
Sudah beberapa hari ini Aira melakukan aktivitas yang tak biasa dilakukannya. Yaitu duduk di sofa sambil terus menatap lukisan buah yang ada di dinding.
"Nona, jika anda ingin buah, maka kami akan membelikannya. Nona ingin apa?" tanya Indi sambil menghampirinya.
"Tidak, tidak usah repot-repot. Aku....tidak mau buah kalau....sudahlah, tidak penting. Kalian istirahat saja," ucap Aira sambil tersenyum kecil.
Indi dan Elly sama-sama bingung dengan sikap Aira yang sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu. Mereka segera memberitahukan hal ini pada Sera dan Reyhan. Gegas mereka datang ke kediaman Aira dan menanyakan apa yang terjadi padanya.
"Katakanlah, kamu sedang menginginkan apa? Buah yang apa?" tanya Sera dengan penuh kelembutan.
"Tidak, Mbak, aku tidak menginginkan apa-apa," ucap Aira sambil menggelengkan kepalanya perlahan. Namun, dia meremas ujung bajunya seakan merasa gugup.
Sera dan Reyhan pun saling pandang. Namun, sepertinya Reyhan mengerti apa yang sedang diinginkan oleh Aira.
"Aira, apa kau menginginkan buah yang dibelikan olehku?" tanyanya hingga membuat Aira terkejut.
"Maaf, Mas, aku tidak bermaksud...."
__ADS_1
"Belilah, Sayang. Kau ingin buah apa? Mangga? Apel? Atau strawberry?" tanya Sera yang rupanya tak marah dengan keinginan Aira. Tadinya Aira berpikir jika Sera akan marah ketika mengetahui ini. Nyatanya tidak, wanita baik itu malah menanyakan buah apa yang sedang diinginkannya saat ini.
"Buah-buahan yang ada di Kebunnya Pak Slamet, Mbak," ujar Aira yang langsung membuat Sera dan Reyhan sama-sama heran. Mereka tidak tahu siapa itu Slamet dan buah apa yang ditanam di kebunnya."
"Pak Slamet itu siapa?"
"Pak Slamet itu pria botak berkumis yang terkenal garang. Rumahnya ada di dekat rumah saya. Kebunnya ada di belakang rumahnya. Tapi, dari dulu dia selalu melarang orang memetik buahnya."
"Ya sudah, nanti aku akan ke sana dan memetik buahnya sendiri." Reyhan pun mengiyakan permintaan Aira.
"Tapi, Mas! Kamu tidak bisa melakukannya. Pak Slamet itu sangat galak, bahkan kepala desa pun pernah kena semprot," ucap Aira dengan wajah cemas.
"Ya sudah, kalau begitu kami pergi dulu." Sera pun pamit bersama Reyhan menuju ke kediaman Pak Slamet.
Di sana, mereka tanpa sengaja bertemu dengan orang tua Aira yang baru saja pulang dari mall. Terlihat ibu Aira yang menenteng banyak paper bag mall di kedua tangannya.
Beberapa tetangga mulai mencibir mereka.
__ADS_1
"Duh, senangnya mendapatkan transferan dari anaknya. Kerja apa ya di luar kota hingga dapat gaji tinggi. Jangan sampai seperti anak Bu Dera, ya, tiap bulan mengirimkan uang banyak, tapi ternyata malah jual diri."
"Oh, tenang saja, Bu. Anak saya tidak jual diri, kok. Lagipula ini bukan transferan dari dia. Suami saya habis gajian, Jadi wajar jika kami berfoya-foya sedikit. Kalau ibu mau, sini ke rumah saya, ada banyak daster bagus. Saya kasih gratis untuk ibu. Tapi sapuin dulu halaman saya, gimana?"
"Dasar sok kaya!" Wanita yang mencibir ibu Aira langsung pergi dengan wajah marah.
"Bu, saya mau dong, dasternya, hehe. Sapuin halaman aja, kan?" Tiba-tiba seorang ibu dengan setelan biasa datang karena sejak tadi mendengarkan ucapan mereka.
"Sini, Bu. Tidak usah disapu, tadi saya cuma bercanda biar mulutnya diem," ucap ibu Aira sambil tertawa kecil. Dia benar-benar memberikan sebuah daster bagus kepada ibu tadi.
Reyhan dan Sera hanya bisa saling pandang melihat ini. Mengapa orang tua Aira seakan terlena dengan kehidupan mereka sekarang. Yang dulunya rendah hati kini menjadi sombong.
"Heh! Mau ngapain?" Seorang pria yang sudah di tadi memperhatikan mereka berdiri di depan rumahnya pun menegur mereka.
Botak, berkumis, dan galak, sepertinya inilah pria yang bernama Pak Slamet.
"Pak, kami ingin memetik buah di pekarangan rumah bapak, apakah boleh? Nanti akan kami bayar. Ada seorang ibu yang sedang berjuang untuk membuat anaknya lahir sempurna tanpa adanya iler. Seorang wanita hamil sedang menginginkan buah yang harus dipetik dari pekarangan rumah ini. Jika bapak mau berbelas kasih, sudilah kiranya mengizinkan kami untuk memetik buah itu," ucap Sera yang langsung membuat raut wajah Pak Slamet berubah.
__ADS_1
"Ya sudah! Masuk dan ambil! Tidak usah bayar! Awas, jangan sampai pohon saya rusak!" Meski dengan nada keras, namun Pak Slamet mengizinkan mereka masuk ke dalam pekarangan belakang rumahnya yang terdapat kebun dengan beragam buah yang ada.
Dengan susah payah, Reyhan pun berhasil memanjat beberapa pohon dan memetik buahnya meski harus melawan rasa takut dan juga semut yang menghuni pepohonan.