
"Arkshhhh" lagi dan lagi Vanessa meringis kesakitan dan dia rasa sepertinya luka goresan di lengan nya berdenyut lagi.
'Sialannn banget sih' batin nya mengumpat.
Vanessa tidak tau kenapa bisa luka goresan nya kembali berdenyut,padahal dia sudah merasa baikan setelah di obati oleh Marina.
"Ness kenapa?" tanya Marina pada Vanessa.
"Gak tau bestie, nyut-nyutan lagi" jawab Vanessa sambil melirik ke arah Zean.
Vanessa terkejut dengan apa yang dia lihat, Zean tampak tersenyum namun bagi Vanessa yang jeli pandangan nya dia melihat Zean bukan tersenyum melainkan menyeringai ke arah nya..sialann tuh anak baru apa dia sedang senang melihat Vanessa menderita.
Pandangan Zean masih menatap ke arah Vanessa meski dia telah sampai di bangku belakang Vanessa..Vanessa sangat heran melihat seringai si Zean anak baru itu kenapa rasanya seperti menyeringai karena puas melihat dia menderita..apa hanya pikiran nya saja.
Tidak mungkin kan anak baru itu langsung membenci nya,why dia tidak salah apapun pada nya..eh tunggu dulu,apa si anak baru itu bisa membaca pikiran orang lain..oh may got jangan sampai itu benar-benar ada karena setau nya kekuatan seperti itu hanya ada di film saja.
"Hay Vanessa, finally I found you"
Vanessa terkejut dan langsung menoleh kebelakang sedikit,jelas sekali itu suara dari arah belakang tapi bukan dari anak baru itu karena si anak baru sedang meletakkan tas nya.
Vanessa merasa itu suara bukan suara yang nyata melainkan seperti sebuah sugesti atau telepati dan semacam nya.. namun begitu menggema di otak nya dan membuat nya semakin penasaran dan bertanya-tanya.
Suara yang tadi dia dengar memang sangat rendah dan pelan di telinga nya namun seperti menyimpan sebuah dendam pada nya..dia jadi bertanya-tanya apakah dia pernah membuat orang lain sakit hati,tapi yang paling sering sakit hati sih cuma satu orang yaitu Frizzi tapi itu kan bukan suara nya si Frizzi.
Tanpa dia sadari ternyata Vanessa menoleh ke arah Zean lagi entah kenapa kepala nya seakan ingin menoleh ke arah si murid baru itu..dan dia di buat gugup luar biasa saat melihat si Zean tengah menyeringai jahat ke arah nya..demi apapun Zean terlihat seperti drakula yang haus akan darah..anjayyy.
__ADS_1
Vanessa di buat merinding dengan seringaian si Zean bahkan tubuh nya kini sedingin es dan keringat langsung keluar dari dahi nya persis seperti orang yang sedang kelelahan.
#
Kelas Vanessa tiba-tiba menjadi riuh karena bule sialann itu..mendadak seperti ada acara fans meeting antara idol dan penggemar nya..para siswi berbondong-bondong mengerubungi bangku di belakang Vanessa tempat si bule sialann itu duduk.
"Hay tampan..kamu cakep banget sih mau dong jadi pacarmu"
"Oh kau boleh dong bagi nomor telepon nya,malam Minggu jalan yuk"
Masih banyak lagi celotehan centil dari para siswi ganjen yang mendatangi bangku di ana Zean duduk dan itu begitu mengganggu si Vanessa yang tengah duduk tenang menahan nyut-nyutan di lengan nya.
"BANGKEEE LOE SEMUA..bisa diem nggak sih,berisik banget dari tadi" teriak Vanessa dengan suara nya yang menggelegar dan berhasil menghentikan celotehan manja para siswi ganjen itu.
Awalnya si Vaness sedang duduk santai dan berencana untuk mengerjakan pr saja daripada menunggu Marina yang sedang ada urusan dengan grup tari nya..tapi setelah beberapa saat berlalu para siswi ganjen itu mengusik ketenangan nya dan membuat nya mengamuk seperti singa.
"Arghhh sialannnn kalian..makan tuh bule sialannnn" kata Vanessa lalu menarik tangan Marina yang baru saja hendak duduk.
Vanessa tak lagi memikirkan sindiran atau pun nyinyiran dari para penggila Zean..dia bodo amat asalkan dia bisa keluar dari keributan lebay yang sedang para siswi ganjen itu buat di meja Zean.
"Ness" panggil Marina yang tak mengerti dengan kondisi tadi dan dia hanya menurut saja saat Vanessa menarik nya keluar dari kelas.
Mereka kini berada di kantin sekolah..saat Vanessa duduk dia melihat ada kerupuk di atas meja,dia ambil satu kerupuk itu lalu dia rem mas dengan segenap tenaga bercampur emosi nya.
"Ness,kenapa sih..jangan di bikin emosi" kata Marina pelan sambil mengusap punggung Vanessa yang masih naik turun mungkin masih geram.
__ADS_1
"Aku tuh kesel ama mereka bestie..baru aja liat yang bening gitu langsung pada genit ganjen..rasanya pengin banget aku gampar muka mereka..arghhh sialannnn" kata Vanessa sambil mengangkat satu kaki nya ke atas bangku dan memakan krupuk yang telah remuk di atas meja.
Sayang gaes.
"Hahaha,astaga bestiku lucu banget sih kalau lagi marah" kata Marina terkekeh dan membuat Vanessa juga menatap nya lalu sama-sama terkekeh.
"Ck..malah ngledekin" kata Vanessa dengan wajah cemberut masih dengan tangan nya yang menyomot remukan krupuk di atas meja.
"Udah jangan marah-marah mending makan aja yuk pasti laper kan?" tanya Marina yang tau kebiasaan Vanessa jika sudah marah pasti dia akan lapar.
"Bener-bener calon istri idaman deh..andai aku cowok udah aku culik kamu ke KUA bestie" kata Vanessa lalu mengambil buku menu dan mulai memesan menu yang dia inginkan.
Waktu istirahat di gunakan untuk melakukan apapun yang para siswa dan siswi inginkan..biasa nya mereka akan berlatih atau berkumpul dengan grup atau kelompok ekskul masing-masing.
Setelah Vanessa menyantap semua menu yang dia pesan tadi kini dia dan Marina sedang mengobrol lebih tepat nya Vanessa yang menceritakan keanehan Zean pada Marina.
"Jangan fitnah Ness..gak mungkin ah" kata Marina yang tampak terkejut sekaligus tidak yakin dengan apa yang Vanessa katakan.
"Beneran bestie.. pikiran ku sekarang malah menyangkut pautkan antara luka di lengan ku dengan si bule sialann itu" kata Vanessa berusaha terus meyakinkan bestie nya Marina lalu dia menoleh ke arah luka di lengan nya.
"Tap..tapi.. i..itu____" ujar Marina tak bisa meneruskan ucapan nya karena dia mulai terpengaruh dengan cerita Vanessa.
Benar juga yang Vanessa katakan, tapi apa iya.
"Iya bestie..ini aneh kan maksud mu..padahal aku gak nyenggol apapun dan tiba-tiba nih luka udah ada aja..gak logis banget kan?" jelas Vanessa semakin meyakinkan Marina dan di angguki oleh si Marina.
__ADS_1
"Apalagi saat aku liat ke arah si Zean,kamu tau bestie..dia menyeringai ke arahku,bukan kah ini pertemuan perdana kami" lanjut Vaness sambil mencomot gorengan yang Marina pesan tadi.