhi berjalan mendekati Tao Sonyun dan berkata, ”Aku ingin bertanya sedikit mengenai Yang Mulia. Bagaimana Yang Mulia bisa terjatuh dari atas tebing? Sebelumnya, Yang Mulia tidak pernah bertindak ceroboh. Lagipula, tebing sebesar itu pasti terlihat.”
Tao Sonyun tertegun dan sempat terdiam selama beberapa saat. Pandangannya teralihkan pada aliran sungai yang berada di depannya dan beberapa ikan-ikan kecil yang sedang berenang di dalamnya. Ia tidak mungkin mengatakan padanya kalau ia baru saja bertemu dengan pemuda aneh yang mengatakan hal-hal aneh padanya. Apalagi, orang itu berencana untuk membunuhnya setelah membocorkan semua rahasia itu.
”Saat itu, aku dikepung oleh para penjahat. Salah satu dari mereka mendorongku masuk ke dalam jurang.” jawab Tao Sonyun.
__ADS_1
”Bohong.” celetuk Shu Qingzhi. ”... Mata tidak bisa membohongi seseorang. Sebaiknya katakan yang sejujurnya meskipun itu berat dilakukan.”
Tao Sonyun menatap wajah Shu Qingzhi yang tidak berekspresi. Ia merasa bingung sekaligus takut nyawanya akan terancam. ”... Sebenarnya ini sangat memalukan. Jika aku mengatakannya, kau mungkin tak akan percaya.” jawab Tao Sonyun. ”Aku baru saja bertemu dengan seorang pemuda yang mengatakan tentang tujuh rahasia yang tak boleh diketahui oleh siapapun. Setelah menyebutkannya satu persatu, dia langsung mendorongku ke dalam jurang—
Tao Sonyun langsung mendorong Shu Qingzhi ke tanah setelah sebuah serangan muncul secara tiba-tiba. Keduanya tampak terkejut karena serangan tersebut, berasal dari sebuah angin yang berhembus kencang dan memotong pohon-pohon besar yang ada di belakang mereka.
”Cih! Serangan apa itu?” gumam Tao Sonyun yang langsung merangkak di atas Shu Qingzhi. Seketika, wajahnya langsung memerah karena malu dan langsung bergerak untuk menjauhinya sementara, Shu Qingzhi tampak biasa-biasa saja dan malah memperhatikan pemuda berjubah hitam yang sedang melayang di dekat jurang. Di atas pundak pemuda tersebut, terdapat seekor burung merak merah yang sedang mengepakkan sayapnya.
”Apakah dia orang itu?” tanya Shu Qingzhi sambil menunjuknya.
”Kita harus pergi dari sini!” seru Tao Sonyun yang langsung menarik Shu Qingzhi ke dalam hutan dan menjauh darinya.
Pemuda misterius itu terus memperhatikan keduanya meskipun pandangannya sudah tertutupi oleh hutan yang sangat besar. ”... Kupikir dia sudah mati. Ternyata, orang itu masih bisa berkeliaran di dalam hutan seperti ini. Mari kita lihat apakah dia bisa menghindar dari serangan ku yang satu ini.” ucap pemuda.
Burung merak yang ada di atas pundaknya langsung membuka paruhnya dan mengeluarkan suara dari dalam tenggorokannya. Suara tersebut begitu keras dan akan melumpuhkan pendengaran lawannya. Akan tetapi, muncul sebuah dinding pelindung yang menghalangi suara tersebut masuk. Suara merak itu pun hancur dan menyebar hingga menghancurkan tebing yang ada di belakang mereka.
”Aura yang sangat besar. Siapapun pasti tidak akan menduga kalau Yang Mulia Raja Naga melindungi seorang anak manusia.” gumam Pemuda setelah ia melihat keberadaan Shangguan Wei yang tampak sedang menatapnya dari bawah. Tatapannya terlihat merah menyala dan hawa kekuatannya bahkan bisa membuat semua binatang buas yang ada di dalam hutan tunduk padanya.
”Tak akan aku maafkan siapapun yang sudah mengganggu calon permaisuriku!”
__ADS_1